Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 11 Dinner Before You Leave

Mingyu mengusap kedua tangannya kuat sampai terasa panas, kemudian menangkup wajah Jihye untuk menyalurkan hangat. Ia tahu Jihye kedinginan, karena dirinya yang menggunakan jas saja masih terasa dingin, apalagi Jihye yang hanya menggunakan dress lengan pendek. Itu membuatnya merasa bersalah, harusnya ia memilihkan pakaian yang lengan panjang dan berbahan tebal.

"Maafkan aku, harusnya aku membeli yang berlengan panjang dan berbahan tebal" ucap Mingyu dengan ekspresi kalut. Ia merutuki kebodohannya, melupakan kata 'makan malam', ditambah ia lupa jika akan dilakukan di luar ruangan.

Sejujurnya hawa dingin malam ini sudah cukup berkurang saat Mingyu melingkupi tubuhnya dengan jas ukuran besar itu. Ditambah pipinya yang sudah memanas sejak Mingyu membuka jasnya, bukan karena tangkupan tangan Mingyu, melainkan rompi yang digunakan suaminya itu. Argh, bukannya apa, hanya saja Mingyu menggunakan rompi tampa kemeja di dalamnya.

Sial sial sial. Umpat Jihye dalam hati. Mingyu terlalu seksi untuk sekedar makan malam dengan teman-temannya. Memang pesta makan malam pasti identik dengan pakaian yang agak errrr. Dan Jihye sudah menahan diri untuk tidak memperhatikan Mingyu berlebihan sejak di rumah. Ditambah sekarang?. Suaminya itu menjadi tontonan wanita lain.

"Ekhem, lebih romantis dari yang baru menikah kemarin. Eyy, kau tidak boleh melihatnya sayang..." sindir Seungcheol, lewat di samping mereka dengan tangan yang menutup mata sang istri. Tidak mau nyonya Choi melihat keelokan Mingyu. Bilang saja dia iri.

"Gyu..aku tidak apa-apa, pakai lagi jasmu" kali ini Jihye memohon setelah beberapa kali menolak Mingyu. Akhirnya pria itu menurut. Bahkan caranya memakai jasnya kembali begitu anggun di mata Jihye. Wanita itu melihat ke sekitar, sudah diduga jika para istri melihat mereka dengan berbagai macam tatapan. Memuja Mingyu, menggoda Jihye, atau hanya melihat sekilas dan membuang pandangan.

Malam ini adalah malamnya Dino dan Yuri, yang baru menikah kemarin dan dilaksanakan makan malam sebagai kegiatan rutin mereka sekaligus merayakan resminya hubungan salah satu teman yang baru saja melangsungkan pernikahan. Namun Mingyu terlalu menarik atensi orang-orang yang justru membuat Jihye merasa canggung. Biarlah, memang Mingyu selalu terlihat menarik bukan? Kalau dia tidak menarik, maka dia tidak berprofesi sebagai model.

Laki-laki kelebihan kalsium itu mengambilkan minuman untuk istrinya. Matanya tidak lepas dari sang istri yang sebenarnya kesusahan menegak minum karena tatapan Mingyu. Namun Jihye tetaplah Jihye, ia selalu berusaha terlihat tenang. Matanya mengalihkan pandangan ke sekeliling, menghindari tatapan Mingyu, meskipun nyatanya ia hanya bisa melihat pasangan lain berpelukan mesra, saling bercakap, merangkul, skinship, dan kiss scene. Beruntung tidak ada anak kecil di sini.

Jihye ingin memekik saat Mingyu dengan satu tangannya terlihat mudah menarik pinggang Jihye hingga mereka nyaris berpelukan. Dengan segenap keberanian wanita itu mendongak, menatap dengan tanda tanya.

Mingyu dengan tangan lainnya yang terbebas mengusap pipi Jihye yang memucat namun ada sedikit semburat merah, menyelipkan rambut yang terurai ke belakang telinga, dan menyingkirkan poni. Sentuhan sederhana namun sebenarnya Mingyu hanya ingin memeriksa suhu tubuh Jihye. Dingin, dan kulitnya sedikit memucat. Tatapan teduh Mingyu akhirnya diikuti dengan sunggingan senyum yang tak kalah menenangkan.

Perlahan namun pasti, Mingyu menurunkan wajahnya. Mencium lama Puncak kepala Jihye. Ia akan merindukan saat-saat seperti ini.

"Kau terlihat pucat, apa masih dingin?" gumamnya.

"Sepertinya kurang enak badan, tapi tak masalah, aku masih bisa mengatasinya sampai acara ini selesai" jihye meringis saat merasakan nyeri dan pegal di beberapa bagian tubuhnya.

Tengah malam. Sepulang dari dinner bersama teman-teman mereka, Jihye dan Mingyu harusnya tertidur. Namun wanita itu bergerak gelisah dan terus memegangi perutnya hingga berakhir di toilet. Mingyu yang awalnya sudah berbaring nyaman di kasur harus bangun untuk menanyakan keadaan Jihye karena dirasa sangat lama di dalam kamar mandi.

"Sayang? Kau baik-baik saja?"

"Ya, aku tak apa, hanya datang bulan", Mingyu mendesah lega. Belum sempat dirinya kembali ke ranjang, pintu sudah terbuka, menampakkan wajah pucat Jihye dan tubuhnya yang lemas sampai harus berpegangan pada dinding. Mingyu panik tentu saja, membantu Jihye kembali berbaring dan jika biasanya ia akan berkata 'aku tak apa Gyu' maka kali ini tak ada satu pun suara dari istrinya itu. Benar-benar terlihat lemas. Tidak seperti biasanya.

Apa sesakit itu?. Pikir Mingyu sampai membuatnya meringis dalam hati, membayangkan jika setiap bulan harus merasakan nyeri yang tak bisa dideskripsikan kepada laki-laki.

Mingyu berjalan cepat keluar kamar, menuju dapur untuk mengambil air hangat, berharap jika Jihye meminumnya maka akan merasa lebih baik. Ya, setelahnya cara itu sedikit ampuh dan Jihye dapat tertidur dengan nyaman.

Mingyu mengamati Jihye lamat-lamat. Mengusap wajahnya pelan. Jihye benar-benar tidak terusik karenanya. Sudah tertidur begitu lelap mungkin. Mingyu akan memanfaatkan kesempatan ini untuk menjelajahi lekuk wajah Jihye agar terus teringat di otaknya, sehingga bisa terbayang jelas meski ia jauh dengan istrinya.

"Your beautiful eyes....... Don't look at another men eyes..... Just.... Look at me

.."

"...and loving me.. please"

Mingyu merapatkan genggamannya pada jemari Jihye. Tidak peduli meski di dalam lift tersebut ada orang lain. Ia hanya perlu mengatasi rasa tidak ingin pergi lama ini karena ia harus terpisah jarak dengan Jihye selama lima hari lamanya. Anggaplah ini sebagai bentuk menguatkan hati.

Setelahnya mereka berjalan keluar dari apartemen sedangkan Jonghyun, sang manajer bilang bahwa ia akan sampai beberapa menit lagi. Jadi mereka memutuskan untuk menunggu.

Mingyu dan Jihye merapatkan mantel begitu angin kencang yang dinginnya menusuk tulang berhembus.

"Jadi.. Kita berpisah sekarang?" ucap Mingyu dengan bibir bebeknya. Bayi besar Jihye yang menggemaskan.

Wanita itu menghadap ke sang suami,merapikan mantelnya dan menepuk dada bidang yang selalu menyenangkan mata Jihye, "Hati-hati di jalan.. Jaga kesehatan, dan berjanjilah padaku untuk tidak minum alkohol, kau bisa menghangatkan diri dengan teh hangat atau yang lainnya, dan jangan sampai kelelahan...".

Ia harus terus tersenyum walau berat, bukan kah yang terpenting saat ini adalah menyalurkan semangat untuk suaminya?.

Mingyu memeluk erat Jihye, dan tentu dibalas dengan baik, "Kau juga.." ucap si tinggi, menarik nafas dalam-dalam untuk menghirup aroma lembut dari istrinya. "Tentu"

"Kalau begitu, cium aku, please?" tentu saja, karena biasanya ia akan mencuri ciuman saat Jihye tidur, maka kali ini ia akan meminta langsung.

Dia bisa melihatnya, mata Jihye yang terlihat sedikit panik karena jujur saja wanita itu tidak pernah menciumnya duluan.

"Kau.. Terlalu tinggi.." cicit Jihye, mengalihkan pandangannya ke arah lain. Membuat Mingyu tersenyum geli, menggemaskan jika istrinya itu sedang salah tingkah.

Tak mau membuat Jihye salah tingkah berlama-lama, akhirnya pria tinggi yang selalu tampan dimata semua orang itu sedikit membungkuk dan menundukkan wajah. Jika memang alasan Jihye adalah tubuhnya yang tinggi, maka ia akan merendahkan tubuhnya. Dengan wajah yang sedekat ini Mingyu bisa menatap Jihye yang masih kikuk. Namun Mingyu berdiam pada posisinya, atau lebih tepatnya menikmati pemandangan dan momen ini.

Ragu-ragu Jihye menaruh telapak tangannya di pipi Mingyu. Sampai beberapa detik setelahnya Mingyu bisa merasakan material kecil yang membuatnya kecanduan sampai tidak ingin melepasnya. Bahkan ia terus membuka mata saat wanita itu berhasil menuruti permintaannya. Mata Jihye yang terpejam adalah pemandangan yang tidak bisa dilewatkan. Gemas karena Jihye yang tidak bergerak karena terlalu gugup, maka Mingyu lah yang mengambil alih. Mendominasi seperti seorang pria kepada wanitanya.

Biarkan waktu melambat,

Biarkan mereka berdua saja,

Biarkan rasa senang ini hinggap lebih lama,

Biarkan ia mengingat semuanya dalam memori,

Dan biarkan Mingyu mengutuk orang yang dengan tidak sabarnya membunyikan klakson mobil di pinggir jalan.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel