Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

7. Rain & Fever

Hujan mengguyur, pelan namun pasti. Gerimis lalu deras. Yang hangat menjadi dingin. Yang awalnya berjalan santai menjadi berlari kecil mencari tempat berteduh. Termasuk dua sejoli yang sudah sejam lebih menikmati wisata jalanan.

Jihye selalu menolak perlakuan Mingyu yang berusaha meneduhkannya dengan jas pria itu, karena Jihye yang hanya memakai kemeja tanpa jaket. Namun Mingyu juga menolak perintah Jihye, sekalipun wanita itu baik-baik saja, meskipun Jihye wanita tangguh, walaupun Jihye menyukai hujan, Mingyu tetap meneduhkan wanitanya.

"Aku baik-baik saja Mingyu! Kau akan kehujanan!" seru Jihye karena suara mereka akan tetap kalah dengan suara derasnya hujan. Namun Mingyu tidak menghiraukan ucapannya, yang terpenting adalah melindungi Jihye sebisa mungkin.

"Cepat masuk!" perintah Mingyu setelah mereka sampai di mobil. Meskipun sudah terlanjur basah, tapi setidaknya mereka bisa segera pulang.

keduanya bernapas lega untuk sesaat. Mingyu menyandar pada punggung kursi dengan nafas terengah karena mereka berlari kecil sepanjang perjalanan, mereka tidak sadar jika rupanya sudah berjalan cukup jauh dari mobilnya tadi.

Jihye memperhatikan laki-laki di sebelahnya itu. Bajunya basah kuyup, dan sialnya lekuk tubuh Mingyu begitu jelas, apa yang ia harapkan dari tubuh seorang model? tentu saja hanya ada postur yang proporsional dan mengagumkan. Buru-buru Jihye mengalihkan matanya kembali menatap ke depan, dimana kaca mobil memburam akibat air yang membasahi. Ia tak sanggup melihat pemandangan di sampingnya. Bisa membuatnya pusing hingga memijat kening yang masih basah. Semakin pusing karena kehujanan.

"Kau kedinginan?" tanya Mingyu sambil mengambil sesuatu di kursi belakang, ia menyimpan beberapa tas keperluannya disana. Seperti beberapa potong pakaian, topi, parfum dan sepatu, menjadi satu dalam satu tas dengan merek ternama.

Jihye sedikit kesal dengan pertanyaan Mingyu barusan. Jelas-jelas Mingyu yang melepas mantelnya untuk memayungi mereka berdua padahal Jihye juga memakai mantel di tubuhnya.

"Harusnya aku yang bertanya begitu" ucapnya tegas. Terdengar dingin sih di telinga Mingyu. Ia merasa bahwa Jihye agak kesal karena dirinya bersikeras membiarkan tubuhnya sendiri basah kuyup dan kedinginan, demi Jihye. Pria itu hanya menghela nafas, berusaha tetap tenang, melanjutkan kegiatannya mencari sesuatu dari dalam tas yang bisa bermanfaat untuk keadaan mereka saat ini.

"Ya, aku kedinginan. Tapi aku tidak bisa membiarkanmu basah kuyup, pria macam apa aku ini kalau membiarkan wanitanya kehujanan. Dilihat dengan mata saja sudah tidak pantas. Lagi pula aku punya solusi untuk diriku sendiri" jawab Mingyu terkesan santai.

"Keringkan tubuhmu" ia meletakkan handuk kecil di pangkuan Jihye yang sedang melepas mantelnya.

"Dan ini selimut kalau kau butuh"

Jihye memperhatikan barang-barang yang diberikan Mingyu, menggunakan seperlunya, membiarkan Mingyu mengganti pakaiannya yang basah dengan pakaian cadangan yang selalu ia persiapkan di dalam mobil kalau-kalau ia butuh setelah bekerja. Jihye tak berniat menoleh, berdua di dalam mobil dengan jarak sedekat ini, sedangkan Mingyu bertelanjang dada, situasi yang membuatnya kikuk dan mencoba menyibukkan diri. Ayolah, meskipun tidak feminin tapi ia tetap wanita normal. Melihat punggung Mingyu yang dipenuhi otot saja membuatnya terpukau, padahal tertutup kaos. Apalagi ini.

"Terimakasih" ucap wanita itu, memanfaatkan selimut lembut yang diberikan Mingyu untuk menutup tubuhnya, sangat membantu untuk menghangatkan diri.

Pria itu mulai menjalankan mobilnya menembus hujan dan kemacetan yang sempat tercipta untuk beberapa saat.

"Besok saat Dino menikah, kau mau datang kan?" tanya Mingyu disela keheningan.

"Tentu" jawab Jihye pasti.

"Omong-omong, dia sudah yakin dengan keputusannya?". tanya Jihye, terakhir kali yang ia ingat adalah Dino begitu ragu meskipun ingin. ia nerasa belum siap secara finansial dan mental. namun setelah sekian lama. Entah karena dorongan teman-temannya akhirnya ia setuju untuk menikah.

"Ya, kupikir dia sudah cukup dewasa untuk mengambil keputusan. Dan sudah bisa bertanggung jawab untuk menjadi suami. Aku lebih mendukung dia Menikah diumur muda meski belum lulus, dari pada melakukan hal yang tidak diinginkan dengan kekasihnya yang masih sibuk tebar pesona itu"

Jihye mendengar dengan baik ucapan Mingyu barusan. Semuanya meresap ke otaknya sekaligus memukul hatinya. Dino dan Yuri saja siap menikah meski awalnya tidak saling mencintai. Hanya dimulai dengan saling mengenal dan rasa simpati. Bisa mengambil keputusan yang berat dan untuk selamanya. Lalu apakah ia yang menerima Mingyu adalah keputusan yang tepat? Mereka tidak saling mencintai di awal, hanya berdasar mereka sama-sama siap dan demi masa depan.

"Bagaimana mereka membiayai keperluan sehari-hari?" tanya Jihye. Dalam sebuah pernikahan, selain hubungan yang harmonis tentu juga membutuhkan biaya rumah tangga. Mengingat Dino dan Yuri belum menyelesaikan kuliah membuat setiap orang pasti bertanya-tanya, bagaimana mereka memenuhi kebutuhan sehari-hari?.

"Yuri biasa bekerja paruh waktu untuk sehari-harinya. Orang tua Dino pasti akan membantu juga karena mereka yang mendukung pernikahan ini. Kami juga akan membantu mereka sebisa kami" jawab Mingyu mantap. Pertemanan ketiga belas dari mereka yang begitu solid tentu tidak akan membiarkan Dino kesulitan seorang diri.

"Kalau soal perasaan, Tuhan dapat dengan mudah membolak balikkan hati kan?"

Jihye tahu, itu bukan semata-mata menyangkut Dino dan Yuri, melainkan Mingyu dan Jihye juga. Akan kah Tuhan mau membalikkan hati Jihye untuk menghadap ke Mingyu?

Beruntung ini adalah hari Minggu dimana seorang istri dari Kim Mingyu tidak bekerja begitu juga suaminya. Jadi Jihye bisa menggunakan waktunya untuk mengurus bayi besar yang sedang flu itu karena sikap sok heroiknya semalam.

Jihye tidak akan memarahi pria tampan itu karena sikap heroiknya, karena menurutnya itu wajar, atau malah memang semestinya. Lagi pula Mingyu memang kurang istirahat karena begitu banyak mengambil job setelah mereka menikah, jadi lebih tepatnya sudah sebulan Mingyu bekerja keras.

Pria itu terus bersin sampai hidungnya memerah. Dia juga tidak mau ditinggal lebih dari 15 menit oleh Jihye. Kalau sampai Jihye keluar dari kamar dalam waktu lama maka pria itu akan rewel. Dasar bayi beruang.

"Kau mau makan sesuatu Gyu?" tanya Jihye saat ingat bahwa Mingyu baru makan sepotong roti, dan ia tahu betul bahwa pria itu tidak bisa makan sedikit.

Jihye hanya tidak tahu kalau Mingyu benar-benar tidak ingin ditinggal saat sakit, dan pria itu lebih memilih menyingkirkan nafsu makannya dari pada Jihye tidak terlihat dalam pandangan.

Melihat Mingyu yang menggeleng pelan sambil memeluk bantal membuat Jihye bingung harus bagaimana mengembalikan nafsu makan Mingyu.

"baiklah, tapi kau tetap harus makan nanti siang". Ucap wanita itu final sambil membersihkan kamar sekaligus menunggui pasiennya.

Mingyu diam-diam memperhatikan wanita itu membersihkan kamar mereka. Mingyu sadar, Jihye suka merapikan kamar atau lebih tepatnya rumah mereka meskipun wanita itu sibuk dengan pekerjaannya. Meskipun Mingyu senang beberes saat ia masih tinggal di gedung asrama agensi bersama teman-temannya, hal tersebut tidak bisa dilakukan sekarang saat ia sudah banyak pekerjaan. Jadi ia sering membuat kamar berantakan, dan lupa membersihkannya. Ia beruntung memiliki Jihye, karena ia tahu betul bahwa banyak wanita zaman sekarang yang malas membersihkan rumah.

"Sayang" sebuah sebutan yang selalu ia ucapkan dengan harapan rasa itu akan muncul dengan sendirinya di antara mereka.

"Ya, Gyu?" sebuah jawaban yang selalu sama. Kata yang tidak dibalas setara.

"Bisa kah kau disini? Kepalaku berat, tapi Aku tidak bisa tidur" keluh Mingyu. Jihye beranjak dari tempatnya dan duduk bersandar di samping Mingyu, menuruti permintaan suaminya yang super manja jika sedang sakit. Yaa, tidak ada alasan untuk tidak menuruti kemauan pria itu.

Mingyu semakin erat memeluk gulingnya sementara Jihye menaikkan selimut kemudian mengusap-usap surai Mingyu. Selain sebagai istri Mingyu, ia juga menjabat sebagai baby sitter. Tapi ia senang. Toh, Mingyu memang menggemaskan, dan ia tidak tahan dengan sesuatu yang menggemaskan.

Saat Mingyu menikmati usapan di Puncak kepalanya, ia tetap was-was kalau Jihye meninggalkannya saat dirinya sudah terlelap.

"Jangan tinggalkan aku"

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel