Bab 8 Before Dino's Wedding Day
Jihye menuju pintu utama begitu terdengar suara bel berbunyi menghentikan aktivitasnya yang sedang mengusap titik-titik keringat di dahi suaminya yang tertidur. Ia dengan perlahan turun dari ranjang dan bergegas menemui pengantar makanan yang sudah sampai di depan pintu rumahnya. Ia sampai harus berjalan dengan cepat namun tanpa suara hanya agar Mingyu tidak bangun.
"Atas nama Jihye?" tanya kurir tersebut dan diangguki Jihye.
"Ini uangnya, terimakasih"
"Terimakasih, selamat menikmati makanannya"
Usai menutup pintu, Jihye menuju meja makan, menyiapkan makanan untuk Mingyu santap karena hari sudah siang dan pria itu harus mengisi perutnya walau mungkin tak nafsu makan.
Ia terlalu serius dan berusaha bergerak cepat. Namun siapa sangka jika Jihye memiliki tingkat kewaspadaan yang cukup tinggi, hingga sikunya bergerak cepat menusuk ke belakang saat seseorang hendak menyentuh pinggangnya.
"Akh!"
Dan siapa sangka jika orang tersebut adalah Kim Mingyu yang baru bangun dari tidurnya dan hendak melingkarkan tangan di pinggang Jihye. Naas sekali, dia harus jatuh tersungkur merasakan sakit karena benar-benar tak siap dengan serangan mendadak dari istrinya sendiri.
"Astaga! Maaf aku tak sengaja, kau mengejutkanku!" Seru Jihye, segera membantu Mingyu duduk di kursi, sekalian saja pria itu makan siang.
"Reflekmu lumayan juga" ucap Mingyu memuji dengan cengiran sekaligus meringis menahan sakit. Apakah untuk mengetahui kelebihan Jihye yang satu ini ia harus merasakannya lebih dulu?.
"Apa sakit?" Jihye masih panik rupanya. Tentu saja, ia sudah merawat pria itu sebaik mungkin, namun ia sendiri yang menambah sakitnya.
"Sedikit, tapi tak apa" Mingyu menahan tangan Jihye yang masih menyentuh bagian di bawah rusuknya, tempat dimana wanita itu menyikut dengan lengannya. Jihye baru bisa bernafas lega saat Mingyu memperlihatkan wajah baik-baik saja. Tentu saja sangat memalukan kalau ia terlihat kesakitan karena kekuatan seorang wanita.
"Baiklah. Ayo makan siang" Jihye memberikan semangkuk makanan yang terlihat begitu menggiurkan bagi Mingyu yang tiba-tiba nafsu makannya kembali.
"Kelihatannya enak"
"Memang enak" jawab Jihye yang tersenyum saat melihat Mingyu bersiap menyantap hidangan di depan matanya.
Mingyu benar-benar lupa dengan acara merajuknya karena makanan selezat ini, dan Jihye juga lupa dengan rasa bersalahnya karena melihat pemandangan yang menggemaskan seperti ini. Hingga tanpa sadar tangannya mengusak rambut Mingyu.
"Makan lah yang banyak"
"Gyu, bukan kah semalam kau bilang kalau hari ini pernikahan Dino?"
"Maksudku besok lusa, dan itu artinya besok pagi" Mingyu tersenyum tanpa rasa bersalah.
"Maaf soal itu" lanjutnya dan terkekeh kecil.
"Jadi... Ayo kita cari gaun yang pas untukmu, istriku harus cantik kan??" ucap Mingyu di sela makan. Awalnya Jihye tampak berpikir. Ia tidak biasa membeli gaun, namun gaun yang ia miliki sekarang rasanya sudah terlalu sering dipakai. Mungkin tidak ada salahnya ia membeli lagi.
Dan Mingyu pun paham betul bahwa istri dari teman-temannya di luar sana adalah para wanita yang senang belanja sebagaimana wanita pada umumnya. Mereka pasti memiliki beberapa gaun cantik. Namun tidak dengan Jihye, sebagai suami ia tahu bahwa istrinya adalah wanita yang jarang belanja. Mingyu yakin uang yang ia berikan ke Jihye pasti masih mengendap di rekening.
"Baiklah, maka dari itu kau harus sembuh segera". Entah mengapa Jihye menjadi minder jika bertemu dengan mereka. Ia tidak bisa berdandan secantik istri teman-teman Mingyu, dan ia takut mempermalukan pria itu walau nyatanya mereka orang-orang yang baik.
Mingyu menyadari perubahan raut wajah Jihye. Wanita itu tampak berpikir keras."Kenapa?" tanyanya.
"Aku tidak pandai menggunakan make up" lirih Jihye.
"Tenang, kita bisa ke salon sayang, jangan cemberut kalau tidak mau kucium bibirmu" Mingyu terlalu santai mengatakannya. Tapi Jihye terlalu serius menangkapnya, membuat pipinya panas. Namun Mingyu tidak menyadari itu karena ia terlanjur jatuh dalam kelezatan makanan di depannya.
Hari sudah sore dan kesehatan Mingyu sudah sepenuhnya membaik, menurut pria itu. Tapi Jihye tetap memerintahkan agar memakai sweater turtleneck tebal dan tidak lupa mantel.
"Aku baik-baik saja" gerutu Mingyu saat Jihye memakaikan mantel. Ia pikir sebentar lagi dirinya akan merasa gerah karena pakaian yang tebal itu.
"Katakan sekali lagi maka kutarik bibirmu. Memangnya kau tidak ingat kejadian semalam? Kau amnesia tuan Kim?" ucap Jihye. Tapi Mingyu justru tersenyum lebar.
"Coba saja tarik bibirku ini nona. Karena aku memang baik-baik saja, aku tidak mau memakai mantel" tantang Mingyu dan mendapat tatapan tajam dari Jihye.
Tangan gesit Jihye hendak menarik bibir Mingyu, namun nyatanya pria tampan di depannya sudah siap akan serangan. Tangan besarnya lebih dulu mencekal pergelangan tangan Jihye dan menariknya mendekat. Kemudian mencuri satu ciuman singkat yang sangat jarang dia dapat selama sebulan menikah. Jihye mendelik dengan kelakuan Mingyu barusan.
"Jangan mengancamku sayang... Akhh!" Dia pikir Jihye akan diam, merona, atau terpaku? Tidak. Tangannya sudah melancarkan aksi dengan menarik bibir Mingyu sampai rasanya ingin lepas.
"Harusnya aku yang mengatakan itu sayang" ucapnya terakhir sebelum keluar, meninggalkan Mingyu di kamarnya. Tugasnya menyiapkan Mingyu sebelum keluar sudah selesai.
Pria tinggi itu tersenyum lebar.
"Apa barusan dia memanggilku sayang?"
Mingyu hanya bisa menahan senyum saat melihat Jihye menjajal gaun. Haish, dia tidak bisa membiarkan laki-laki lain melihatnya kecuali laki-laki tersebut mengetahui kalau dia kepunyaan seorang Kim Mingyu.
"Aku menyukainya" ujar Jihye yang masih berkaca pada cermin dengan Mingyu yang tak jauh darinya.
"Ya, terlihat bagus, sudah yakin yang ini saja?" tanya Mingyu memastikan dan Jihye mengangguk.
Tidak hanya sebuah gaun panjang, melainkan dress pendek berbahan sutra selutut warna navy juga dipilihkan Mingyu karena ia yakin akan ada makan malam bersama dengan teman-temannya setelah pernikahan Dino nanti.
"Lihatlah, ini akan bagus jika kau pakai" Mingyu menunjuk etalase kaca yang memajang earrings. Ia pun membeli dua untuk Jihye. Sangat yakin jika Jihye semakin anggun jika
Laki-laki itu terlihat antusias membelikan berbagai keperluan untuk besok. Padahal Jihye yakin harganya tidak ada yang murah, tetapi Mingyu dengan senang hati melakukannya.Sampai yang terakhir mereka membeli sepasang sepatu untuk Jihye.
Jihye mencobanya dengan berdiri dan berjalan sedang Mingyu berdiri di depannya karena wanita itu terlihat was was dengan tingginya hak sepatu, tampak dari ekspresi dan caranya memegang lengan Mingyu.
"Bagaimana? Apa sesak?" tanya Mingyu.
Jihye menggeleng, "hanya saja aku sedikit takut kalau terjatuh" ucapnya meringis. Ya, Mingyu tahu betul jika Jihye tak pernah memakai sepatu high heels.
"Tak apa, kau akan terbiasa. Kau tahu kan, aku akan semakin tinggi jika memakai pantofel nanti? Kau harus mengimbanginya sayang" Mingyu tersenyum manis membuat Jihye menarik sudut bibirnya.
"Baiklah"
Selagi Mingyu membayar, Jihye duduk di sebuah sofa sambil mengamati sekitar atau lebih tepatnya isi dari butik ini dan atensinya menemukan majalah yang tersimpan di sebuah meja tepat disampingnya. Sebenarnya ia tidak tertarik, namun sampul majalah tersebut yang membuat tangannya bergerak mengambil.
Speechless. Meskipun ia tahu jika suaminya seorang model, ia tetap saja tidak menyangka jika model pada majalah yang di pegangnya adalah Mingyu. Ia menjadi sangat sadar jika Mingyu begitu terkenal.
Dirinya terbilang jarang membeli produk yang berfotokan sang suami. Hal itu menyadarkannya bahwa ia begitu tidak peduli dengan pekerjaan Mingyu dan membuat rasa bersalah muncul. Padahal lelaki itu selalu menyempatkan diri untuk mampir ke kantornya.
Tampan. Seperti biasa. Batinnya, dan seandainya Mingyu mendengar itu, maka ia sudah tersenyum seharian seperti orang sinting.
"Ayo, kita makan malam" ucap Mingyu yang datang dengan paper bag di kedua tangannya. Jihye tersenyum mengangguk, maka setelahnya Mingyu membenarkan ucapan Seungcheol jika salah satu cara menyenangkan hati wanita adalah dengan mengajaknya berbelanja. Sahabatnya itu memang handal tentang ini.
Mereka memilih untuk makan di food court dan Mingyu menyuruh Jihye untuk duduk menunggu selagi ia memesan makanan. Yeah, dan Mingyu memesan banyak makanan karena ia dan istrinya itu memiliki selera makan yang bagus, namun entah mengapa tubuh mereka tidak melar sebagaimana orang yang doyan makan banyak.
Dengan senyum merekah ia menuju meja dimana Jihye menunggu, namun matanya tidak menangkap wanita itu selain dua buah paper bag yang diletakkan di bawah meja.
"Eh? Dimana dia?" Mingyu memutar pandangan matanya untuk menemukan sosok wanita yang baru dinikahinya sebulan yang lalu itu, dan ia mendapati Jihye berada di sebuah toko yang tak pernah Mingyu duga jika wanita tomboy itu masuk kesana,
Toko boneka.
Heol
Mingyu nyaris tidak percaya dengan matanya sendiri. "Untuk apa ia kesana?"
Sementara itu Jihye tersenyum dengan gemas memegang sebuah boneka panda yang menurutnya sangat imut dan pas untuk dipeluk. Terlebih bahannya yang sangat empuk dan begitu lembut. Terlihat seperti panda sungguhan. Sehingga tanpa pikir panjang lagi Jihye menyerahkan benda tiruan hewan pemakan bambu itu kepada pegawai disana dan membayarnya di kasir.
Selagi boneka itu dihitung oleh kasir, ia merogoh tas untuk mengambil dompet sebelum tangan besar yang begitu familiar lewat dari belakang punggungnya,
"Bayar pakai ini saja" ucapnya dan mengejutkan Jihye, "Eh? Gyu?"
"Untuk siapa? Kau ingin memberi hadiah untuk seseorang?" tanya Mingyu, menerima kembali kartu yang ia gunakan untuk membayar dari kasir.
"Untukku" jawab Jihye. Saling mengucapkan terimakasih kepada kasir disana setelah menerima barangnya.
"Kenapa kau tak bilang padaku? Atau setidaknya gunakan uangku untuk membayarnya" jawab Mingyu, dengan ekspresi sedikit tidak setuju dengan keputusan istrinya.
"Isi dompetku adalah uang yang kau berikan Gyu" ucap Jihye, mematahkan pikiran Mingyu sebelum pria itu berpikir lebih jauh, kemudian mereka kembali ke meja untuk makan malam. Mingyu sudah sangat lapar omong-omong.
Mereka sangat menikmati makanan yang tersaji di hadapan. Sangat lezat dan membuat makan malam ini begitu nikmat. Namun tetap saja, Mingyu berkali-kali mengamati Jihye, masih tidak percaya jika dia membeli boneka, terlebih bagaimana ekspresinya saat menyentuh boneka panda itu. Sangat menggemaskan.
"Hah, bagaimana ini.." gumam Mingyu, mengulum senyum secara sembunyi-sembunyi. Menahan diri untuk tidak tersenyum lebar seperti orang aneh karena istrinya sendiri. Semoga ia masih waras besok pagi.
