Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 10 Want to have Children

Pesta pernikahan yang tidak begitu megah, hanya mengundang teman dekat dan keluarga. Itulah mengapa tamu undangan tidak begitu banyak sehingga ruangan tidak begitu sesak. Jadi anak-anak mereka bisa dengan leluasa kesana kemari, meskipun tetap saja membuat orang tuanya kelimpungan. Khawatir jika anak mereka membuat kerusuhan di hari penting ini.

Seperti Hoshi yang harus terus memantau putranya karena berlarian dan sempat menabrak tamu lain, hiperaktif seperti ayahnya. Seungcheol yang mengikuti kemana putrinya pergi karena Sinbyeol, sang ibu sedang hamil adiknya dan sang suami tidak mau ia kelelahan, daddyable. Jun harus menggendong bayi berumur satu tahun yang tertidur padahal dia sedang mengobrol dengan teman-temannya. Sejauh ini baru Seungcheol, Joshua, Jeonghan, Jun dan Hoshi yang memiliki putra. Sisanya belum mendapatkannya dan belum menikah.

"Paman, ayah kemarin menghadiahi aku kamera baru" dengan antusias Kevin menunjukkan kamera yang ia kalungkan di leher kepada Mingyu. Putra Joshua itu tahu Mingyu memiliki banyak kamera dan sering mengambil foto. Itulah mengapa ia menceritakannya kepada Mingyu, bukan yang lain.

"Benarkah? Kalau begitu coba foto paman" balas Mingyu, dan disambut senang oleh putra Joshua itu. Ia segera memegang kameranya, bertingkah seperti photographer profesional.

"Duduklah disana! Aku akan memotret paman!", walaupun ia belum lihai dan mengetahui cara mengambil gambar yang bagus, namun Mingyu tetap memujinya membuat senyum Kevin mengembang. Meskipun pada akhirnya tidak hanya Mingyu yang difoto, melainkan Jun dan Hoshi yang ikut nimbrung di belakang pria tinggi itu.

"Kenapa paman Jun dan paman Hoshi ikut berfoto? Kevin tadi hanya meminta paman Mingyu" ucap bocah laki-laki itu gamang. Bagi bocah itu foto yang dijepretnya menjadi aneh karena ada dua pria yang berpose aneh di balik punggung Mingyu.

"Supaya hasil fotonya lebih bagus Kevin" ucap Hoshi bergurau.

Kevin memiringkan kepalanya, "Ah, tidak juga..." Jawaban Kevin yang membuat Mingyu terkekeh menertawakan kedua temannya itu. Menyenangkan sekali jika melihat temannya dihina secara tidak langsung oleh anak kecil.

Kevin pun pergi saat ibunya memanggil. Jun dan Hoshi dapat melihat tatapan Mingyu kepada bocah itu. Tatapan yang mengandung arti tersendiri.

"Kau ingin memiliki anak Laki-laki, Gyu?" tanya Hoshi mencoba menebak. Namun Mingyu hanya tersenyum tipis.

"Apapun, entah perempuan atau laki-laki, aku menginginkannya.." ujar Mingyu santai, sebisa mungkin tidak terlihat menyedihkan di depan teman-temannya.

Jun dan Hoshi saling berpandangan.

"Kenapa? Kau... Belum melakukan apapun pada istrimu? yah, kau tahu maksudku", tanya Jun kali ini.

Dan dengan enteng Mingyu menggeleng sambil nyengir, menampakkan gigi taring yang khas itu. Seolah tau bagaimana reaksi Jun dan Hoshi. Kaget tentunya, Mingyu dan Jihye sudah menikah sebulan yang lalu, namun tak ada apapun di antara keduanya.

"Hah?!"

"Jangan berisik hyung.."

"Kenapa?" tanya keduanya.

"Kau tahu kan kita tidak berpacaran atau hubungan apapun yang membuatnya mencintaiku? Jadi aku akan membuat dia Cinta padaku terlebih dahulu, aku tidak mau egois, dia sudah mau menikah denganku saja aku cukup bersyukur"

Paham, Hoshi dan Jun paham betul sekarang. Jadi mereka tidak akan berbicara lebih jauh.

"Semangat bung, percaya saja kalau Cinta datang karena terbiasa" Jun menepuk pundak sahabatnya itu, memberikan semangat walau sedikit.

Jihye harus bersabar saat menghadapi Mingyu yang terus menelusupkan wajah di bahunya sejak sampai di rumah dan belum sempat mengganti pakaian. Wanita itu nyaris saja jatuh karena hak tinggi yang masih melekat di kakinya, namun dapat terselamatkan, karena tangan Mingyu yang melingkar erat di perut Jihye. Bagaimanapun tubuh Jihye bisa terbilang kurus sedangkan Mingyu terlalu besar. Jadi dengan satu tangan saja Mingyu dapat melingkupi tubuhnya.

"Kau ini kenapa sih, Gyu?" ucap Jihye, masih tenang dan tidak ambil pusing. Beruntung ia berhasil duduk di sofa setidaknya.

"Tidak apa-apa, memangnya tidak boleh?"

"Y-ya, boleh. Hanya saja kau aneh"

"Sebentar saja, aku ingin memelukmu sebentar saja" ucap Mingyu memohon, yah walau dipikir-pikir mereka memang jarang sekali skinship, jadi Jihye dapat memaklumi tingkah Mingyu. Tapi tidak bisa kah nanti saja? mereka bahkan belum mengganti pakaian.

Jihye menghembuskan nafas panjang, ia jarang sekali dipeluk. Jadi begitu Mingyu memeluknya erat dan lama membuatnya merasa berbeda, merasa dilindungi, dan yang paling penting, merasa nyaman lebih dari apapun selama ini. Ia pun menaruh kepalanya di pundak sang suami karena tangannya tidak bisa bergerak untuk membalas pelukan, akibat Mingyu yang terlalu erat memeluknya.

"Kau baik Gyu? Ada yang ingin kau ceritakan?" tanya Jihye saat menyadari bahwa pasti ada alasan dibalik sikap aneh suaminya.

Aku ingin memiliki Mini Mingyu, begitu pikirnya. Tersirat dalam benak Mingyu, mengingat bagaimana Kevin tadi, bagaimana Jihye menggendong Eunbyeol, bagaimana Jun menggendong baby Wen, dan Hoshi yang harus menangkap sang putra karena terus berlari kesana kemari.

"Aku hanya sangat ingin memelukmu" dan membuatmu jatuh hati padaku secepat mungkin, pikirnya.

"Sebelum aku bekerja untuk beberapa hari" lanjutnya. Jihye mengernyit, walau Mingyu sering pulang terlambat atau menginap, lelaki itu tidak pernah pergi berhari-hari lamanya. Atau mungkin memang Jihye yang belum tahu.

"Kenapa.. Sampai berhari-hari?"

"Karena aku akan ke paris, ada event tahunan disana, dan produk korea diikutkan dalam acara tersebut. Seperti sebelumnya, aku menjadi model pada peragaan busana, ini yang ketiga kali untukku, Eumm... Tak apa kan?" Tanya Mingyu hati-hati. Ia takut Jihye kecewa atau tidak rela mungkin?

Sial, Jihye tiba-tiba tak tau harus berkata apa. Jika ia tidak setuju, alasannya apa? Jika iya, kenapa ia merasa tak rela?.

"Tak apa, semoga berjalan lancar, jangan kelelahan" ucapnya. Menyemangati dengan senyum meyakinkan.

"Tentu, kau ingin kubawakan sesuatu?"

Jihye menggeleng pelan "Pulanglah dengan selamat", Mingyu memeluknya semakin erat saja.

"Tentu sayang"

"Menurutmu, apa mereka akan segera memiliki momongan?" tanya Jihye dengan susah payah. Melihat bagaimana teman-teman Mingyu sibuk dengan anak mereka tadi membuat Jihye memikirkan suaminya, tidakkah Mingyu menginginkannya juga?

Mingyu diam. Ia tidak mengangkat topik ini, namun Jihye lah yang memulainya. Pembicaraan ini sangat sensitif padahal mereka adalah pasangan suami istri. Jadi Mingyu hanya memeluk Jihye semakin erat sambil tersenyum tipis. "Aku rasa tidak. Mereka bahkan belum lulus kuliah dan Dino belum memiliki pekerjaan tetap. Mereka tidak mungkin senekat itu kan? kecuali itu terjadi karena kesalahan yang tidak di sengaja"

"Ya, kau benar" Jihye mencari posisi ternyaman untuk bersandar pada Mingyu.

"Ngomong-ngomong. Sabtu malam akan ada dinner dengan teman-temanku untuk merayakan pernikahan Dino" Mingyu berujar. Sudah menjadi kebiasaan jika mereka akan berkumpul untuk sekedar mengobrol ringan, menyemangati, memberi motivasi untuk satu sama lain setiap ada satu di antara mereka yang menikah. Hanya orang-orang dalam persahabatan mereka. Tidak ada yang lain. Akan menjadi seru karena bukan lah acara yang formal, sangat santai.

"Sepertinya aku harus ke salon lagi" Jihye tersenyum kecut. Menyedihkan sekali karena ia tidak mumpuni dalam memoles wajahnya dengan make up.

"Tentu saja. Kau akan menjadi sangat cantik dan aku super tampan saat dinner nanti"

"Ya, kau mulai pamer"

"Hehehe. Memang begitu kan?"

"Iya Mingyu-ssi"

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel