Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

2. Rumah Yang Menghadap Hutan

Kabut di Desa Bran pagi itu terasa lebih tebal dari biasanya. Joanna berdiri di ambang jendela penginapan Ana Popescu, memandangi hutan yang menjulang gelap di kejauhan. Pohon-pohon cemara berdiri rapat, cabang-cabangnya saling bertaut seperti jemari yang bersekongkol menyimpan rahasia.

Kata-kata Vlad semalam kembali terngiang.

“Legenda memiliki cara untuk menjadi kenyataan.”

Joanna menghela napas panjang. Sebagai seorang peneliti, dia seharusnya memisahkan fakta dan mitos. Namun sejak menginjakkan kaki di Bran, garis itu terasa kabur. Seolah-olah desa ini hidup di antara dua dunia.

Ketukan pelan terdengar di pintu.

“Joanna?” Suara Ana memanggil.

“Ya, Bu Ana?”

“Ada seseorang mencarimu.”

Joanna membuka pintu dan mendapati Mara berdiri di lorong sempit, mengenakan mantel cokelat tebal. Wajahnya tampak tegang.

“Kita perlu bicara,” ucap Mara singkat.

Mereka lalu berjalan menyusuri jalan desa yang masih lengang. Beberapa penduduk melirik keduanya dari balik tirai jendela, lalu cepat-cepat menutupnya.

“Kau bertemu Vlad tadi malam,” ujar Mara tanpa basa-basi.

Joanna terkejut. “Dari mana kau tahu?”

“Di Bran, kabar buruk selalu berlari lebih cepat mencari jalannya,” jawab Mara. “Dan Vlad Dragoi, bukan orang yang seharusnya kau dekati.”

“Kenapa semua orang mengatakan itu?” Joanna berhenti melangkah. “Tak satupun dari kalian mau menjelaskan dengan jujur.”

Mara menoleh, rahangnya mengeras. “Karena kejujuran di sini sangat berbahaya.”

Joanna menatapnya lurus. “Aku tak akan pergi dari tempat ini. Aku mau meneliti di sini.”

Mara terdiam beberapa detik sebelum akhirnya berkata, “Kalau begitu, kau sebaiknya tidak tinggal di penginapan.”

“Apa maksudmu?”

“Ana terlalu dekat dengan gereja. Dan gereja terlalu dekat dengan masa lalu.” Mara menarik napas. “Ada rumah kosong di pinggir desa. Dekat hutan.”

Joanna merasakan bulu kuduknya berdiri. “Dekat hutan?”

“Tak ada tempat di Bran yang benar-benar jauh dari hutan,” balas Mara. “Tapi rumah itu, setidaknya memberi jarak dari mata-mata.”

Rumah itu berdiri sendirian di ujung jalan tanah, dikelilingi pagar kayu yang sebagian telah lapuk. Cat putihnya mengelupas, memperlihatkan kayu tua berwarna kelabu. Di belakangnya, hutan menjulang seperti tembok hitam yang hidup.

Joanna berdiri di depan gerbang, menelan ludah.

“Pemiliknya telah pergi bertahun-tahun lalu,” ujar Mara. “Tak ada yang mau tinggal di sini.”

“Kenapa?”

Mara ragu. “Karena dari rumah ini, kau bisa mendengar hutan bernapas.”

Joanna menoleh tajam. “Itu bukan jawaban.”

Mara tersenyum tipis. “Itu satu-satunya jawaban yang kumiliki.”

Di dalam, rumah itu berbau debu dan kayu tua. Cahaya matahari masuk melalui jendela besar yang menghadap langsung ke hutan. Joanna merinding tanpa tahu sebabnya.

“Aku akan mengirimkan beberapa barangmu nanti,” seru Mara. “Dan Joanna,”

“Ya?”

“Jika kau mendengar suara di malam hari.” Mara menatapnya serius. “Jangan buka pintu.”

Sore hari, Joanna membersihkan rumah sambil mencoba menenangkan pikirannya. Dia menata buku-buku di rak tua, membuka jendela agar udara segar masuk.

Namun udara yang masuk bukan hanya membawa aroma tanah basah, ada bau lain. Logam dan darah.

Joanna menutup jendela dengan cepat.

“Tenang,” gumamnya. “Kau hanya lelah.”

Ketika matahari mulai tenggelam, bayangan hutan memanjang hingga hampir menyentuh teras rumah. Joanna menyalakan lampu minyak dan duduk di kursi dekat perapian yang tak lagi digunakan.

Ketukan terdengar dari pintu. Joanna menegang.

“Siapa di sana?” tanyanya, berusaha terdengar tenang.

“Vlad.”

Jantung Joanna berdegup keras.

Dia membuka pintu perlahan. Vlad berdiri di sana, mengenakan mantel hitam panjang. Wajahnya tampak lebih pucat dari terakhir kali mereka bertemu.

“Kau pindah ke sini,” katanya, nada suaranya tak bisa ditebak.

“Aku butuh tempat yang tenang.”

“Tempat ini tidak pernah tenang,” balas Vlad.

“Kenapa kau datang?” tanya Joanna.

Vlad menatap hutan di belakang rumah, lalu kembali menatap Joanna. “Untuk memastikan kau masih hidup.”

Joanna mendengus kecil. “Aku tidak selemah itu.”

Vlad tersenyum samar, senyum yang cepat menghilang. “Di Bran, kekuatan seringkali tak berarti.”

Mereka lalu duduk di ruang tamu, dipisahkan meja kayu tua. Keheningan di antara keduanya terasa berat.

“Kau seharusnya tidak tinggal dekat hutan,” ujar Vlad akhirnya.

“Dan kau seharusnya berhenti memperingatkanku tanpa penjelasan,” balas Joanna. “Apa yang sebenarnya kau takutkan?”

Vlad mengepalkan tangannya. “Aku takut kau akan melihat sesuatu yang tak bisa kau lupakan.”

“Seperti apa?”

“Seperti diriku.”

Joanna menatapnya lama. “Aku sudah melihatmu.”

“Belum,” jawab Vlad pelan. “Belum sepenuhnya.”

Angin tiba-tiba menderu di luar, membuat jendela bergetar. Dari kejauhan, terdengar suara ranting patah.

Vlad berdiri, mendadak. “Aku harus pergi.”

“Sekarang?”

“Terutama sekarang.” pria itu melangkah ke pintu, lalu berhenti. “Joanna jika kau mendengar namamu dipanggil dari hutan …”

“Aku tidak akan menjawab,” potong Joanna.

Vlad menoleh, mata mereka bertemu. Untuk sesaat, ada sesuatu yang rapuh di wajahnya.

“Bagus,” katanya pelan. “Karena itu bukan aku.”

Malam itu, Joanna berbaring di ranjang lamanya, menatap langit-langit. Hutan di belakang rumah tampak lebih dekat, seolah mendekat perlahan.

Auman terdengar lagi. Kali ini lebih jelas.

Lebih dekat. Joanna memeluk selimutnya, jantungnya berdebar kencang. Di balik tirai, bayangan besar bergerak di antara pepohonan.

Dan entah kenapa, alih-alih takut, Joanna merasakan sesuatu yang lain. Ketertarikan. Dan mungkin saja takdir.

Pagi telah tiba.

Di rumah dekat hutan datang tanpa suara ayam berkokok atau tawa anak-anak. Yang ada hanyalah desir angin yang menyusup di antara pepohonan dan gesekan ranting-ranting tua, seolah hutan berbisik dalam bahasa yang tak dimengerti oleh manusia.

Joanna terbangun dengan perasaan tidak nyaman, dadanya terasa berat tanpa sebab yang jelas. Dia duduk perlahan di tepi ranjang, mengingat bayangan besar yang bergerak di balik tirai malam tadi.

“Aku pasti bermimpi,” pikirnya, meski jauh di dalam dirinya, keyakinan itu rapuh.

Joanna bersiap untuk keluar menuju desa, untuk membeli bahan makanan dan mungkin berbicara dengan beberapa penduduk. Dia menolak untuk menjadi tawanan ketakutannya sendiri.

Saat Joanna melangkah keluar rumah, udara pagi terasa menggigit. Kabut masih bergelayut rendah, membuat jalan tanah terlihat seperti lorong menuju dunia lain. Hutan di belakang rumah tampak sunyi, terlalu sunyi.

“Joanna.”

Dia menoleh cepat.

Mara berdiri di dekat pagar, wajahnya tegang. “Apakah kau merasa aman tinggal di sini?”

“Ya,” jawab Joanna. “Terima kasih atas bantuannya.”

Mara mengangguk singkat. “Aku datang bukan untuk itu.”

“Ada apa?”

“Orang-orang mulai membicarakanmu.”

Joanna tersenyum tipis. “Itu wajar. Aku orang asing.”

“Bukan hanya itu.” Mara mendekat, merendahkan suara. “Mereka bilang kau datang membawa masalah.”

Joanna terdiam. “Masalah apa?”

“Masalah yang datang bersama darah dan bulan.”

Joanna lalu tiba di pasar.

Pasar desa tampak lebih ramai dari biasanya, namun suasananya aneh, terlalu sunyi untuk tempat yang penuh orang. Percakapan terhenti ketika Joanna melangkah masuk. Beberapa wanita menarik anak-anak mereka menjauh, seolah gadis itu membawa penyakit.

Joanna berhenti di lapak roti.

“Selamat pagi,” sapanya ramah.

Penjual roti, seorang wanita berwajah keras, menatapnya dingin. “Kau tinggal di rumah dekat hutan?”

Itu bukan sekedar pertanyaan.

“Ya,” jawab Joanna.

Wanita itu meletakkan roti di meja dengan gerakan kasar. “Rumah itu terkutuk.”

“Setiap rumah tua punya cerita,” balas Joanna pelan.

Wanita itu tertawa singkat. “Cerita? Tidak. Ini sebuah peringatan.”

Joanna membayar dan berbalik pergi. Di lapak daging, seorang pria menolak melayaninya.

“Kami tidak menjual pada orang yang mengundang kegelapan,” katanya tanpa menatap Joanna.

“Kegelapan?” Joanna mengangkat alis. “Saya hanya membeli daging.”

“Kegelapan selalu dimulai dari hal kecil.”

Setelah selesai berbelanja, gadis itu pun melangkah meninggalkan pasar.

Di depan sebuah gereja tua, Joanna berhenti. Bangunan itu berdiri kokoh, salib peraknya berkilau dingin di bawah cahaya pucat matahari.

Pintu gereja terbuka, dan seorang pria tinggi berjubah hitam melangkah keluar. Wajahnya tirus, matanya tajam.

“Kau pasti Joanna Vasile,” katanya.

“Ya. Dan Anda?”

“Father Constantin.” Dia menatap Joanna dari ujung rambut hingga kaki. “Kau tidak seharusnya tinggal di sini.”

“Di mana saya tinggal, bukan urusan gereja.”

“Segala sesuatu di Bran adalah urusan gereja,” jawabnya dingin. “Terutama jika menyangkut keselamatan jiwa.”

Joanna menahan diri. “Saya tidak berniat mencelakai siapa pun.”

Father Constantin mendekat satu langkah. “Niat seringkali tidak berarti apa-apa.”

“Apa maksud Anda?”

“Desa ini telah bertahan ratusan tahun karena kami tahu kapan harus menutup pintu.” Father itu menatap Joanna tajam. “Dan kapan harus mengusir orang asing.”

Joanna membalas tatapannya. “Saya tidak akan pergi.”

Untuk sesaat, wajah sang pendeta mengeras. “Kalau begitu,” katanya pelan. “Jangan harap kami akan melindungimu!”

Sore hari, Joanna kembali ke rumah dengan langkah berat. Tatapan-tatapan dingin terus mengikutinya dari kejauhan. Dia merasa seperti hewan yang diamati dan dinilai apakah layak diburu.

Ketika Joanna hampir sampai di pagar rumah, seseorang memanggilnya.

“Joanna!"

Vlad berdiri di bawah pohon tua, bayangannya menyatu dengan batang kayu gelap.

“Kau akan pergi dari desa ini?” katanya.

“Aku akan tinggal di desa ini,” jawab Joanna tajam. “Atau setidaknya mencoba.”

Vlad mendekat. “Mereka bersikap sinis padamu?”

“Ya, seperti aku pembawa wabah.”

Vlad menghela napas. “Aku sudah memperingatkanmu.”

“Kenapa mereka membenciku?” tanya Joanna. “Karena aku orang asing? Atau karena aku tinggal di sini?”

Vlad menatap rumah itu, lalu hutan. “Karena kau berada di tempat yang salah, pada waktu yang salah.”

Joanna mendekat selangkah. “Atau karena aku terlalu dekat denganmu?”

Tatapan Vlad menegang. “Jangan libatkan aku.”

“Tapi mereka sudah melakukannya.”

Vlad terdiam. Angin berhembus pelan, membawa suara daun bergesek.

“Joanna,” katanya akhirnya. “Jika keadaan menjadi berbahaya, kau harus segera pergi. Tanpa menoleh ke belakang.”

Joanna menggeleng. “Aku tidak akan lari. Aku sedang meneliti di tempat ini.”

Vlad menatapnya lama, seolah mencoba memahami keputusan yang menurutnya mustahil.

“Kau keras kepala,” gumamnya.

“Dan kau terlalu banyak menyimpan rahasia.”

Malam datang lebih cepat hari itu. Langit gelap, bulan tersembunyi di balik awan tebal. Joanna menutup jendela rapat-rapat dan menyalakan lilin.

Ketukan keras terdengar di pintu.

“Joanna Vasile!” Suara pria menggema. “Buka!”

Joanna mendekat dengan hati-hati dan mengintip melalui celah. Dua pria desa berdiri di luar, membawa obor.

“Ada apa?” tanyanya.

“Kami hanya ingin memastikan kau tidak melakukan sesuatu yang terlarang,” jawab salah satu dengan senyum tipis.

“Aku tidak melakukan apa pun.”

“Belum,” sahut yang lain. “Tapi malam masih panjang.”

Dari balik kegelapan, suara langkah terdengar. Vlad muncul, berdiri di antara Joanna dan para pria itu.

“Pergi,” katanya dingin.

“Kau tidak berhak memerintah kami,” balas salah satu pria.

Vlad menatapnya dengan mata gelap yang berkilat. “Aku berhak melindungi siapa yang berada di wilayahku.”

Para pria itu saling berpandangan, lalu mundur perlahan.

“Ini belum selesai,” seru salah satu dari mereka sebelum pergi.

Setelah mereka pergi, keheningan terasa lebih berat dari sebelumnya.

“Kau lihat?” ujar Vlad. “Ini yang kumaksud berbahaya.”

Joanna menatapnya, perasaannya campur aduk antara marah dan takut. “Aku tidak akan menjadi korban ketakutan yang mereka ciptakan.”

Vlad mendekat, suaranya merendah. “Di Bran, ketakutan adalah hukum.”

Joanna menelan ludah. “Dan kau bagian dari hukum itu?”

Vlad tidak menjawab. Dia berbalik dan berjalan menuju hutan, bayangannya segera ditelan kegelapan. Joanna berdiri di ambang pintu, menatap punggungnya yang menjauh. Untuk pertama kalinya sejak tiba di Bran, gadis itu benar-benar menyadari satu hal jika desa ini tidak hanya menyembunyikan legenda. Desa ini hidup dari ketakutan. Dan Joanna telah menjadi bagiannya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel