Bab 16 Let's Exercise Together
Mingyu dengan sweater hitam dan celana panjang abu-abu sedang menunggu liftnya turun dari lantai tempat tinggalnya.
Dirinya baru sampai tiga puluh menit yang lalu dan segera mandi setelah itu. Ia memilih pakaian yang santai dengan kunci mobil berada di genggaman tangan kiri dan tangan kanannya mengetik pesan kepada sang istri, ia hendak mejemput Jihye sekarang, tapi harus bertanya lebih dulu apakah wanitanya sudah perjalanan pulang atau masih di kantor. Tidak sampai dua menit pesannya terbalas. Jihye sudah di perjalanan dan sebentar lagi sampai. Jadi ia batal menjemput ke kantor dan memilih menunggu istrinya di depan lobi.
Ia bisa melihat sedan silver berhenti di dekat gerbang selama lima menit, tidak menyangka jika Jihye turun dari sana karena mobil tersebut bukan milik Seungcheol. Lagi pula, mengapa Jihye tidak segera turun dari mobil?.
Mingyu tersenyum saat ia mendapatkan atensi Jihye, dan Jihye tidak menampik jika ia merindukan pria dengan tubuh bongsor itu. Keduanya tersenyum cerah, melupakan lelah di hari yang sudah senja.
Tidak bertemu selama lima hari membuat Jihye benar-benar mengerti rasanya merindukan. Ya Tuhan, rasanya tenaga terisi kembali.
Mingyu merentangkan tangannya untuk menyambut, dan Jihye tanpa ragu memeluk tubuh besar itu sebentar sebelum saling menatap. "Pulang dengan siapa?" tanya Mingyu.
"Dengan Jaehyun, Seungcheol oppa yang meminta" jawab Jihye santai. Namun Mingyu sedikit terkejut, tapi ia tidak masalah akan itu. Ia memaklumi.
"Ayo masuk, aku memasakkan sesuatu untukmu" Mingyu merengkuh tubuh kurus itu untuk dibawa ke tempat tinggal mereka.
Jihye tersenyum tipis, "harusnya aku yang memasakkan sesuatu untukmu" dirinya tidak pandai memasak, dan juga ia tidak menyambut kepulangan suaminya membuat Jihye sedikit kecewa pada diri sendiri.
"Kenapa? Aku hanya sedang ingin memasak sesuatu yang enak untukmu" Mingyu menepuk bahu Jihye, masih tersenyum manis. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya berbeda dengan suami-suami lain.
"Gyu" Jihye menginterupsi Mingyu yang baru selesai menceritakan aktivitasnya selama di Paris. Pria itu meminum segelas air, sebagai penutup setelah makan malam barusan. "Ya, Sayang?"
"Weekend besok, aku ingin ke rumah ibu" ucap Jihye ragu. Takut Mingyu ada urusan di hari tersebut, atau mungkin pria itu memiliki rencana lain.
"Wah, benar juga, seharusnya sejak kemarin kita kesana, maaf karena aku selalu sibuk di hari libur" Mingyu dengan santai mengatakan hal tersebut membuat Jihye lega.
"Tak apa, terimakasih Gyu"
Mingyu menarik sudut bibirnya saat Jihye tersenyum karena ia menuruti keinginan sederhana Jihye. Ia harap, ia bisa lebih banyak lagi membuat Jihye tersenyum.
"Kau kurus sekali sayang, makanlah yang banyak, setidaknya kau harus terlihat lebih berisi setelah menikah" ucap Mingyu membuat topik baru, hanya sekedar mengisi keheningan di antara keduanya.
"Aku juga sangat ingin menambah berat badan, tapi bagaimana caranya? Aku sudah berusaha" Jihye mencebik. Tubuhnya sungguh tidak pas dengan postur Mingyu yang tinggi besar. Jangan bandingkan dirinya dengan model wanita yang sering dijumpai Mingyu, karena sudah pasti tidak bisa disamakan. Badan seperti gitar atau 'S' line bukanlah Jihye sekali.
"Mari ikut aku setiap kali ke gym, mungkin aku bisa membantu" Mingyu memamerkan gigi taringnya setelah menuturkan solusi yang ia tawarkan. Jihye mengangguk antusias.
"Aku setuju"
"Ah iya, aku membawa sesuatu untukmu" Mingyu mengambil sebuah kotak berwarna cream dengan pita emas sebagai penghiasnya. Diserahkan kepada Jihye yang mulai penasaran.
Ketika dia membuka kotak tersebut, maka akan mendapati sebuah buku tebal. Bukan buku biasa tentunya, sampulnya terbuat dari kulit kayu setebal satu centimeter yang diukir, bahkan ada namanya disana. Mingyu pasti memesan khusus untuk Jihye.
Jika dilihat dari bagian samping, tumpukan lembaran kertas setebal lima centimeter tersebut membentuk lengkungan-lengkungan yang artistik. Apabila buku dibuka, maka tampak kilauan kecil seolah disiram sedikit glitter perak disana.
Mingyu dan Jihye memiliki selera tinggi akan seni. Jadi suaminya itu paham apa yang membuat Jihye terpukau. Bukan barang branded, dinner romantis, apalagi perhiasan mahal. Cukup sesuatu dengan karya kreatif yang menakjubkan Jihye sudah tersenyum senang dan mengingatnya.
Seperti yang direncanakan, Jihye dan Mingyu pergi ke gym bersama. Menyesuaikan hari libur keduanya tentu saja.
Mingyu melepas jaketnya saat mobil sudah terpakir dengan rapi. Melemparnya ke bangku penumpang dan mengajak Jihye untuk keluar.
Jihye mengamati tempat yang akan ia masuki tersebut. Jadi di sini Mingyu membentuk masa ototnya?. Biaya yang dikeluarkan cukup banyak sepertinya karena bangunan bertingkat ini tidak seperti gym lain.
Dan seperti lokasi gym pada umumnya. Banyak peralatan melatih kebugaran tubuh yang Jihye tidak mengerti, mereka menitipkan tas dan barang penting lainnya di resepsionis. Tak lupa menuliskan nama mereka sebagai pengunjung di sana.
Ia menggandeng tangan Jihye untuk dibawa ke bagian yang tidak ramai agar lebih nyaman. Baru masuk saja Jihye dapat menemukan beberapa wanita mencuri atau bahkan dengan terang-terangan memandang Mingyu. Jadi beginilah situasi di dalam gym?. Mingyu menjadi pemandangan yang memanjakan mata wanita-wanita itu? Kenapa tidak memperhatikan laki-laki yang lain saja? Yaa, meskipun tidak setampan dan Semenarik Mingyu. Tapi Mingyu sudah terlihat menggenggam tangan Jihye. Apa kurang jelas?. Ah, bahkan mereka tidak peduli jika ada Jihye disana. Lagi pula mungkin Jihye tidak seberapa dibanding mereka yang molek.
Tapi Jihye tetaplah Jihye, tidak peduli selagi mereka tidak bertingkah kelewat batas. Memandangi Mingyu? Meskipun Jihye tak rela, tapi biarkan saja, toh Mingyu dengan kaos tanpa lengannya memang menakjubkan, dan ciptaan yang menakjubkan ini adalah milik Jihye seorang.
Keduanya mengawali dengan pemanasan sebelum mereka benar-benar memulai. Berdiri berhadapan seperti ini dengan menarik otot-otot lengan mereka, entah mengapa membuat keduanya betah saling menatap, padahal Jihye tidak pernah berani menatap Mingyu berlama-lama seperti ini selain saat berbicara. Namun tetap saja Jihye yang memutus kontak mata lebih dulu.
Mingyu melirik ke arah Jihye yang sama sekali tidak terlihat lelah walau mereka sudah belari selama lima belas menit di atas treadmill. Wanita itu melihat ke arah luar jendela besar di hadapan mereka tanpa berniat mengalihkan pandangannya barang ke Mingyu sekali pun.
Beruntung hari ini tak ada satu pun dari wanita-wanita itu yang berani mengganggu Mingyu, entah karena Mingyu yang membawa Jihye bersamanya, atau pria itu yang bersikap cuek pada mereka dan fokus pada Jihye.
Mingyu kini benar-benar Menoleh dan mengamati Jihye tanpa mengubah langkahnya untuk terus berlari. Memperhatikan makhluk yang diciptakan sebagai tulang rusuknya itu saat sedang serius dengan pantulan cahaya matahari menyapu sosoknya.
Saranghae. Mungkin itu adalah kalimat yang selalu memenuhi dada Mingyu setiap melihat Jihye, atau bahkan tanpa melihatnya.
Jihye secara fisik tidak sesempurna wanita lain. Tidak juga menebar senyuman untuk memikat orang lain. Tidak pandai memasak, dan sedang berlatih akan itu. Tidak pernah melakukan sesuatu yang romantis. Wanita ini hanyalah sosok baik dengan perhatian dan karakter dewasanya. Tapi mengapa dada Mingyu rasanya bertalu-talu? Apa benar ini yang disebut bersyukur dan mencintai apa yang dimiliki?
Jika iya, maka Mingyu berterimakasih telah diciptakan rasa itu untuknya.
