3. Malam Yang Mencekam
Langit malam itu bersih, terlalu bersih untuk sebuah desa yang terbiasa diselimuti kabut. Bulan purnama menggantung bulat dan pucat di atas hutan Bran, cahayanya tumpah tanpa ampun, menerangi setiap sudut desa seperti mata dingin yang tak pernah berkedip.
Joanna berdiri di balik jendela rumahnya, tirai sedikit tersibak. Cahaya bulan menyentuh lantai kayu, membentuk garis-garis keperakan yang terasa asing, seolah rumah itu bukan lagi miliknya.
Dadanya terasa sesak.
Joanna tak tahu mengapa, tetapi sejak sore tadi, udara terasa berbeda. Lebih berat dan membawa kegelisahan.
“Ini hanya malam purnama,” katanya pada diri sendiri. “Kau membiarkan cerita-cerita itu memengaruhimu.”
Namun bahkan pikirannya sendiri terdengar tidak meyakinkan.
Di kejauhan, lonceng gereja berdentang satu kali. Lalu dua kali. Kemudian berhenti.
Joanna mengernyit. “Biasanya lonceng gereja berbunyi tepat waktu. Selalu tiga kali.”
Ketukan keras terdengar tiba-tiba di pintu.
“Joanna!” Suara Mara.
Joanna bergegas membuka pintu. Mara berdiri di luar, napasnya terengah-engah, wajahnya pucat.
“Kau masih di sini?” tanya Mara cepat.
“Ya. Kenapa?”
“Mereka menutup desa.”
Joanna terdiam. “Menutup desa?”
“Orang-orang mengunci pintu. Jendela dipalang. Father Constantin memerintahkan semua orang untuk tetap di dalam rumah.” Mara menelan ludah. “Ini malam purnama, Joanna.”
“Setiap bulan juga pasti ada purnama.”
“Tidak seperti ini,” bisik Mara. “Tidak ketika hutan, bergerak.”
Angin tiba-tiba berhembus kencang, membuat pepohonan di belakang rumah bergoyang liar. Dari hutan, terdengar suara ranting patah, dedaunan terinjak. Joanna merasakan kulitnya merinding.
“Apa yang sebenarnya kau takutkan?” tanyanya pelan.
Mara menatap bulan, matanya berkilat oleh ketakutan yang tak tersembunyikan. “Aku takut legenda itu lapar.”
Sebelum Joanna sempat bertanya lebih jauh, teriakan melengking memecah malam. Itu jeritan manusia.
Joanna dan Mara saling berpandangan.
“Itu dari arah utara,” ujar Mara gemetar.
“Rumah Keluarga Lonescu,” bisik Joanna. “Ada anak kecil di sana.”
Tanpa berpikir panjang, Joanna meraih mantelnya. “Aku harus ke sana.”
Mara mencengkeram lengannya. “Kau gila? Jangan keluar!”
“Tadi kau bilang legenda itu nyata,” balas Joanna tajam. “Kalau begitu, manusia juga nyata. Dan mereka butuh bantuan.”
“Joanna!”
Namun Joanna sudah berlari keluar, kakinya menghantam tanah beku, napasnya memburu. Cahaya bulan membuat jalan terlihat jelas, terlalu jelas dan setiap bayangan tampak bergerak.
Teriakan itu terdengar lagi. Lebih dekat.
Ketika Joanna tiba di depan rumah Keluarga Lonescu, pintunya terbuka lebar. Obor tergeletak di tanah, apinya hampir padam. Bau darah menyengat udara.
“Joanna!” Suara seorang pria berteriak dari dalam. “Tolong!”
Joanna melangkah masuk dengan hati berdebar. Ruang tamu porak-poranda. Meja terbalik. Darah menodai dinding.
Seorang pria paruh baya berlutut di lantai, memeluk bahunya yang berdarah.
“Apa yang terjadi?” Joanna berjongkok di sampingnya.
“Yang menyerangku tadi bukan manusia!” pria itu terisak. “Dia masuk lewat jendela. Bergerak terlalu cepat.”
“Di mana keluargamu?”
Pria itu menggeleng, air mata mengalir. “Istriku, anakku …”
Suara geraman rendah terdengar dari belakang rumah. Joanna membeku. Geraman itu bukan suara anjing. Terlalu dalam dan berat.
“Joanna!”
Suara itu datang dari luar, Vlad.
“Joanna, keluar sekarang!”
Gadis itu menoleh ke arah pintu belakang. Bayangan besar melintas di balik jendela, siluetnya jelas di bawah cahaya bulan, tinggi, berotot, dengan bentuk kepalanya bukan seperti manusia.
“Joanna!” Vlad muncul di ambang pintu, wajahnya tegang. “Keluar!”
Makhluk itu melompat.
Vlad bergerak lebih cepat. Dia menarik Joanna ke belakangnya tepat saat bayangan hitam itu menghantam dinding, meninggalkan bekas cakar dalam di kayu tua.
Makhluk itu berdiri di depan mereka.
Serigala. Namun berdiri dengan dua kaki.
Bulu hitamnya berkilau keperakan di bawah bulan, matanya merah menyala. Rahangnya dipenuhi darah segar.
Joanna menahan teriakan.
“Itu bukan …” napasnya tercekat. “Itu bukan manusia.”
Vlad berdiri kaku, tubuhnya tegang seperti busur siap lepas.
“Jangan lihat matanya,” ucapnya pelan namun tegas. “Dan jangan lari.”
Makhluk itu menggeram, kepalanya sedikit miring, seolah mengenali Vlad.
“Kau tidak seharusnya berada di sini,” Vlad berkata dingin, kepada makhluk itu.
Makhluk itu mengaum, suaranya mengguncang ruangan, lalu meloncat keluar jendela belakang, menghilang ke dalam hutan dengan kecepatan yang mustahil dilakukan oleh manusia.
Keheningan terjadi sesaat, berat dan berdarah. Joanna terduduk di lantai, napasnya gemetar. Tangannya bergetar hebat.
“Itu … manusia serigala,” bisiknya.
Untuk beberapa saat Vlad tidak langsung menjawab.
“Joanna,” katanya akhirnya, suaranya serak. “Dengarkan aku baik-baik. Kau harus kembali ke rumahmu. Sekarang.”
“Tidak,” balas Joanna cepat. “Ada orang yang terluka. Anak kecil mungkin butuh bantuanku.”
“Yang datang tadi bukan satu-satunya,” potong Vlad. “Dan yang lain tidak akan sebaik itu untuk pergi tanpa memangsa.”
“Kau tahu ini akan terjadi?” Joanna menatapnya tajam. “Kau tahu, Vlad?”
Pria itu menutup matanya sejenak. “Aku berharap tebakanku salah.”
Teriakan lain terdengar dari kejauhan.
Disusul suara auman panjang, menggema dari berbagai arah.
Vlad menggenggam lengan Joanna. “Kita harus pergi. Sekarang!”
Mereka pun berlari kembali ke rumah Joanna. Dari kejauhan, api terlihat menyala di beberapa titik desa. Suara lonceng gereja berdentang kacau, bercampur teriakan dan doa.
“Ini seperti, perburuan,” ucap Joanna sambil terengah-engah.
“Tidak,” jawab Vlad cepat. “Ini pembalasan.”
Saat mereka tiba di rumah, Vlad mendorong Joanna masuk dan mengunci pintu. Dia memeriksa jendela satu per satu, memalangnya dengan papan kayu.
“Vlad,” seru Joanna dengan suara gemetar. “Makhluk itu, apakah
dia …”
“Manusia,” potong Vlad. “Dulunya.”
Joanna menelan ludah. “Dan kau?”
Vlad berhenti bergerak.
Dia berdiri membelakangi gadis itu, bahunya naik turun.
“Vlad,” ulang Joanna pelan.
Di luar, sesuatu menghantam dinding rumah. Satu kali, dua kali. Lalu kayu berderit.
Vlad berbalik perlahan. Dalam cahaya lilin, wajahnya tampak berbeda, urat-urat di lehernya menonjol, matanya berkilat lebih terang dari sebelumnya.
“Aku berjuang setiap hari,” katanya lirih. “Agar tidak menjadi seperti mereka.”
Joanna mematung.
“Aku berjuang,” lanjut Vlad, suaranya bergetar. “Agar ketika kau menatapku, kau masih melihat manusia.”
Suara cakar menggores dinding. Joanna mendekat selangkah, meski seluruh tubuhnya berteriak untuk lari.
“Aku melihatmu,” katanya pelan. “Dan aku tidak akan pergi.”
Vlad menatapnya, sesuatu yang liar dan terluka berperang di matanya.
“Kalau begitu, malam ini akan mengubah segalanya,” bisiknya
Di luar, bulan purnama bersinar terang menyaksikan darah, rahasia, dan awal dari takdir yang tak bisa lagi ditarik kembali.
Pagi setelah malam purnama tidak membawa kelegaan.
Desa Bran terbangun dalam keheningan yang aneh. Keheningan yang bukan berasal dari ketenangan, melainkan dari ketakutan yang masih menggantung di udara. Kabut menyelimuti jalanan lebih tebal dari biasanya, seolah mencoba menutupi apa yang terjadi semalam, namun bau darah tetap menusuk hidung Joanna begitu dia membuka pintu rumahnya.
Joanna berdiri di ambang pintu, menatap jejak-jejak kaki yang mengering di tanah. Terlalu besar untuk manusia. Terlalu teratur untuk seekor hewan.
Vlad berdiri beberapa langkah darinya, wajahnya tegang, lingkar hitam tampak jelas di bawah matanya.
“Kau tidak seharusnya keluar hari ini,” katanya.
Joanna menarik mantel lebih rapat. “Ada orang yang mati. Ada yang terluka. Aku tidak bisa hanya bersembunyi.”
Vlad mengepalkan rahangnya. “Justru karena itulah kau harus tinggal di sini.”
“Karena aku manusia?” Joanna menatapnya. “Atau karena aku target sesungguhnya?”
Vlad tidak langsung menjawab. Angin berhembus, membuat dedaunan di hutan berdesir, seolah menertawakan kebisuan mereka.
“Karena desa ini akan mencari kambing hitam,” ujar Vlad akhirnya. “Dan orang asing selalu pilihan termudah.”
Di pusat desa, kekacauan malam sebelumnya meninggalkan bekas yang tak bisa disembunyikan. Rumah Keluarga Lonescu dipasangi kain putih di pintunya, tanda kematian. Jendela gereja terbuka lebar, dan di depannya, penduduk desa berkumpul dengan wajah pucat dan mata merah karena kurang tidur.
Joanna berjalan di antara mereka, merasakan tatapan tajam menusuk punggungnya.
“Itu, Joanna.”
“Aku bilang juga apa.”
“Sejak dia datang …”
Bisik-bisik itu mengikuti setiap langkahnya.
Mara mendekatinya dengan wajah pucat. “Ada tiga orang yang mati,” bisiknya. “Dua terluka parah.”
Joanna menelan ludah. “Dan gereja berkata apa?”
“Father Constantin menyebutnya sebagai hukuman.” Mara menatap Joanna dengan mata berkaca-kaca. “Father bilang dosa telah masuk ke Bran.”
“Dan dosa itu, aku?”
Suara Joanna nyaris tak terdengar.
Mara tidak menjawab. Diamnya sudah cukup menjelaskan semuanya.
Siang menjelang sore, dan suasana desa semakin tegang. Pria-pria desa mulai membawa obor dan senjata tajam. Ada kapak, garpu rumput, pisau perak yang berkilat dingin. Salib-salib perak digantung di setiap pintu.
Joanna berdiri di depan gereja ketika Father Constantin melangkah ke mimbar batu kecil.
“Saudara-saudaraku,” Suaranya menggema. “Malam tadi, kejahatan kembali berjalan di antara kita.”
“Amin!” Seseorang berteriak.
“Kita telah membiarkan kegelapan terlalu dekat,” lanjutnya. “Kita telah menutup mata.”
Tatapan pendeta itu jatuh tepat ke arah Joanna.
“Dan sekarang, kita harus membersihkan desa ini.”
Kerumunan bergemuruh.
Vlad muncul di samping Joanna, berdiri terlalu dekat, perlindungan yang terlalu jelas.
“Ini bukan ritual doa,” bisik Joanna. “Ini perburuan.”
Vlad mengangguk tipis. “Dan mereka tidak hanya memburu makhluk malam.”
Mara menarik Joanna menjauh ketika kerumunan mulai bergerak.
“Pergilah,” katanya cepat. “Kembali ke rumahmu.”
“Aku tidak akan bersembunyi.”
“Kalau begitu, setidaknya jangan berada di jalan mereka,” desak Mara. “Orang-orang itu akan masuk hutan.”
Joanna terdiam.
“Hutan.”
Tempat di mana semua ini bermula.
“Ada sesuatu di sana. Sesuatu yang mereka tidak pahami,”
ucap Joanna pelan.
Mara mencengkeram lengannya. “Justru karena itu mereka akan membakarnya.”
Sorenya, Joanna memutuskan melakukan kesalahan terbesar, atau mungkin satu-satunya pilihan yang dimilikinya.
Gadis itu berjalan menuju hutan.
Vlad sudah menghilang sejak tengah hari, entah untuk apa. Joanna meyakinkan dirinya bahwa dia hanya ingin melihat, mengumpulkan bukti, dan memahami apa yang sebenarnya terjadi. Jalan setapak itu sunyi, sangat sepi hanya suara langkahnya sendiri yang terdengar.
Semakin dalam Joanna melangkah, semakin dingin udara terasa.
“Joanna …” Ada seseorang yang memanggilnya.
Gadis itu berhenti.
“Vlad?” panggilnya.
Tak ada jawaban.
Ranting patah di belakangnya. Joanna berbalik cepat.
Bayangan itu bergerak di antara pepohonan.
“Siapa di sana?” ucapnya, suaranya bergetar.
Geraman rendah menjawabnya.
Joanna mundur satu langkah, lalu dua langkah. Tanah di bawah kakinya licin oleh dedaunan basah. Dia terjatuh, napasnya tercekat.
Dari balik kabut, sosok itu muncul.
Tinggi. Berbulu. Matanya merah menyala. Manusia serigala. Bukan yang semalam. Yang ini berbeda. Lebih kurus dan liar.
Makhluk itu melangkah mendekat, cakarnya menghantam tanah dengan suara berat. Air liurnya menetes, bercampur darah.
Joanna merangkak mundur, punggungnya menghantam batang pohon.
“Jangan,” bisiknya. “Aku tidak …”
Makhluk itu mengaum.
Suara langkah lain terdengar cepat, menghantam tanah dengan kekuatan brutal.
“Pergi!”
Suara itu rendah namun berbahaya.
Makhluk di depan Joanna berhenti, kepalanya menoleh ke arah suara. Vlad muncul dari balik pepohonan. Namun bukan Vlad yang Joanna kenal.
Matanya berkilat emas. Napasnya berat. Urat-urat menonjol di lehernya.
“Ini wilayahku,” seru Vlad dengan suara yang hampir bukan manusia. “Kau melanggar batas.”
Makhluk itu menggeram, menantang.
Vlad bergerak.
Dalam sekejap, tubuhnya melesat ke depan, menghantam makhluk itu dengan kekuatan mengerikan. Mereka berguling di tanah, cakar dan taring beradu, suara tulang dan daging bertabrakan membuat Joanna menutup telinga.
“Joanna, lari!” teriak Vlad.
Namun kakinya tak mau bergerak. Makhluk itu berhasil mencakar bahu Vlad, darah muncrat. Vlad tiba-tiba mengaum. Suara yang membuat darah Joanna seketika membeku.
Lalu Vlad menghantam kepala lawannya ke batu besar. Satu kali,
dua kali. Makhluk itu jatuh seketika.
Hening mendadak menyelimuti hutan.
Vlad berdiri terengah-engah, dadanya naik turun. Dia menoleh ke arah gadis itu.
Untuk sesaat, Vlad tidak tampak sepenuhnya seperti manusia.
“Joanna,” katanya, suaranya bergetar. “Kau harus pergi. Sekarang.”
Langkah-langkah terdengar dari kejauhan. Cahaya obor dan teriakan.
“Di sana!” teriak orang banyak.
“Warga desa ada di hutan!”
Wajah Vlad menegang. “Mereka datang!”
Joanna berdiri terpincang. “Tapi kau terluka.”
“Itu tidak penting.”
“Tapi, Vlad,”
Pria itu mencengkeram bahu Joanna, matanya menatap dalam. “Jika warga desa melihatku seperti ini, mereka akan membunuhmu juga.”
Teriakan semakin dekat.
Vlad mendorong Joanna ke arah jalan setapak lain. “Pergi. Jangan menoleh ke belakang!”
“Aku tidak akan meninggalkanmu!” ucap Joanna.
“Kau harus pergi!” bentaknya. “Atau semua yang kulakukan akan sia-sia.”
Dengan air mata yang mengabur, Joanna mulai berlari. Di belakangnya, suara obor dan teriakan bercampur dengan satu auman panjang, penuh amarah dan kesedihan. Joanna tiba di tepi desa saat matahari mulai tenggelam. Penduduk masih berlari ke arah hutan, senjata di tangan mereka. Api mulai menyala di kejauhan. Hutan Bran terbakar.
Dan Joanna sadar apapun yang terjadi malam ini, desa ini tak akan pernah sama lagi. Dan begitu pula dirinya.
