Bab 6 Protect You
Mata Jaehyun melebar begitu mendengar kata 'suami' dari mulut Jihye. Ia segera bangkit untuk menyapa pria tinggi itu.
"Ah, maaf, aku tidak tahu. Namaku Jung Jaehyun" Jaehyun tersenyum ramah dan mengulurkan tangannya yang disambut dengan baik oleh sang lawan bicara. Uluran tangan itu dibalas dengan mantap, seperti menegaskan bahwa memang benar dia adalah suami Jihye.
"Tidak masalah. Aku Kim Mingyu, senang bertemu denganmu" Tersenyum karismatik menjabat tangan kokoh Jaehyun, selain untuk menyampaikan kepada Jaehyun bahwa ia suami yang sempurna bagi Jihye, Mingyu juga berusaha membuktikan di depan mata Jihye bahwa ia jauh lebih baik dari Jaehyun.
Jihye memperhatikan mereka, dua pria tampan, bertubuh atletis yang saling berjabat tangan dengan senyum karismatik keduanya. Jaehyun yang menampilkan lesung pipi menarik, dan Mingyu yang memamerkan gigi taring seruncing milik tokoh vampire.
"Ya, aku juga... silahkan duduk, urusanku sudah selesai" Jaehyun memberikan tempat duduknya kepada Mingyu dan pergi kembali kemejanya dengan tenang. Masih tidak menyangka bahwa Mingyu yang tampak sempurna dan mampu untuk menarik atensi jutaan kaum hawa bersanding dengan Jihye yang sederhana. Terlihat sangat kontras.
"Terimakasih" Tubuh jangkung itu menyamankan posisi di kursi yang tadinya di tempati Jaehyun. Tepatnya di hadapan Jihye yang sedang membuka kotak makanan. Ia harus menghargai Mingyu yang telah membawakan makan siang untuknya.
"Kau sudah makan?" tanya Jihye, sebelum ia menyantap makanan yang dibawakan Mingyu.
"Sudah" Jawab Mingyu seolah anak kecil yang ditanya oleh sang guru mengenai tugas rumahnya.
Awalnya Jihye menyantap makanannya dengan tenang, namun ia sadar kalau sedang diperhatikan. Siapa lagi kalau bukan Mingyu. Pria itu berpangku tangan sambil menatap ke arahnya. Nyaris Jihye tidak bisa menelan makanan yang lezat itu.
"Berhenti menatapku tuan, atau aku batal makan siang" ancam Jihye tanpa berniat melihat ke arah Mingyu.
"Apa salahnya? Aku sebagai suamimu yang tidak bertemu istrinya dua puluh empat jam sangat berhak melihatmu sepuasnya" ucapnya membela diri membuat Jihye menghela nafas. Tak mau bicara panjang lebar.
Wanita itu mengambil map di depannya dan makan sambil menutupi wajah. Itu lebih baik dibanding makan sambil diperhatikan Mingyu. Namun pria itu tak berubah, masih memperhatikan Jihye yang menutupi wajahnya.
"Jangan dekat-dekat dengan laki-laki lain, huh? Aku akan terus datang kemari kalau ada laki-laki yang mendekatimu" ujar Mingyu tenang.
"Kau tahu kan aku bekerja dimana? Dikantor polisi. Dominan laki-laki yang berada di sini, aku tak bisa menghindarinya" balas Jihye masih tetap pada posisinya.
"Kau juga tahu kan maksudku dengan kata dekat? Tidak ada yang boleh tertarik padamu. Jangan sampai ada" tekan Mingyu pada kalimat terakhir. Tidak dengan nada memaksa dan posesif. Tapi Jihye tahu bahwa Mingyu serius, dan apalagi yang bisa ia lakukan selain patuh?
"Terserah kau saja"
Mingyu menghabiskan waktunya dengan mengganggu sang istri dan kemudian mengobrol beberapa hal dengan Seungcheol. Sampai tidak terasa ia sudah cukup lama disana.
"Kalau begitu aku pergi dulu hyung"
"Ya, terimakasih makanannya, tenang saja, tak ada yang mengganggu istrimu itu" Seungcheol menepuk pundak Mingyu sambil terkekeh pelan. Mingyu hanya melengos dan beralih ke Jihye.
"Aku pulang dulu ya, aku akan menjemputmu nanti" tangan besar itu menepuk pelan kepala Jihye. Ia begitu menikmati waktu-waktu dimana mereka bisa bertemu.
"Ya, hati-hati". Jihye tersenyum begitu juga Mingyu. Pria yang benar-benar bersabar menunggu Jihye. Meski ia juga masih bingung dengan perasaannya sendiri, tapi setidaknya ia akan berjuang.
Mingyu membuka ponsel sekedar untuk melihat sosial media khususnya unggahan video singkat dan foto di akun sebuah brand fashion yang baru-baru ini mengeluarkan produk sweater mereka dengan dirinya sebagai model. Terkadang ia bangga saat melihat dirinya di setiap potret. Terlihat menakjubkan. Namun bagaimana bisa Jihye tidak terpesona? Tentu saja karena itu lah Mingyu memilihnya sebagai istri.
Mingyu benar-benar muak saat wanita di luar sana mendekatinya. Entah mengapa ia selalu mempunyai firasat buruk tentang wanita yang bergerak lebih agresif saat ingin berkencan dengannya. Mereka terlihat gampangan, dan Mingyu lelah jika terus seperti itu. Dan hal tersebut menjadi salah satu alasan mengapa ia menikahi Jihye meski mereka tidak kenal dengan baik. Mingyu cukup mengenal Jihye dari Seungcheol sebelum bergerak untuk mendekati gadis itu dan melamarnya seminggu kemudian. Ia tahu betul bahwa ia belum memiliki perasaan lebih kepada Jihye. Namun ia mempunyai keyakinan sendiri dalam benaknya, sedangkan Cinta hanya membutuhkan proses dan waktu yang bisa mereka jalani saat sudah menikah.
Mingyu menoleh saat Jihye keluar dari kantor. Ia menyimpan ponselnya dan bergerak keluar dari mobil untuk membukakan pintu. Tersenyum hangat meski cuaca sedang dingin demi menyambut wanita itu.
"Terimakasih" ucap Jihye. Mulai merapatkan mantelnya.
Sepanjang perjalanan banyak orang-orang yang menikmati sore, melewati berbagai toko dan penjaja makanan. Dikarenakan besok adalah hari libur kerja membuat sore hingga malam nanti akan terasa ramai. Bahkan jika cuaca cukup dingin saat ini, namun tidak mengurangi jumlah pejalan kaki di trotoar.
Sore hari memang sangat cantik dan pas untuk jalan berdua dengan pasangan. Mingyu berkeinginan untuk melakukannya, selain menyenangkan, juga sebagai bentuk usahanya mendekati Jihye. Toh ia juga jarang sekali bisa jalan berdua dengan Jihye.
Jihye menoleh ke Mingyu saat mobil berhenti di sisi jalan. Pria itu tersenyum, membuat hati Jihye hangat. Walaupun wanita itu tak tahu maksud Mingyu menghentikan mobilnya.
"Bagaimana jika jalan-jalan sebentar, kau mau?"
Jangan pikir Jihye tak suka. Dia sangat suka berjalan kaki mengelilingi tempat-tempat penjaja makanan atau toko di pinggir jalan. Jadi ia tersenyum dan mengangguk mantap kepada Mingyu.
"Kalau begitu, ayo!"
Sudah dibilang bukan jika jalanan ramai? Jadi tubuh Jihye berkali-kali terhuyung dan menabrak tubuh Mingyu karena orang-orang yang berdesakan. Jadi Mingyu merangkul pinggang Jihye agar merapat padanya, karena jelas tubuh besar Mingyu tidak akan terhuyung meski ditabrak berkali-kali oleh pejalan kaki yang tergesa.
Mereka mampir ke toko buku karena Jihye memiliki ketertarikan pada kumpulan kertas bersampul itu. Mereka juga melihat lukisan dan patung keramik cantik karena memang keduanya menyukai seni. Membeli gula kapas berbentuk kepala boneka yang dimakan bersama. Membeli dua gelas kopi hangat dan berbagai makanan ringan lainnya. Mingyu baru sadar jika Jihye mempunyai selera makan yang Bagus, sama sepertinya, bahkan mereka lupa sudah berapa macam makanan yang mereka makan. Jihye terlihat senang dan Mingyu otomatis merasa senang juga. Tidak salah ia mengajak Jihye kesini. Ia berencana akan mencari hal-hal lain yang disukai Jihye.
Angin kencang dan awan gelap menginterupsi keserasian mereka juga pejalan kaki lainnya. Hingga tanpa sadar hujan mulai turun mengguyur kota dengan derasnya.
