Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 13 Mingyu's Struggle

Dua tahun lalu....

Seminggu setelah percakapan mereka terakhir kali tentang Mingyu yang berniat untuk menikah, pria tinggi itu akhirnya berkunjung lagi ke kantor Seungcheol sekedar untuk mampir dan mengobrol, selagi ada waktu luang di sela pekerjaannya sebagai model.

Mingyu kembali datang di jam makan siang karena dia tidak ingin mengganggu jam kerja hyungnya itu. Dia datang membawa cemilan untuk hyungnya. Namun sepertinya Seungcheol masih sibuk meskipun sedang dalam waktu untuk beristirahat. Jadi ia memilih untuk menunggu di tempat biasanya, di depan meja Seungcheol, menunggu sampai pak polisi itu selesai dengan urusannya.

Telinganya sedikit terganggu saat seorang anak kecil menangis kencang di dalam sebuah ruangan yang setengah bagiannya berdinding kaca dengan pintu yang terbuka. Dia bisa melihat bocah laki-laki tersebut duduk sambil menangis tanpa henti, sedangkan seorang wanita di sebelahnya berusaha menenangkan. Sayup sayup Mingyu mencoba mendengar ucapan sang wanita.

"Tenanglah ibumu sebentar lagi akan datang... Jangan menangis, hm?"

Mungkin karena lelah anak itu akhirnya berhenti menangis. Sedangkan sang wanita mencoba menenangkannya dengan berbagai cara.

"Apa kau terluka? Apa dia memukulmu?"

Anak laki-laki itu mengangguk, masih tersedu-sedu. Ia menunjukkan bagian yang dipukul.

"Jahat sekali...Aku akan memukulnya sepuluh kali dan memasukkannya ke penjara" ujar wanita itu.

"Benarkah?"

"Tentu saja"

"Kau mau makan? Kau harus tetap sehat, jadi kau bisa melawan kalau ada penjahat yang menggangumu lagi"

Seungcheol baru bisa menghampiri Mingyu setelah mengabari orang tua bocah lelaki yang hilang karena penculikan. Dan anak kecil yang dimaksud sedang menyantap makanan dengan lahap.

Ia sudah duduk di depan mingyu, tapi pria itu bahkan tidak meliriknya. Sampai Seungcheol mengikuti arah pandang si jangkung yang ternyata tertuju pada dua orang di dalam ruangan.

"Siapa dia?" akhirnya Mingyu membuka suara.

"Anak itu?. Korban penculikan yang berhasil kabur dan dibawa penduduk sekitar kesini" ucap Seungcheol enteng.

"Bukan, maksudku wanita itu, siapa namanya?" sebenarnya Mingyu tahu jika si wanita adalah pekerja di kantor polisi tersebut. Namun ia tidak pernah berniat memerhatikannya selama ini karena tujuan ia kemari hanya untuk bertemu dengan Seungcheol.

"Dia salah satu staf informasi, sedang melakukan pendekatan untuk mencari informasi lebih jauh dari anak itu"

"Ooh" mulutnya membulat namun matanya masih mengamati wanita dan anak itu.

"Dia sudah aku anggap seperti adik sendiri", pernyataan tersebut membuat Mingyu menatap Seungcheol dengan tanda tanya. Kenapa Seungcheol tidak pernah bercerita? Dan bagaimana dengan Sinbyeol?

"Kenapa? Aku sudah mengenal dia cukup lama dan dia sangat baik. Sinbyeol bahkan bersahabat dengannya" Seungcheol menyantap cemilan yang dibawa Mingyu dengan pikiran yang menerka-nerka apakah pria jangkung itu sedang tertarik dengan wanita yang mereka bicarakan.

"Beri tahu aku namanya" ujar Mingyu tanpa pikir panjang. Sejujurnya ia hanya penasaran.

Benarkan. Seungcheol sudah menduganya. Jadi ia mendekat ke arah Mingyu dan berbisik.

"Jihye, namanya Lee Jihye"

Awalnya Jihye memaklumi ketika Mingyu yang memperkenalkan diri sebagai teman Seungcheol itu berbincang dengannya. Namun seminggu kemudian Mingyu mulai mengantarnya pulang ke apartemen Jihye yang sederhana, apartemen yang ia tinggali sebelum menikah dengan Mingyu. Hingga suatu hari Mingyu mengagumi kisah Jihye yang lambat laun banyak ia ketahui dari Seungcheol maupun mulut Jihye sendiri. Ia pun menaruh hati dan melamar Jihye begitu saja, karena ia tahu Jihye butuh pria yang serius menjadi pendampingnya, bukan hanya sebatas kekasih seusai kencan. Ketidaksabaran Mingyu mulai terasa ketika ia melaksanakan wajib militer, dimana ia harus berpisah dengan Jihye dan menahan rindu. Hanya memiliki cuti beberapa hari untuk saling bertemu.

Saat itu lah awal mula perjuangan Mingyu mendapatkan Jihye dimulai. Mingyu mengingat semuanya ketika ia merasa cemas dan membutuhkan Jihye seperti saat ini. Itulah mengapa ia benci menaiki pesawat, karena pada dasarnya ia fobia ketinggian. Namun lama kelamaan ia mulai terbiasa menjadi penumpang pesawat karena kebutuhan pekerjaan. Tapi turbulensi yang barusan terjadi hampir membuatnya ketakutan setengah mati, cemas dan khawatir luar biasa.

Pesawat sudah mendarat dengan selamat di landasan sebagaimana mestinya. Mingyu dengan wajah yang masih pucat memijat keningnya sambil berjalan bersama beberapa staf ke mobil mereka.

"Minumlah" ucap Jonghyun kepada laki-laki di sebelah kursinya yang terlihat pucat. Diterima uluran air mineral itu dengan tangan gemetar. Masih tersisa ketakutan akibat peristiwa beberapa menit lalu.

"Apa turbulensi semenakutkan itu bagimu?" tanyanya setelah pria di sampingnya terlihat lebih baik, dan diangguki dengan cepat.

"Kau tahu itu hyung, Rasanya aku sudah diambang kematian". Jonghyun dibuat terkekeh dengan ucapan Mingyu, terlebih ketika pria itu memanggil nama pasangannya saat dirasa ketakutan sudah di Puncak.

"Tenanglah, lebih baik kau tidur" Jonghyun menganjurkan. Tapi Mingyu tidak menanggapi. Pria itu lebih memilih membuka ponsel dan mendengarkan lagu melalui earphone.

Ketika lagu smile flower berhasil membuatnya terbawa suasana sehingga rasa takutnya teralihkan, dan ia berhasil menenangkan pikiran ditambah jalanan kota paris yang menakjubkan.

Ia tertidur kemudian. Bersamaan dengan mobil yang membawa mereka ke hotel tempat untuk melepas penat.

…

Seungcheol memegang ucapannya bahwa ia akan menjaga istri sahabatnya itu. Jadi ia mengantar Jihye sampai rumah, setidaknya itu bentuk penjagaannya kepada Jihye, lagi pula saat ini ia tidak sesibuk itu di lapangan sehingga sempat mengantar pulang Jihye.

"Kau sudah bilang Sinbyeol kalau akan mengantarku pulang?" tanya Jihye di sela keheningan antara ia dan Seungcheol.

"Tentu, dan tentunya ia tidak masalah sebab dia tahu aku tidak akan macam-macam, apalagi kelain hati" Seungcheol terkekeh dengan ucapannya sendiri. Jihye hanya tersenyum tipis. Seungcheol memang begitu, dengan segala perhatiannya kepada para wanita, ia tetap akan Setia. Sinbyeol beruntung mendapatkan pria ini. Dijamin setiap hari akan mengkonsumsi kalimat manis yang Seungcheol ucap.

"Lagi pula, dia yang akan menyuruhku di barisan paling depan kalau terjadi sesuatu padamu" lanjutnya.

"Terimakasih" ucap Jihye, menundukkan kepalanya. Sejak dulu Seungcheol selalu baik, ia sangat berhutang Budi. Ia bahkan nyaris menaruh hati kalau saja pria itu tidak bercerita bahwa akan melamar Sinbyeol.

Dengan senyum menawan, Tangan besar itu mengusak rambutnya,"Sama-sama".

…

"Masuklah, harus kupastikan kau masuk sebelum aku pergi" ujar sang laki-laki kepada wanita di depannya. Menatap Jihye dengan tubuh kurus yang berbalut mantel krem bersapu angin senja.

"Maaf merepotkanmu, Mingyu memang berlebihan" ucap Jihye merasa tidak enak. Namun Seungcheol menggeleng cepat.

"Eyyy, Mingyu memang benar, dan tanpa diminta Mingyu pun aku tetap akan menjagamu. Jadi kalau kau tidak mau merepotkanku, cukup turuti saja apa kataku, oke?" begitulah kesepakatannya. Jihye harus aman sebagaimana Mingyu menitipkan wanita itu padanya.

Jihye berdehem tanda mengiyakan. Mingyu dan Seungcheol sama saja.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel