Bab 14 Today with Jaehyun
Jaehyun menaruh makan siang di meja Jihye. ia sebenarnya terpaksa merangkap menjadi jasa titip untuk teman-teman sekantornya. Jadi sekalian saja mengambil untuk beberapa orang dan sisanya ia berikan ke Jihye, kebetulan wanita itu belum mengambil makan siang.
Jaehyun tidak bisa menolak saat polisi yang lebih senior itu memintanya untuk sekalian diambilkan makan siang. Entah meminta dengan wajah memohon atau wajah tanpa dosa, Jaehyun tetap mengangguk, menuruti mereka sebagai polisi muda yang baru dipindahkan disana. Toh, ini tidak berat baginya. Ia hanya menggerutu dalam hati karena mereka menyuruhnya hanya karena malas, walau mereka beralasan lain.
Pantas saja mereka gemuk. Batin Jaehyun.
"Terimakasih Jaehyun-ssi" ucap Jihye, menginterupsi lamunan pria itu.
"Ah— iya, sama-sama" Entah mengapa dia menjadi kikuk sendiri, dan tersenyum hambar. Jaehyun sedang tidak mood sekarang, entah mengapa ia ingin sekali ditugaskan di lapangan, pekerjaan yang lebih seru dan menantang, tak masalah jika ia terluka, setidaknya ia tidak bosan di kantor, menunggu perintah Seungcheol untuk menangkap bandit di luar sana. Setelah tiga minggu bekerja di sini ia baru beraksi sebanyak dua kali. Itu pun kasus ringan. Jaehyun menghela nafas kasar.
"Boleh aku duduk di sini?" tanyanya, meminta ijin ke si pemilik meja. Entah mengapa ia merasa lebih baik makan siang bersama Jihye dari pada kembali ke mejanya. Ia hanya sedang tidak mau makan sambil mengamati petugas lain—yang menurutnya membosankan. Sejauh ini ia hanya mengangumi seniormya yang bernama Seungcheol.
Melihat ekspresi Jaehyun yang sedang tidak bersemangat membuat Jihye bersimpati dan mengangguk, tersenyum ramah supaya sedikit menyenangkan Jaehyun. Syukurnya pria itu sedikit sumringah sekarang.
Tenang saja, tak ada yang menduga macam-macam. Pekerjaan mereka terlalu profesional sampai tidak akan menduga hubungan lebih selain rekan kerja. Jadi Jaehyun tenang saja akan itu. Namun dalam diam, melalui ekor matanya Seungcheol memperhatikan. Tidak, Seungcheol hanya sebatas melihat tanpa menduga. ia cukup tau siapa Jaehyun. Kalau pun pemuda itu ada perasaan lebih kepada Jihye, Jaehyun pasti tidak melakukan hal yang tidak semestinya, dan Seungcheol yakin Jaehyun tetap bisa diandalkan.
Sudah tiga hari sejak keberangkatan mingyu ke paris. Seungcheol harus pergi untuk manangkap langsung perampok bank besok—itupun kalau informan mereka sudah benar-benar mendapatkan lokasinya. Jadi ia tidak bisa memantau Jihye.
Begitu tiba jam kerja selesai dimana Seungcheol harus mengantar Jihye terlebih dulu, pria itu merasakan ponselnya bergetar panjang tanda panggilan masuk.
"Ya,sayang?" ucap Seungcheol begitu mengangkat panggilan dari istrinya.
Jihye hanya menunggu dalam diam, ia punya firasat Sinbyeol sedang membutuhkan Suaminya sekarang.
"Eunbyeol demam? Aku akan kesana sekarang"
Jihye benar. Dan ia tidak butuh penjelasan dari Seungcheol untuk memahami situasi.
"Kalau begitu pulang lah cepat, oppa" hanya pada Seungcheol ia memanggil oppa, pria itu sudah seperti kakak baginya.
"Kau bagaimana?- ah—Jaehyun!"
"Ya, pak?" tanyanya saat hendak keluar setelah memakai jaketnya. Kalau Seungcheol yang memanggil dan memerintah ia akan dengan langkah ringan mendekat, selain karena kepala di kantor mereka, pria berbulu mata lentik itu juga panutannya.
"Apa kau sibuk setelah ini?" tanya Seungcheol, ia tetap tidak mau menyusahkan Jaehyun tentu saja.
"Tidak pak" Jaehyun tersenyum manis, kemudian melirik ke arah Jihye, sepertinya ia pahan mengapa Seungcheol memanggilnya.
"Bisa kau antarkan Jihye pulang? Mingyu menitipkannya padaku tapi aku sedang tidak bisa" Jaehyun meringis dalam hati saat mendengarnya. Tapi dia tidak mau menolak tawaran Seungcheol. Kalau Mingyu ingin menjaga Jihye, maka dirinya pun sama.
"Oh tentu, mari Jihye-ssi" Jaehyun mempersilakan Jihye untuk mengikutinya.
"Aku–" Jihye hendak menolak tapi Seungcheol sudah memberi kode untuk menurutinya.
"–baiklah"
Mereka terdiam di dalam mobil Jaehyun setelah Jihye menyebutkan alamatnya. Jihye yang merasa canggung, berbeda dengan Jaehyun yang senang namun hanya bisa tersenyum.
"Kalau boleh tau, Kenapa pak Seungcheol tidak mengantarmu kali ini Jihye?-ah apa aku boleh memangilmu Jihye saja?" Jaehyun itu ramah, jadi setiap orang yang datang ke kantor polisi untuk memberi laporan-entah laporan kehilangan,dan lainnya-menjadi betah berbicara dengannya.
"Ya, kau boleh memanggilku begitu. Anaknya sedang demam, jadi ia harus pulang segera" jelas Jihye
"Ah, begitu" Jaehyun mengangguk paham.
Tiba-tiba suara gaduh yang tidak ingin terdengar penyebabnya oleh siapapun itu membuat Jaehyun mengerem mobil mendadak. Jihye dan Jaehyun melihatnya walau tidak secara jelas akibat tertutupi kendaraan lain. Disana,seratus meter di depan mereka, sebuah truk yang entah mengapa-karena seharusnya truk itu berhenti di traffic light,justru menabrak beberapa mobil yang melintas di depannya. Orang-orang berhambur keluar untuk melihat lebih jelas.
Jaehyun dan Jihye saling menatap sebentar, dengan raut kaget yang tergambar jelas di wajah mereka.
"aku akan kesana sebentar" ucap Jaehyun, "aku ikut" balas Jihye dan mereka berhambur keluar. Berlari menembus kendaraan dan orang-orang demi melihat secara jelas dan melakukan sesuatu untuk membantu.
Truk yang menabrak dua buah mobil hingga salah satunya terbalik. Sementara Jihye membantu pasangan suami istri paruh baya yang mobilnya tidak terbalik, Jaehyun berusaha mengeluarkan seorang wanita yang terjepit akibat mobilnya terbalik sehingga ia sulit bergerak.
"Apa kalian baik-baik saja?" tanya Jihye kepada pasangan orang tua itu. Mereka mengangguk walau masih belum tenang, dituntun oleh Jihye ke tempat yang aman.
Jaehyun menggeram saat pintu mobil yang sudah penyok itu masih sulit dibuka, ia harus mengeluarkan pengemudi yang masih terjebak di dalamnya. Dirinya sudah menedang kaca dengan kuat, namun hanya menimbulkan retakan tak berarti. Beginilah jika berniat memecahkan kaca mobil mewah.
"Bertahanlah, aku akan mengeluarkanmu!" seru Jaehyun, mencoba mencari sesuatu untuk memecahkan kaca mobil. Orang-orang mendekat, berniat membantu.
"Anakku!—Tolong selamatkan dia lebih dulu!" ucap wanita si pengemudi dengan derai air mata.
Oh sial, Jaehyun tidak menyadari itu. Wajar saja, anak itu hanya diam dan terpejam. Mereka hanya berharap nyawa gadis mungil itu selamat.
"Apa ada yang membawa linggis atau semacamnya?!" seru Jaehyun kepada orang di sekitar. Salah satu dari mereka mengaku membawa dan mengambilkan benda tersebut dengan cepat.
"Aku akan mengeluarkan putrimu lebih dulu!" ujar Jaehyun yang diangguki cepat oleh wanita itu.
Kumohon, tetap lah hidup. Harap Jaehyun cemas. Bermodal linggis untuk memecahkan kaca dia berusaha menariknya pelan agar tidak terluka, melupakan dirinya yang sudah tergores pecahan kaca tajam yang masih menancap di pintu mobil.
Sementara itu, Jihye bergerak membantu sang ibu untuk keluar dari sana, walau cukup sulit namun ia berhasil.
Jaehyun menggendong anak perempuan kecil itu, mendekapnya ketika dirasa masih hidup dan membawa tubuh lemasnya ke ambulans yang sudah menunggu. Diikuti ibunya yang mengucapkan beribu terimakasih dengan tulus.
Polisi sudah menangani kecelakaan tersebut begitu juga supir truk yang menjadi penyebab kecelakaan ini. Dengan langkah ringan dan raut lega, Jihye dan Jaehyun kembali ke mobil, tidak mempedulikan luka di bagian tubuh mereka.
"Kerja bagus, Jaehyun" ucap Jihye memuji. "Ya, kau juga"
