Bab 19 Scandal
Mingyu menghentikan usapannya saat dirasa Jihye sudah tenang. Ia menunduk untuk melihat wajah Jihye yang bersandar di pundaknya. Matanya terpejam, entah wanita itu sudah tertidur atau belum, Mingyu mengangkatnya agar berbaring dengan nyaman di kasur. Ditariknya selimut hingga ke leher Jihye, kemudian beranjak dari sana dengan perlahan.
Pria jangkung dengan pundak yang masih basah karena air mata istrinya memilih ke dapur, membuat secangkir kopi hitam yang warnanya begitu senada dengan langit mendung, semendung pikiran dan perasaannya. Ia sadar, setelah menikah beban keduanya akan dibagi bersama. Ia harap setidaknya kehadiran ia di sisi Jihye dapat mengurangi beban istrinya.
Ia berdiri di sisi jendela yang kacanya mulai dingin. Hujan perlahan turun, seolah menyusul derai mata Jihye yang baru berhenti beberapa menit lalu. Mingyu tersenyum samar, Jihye pernah bilang padanya bahwa ia menyukai hujan. Entah sugesti atau apa, yang Dikatakan Jihye terasa benar bagi Mingyu, hujan seolah melarutkan bebannya yang mungkin tak seberapa dibanding Jihye.
Mingyu menyadari ada pergerakan di belakangnya, sehingga ia berbalik dan mendapati Jihye sedang mengusap kantung mata yang mungkin terasa bengkak dengan jemari.
"Ada apa?" tanyanya, meletakkan cangkir ke meja makan.
"A-aku haus" jawab Jihye gugup. Sejujurnya ia malu karena menangis heboh di hadapan Mingyu tadi. Kenapa ia tidak bisa mengontrol dirinya?
Sebelum ia mendekat ke arah kulkas Mingyu lebih dulu mencegahnya, "Di luar hujan, minum yang hangat saja" ucap pria itu. Ia tak mau Jihye sakit. Ditambah mereka baru sampai rumah pukul delapan malam tadi.
"Eh?—baiklah" Jihye membuat teh hangatnya sendiri. Ia tak mau merepotkan Mingyu lebih jauh.
Setelah ia duduk, pria itu masih saja memperhatikannya.
"Kenapa?" tanya Jihye.
"Matamu bengkak, apa kau akan berangkat bekerja seperti itu besok pagi?"
"Kantor sedang sibuk akhir-akhir ini. Aku tak bisa bolos hanya karena mata bengkak"
"Baiklah. Tapi kalau kau merasa sakit bilang padaku, aku akan menjemput"
"Terimakasih"
Setelah itu, Keduanya sama-sama terdiam. Larut dalam pikiran masing-masing.
"Jihye" Mingyu menatap netra —yang selalu malu menatapnya balik— itu dalam.
"Ya?" Jihye menunduk, melihat cangkir tehnya yang ia aduk-aduk dengan sendok— tak berani menatap Mingyu lama-lama.
"Apa kau benar-benar mencintaiku?"
Mingyu menyesal atas pertanyaannya tadi malam kepada Jihye. Bukankah ia sudah menambah kegelisahan wanita itu?. Jihye berkata bahwa ia sedang berusaha mencintai Mingyu sebaik mungkin serta meminta maaf akan itu.
Pria itu masih berdiam diri di dalam mobil setelah pamitnya Jihye untuk masuk ke kantornya. Disandarkan kepala yang mulai pening. Sampai ketukan kaca mobil dari luar terdengar olehnya.
Ternyata Seungcheol.
Mingyu membukakan jendela mobil agar lebih mudah berbicara.
"Mana oleh-olehnya?" Mingyu mendengus dan Seungcheol tertawa akan itu. Namun raut wajahnya berubah menjadi serius.
"Aku hanya ingin menanyakan ini" ditunjukkannya layar ponsel kepada Mingyu. Membuat pria jangkung itu diam seribu bahasa.
"Kau kan orang yang difoto? Fans Tzuyu atau netizen memang belum mengetahuinya karena gambar yang tidak terlalu jelas. Tapi berbeda denganku yang sudah mengenalmu. Lalu bagaimana jika dispatch? Cepat atau lambat mereka akan tahu dan menyebarkan ini" ucap Seungcheol, menyimpan kembali ponselnya. Internet membicarakan tentang foto Tzuyu yang berjalan dengan seorang pria ketika dia sedang mendatangi undangan fashion week di paris. Kalau dari posturnya Seungcheol yakin itu Mingyu. Beruntung gambar diambil malam hari dan tidak terlalu jelas.
"Aku percaya padamu Kim. Jadi jangan mematahkan itu. Teman-teman yang lain sudah mengetahuinya. Mari kita bertemu nanti malam. Kau dan aku saja. Aku tahu kau tidak mau diserang pertanyaan oleh mereka kan?"
Mingyu hanya mengangguk sebelum Seungcheol pergi. Dia menelan ludah susah payah. Dia yakin Jihye belum mengetahuinya, atau kalau pun tahu ia tidak menyangka jika itu Mingyu. Ah sial, Seungcheol pasti kecewa berat jika ia menyakiti Jihye.
Setelah ini, agensi pasti akan membahasnya. Ia hanya takut netizen mengorek informasi tentang kehidupan pribadinya yang tak pernah ia publikasikan. Padahal dunia idol sedikit lebih menarik perhatian khalayak dibandingkan modeling.
Tapi ia tidak bisa memungkiri jika dirinya merindukan wanita itu.
"Lama tak keluar berdua seperti ini" Seungcheol membalik daging yang sedang di panggang di hadapannya, memilih ruangan yang tertutup, sehingga hanya ia berdua dengan Mingyu.
Mingyu berdehem dan mengangguk. Ia tidak sadar jika mereka sudah lama tidak pergi keluar sekesar untuk minum.
"Ya, semenjak aku menikah dan pekerjaan bertambah banyak".
"Sejak kapan kau berhubungan dengan Tzuyu lagi?" pertanyaan tersebut membuat Mingyu menarik nafas dalam. Seungcheol memang tempatnya curhat selama ini, lebih banyak dari pada ke sahabatnya yang lain.
"Sejak bertemu di paris kemarin, untuk pertama kali kita bertemu setelah putus". Ya, Mingyu dan Tzuyu pernah menjalin hubungan pacaran saat menjadi trainee, meskipun dari agensi yang berbeda, mereka sempat satu sekolah saat SMA. Namun dari pihak agensi keduanya tidak menyetujui hubungan tersebut sebelum mereka debut. Sehingga dengan terpaksa hubungan keduanya putus dan tidak pernah bertemu lagi.
"Apa kesanmu setelah lama tak bertemu?" tanya Seungcheol tenang, menyantap daging yang sudah dingin.
"Yaa, dia semakin cantik tentu saja. Lebih anggun, dan masih dengan wajah lugunya. Tak banyak yang berubah selain penampilan dan pengetahuannya" Mingyu bercerita dengan wajah yang bingung, bingung akan perasaannya sendiri.
"Sikapnya dan Jihye berbeda. Sama-sama baik. Hanya saja Jihye versi dingin dan Tzuyu pemalu"
"Akhir-akhir ini aku bingung, Jihye... Belum mencintaiku hyung. Ya, aku tahu dia butuh waktu. Aku pun masih berusaha untuknya" Mingyu memijat pelipisnya. Ia ingat pertanyaannya semalam kepada Jihye. Ia juga ingat bagaimana Jihye menangis. Ia ingin melindungi Jihye. Tapi Tzuyu seperti menariknya kembali ke zona nyaman yang pernah mereka lalui bersama dahulu.
"Lalu bagaimana perasaanmu dengan Tzuyu?" Seungcheol tahu Mingyu sedang dilema. Tapi Mingyu juga harus memilih yang benar bukan jalan yang salah.
"Nyaman, aku nyaman dengannya" Terlalu jujur memang. Tapi ia rasa Seungcheol perlu tahu meski Mingyu yakin sahabatnya itu akan kecewa. Ia siap jika Seungcheol akan memukulnya sekarang. Ia tahu seberapa Seungcheol menghargai Jihye sebagai sahabat yang sudah ia kenal lebih dulu dari pada Mingyu. Ia akan merasa bersalah jika hal yang tidak diinginkan terjadi. Karena bagaimanapun Seungcheol lah yang mengenalkan Jihye dengan Mingyu.
Seungcheol menegak alkoholnya, mendistraksi rasa pening yang tiba-tiba muncul. "Lalu bagaimana dengan Jihye?"
Ini lah kekhawatiran Mingyu. Ia cukup bersabar untuk menunggu Jihye. Hanya saja apa ia sanggup menahan perasaan untuk tetap seperti ini untuk waktu yang lama. Mingyu takut hatinya berubah di luar kendalinya. Ia takut menyakiti banyak orang. Tapi orang lain juga harus tahu ketakutannya, hal yang mungkin terjadi di masa depan.
"Tentu saja aku ingin mempertahankannya. Aku sudah nyaman, tapi bagaimana jika seterusnya perasaanku hanya sepihak?"
