Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

5. Tatapan Tajam

Joanna, Vlad, dan Alexandru terus berjalan hingga matahari benar-benar naik.

Cahaya pagi menembus kabut tipis yang menggantung rendah di antara pepohonan yang selamat dari api. Burung-burung mulai berani bersuara, meski kicauannya terdengar ragu, seolah-olah alam pun belum sepenuhnya percaya bahwa malam telah berlalu.

Joanna melangkah di antara Vlad dan Alexandru. Dan untuk pertama kalinya sejak mereka meninggalkan lorong batu, Joanna menyadari sesuatu yang membuat kulitnya meremang. Vlad terus menatapnya.

Bukan tatapan kasar. Bukan pula tatapan lapar seperti yang dibayangkan orang-orang desa ketika menyebut manusia serigala. Tatapan itu, dalam. Terlalu dalam. Seolah Vlad sedang membaca sesuatu di balik kulit dan tulangnya, sesuatu yang bahkan Joanna sendiri belum sepenuhnya pahami.

“Kau terluka,” ujar Joanna akhirnya, memecah keheningan. “Kita harus berhenti.”

Vlad mengalihkan pandangan, menatap jalur tanah di depan mereka. “Aku bisa terus berjalan.”

“Aku tidak bertanya apakah kau bisa,” jawab Joanna. “Aku mengatakan kau harus berhenti berjalan.”

Alexandru terkekeh pelan. “Manusia selalu percaya mereka punya hak memerintah.”

Vlad menoleh tajam. “Dan pemburu selalu lupa bagaimana rasanya berdarah.”

“Aku tidak lupa,” jawab Alexandru tenang. “Aku hanya belajar hidup dengannya.”

Mereka berhenti di dekat sungai kecil. Airnya jernih, mengalir tenang di antara batu-batu kelabu. Joanna segera berlutut, membasahi sapu tangannya.

“Duduk,” katanya pada Vlad.

Pria itu menurut, meski jelas enggan.

Joanna lalu membuka balutan kain di bahunya. Luka itu telah menutup sebagian, namun bekas cakaran dan peluru perak masih terlihat jelas.

Joanna terdiam, dadanya mengencang.

“Ini karena aku,” katanya lirih.

Vlad menggeleng. “Tidak. Ini karena mereka memilih membenci daripada memahami.”

Tangannya tanpa sadar menyentuh luka itu, jemarinya hangat, lembut, terlalu lembut untuk dunia yang mereka tinggali.

Vlad menahan napas.

“Joanna,” katanya pelan, nyaris seperti peringatan.

“Apa?”

“Jangan menatapku seperti itu.”

Joanna mengangkat wajahnya. “Seperti apa?”

“Seperti aku …” Vlad terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan suara berat, lebih dari yang seharusnya.”

Jantung Joanna berdegup keras. “Aku hanya khawatir.”

“Itu masalahnya,” jawab Vlad. “Kau khawatir. Dan aku merasakannya.”

Alexandru yang duduk di atas batu besar memperhatikan mereka dengan mata setajam pisau. “Tatapan,” katanya tiba-tiba, “Adalah awal dari banyak kesalahan.”

Joanna menoleh. “Atau awal dari kejujuran.”

“Kejujuran jarang bertahan lama,” balas Alexandru. “Terutama di antara makhluk yang hidup dalam dua dunia.”

Vlad berdiri tiba-tiba, menjauh beberapa langkah dari Joanna.

“Vlad kau mau ke mana?” Joanna ikut bangkit.

“Jangan mendekat,” katanya tegas.

Nada itu membuat Joanna berhenti.

“Aku bisa mencium detak jantungmu,” lanjut Vlad, suaranya bergetar. “Aku mendengar napasmu. Dan setiap kali kau menatapku seperti itu, bagian dalam diriku terbangun.”

Joanna menelan ludah. “Aku tidak takut.”

“Aku yang takut,” jawab Vlad jujur. “Takut aku akan melupakan batas.”

Alexandru berdiri. “Dan jika batas itu runtuh, darah akan tumpah. Entah darah siapa.”

Joanna menatap Vlad dengan mata berkaca-kaca. “Aku tidak melihatmu sebagai monster.”

Vlad tertawa pahit. “Itulah yang membuatku berbahaya.”

Keheningan kembali jatuh, lebih berat dari sebelumnya. Angin menggerakkan dedaunan, membawa aroma air dan tanah basah. Joanna melangkah satu langkah mendekat pelan, hati-hati.

“Lihat aku,” katanya.

Vlad ragu, namun akhirnya menoleh.

Tatapan mereka bertemu. Mata emas itu berkilau, bukan karena kemarahan, tapi karena pergulatan yang nyaris menyakitkan.

“Aku memilih untuk berada di sini,” seru Joanna. “Bersamamu. Dengan segala risikonya.”

Vlad menghela napas panjang, seolah menahan sesuatu yang liar di dadanya. “Kau tidak tahu apa yang sedang kau bangunkan.”

“Mungkin,” Joanna mengakui. “Tapi aku tahu apa yang aku rasakan.”

Alexandru mengalihkan pandangan ke hutan. “Dan di situlah tragedi biasanya dimulai.”

Joanna menoleh padanya. “Atau sebuah perubahan.”

Alexandru tersenyum tipis, senyum yang tidak pernah mencapai matanya. “Aku sudah melihat perubahan semacam ini. Jarang berakhir indah.”

“Namun ada yang berakhir kan,” balas Joanna.

Alexandru menatapnya lama. “Kau berbeda.”

“Karena aku manusia?” tanya Joanna.

“Karena kau tidak lari,” jawab Alexandru. “Dan itu membuatmu paling rentan.”

Vlad kembali mendekat, namun menjaga jarak aman. “Alexandru,” katanya serius, “kau bisa pergi jika mau. Ini bukan urusanmu.”

Alexandru menggeleng. “Sudah terlambat. Sejak aku menariknya dari hutan, aku sudah memilih.”

“Memilih apa?” tanya Joanna.

“Untuk berdiri di antara kalian,” jawab Alexandru. “Dan menerima bahwa aku akan dibenci oleh kedua sisi.”

Joanna memandangnya dengan pandangan baru, bukan lagi sekadar pemburu, melainkan seseorang yang kehilangan tempat di dunia.

“Ke mana kita pergi?” tanya Joanna.

Alexandru menunjuk ke utara. “Ada biara tua. Ditinggalkan. Bukan tempat suci, tidak juga terkutuk. Tempat netral.”

Vlad mengangguk. “Aku tahu tempat itu.”

Joanna lalu menatap Vlad. Tatapan mereka kembali bertaut, lebih singkat kali ini, namun cukup untuk membuat perut Joanna bergetar. Tatapan itu membuatnya gelisah. Bukan karena takut. Melainkan karena gadis itu tahu, jika dirinya terus menatapnya seperti itu, suatu hari nanti, dia tidak akan ingin berpaling lagi.

Dan di kejauhan, bayangan hutan yang terbakar seakan berbisik pelan, jika cinta itu seperti api, bisa menghangatkan. Atau menghanguskan segalanya.

Akhirnya ketiganya sampai juga.

Biara tua itu berdiri seperti rahasia yang terlupakan oleh Tuhan dan manusia.

Dinding batunya retak dan dipenuhi lumut, menara loncengnya patah di satu sisi, sementara halaman dalamnya ditumbuhi rumput liar setinggi betis. Udara di sekitarnya dingin dan sunyi, seolah tempat itu menahan napas sejak berabad-abad lalu.

“Tak ada yang datang ke sini sejak lama,” ucap Alexandru sambil mendorong pintu kayu besar yang berderit berat. “Bahkan para pemburu menghindarinya.”

“Kenapa?” tanya Joanna.

Alexandru melirik Vlad sekilas sebelum menjawab, “Karena sesuatu pernah mati di sini. Dan tidak pernah benar-benar pergi.”

Vlad tidak menanggapi. Dia berjalan lebih dulu ke dalam, langkahnya sedikit pincang. Joanna memperhatikan cara bahunya menegang, cara tangannya sesekali mengepal, dan bagaimana napasnya menjadi lebih berat setiap beberapa langkah.

“Vlad,” katanya akhirnya. “Kau semakin buruk.”

“Aku baik-baik saja,” jawab Vlad singkat.

“Itu kebohongan,” sahut Alexandru tanpa emosi. “Dan kebohongan punya bau yang khas.”

Vlad berhenti mendadak. “Kau tidak tahu apapun tentang tubuhku.”

“Aku tahu cukup banyak tentang luka yang seharusnya sudah sembuh,” balas Alexandru. “Dan tentang luka yang menolak sembuh.”

Joanna menatap mereka bergantian. “Apa maksudmu?”

Alexandru membuka tas kecilnya dan mengeluarkan kain bersih. “Duduklah, Vlad. Sebelum kau jatuh.”

Untuk sesaat, Vlad tampak ingin menolak. Namun akhirnya dia bersandar di bangku batu dekat altar runtuh.

Joanna berlutut di hadapannya. “Tolong,” katanya pelan. “Biarkan aku melihatnya.”

Vlad menghela napas panjang. “Jika kau melihatnya, kau tidak akan bisa melupakannya.”

“Aku sudah tidak bisa melupakan apapun sejak malam perburuan terjadi,” jawab Joanna.

Dengan ragu, Vlad membuka kancing bajunya. Joanna tersentak pelan.

Di bawah tulang rusuk kiri, terdapat luka panjang bukan luka cakaran, bukan pula bekas peluru. Kulit di sekitarnya menghitam keabu-abuan, membentuk pola seperti akar pohon yang menjalar ke dalam daging.

Luka itu, bergerak.

Sangat halus, namun jelas terlihat, seolah sesuatu berdenyut di bawah kulitnya.

“Joanna,” bisik Vlad, “jangan sentuh.”

Namun sudah terlambat.

Ujung jari Joanna menyentuh kulit di dekat luka itu dan rasa dingin yang menusuk langsung menjalar ke lengannya.

Joanna menarik tangannya cepat-cepat. “Itu bukan luka biasa.”

“Tidak,” jawab Vlad lirih. “Itu sebuah tanda.”

“Tanda apa?” Suara Joanna bergetar.

Alexandru mendekat, matanya menyipit. “Tanda sumpah lama.”

Vlad menatapnya tajam. “Diam.”

“Sumpah yang dibuat sebelum kau lahir,” lanjut Alexandru tanpa gentar. “Dan ditegaskan kembali dengan darah.”

Joanna berdiri, jantungnya berdegup keras. “Kalian menyembunyikan sesuatu dariku.”

Vlad menutup bajunya kembali. “Untuk melindungimu.”

“Dengan membiarkanku buta dan tak tahu apapun?” Joanna membalas. “Aku telah meninggalkan rumahku, hidupku, demi sebuah kebenaran. Jangan rampas itu dariku.”

Keheningan menyelimuti biara.

Akhirnya, Vlad berbicara, suaranya berat. “Luka itu muncul setiap kali aku menolak panggilan.”

“Panggilan apa?” tanya Joanna.

“Panggilan kawanan,” jawabnya. “Dan … sesuatu yang lebih dari itu sejak lama.”

Alexandru menyandarkan diri ke dinding. “Legenda menyebutnya The First Howl. Perjanjian antara manusia dan yang terkutuk.”

“Joanna,” lanjut Vlad, “Manusia serigala sepertiku tidak hanya berubah karena bulan.”

Joanna menelan ludah. “Lalu karena apa?”

“Karena ikatan,” jawab Vlad. “Dan kutukan yang diwariskan.”

Alexandru menambahkan, “Dan kutukan itu tidak menyukai penyimpangan.”

Joanna menatap luka itu lagi, kini dengan rasa takut yang baru. “Penyimpangan seperti aku?”

Vlad berdiri cepat. “Jangan pernah berpikir begitu.”

“Tapi lukamu muncul setelah aku datang,” ujar Joanna. “Setelah kau melindungiku.”

Vlad tidak menjawab.

Alexandru memecah keheningan. “Kutukan lama selalu menuntut keseimbangan. Jika seekor serigala memilih manusia maka ada harga yang harus dibayar.”

Joanna merasa dadanya sesak. “Dan harga itu adalah kau.”

Vlad menunduk. “Aku bersedia membayarnya.”

“Tidak!” Joanna menggeleng keras. “Aku tidak akan menjadi alasan kau hancur.”

“Kau bukan alasan,” jawab Vlad lembut. “Kau adalah pilihan.”

Alexandru memandang mereka dengan ekspresi yang sulit dibaca. “Pilihan adalah kemewahan yang jarang diberikan oleh kutukan.”

Joanna berbalik ke arah Alexandru. “Kau tahu lebih banyak.”

Alexandru menghela napas. “Aku tahu bagaimana ini biasanya berakhir.”

“Biasanya,” Joanna menekan, “tapi tidak selalu.”

Alexandru menatapnya lama. “Itulah yang membuatmu berbahaya.”

Vlad memegang sisi tubuhnya, menahan nyeri. Luka itu kembali berdenyut, lebih gelap dari sebelumnya.

“Joanna,” katanya terengah-engah, “jika suatu hari aku memintamu pergi …”

“Aku tidak akan pergi,” potong Joanna tegas.

Vlad tersenyum lemah. “Maka kau harus siap melihat sisi diriku yang paling buruk.”

Joanna menatapnya tanpa ragu. “Aku sudah melihat ketakutan terburuk manusia. Aku tidak akan lari dari kebenaranmu.”

Di luar biara, angin berdesir melalui pepohonan, membawa bisikan masa lalu dan ancaman masa depan.

Alexandru berjalan menjauh beberapa langkah, menatap langit yang mulai menggelap. “Kutukan telah mengenal namamu, Joanna Vasile.”

Joanna berdiri di samping Vlad, menggenggam tangannya. “Kalau begitu, biarlah dia tahu aku tidak takut.”

Vlad menatapnya, mata emasnya berkilau bukan karena keganasan, tapi karena perasaan yang semakin sulit dikendalikan.

Dan jauh di dalam lukanya, sesuatu mulai bergerak, terbangun dan menunggu.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel