Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 18 Want a Grandson

Mingyu dan Jihye duduk berdampingan saat makan malam tiba. Sora dan Woojin juga sudah bergabung bersama. Mereka sangat senang saat mengetahui Jihye dan Mingyu datang, ditambah kakaknya itu membawakan kebutuhan sekolah mereka serta Mingyu yang membawa oleh-oleh. Senangnya memiliki kakak ipar yang kaya.

"Buah tangannya aja nih yang dibawa?" tanya Nyonya Lee dengan senyum simpul. Sora dan Woojin hampir tidak menyimaknya karena sangat menikmati makanan yang begitu banyak malam ini.

Mingyu dan Jihye saling melirik bingung. Memangnya apa lagi?

"-Buah hatinya mana?"

Sora dan Woojin tergelak mendengar itu, lupa jika sang kakak baru saja memberikan banyak kebutuhan mereka. Jihye ingin tenggelam saja rasanya. Iya, hanya Jihye, sedangkan Mingyu masih tenang dan ikut terkekeh pelan. Dibalik itu keduanya menjadi canggung, Namun Mingyu mengusap tangan Jihye dari balik meja, seolah pria ini baik-baik saja akan pertanyaan tersebut. Padahal Jihye begitu merasa bersalah di sini.

"Sedang berusaha, mohon doanya saja", bohong, Mingyu berbohong akan makna dari usaha.

"Kalian berdua terlalu sibuk, seharusnya cukup Mingyu saja yang sibuk, Jihye jangan. Kapan jadinya kalau Mingyu di rumah tapi Jihye bekerja, sedangkan saat Jihye libur gantian Mingyu yang sibuk. Sudah ayah bilang padamu kan, Ji?" tuturan ayahnya sungguh memperburuk suasana. Terlebih Jihye. Istri Mingyu itu hanya diam tak menyahut apapun sejak tadi. Seharusnya ia sangat tahu jika orang tuanya menginginkan cucu pertama mereka.

"Kasihan Jihye jika ia di rumah sendirian, dia pasti bosan karena aku sibuk dan pulang tak menentu. Jadi aku membiarkannya bekerja" bohong lagi. Kemarin, Mingyu yang menawarkan agar Jihye berhenti. Namun sekarang pria itu tahu bahwa Jihye bekerja juga untuk keluarga terutama adik-adiknya yang masih sekolah dan kuliah. Mingyu hanya berusaha memberi pengertian agar ayah mertuanya itu memaklumi. Ia lebih menginginkannya asal mereka tahu, tapi Mingyu lebih bersabar dan memaklumi Jihye.

Aku belum hamil karena kami memang tidak pernah melakukannya. Batin Jihye yang terasa ingin berteriak dari dalam hati.

"Sabar aja, namanya juga baru sebulan menikah" celetuk Sora. Ia harus mencairkan suasana meski tidak begitu membantu.

"Hyung dan noona tidak menginap?" tanya Woojin dengan mulut penuh. Bertanya dengan polos.

"Tidak Woojin, besok aku harus bekerja" jawab Jihye tenang. Sedikit was was sebenarnya.

Benar saja, Ayahnya tampak tak suka mendengar itu. Sudah ia bilang bahwa Jihye tak perlu bekerja agar bisa menjadi istri yang baik bagi Mingyu kan? Namun wanita itu justru mengungkit mengenai pekerjaannya hanya karena menjawab Woojin. Mengetahui situasi ini membuat Sora menyenggol kaki adiknya itu dengan kesal, tak seharusnya Woojin bertanya tadi.

Jihye segera membereskan peralatan makan bersama ibunya setelah mereka selesai. Kemudian memilih untuk mencuci piring agar tak mendengar kalimat apapun lagi dari ayahnya, ia sudah menahan diri untuk tidak kesal apalagi marah.

"Biar ibu saja yang mencucinya Jihye" ucap sang ibu saat mengetahui raut kesedihan putrinya, namun Jihye menolak. Ia sudah terbiasa kan? Beban berat sudah ia tanggung sejak dulu. Jadi ini bukan lah apa-apa, iya kan?

"Tak apa bu, ini yang terakhir, setelah ini aku akan pulang" jawab sang putri.

"Baiklah"

Inilah yang menyebabkan Jihye berhati batu, meskipun dia adalah orang yang hangat dalam suatu waktu, namun tak ada yang bisa mencairkannya apalagi membuatnya menangis. Itulah mengapa Seungcheol pernah berkata sesuatu terhadap Mingyu.

"Dia tidak pernah menangis Gyu, sekalipun ia dihujat penduduk satu negara ini. Dia tegar seperti seorang laki-laki, dia tangguh meski dijatuhkan berkali-kali. Dia tak akan mengeluarkan air mata, Kecuali mengenai satu hal."

"Apa itu?"

"Keluarganya. Dia hanya menangis karena itu"

...

Mingyu mengusak rambutnya setelah keramas dengan piyama yang telah melekat pada tubuh atletisnya. Ya, untuk pertama kali Jihye berkata ingin memakai pakaian tidur tersebut. "Gyu, aku ingin memakai piyama ini, kita belum pernah memakainya kan?". Begitulah sekiranya kata Jihye seraya mengambil dua pasang piyama yang terletak rapi di lemari.

Tentu saja Mingyu kaget, dan sedikit merasa aneh. Jihye kehilangan senyumnya sejak tadi, dan hanya mengumbar senyum palsu demi terlihat tegar di depan Mingyu.

Pria jangkung itu duduk di sebelah istrinya yang sejak tadi sudah duduk terdiam di sisi ranjang tanpa melakukan apapun selain menghadap ke jendela balkon. Piyama biru muda memang terlihat manis untuknya. Terlebih motif mereka sama meskipun milik Mingyu berwarna navy.

"Kau kenapa, hm? Masih memikirkan yang tadi?" ucap Mingyu lembut seraya menyodorkan handuk kecil tersebut ke arah istrinya, memberi kode untuk dikeringkan surai gelap yang masih sedikit basah.

Jihye menerima handuk tersebut dan memutar badan 90 derajat ke arah Mingyu, sedangkan pria itu sedikit membungkuk dengan kedua tangan bertumpu pada ranjang dan pahanya. Membuat ia sedikit condong ke Jihye.

Jihye tak menjawab, tangannya bergerak mengusapkan rambut Mingyu. Dengan begini Mingyu bisa melihat dengan jelas kesedihan dari wajah Jihye.

"Mereka meminta cucu. Jadi, ayo kita berusaha"

Mingyu tersedak air liurnya sendiri ketika Jihye berucap secara tiba-tiba. Kenapa mendadak sekali? Matanya secara otomatis menajam.

"Sudah kubilang aku tidak akan melakukannya sebelum kau benar-benar mencintaiku Kim Jihye" tekan Mingyu pada marganya yang sudah disandang Jihye. Ia tahu Jihye hanya frustasi akan pembicaraan tadi.

"Aku mencintaimu Kim Mingyu" ujar Jihye dengan bibir yang gemetar. Ia bukan mencoba membohongi Mingyu. Tapi ia sangat ingin mencintai Mingyu sepenuhnya. Tapi mengapa begitu sulit? Apa ia sudah terlalu lama memikirkan keluarga dan masalah hidupnya sampai tidak sempat memikirkan perihal kekasih? ia hanya bisa diam.

Jantung Mingyu merosot entah kemana. Tubuhnya berkeringat dingin saat mendengar kalimat tersebut. Ia tidak bisa membedakan kalimat itu tulus atau pasrah. Dia buru-buru menangkup wajah Jihye dan menciumnya kuat.

Jihye meloloskan air mata untuk pertama kalinya di hadapan Mingyu. Pria itu kalut, ia memang menginginkan seorang putra, tapi bukan karena keterpaksaan seperti ini.

Lama Mingyu mencium Jihye hanya untuk meredam isakan istrinya dan yang paling penting untuk menyalurkan perasaan, membagi rasa sakit

Saat ia melepas tautan mereka, wajah Jihye sudah sembab, mata dan bibirnya pun hampir bengkak.

"Aku menginginkannya, tapi tidak dengan perasaan seperti ini, sayang" Mana bisa ia melakukan keinginan Jihye jika wanita itu sedang terluka dan stress? Yang ada Jihye semakin terpuruk.

Mingyu merasakan sesak di dada, bukan karena Jihye menarik kerah piyamanya, bukan karena Jihye mencengkram bahunya, bukan pula karena Jihye memukul dadanya, tapi karena Jihye menangis tersedu-sedu di hadapannya, seolah memohon dengan keterpaksaan.

Ia tidak mengerti mengapa keluarga begitu berpengaruh pada emosional Jihye. Jihye yang datar dan tenang sudah lenyap seketika.

Ditariknya tubuh wanita itu ke dalam pelukan, mengusap punggungnya, "jangan begini, sayang"

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel