Bab 12 Mingyu's Flashback
Tangan besar yang dua jam lalu sempat saling bertaut dengan jemari sang pasangan itu bergerak mengambil selembar foto yang terselip pada kantong baju dibalik mantelnya.
Mata sang empu yang awalnya menatap pemandangan awan dibalik kaca pesawat teralih pada potret yang sudah ada pada genggaman. Dirinya dan sang istri yang tersenyum manis dengan saling merangkul. Foto yang diambil oleh salah seorang fotografer dari studio the8 milik Minghao saat resepsi pernikahan Dino. Minghao memang memperbolehkan siapapun untuk mengambil gambar dan langsung cetak secara gratis sebagai bentuk promosinya dan hadiah bagi pasangan pengantin.
Bibirnya tersungging senyuman. Memorinya kembali berputar di waktu-waktu mereka setelah resmi menikah. Bagaimana dirinya mengajarkan sang istri memasak, saat istrinya dengan telaten menyembuhkan demamnya, bahkan menyikut perutnya secara refleks, sampai dimana wanita itu menciumnya beberapa waktu lalu.
Ia membuka ponsel karena teringat ada pesan masuk yang belum sempat dibaca tadi akibat bertepatan saat dirinya melakukan Check-in, dan karena ia baru saja ingat maka ia memeriksanya, tentu saja dengan ponsel yang sudah diatur mode penerbangan tadi.
Chat!
Me :
Hyung aku akan berangkat ke paris
Aku titipkan Jihye padamu ya?
Seungcheol :
Tak usah memintanya
Sebagai pria sejati
Sudah pasti aku akan melindungi kaum wanita, Apalagi Jihye
Hati-hati di jalan Gyu
Jangan lupa bawakan aku menara eiffel
Mingyu menyimpan ponselnya. Kembali mengamati foto tersebut sebelum merasakan guncangan dahsyat nan mendebarkan, seluruh tubuhnya dibuat terguncang dan pikirannya dibuat panik, mengakibatkan benda berharga yang dipegangnya melayang jatuh entah kemana. Hingga terdengar peringatan dari speaker yang disuarakan oleh awak pesawat. Membuatnya mengikuti instruksi dan memejamkan mata rapat-rapat. Ia mencoba mengingat wajah seseorang yang mengisi hatinya. Wajah yang ia lihat terakhir kali sebelum tidur dan wajah yang ia lihat pertama kali saat bangun tidur.
Dia sudah sejauh ini, sudah sebulan ia berusaha mendapatkan hatinya. Namun ia belum benar-benar mendapatkan apa yang ia inginkan, apa yang ia usahakan, apa yang ia butuhkan. Setidaknya biarkan ia berusaha sedikit lebih lama dan mendengar dengan sendirinya tuturan perasaan Jihye.
Dadanya menghangat setiap mengingat Senyum yang selalu menenangkan saat sakit dan khawatirnya. Setiap usapan lembut saat ia merajuk dan kesal. Setiap pelukan yang menghangatkan dan menguatkan. Ia ingat itu semua.
Ya, dia hanya perlu mengingat itu semua untuk menenangkan diri.
"...kau ingin kubawakan sesuatu?"
"Pulanglah dengan selamat"
"Tentu sayang"
"Jihye..."
Dua tahun lalu ia dengan penasaran bertanya kepada sahabatnya, Seungcheol. Saat itu ia sedang berkunjung ke kantor polisi dimana Seungcheol bekerja. Terkadang jika ia mendapat libur kerja, dirinya akan menyempatkan mampir kemari hanya untuk mengobrol ringan dengan pimpinan di kantor polisi itu, Seungcheol dengan kehebatannya yang bisa mencapai jabatan tersebut pernah mengaku bahwa pencapaian itu ia dapat karena dukungan dari istrinya. Ya, memang benar seperti apa yang Mingyu lihat. Seungcheol berbeda, menjadi lebih tegas, bertanggung jawab, dan gentleman. Siapa lagi kalau bukan karena sang istri yang sudah dinikahinya lima tahun lalu itu.
"Hyung... Bagaimana rasanya menikah?" pertanyaan yang meluncur mulus dari bibir Mingyu dengan lugunya membuat Seungcheol terkekeh. Pria yang sedang menikmati jam makan siangnya itu meminum kopi yang diletakkan di meja. Matanya mengamati mata anak anjing yang dimiliki lawan bicaranya. Tatapan penasaran namun menggemaskan untuk ukuran pria dewasa yang terlihat berkarisma di balik kamera.
"Ada apa dengan pertanyaanmu itu?" tanya Seungcheol, meletakkan cangkir kopi ke tempat semula dan bersandar pada punggung kursi. Sebuah kenikmatan tersendiri saat bisa bersandar santai sambil meminum kopi setelah pekerjaan yang lebih banyak di lapangan untuk polisi sepertinya.
"Kau terlihat lebih.. Eumm.. Bagaimana mengatakannya ya.. Kau hanya terlihat lebih segar.. Auranya berbeda.. Biasanya aura mistis...tapi setelah menikah auranya harmonis" . Coret pada kata mistis yang diucapkan Mingyu. Itu hanya candaan saja. Seungcheol tersenyum simpul seperti seorang guru yang bijaksana, membuat Mingyu berdecih malas.
"Memang benar, aku pun merasakan hal yang berbeda setelah aku menikah. Rasanya bahagia"
"Memangnya sebelum menikah kau tidak bahagia?" tanya Mingyu menyelidik. Tidak suka dengan pernyataan hyungnya itu. Jadi persahabatan mereka selama ini dianggap angin lalu saja?.
"Bukan. Maksudku adalah rasa bahagia yang tidak kau dapatkan sebelum kau menikah" bahkan Seungcheol terus tersenyum saat mengatakannya. Terlihat begitu bahagia sepertinya. Mingyu tidak heran, pria di depannya ini belum lama menikah, dan belum mendapatkan masalah dalam pernikahannya, jadi wajar saja jika Seungcheol terlihat tanpa beban seperti ini.
"Kau pernah mengalami masalah setelah menikah?" tanya Mingyu membuat Seungcheol berhenti dari imajinasinya dan menatap Mingyu dengan mata memicing.
"Tentu saja. Aish... kau ini" ia menyeruput kopinya sejenak sebelum melanjutkan.
"Ada atau tidaknya masalah harus dihadapi berdua. Itu yang akan membuat kita dewasa dan belajar untuk tidak egois"
Mingyu mengangguk-angguk paham setelah dibuat bungkam oleh perkataan Seungcheol.
"Apa kau sedang berencana menikah?" tanya Seungcheol menyelidik, Mingyu menghela nafas pelan.
"Entahlah hyung.. Aku tidak ingin berlama-lama melajang" ucap Mingyu. Ia memang belum mengerti mengapa keinginan itu muncul. Apakah karena iri melihat sahabat-sahabatnya semakin terlihat sejahtera, atau karena ia memang menginginkan sebuah kebahagiaan yang dibagi berdua?
"Ya, lebih baik kau menikah, akan ada seseorang yang selalu mengurus dan mendampingimu ketika tak ada orang lain yang bisa menemani dan bersedia datang" ucap pria di depan Mingyu.
"Jadi kau tidak akan datang jika aku terkena musibah?" tanya Mingyu tidak suka, lagi. Tapi dia tidak serius kok. Hanya meminta kejelasan dari pernyataan barusan.
"Hah, bocah ini. Memangnya kami orang pertama yang akan menyambutmu saat pagi hari? Saat kau pulang bekerja? Saat kau sakit?"
Mingyu dibuat cemberut dengan perkataan Seungcheol. Dasar giant baby.
"Aku bahkan sudah lama tidak tertarik dengan wanita" keluh Mingyu. Aneh bagi Seungcheol, apa susahnya tertarik dengan wanita? Toh Mingyu normal, apalagi lingkup pekerjaannya dikelilingi wanita cantik. Ia bisa tinggal pilih saja sesuai kriterianya.
"Memangnya tidak ada satu pun yang menarik bagimu? Kau kan dikelilingi wanita Gyu"
"Model cantik tentu membuat pria diluar sana melirik dengan leluasa, kemudian tertarik lalu menggoda dan sampai lah pada gosip murahan" benar juga kata Mingyu.
"Aku ingin menikah seperti para hyung, tapi tidak asal menemukan wanita yang menarik secara visual, tapi pantas jadi ibu untuk anak-anakku" Mingyu baru saja membulatkan keputusan di depan Seungcheol yang mencoba memperhatikan keseriusannya. Pria berkulit pucat itu bahkan baru pertama kali mendengar tuturan sang adik sekaligus sahabatnya tentang menikah. Namun akhirnya ia megangguk.
"Ya..Kau juga punya masa depan yang disebut keluarga untuk kau pimpin, bukan hanya karir yang suatu hari pasti akan berakhir"
