Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 17 Jihye's Family

Mingyu berjalan di belakang Jihye dengan kedua tangannya membawa tiga paper bag yang berisi beberapa barang untuk diberikan kepada orang tua Jihye, salah satunya adalah oleh-oleh dari paris. Beruntung Mingyu membeli lebih untuk diberikan ke orang-orang terdekat.

Jihye mengetuk pintu rumah tiga kali dengan Mingyu yang setia berdiri di belakangnya seperti bodyguard. Hanya saja bodyguard yang terlalu tampan untuk Jihye yang sangat sederhana.

Pintu terbuka, Nyonya Lee begitu sumringah saat menyambut putri serta menantunya yang tampan selalu itu.

"Akhirnyaa.. Kenapa baru datang? Ibu merindukan kalian" ucap wanita paruh baya itu, membimbing mereka masuk.

"Maaf Bu, aku bekerja terus saat hari libur.. Jadi kami baru datang sekarang" Mingyu meminta maaf seraya memeluk ibu dari orang yang dicintainya itu.

"Tak apa… yang penting kalian sudah datang sekarang" ditepuknya bahu Mingyu dengan senyum telus.

"Ayah dimana?"

"Di belakang, kalian temui dulu ya?"

Meletakkan barang-barang di kamar kosong yang pernah menjadi ruang privasi Jihye saat belum menikah, kemudian menghampiri sang ayah yang tengah membaca koran di halaman belakang yang tak luas itu.

"Eh? Kalian datang… tidak ada masalah kan?" Jihye dan Mingyu saling melirik kemudian menggeleng bersama akan maksud sang ayah terhadap pernikahan mereka, "Tidak".

"Duduklah, kalian belum bercerita tentang apapun setelah menikah" ucap tuan Lee.

"Ah, aku akan membantu ibu sebentar. Mingyu dan ayah mengobrol berdua dulu ya", Jihye meninggalkan dua lelaki itu dan menghampiri ibunya di dapur.

…

"Bagaimana? Apa Jihye bisa mengurusmu dengan baik?" pertanyaan dari ayah Jihye yang terkenal galak itu membuat Mingyu sedikit gugup, namun masih bisa diatasi.

"Ya, sangat baik dalam mengurusku dan rumah" Ucap Mingyu sesantai mungkin, jujur saja ia belum begitu dekat dengan mertuanya ini.

"Dia itu memang tidak sesempurna wanita lain, jadi aku berterimakasih sudah menikahinya, kukira tidak ada laki-laki yang mau mendekatinya mengingat Jihye tomboy dan cuek"

Mingyu tertegun, entah mengapa pernyataan barusan membuat hatinya teriris perlahan.

"Dia orang yang kaku, tidak peduli akan penampilan, ceroboh, dan bahkan tidak pandai memasak. Aku tidak tahu dia itu bisanya apa" tuan Lee menghela nafas, sampai kepulan asap rokok keluar dari mulutnya, membuat Mingyu sedikit sesak sehingga ikut menghela nafas, memang benar apa yang dikatakan pria paruh baya itu, meski tidak sepenuhnya. Tapi haruskah mereka membicarakan ini?

Dirinya yang duduk di salah satu kursi menghadap ke arah timur, bisa melihat Jihye yang berdiri —atau bersembunyi —di balik pintu, ia diam disana dengan nampan berisi minuman di tangannya. Mingyu menjadi gelisah sekarang, Jihye tak perlu mendengarkan ini.

"Apa dia selalu menentang perintahmu? Dia itu orang yang suka membantah perkataanku". Mingyu tidak bisa mendengar dengan baik apa yang dikatakan mertuanya, ia hanya terlalu fokus pada Jihye yang masih berdiam diri dan menunduk. Bahkan Jihye tidak tahu jika suaminya sedang memperhatikannya.

"Dia baik, kami tak pernah bertengkar, dia juga tak pernah marah atau kesal. Yaa, semuanya terasa menyenangkan" ucap Mingyu sekedarnya. Diangguki ayah Jihye.

Hingga ketika dua pria itu terdiam, Jihye menghampiri dan meletakkan minum di meja.

"Woojin dan Sora dimana? Aku ingin memberikan mereka seuatu" ucap Jihye santai.

Pandai sekali menyembunyikan perasaan. Mingyu mengatupkan mulutnya rapat, menahan agar tidak menggertakkan gigi, menatap sendu pasangannya yang terlihat baik-baik saja.

"Sora sedang keluar dengan teman kampusnya, Woojin sepertinya masih tidur " jawab ayahnya, menyeruput kopi yang dibuatkan Jihye.

"Ooh" Jihye mengangguk.

"Kalau begitu aku bangunkan Woojin dulu" Jihye kembali meninggalkan kedua pria itu. Sejujurnya ia tidak masalah dengan apa yang dikatakan ayahnya meskipun melukai hati. Toh, Mingyu memang harus tau kekurangannya.

"Ayah, aku akan menyusul Jihye sebentar" Mingyu membungkuk cepat setelah diangguki ayah Jihye. Ia tak tahan dengan situasi ini. Sebenarnya ia tidak masalah jika saja Jihye tidak mendengarnya, ditambah wanita itu berpura-pura seolah ia baik-baik saja.

Langkah panjangnya menyusul Jihye, melihat pintu kamar mereka terbuka dan wanitanya disana membuat ia memutuskan masuk, tak lupa menutup pintu rapat. Langkahnya perlahan mendekati Jihye yang duduk di pinggir ranjang, sedang membongkar paper bag —berisi bawaannya untuk sang adik.

Pergerakan Mingyu disadari Jihye, sehingga wanita itu justru mengumbar senyum tipis kepadanya. Membiarkan Mingyu berlutut di hadapan, kedua tangan lelaki itu terlipat di atas paha Jihye, dengan mata yang tak lepas menatap istrinya dengan sendu. "Kenapa Gyu?"

"Kau yang kenapa? Kenapa masih bisa tersenyum padahal kau bersedih? Setidaknya jangan bersikap seolah kau baik-baik saja saat di hadapanku" Mingyu meraih satu tangan Jihye. Masih setia berlutut di hadapannya. Terlihat Cheesy, tapi ini bukan waktu yang tepat untuk bergurau.

"Maksudmu?"

"Kau tidak apa-apa jika ayahmu berkata begitu?" Mingyu menunduk setelah mengatakannya, memainkan jemari miliknya dengan jari Jihye. Seperti anak kecil yang merajuk usai dimarahi ibunya.

Jihye tersenyum lagi, "Aku tidak apa-apa, memang benar apa yang dikatakan ayahku" mengusap bahu Mingyu pelan. Pasti Mingyu terkejut, belum terbiasa dengan keadaan keluarganya. Mingyu terlalu sibuk bahkan untuk menemui keluarganya sendiri.

Mingyu menghembuskan nafas kasar. Kenapa Jihye bisa menyimpannya dengan baik? Kalau Mingyu jadi dia, ia pasti sudah terluka mendengar ayahnya berkata begitu. Ia tahu Jihye sudah berusaha keras sejauh ini, Seungcheol pun tahu itu. Apa belum cukup membanggakan? Apa dulu Jihye melakukan kesalahan besar?

"sudah biasa bagiku, Gyu. Maaf jika itu membuatmu tidak nyaman" Kesalahannya ada pada dirinya, ia tidak mau membawa Mingyu ikut terpuruk dan terluka.

Tanpa aba-aba pria itu memeluk Jihye, Mendekapnya seerat mungkin sampai bisa merasakan detak jantung masing-masing. "apa kau selalu seperti ini Ji?"

"Mingyu, aku tahu kau jarang berada di sisi keluargamu karena kau menjadi trainee bertahun-tahun, bahkan ketika kau bekerja masih jarang menemui mereka. Tapi terkadang kau harus bersyukur dengan keadaan itu. Kau sudah membanggakan kedua orang tuamu, dengan jarangnya kalian bertemu tentu akan membuat mereka melakukan yang terbaik ketika kalian bersama. Ketika kau, Minseo, Ayah dan Ibumu berkumpul, pasti mereka memanfaatkan waktu yang langka itu untuk hal-hal menyenangkan. Kau tidak pernah tahu apa yang akan terjadi jika kau setiap hari berkumpul dengan keluargamu, karena kau pasti ikut merasakan masalah yang ada. Menjadi anak tertua memang sulit. Kita harus bertanggung jawab dan menopang beban berat. Melihat bagaimana orang tuamu, dan adikmu kesulitan akan membuatmu terbiasa seperti ini, seperti aku. Kau akan tahu alasan mereka berbicara seperti itu. Kau mengerti?"

"Aku mengerti. Aku hanya tidak terbiasa melihatmu seperti ini. Tapi jangan menyimpannya sendiri kalau kau bisa berbagi cerita denganku" Ia mengecup kening Jihye dengan sayang.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel