Pustaka
Bahasa Indonesia

Home

29.0K · Tamat
Oshfay
31
Bab
3.0K
View
7.0
Rating

Ringkasan

Kim Mingyu memang pria rupawan yang tak mencintai Jihye sebelumnya. Bahkan ia bisa mendapatkan wanita cantik yang mengelilingi dunia kerjanya.Tapi bagi Mingyu, Menikah bukan perkara Pria rupawan bersanding dengan wanita menawan. Melainkan rumah yang menjadi tempat berpulang ketika tak ada lagi tempat ternyaman.

PernikahanIstriLove after MarriageBaper

Bab 1 Clumsy door

Wanita dengan rambut yang selalu dikuncir kuda itu menapaki lorong apartemennya seraya membuka ponsel yang belum sempat ia buka karena pekerjaan yang menumpuk. Terdapat pesan singkat dari sang suami yang mengatakan bahwa ia sedang pergi keluar dengan sahabatnya bernama Seokmin dua jam lalu. Ia tidak masalah karena sudah memberi tahu Mingyu untuk menelepon atau misscall segera jika mengenai hal penting.

Sekarang sudah pukul tujuh malam saat ia sudah memasuki apartemen. Dilepasnya sepatu dan jaket kulit cokelatnya, menuju ke dapur untuk membuat teh sebagai penghangat tubuh dari dinginnya malam. Sebuah kebiasaan yang dihafalkan Mingyu selama tiga minggu pernikahannya.

Terdengar suara pintu yang terbuka dan suara langkah kaki masuk, diikuti sesuatu yang diletakkan kasar di atas meja. Jihye melongok sebentar, melihat Mingyu yang memegangi kening sambil sibuk melepas sneakers putih di kaki panjangnya.

Pasti terjadi lagi. Pikir Jihye jika melihat ekspresi Mingyu yang ditekuk dengan bibir mengerucut, salah satu hobi sang suami kalau sedang kesal tapi tidak mau marah.

"Jidatmu kenapa?" tanya wanita itu saat suaminya sudah duduk sambil menyalakan televisi, masih dengan tingkah puppy andalannya.

"Biasa, nabrak pintu. Kenapa juga pintunya rendah banget?" kesal Mingyu. Tidak mau menyalahkan tubuh tingginya. Wanita itu menyingkirkan tangan Mingyu untuk melihat lukanya. Beruntung hanya memar kemerahan berbentuk garis sepanjang dua centimeter saja. Karena kalau terluka parah maka Mingyu harus menutupi luka tersebut dengan poni, plus kekesalan yang masih menggerogotinya sampai luka itu sembuh.

Jihye menaruh cangkir teh yang awalnya akan dia minum itu di hadapan Mingyu.

"Minum dulu" ucapnya.

Jihye mengambil tas ransel yang diletakkan di atas meja oleh Mingyu tadi. Menyimpannya sekaligus mengambil salep penyamar luka. Tidak lupa juga air dingin untuk mengurangi nyeri di jidat eksotis suaminya.

Mingyu mulai mengganti channel TV dan berhenti pada acara berita yang tengah menginformasikan tentang hilangnya uang dari berbagai jenis rekening bank di tiga bank milik pemerintah yang mengakibatkan saldo nasabahnya kosong tiba-tiba akibat ulah peretas yang diduga teroris.

"Beruntung rekeningku aman" ucap Mingyu.

Ia sangat menikmati saat keningnya dipijat oleh Jihye. Tanpa kompres, langsung dengan jari-jari yang sudah dibasahi air dingin itu. Matanya memang fokus ke TV, tapi pikirannya fokus ke sang istri. Ia suka diperhatikan seperti ini oleh istri yang terkadang tidak peka terhadap usahanya mencari perhatian itu.

Mingyu menyandarkan kepalanya ke punggung kursi, masih memperhatikan tayangan televisi dengan seksama. Diambilnya tangan kiri sang istri yang tidak bekerja untuk sekedar digenggamnya, menaruhnya di atas paha Mingyu dan mengusapnya perlahan, seirama dengan usapan sang istri sambil sesekali memainkan jemari, walau tanpa sadar melunakkan hati Jihye yang menyukai perlakuannya.

Jihye adalah wanita yang baik bagi Mingyu meski tidak dilamar dalam perasaan yang baik dan waktu yang tepat.