Bab 15 Jaehyun's Job
Jaehyun refleks meringis saat menyentuh stir mobil karena luka goresan yang bercampur keringat akibat peristiwa tadi. Tapi ia tak mengapa, luka tersebut seperti sebuah kebanggaan bagi seorang polisi yang begitu mengayomi pekerjaan sepertinya. Sejujurnya ia sangat senang, dapat membantu langsung tanpa harus mendapat perintah lebih dulu dari atasan.
"Bisakah kita berhenti di minimarket sebentar?" ucap Jihye, biar bagaimana pun ia tidak bisa melihat darah mengering di sekujur lengan Jaehyun. Entah lelaki itu sadar atau tidak akan perih yang ia rasakan. Atau mungkin memang tidak peduli.
"Oh? Ya, tentu. Aku juga haus". Perlahan Jaehyun memarkirkan mobilnya.
Sementara Jihye membeli antiseptik dan plester, karena benda tersebut setidaknya bisa dutemukan di minimarket saat ini. Sedangkan Jaehyun membeli dua botol minuman dingin. Ia membiarkan Jihye mencari barang yang dibutuhkannya.
Pria tampan itu duduk di salah satu kursi yang tersedia di sudut minimarket, menglihat ke arah luar dimana langit sudah petang. Menunggu Jihye yang sedang membayar belanjaannya. Sampai wanita itu mengambil kursi untuk duduk di samping Jaehyun.
"Mari obati lukamu"
"Hm?" Jaehyun dengar, tapi tiba-tiba otaknya berjalan lambat. Jadi Jihye membeli obat? Hanya untuk luka Jaehyun?.
"Tidak mau?" tanya Jihye membuat pria di sampingnya gelagapan.
"Y-ya, terimakasih". Jaehyun menggulung lengan kemejanya hingga ke bahu. Bukan Jaehyun ingin pamer otot lengan yang terbentuk dengan sendirinya, ia cukup tahu bahwa Mingyu juga memiliki bisep yang tak kalah sempurna. Ia hanya memudahkan Jihye mengobatinya. Kalau dilihat ternyata mengerikan juga sisa darah yang mengalir itu mengering di sekujur lengan.
Jaehyun sedikit membuat gerakan refleks jika dirasa perih saat Jihye mengobati lukanya. Jadi Jihye meniup luka tersebut agar mengurangi nyeri yang dirasa Jaehyun, dan hal itu membuat pria tinggi disebelahnya merasakan panas di wajah dan telinga. Tidak boleh, dia harus menahan perasaannya. Jaehyun harus mengingatkan diri bahwa wanita di sampingnya sudah bersuami. Ya, suami yang tidak kalah tampan dari dirinya.
"Selesai, semoga lekas sembuh"
"Terimakasih. Kau baik sekali"
"Anggap saja karena kau sudah menjadi pria hebat hari ini. Dan juga karena mengantarku pulang". Jaehyun mengembangkan senyumnya. Kapan lagi dia bisa berdua dengan Jihye? Terlebih dipuji seperti ini? Setidaknya sekali saja dia bisa meluapkan perasaannya pada wanita itu. Baginya ini sudah cukup.
"Aku senang melakukannya, suatu kebanggaan bagiku, dan mengantarmu? Aku bahkan bisa menjemputmu sebelum berangkat ke kantor. Katakan saja kalau kau butuh aku". Jihye tersenyum tipis. Jaehyun mirip dengan Mingyu. Bedanya Mingyu selalu bertingkah menggemaskan seperti anak-anak.
"Ini" Jaehyun menyodorkan botol minuman yang diterima dengan baik.
Menikmati waktu duduk di mini market selama sepuluh menit untuk berbagi cerita dan menikmati malam tidak buruk juga.
Tiga hari setelah aksi Jaehyun yang turun langsung ketika terjadi kecelakaan, ia kembali bertugas untuk penyelidikan tersangka atas kasus yang belum usai. Kali ini keahliannya bagai diuji.
Seungcheol dan beberapa polisi lainnya berhasil menangkap buronan dengan kasus merampok dua bank yang berbeda. Kini mereka sedang melakukan introgasi langsung untuk menanyakan alasan dia merampok uang yang jumlahnya cukup besar. Namun jawaban yang di dapat terdengar mencurigakan.
Seungcheol meninggalkan ruangan dimana ia berbicara empat mata dengan tersangka. Dibalik dinding kaca tebal yang hanya dapat dilihat dari luar itu beberapa orang sudah memperhatikan dan mendengar percakapan mereka tadi. Ia memijat batang hidungnya sebelum terdiam sejenak. Semakin tua semakin banyak pengalaman yang ia miliki, namun ia juga semakin banyak hal yang harus dipikirkan, sehingga otaknya sedikit tersendat. Di saat-saat seperti ini ia membutuhkan polisi-polisi muda yang dirasa bisa berpikir lebih segar.
"Aku rasa dia berbohong" ucap Minhyuk diangguki beberapa anggota yang lain.
"Kalau alasan dia untuk kebutuhan keluarganya, aku rasa gaji dia bekerja sudah lebih dari cukup. Dia juga tidak memiliki catatan hutang di bank." lanjutnya, sambil membaca catatan yang diberikan Jihye.
"Lagi pula bagaimana mungkin dia memaksa kita untuk menghukumnya saja, padahal dia memiliki keluarga untuk dibiayai hidupnya" masuk akal memang. Jimin diketahui tidak memiliki masalah dengan keluarganya, justru sangat menyayangi mereka.
"Maka dari itu, aku pikir dia dipaksa merampok" ucap Seungcheol. Hanya itu yang terlintas baginya.
"Bawa dia ke ruangannya, kita tanyakan besok lagi" ucap Seungcheol diangguki Jaehyun dan Younghoon—dua polisi seumuran yang masih sama-sama baru disana.
Mereka memegang kedua lengan pria tersebut untuk dibawa ke ruangannya sekaligus istirahat sejenak sebelum penyelidikan esok hari. Lelaki yang diketahui bernama Park Jimin itu menunduk dalam, terlihat gelisah. Jaehyun jadi tidak tahan ingin menanyakan sesuatu.
"Maaf pak. Tapi apa kau disuruh oleh seseorang?" ucap Jaehyun di koridor kosong tersebut. Sehingga hanya mereka bertiga yang dengar.
"Tidak!" sanggah Jimin, menggeleng rusuh. Seolah jika berkata 'iya' dirinya akan dibunuh. Reaksi Jimin justru membuat Younghoon dan Jaehyun mengernyit heran.
"Baik pak. Silahkan istirahat" ucap Younghoon setelah sampai, tak lupa mengunci pintu setelahnya.
"Kau merasa dia menutupi sesuatu?" tanya Younghoon, menyisir rambutnya ke belakang. Ia cukup lelah karena ikut sibuk hari ini.
"Itu sudah sangat jelas"
Jihye yang sedang di antar pulang oleh Jaehyun, lagi. Akibat Seungcheol harus menyelidiki lebih jauh tentang Park Jimin.
"Apa benar Park Jimin pelakunya?" tanya Jihye. Hanya menepis keheningan di antara merrka berdua.
"Entahlah, dia sangat ingin dipenjara dari pada kami mengintrogasinya lebih jauh" Jaehyun memijat pelipisnya.
Jihye tak ingin bertanya lagi, sebab Jaehyun terlihat sedang pusing dengan pekerjaannya. "Semoga kasus ini cepat selesai" ucap Jihye mengakhiri.
"Oh ya, apakah Mingyu seorang model? Aku sempat melihat dia di sampul majalah. Maaf baru tahu karena orang sepertiku lebih sering membaca koran" ucap Jaehyun terkekeh pelan.
"Iya, dia sedang mengikuti fashion week di paris, maka dari itu dia menitipkanku pada Seungcheol. Seharusnya hari ini dia sudah pulang" jawab Jihye.
"Begitu ya? Jadi besok aku tidak bisa mengantarmu pulang lagi?" Jaehyun terkekeh dengan terpaksa. Ia tidak mau jujur saja.
"Kurasa begitu. Terimakasih ya sudah mengantarku"
"Sama-sama"
Perlahan pria itu menghentikan mobil saat mereka sampai di depan apartemen Jihye. Jaehyun merasa lega dan senang entah untuk apa.
"Ngomong-ngomong, apa lukamu sudah sembuh?" tanya Jihye sebelum turun dari mobil.
"Sudah lebih baik" digulungnya lengan baju, Memperlihatkan luka yang diobati Jihye kemarin.
"Sebentar"
Istri Mingyu itu mengambil salep dari dalam tas dan tanpa ragu mengoleskannya di luka kering Jaehyun. Dengan begitu ia harap akan lebih cepat sembuh. Sementara Jaehyun mati-matian menahan gejolak dalam dadanya dengan cara menahan nafas. Bisa mati dia kalau begini terus.
Beruntung sekali Kim Mingyu itu.
