Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 7

“Ma, bagaimana keadaan Mama?” Tanya Abi sambil mendekati Bu Mayang yang duduk lemah di tempat tidur.

“Anna sayang, bisa kamu ambilkan mama teh panas Nak?” Pinta Bu Mayang sambil melirik ke arah Anna. Dengan senang hati Anna mengangguk dan segera berlalu untuk memenuhi keinginan Mama mertuanya.

“Apa kamu sudah puas menghabiskan sepanjang hari dengan Gisel gadis tidak tahu malu itu?” Tanya Bu Mayang sambil menatap tajam ke arah Abi.

“Mama jangan mikir macem-macem ihh. Abi kemarin kan meeting sama klien sampai malam. Kemarin ponsel Abi low bat Ma, makanya mati.” Jawab Abi berbohong.

“Abi juga sudah bilang sama Anna, apa dia tidak memberitahu Mama?” Imbuh Abi lagi kali ini dengan wajah yang sedikit masam karena harus menyebut nama Anna, wanita yang tidak disukainya.

Tampak senyum sinis di wajah Bu Mayang yang membuat Abi merasa takut akan amarah yang akan mamanya luapkan. Sebenarnya Abi bukan takut dimarahi, namun dia lebih takut jika kondisi mamanya akan semakin drop jika marah.

“Jangan membawa-bawa nama Anna. Siapa yang mengajari kamu berbohong seperti itu Bi? Apakah mama dan papa pernah mengajari kamu untuk membohongi orang tuamu? Mungkin kamu lupa jika mama adalah orang yang telah melahirkan kamu, jadi mama sangat mengenal kamu Abi.”

“Ma, maafkan….”

“Cukup Abi, cukup. Seharusnya bukan mama yang kamu mintai maaf, tapi istri kamu. Mama sangat kecewa sama kamu Abi.” Ucap Bu Mayang sambil terisak.

“Mama sudah Ma, nanti mama sakit lagi jika mama seperti itu.” Ungkap Abi bersamaan dengan Bu Mayang yang kesulitan bernafas.

“Mama..” Abi berteriak. Anna dan penghuni rumah yang lain segera menuju ke kamar Bu Mayang untuk melihat apa yang terjadi.

Semua tampak kacau. Abi masih menangis sambil berusaha sebisa mungkin menyelamatkan mamanya. Bik Surti segera berlari memanggil dokter dan Tuan Dirga melalui telefon.

Sementara Anna segera berlari ke arah Bu Mayang dan memberikan pertolongan pertama untuknya seperti yang dulu sering dia lakukan saat almarhum Ibunya mengalami hal yang sama.

Abi yang melihat bagaimana kesigapan Anna dalam situasi seperti ini hanya bisa melongo tanpa mampu berbuat apapun.

“Tuan bisa saya minta tolong ambilkan kotak obat mama di sana? Mama sudah mulai tenang.” Kata Anna yang pastinya membuat Abi sangat lega. Tanpa diperintah dua kali Abi segera mengambil obat seperti apa yang telah Anna perintahkan.

“Mama, mama minum obat dulu ya.” Kata Anna sambil membantu Bu Mayang untuk duduk dan meminum obatnya.

“Makasih Sayang.” Ucap Bu Mayang kepada Anna setelah kondisinya membaik. Anna tersenyum dengan penuh rasa Sayang sambil membantu Ibu mertuanya untuk tidur kembali.

Tak lama kemudian dokter datang, begitu juga dengan Tuan Dirga yang terpaksa harus pulang dari luar kota dengan jet pribadi.

“Bu Mayang harus segera menjalani perawatan di Singapura, tidak bisa ditunda lagi.” Ucap dokter tersebut setelah selesai memeriksa Bu Mayang.

“Tapi saya ingin tetap di sini dok.” Ucap Bu Mayang dengan suara melemah.

“Sayang, Mama, apa lagi yang kamu beratkan untuk pergi ke sana? Bukankah Abi sudah menikah dengan Anna seperti yang kita mau.” Kata Tuan Dirga kepada Bu Mayang. Ya, memang itulah yang Bu Mayang janjikan kepada suaminya dan semua orang saat akan melakukan perawatan ke Singapura.

“Anna pasti bisa menjaga Abi.” Imbuh Tuan Dirga lirih di telinga istrinya.

Sementara Anna dan Abi hanya diam. Ya mereka pasti memikirkan sesuatu. Satu dari tujuan pernikahan mereka akan segera terpenuhi. Dan perjalanan untuk mengakhiri pernikahan ini akan dimulai.

*****

“Anna, apa kamu mau berjanji sama mama Nak?” Tanya Bu Mayang saat berdua bersama Anna. Anna hanya memandang wajah pucat Bu Mayang tanpa mengatakan sepatah katapun.

“Mama minta kamu janji untuk selalu bersama Abi.” Ucap Bu Mayang yang sontak membuat Anna terperanjat.

Bagaimana bisa hal itu terjadi? Pernikahan ini hanya untuk sementara. Setelah Bu Mayang sembuh kami akan bercerai. Apa yang harus aku katakan kepada Bu Mayang? Apakah aku harus menolak janji yang beliau berikan? Apa aku bisa menolak itu disaat seperti ini? Pertanyaan-pertanyaan berkecamuk di otak Anna.

“Mama tahu ini berat Nak. Tapi mama yakin kamu bisa. Mama tidak pernah salah pilih.” Ucap Bu Mayang lagi yang kali ini benar-benar membuat sesak di dada Anna hingga tanpa sadar air mata membasahi pipinya.

Bu Mayang mengusap air mata di pipi menantunya itu dengan penuh kasih kemudian memeluknya.

“Ma, Mama cepat sembuh ya. Anna ingin melihat Mama sehat lagi. Anna sayang banget sama Mama.” Ucap Anna sambil tersedu di pelukan Ibu mertuanya itu.

“Iya Sayang, jaga diri kamu baik-baik ya.” Kata Bu Mayang sambil melepaskan pelukannya dan menghapus kembali air mata di pipi Anna.

“Mama, ayo kita berangkat.” Suara Tuan Dirga mengagetkan Anna dan Bu Mayang. Bu Mayang ke Singapura ditemani Tuan Dirga, sekalian menghandle pekerjaan di sana.

“Anna, jaga diri kamu baik-baik ya.” Ucap Tuan Dirga kepada Anna. Anna mengangguk dan mengecup punggung tangan Tuan Dirga dengan hormat. Dan melakukan hal yang sama kepada Bu Mayang.

Semua keluarga melepas kepergian Bu Mayang dengan sendu. Ya, Bu Mayang adalah nyonya di rumah ini. Beliau bagai cahaya yang menyinari rumah ini. Senyumnya bagai nafas untuk rumah ini.

Abi masih dengan wajah tertunduk karena rasa bersalahnya,nberusaha menyalami dan memeluk mamanya.

“Mama cepat sembuh ya.” Bisik Abi di telinga Bu Mayang.

Bu Mayang hanya tersenyum dan mengelus punggung putra semata wayangnya itu. Putra yang sangat dia sayangi dan cintai.

“Doakan ya Nak.” Kata Bu Mayang sambil memegang pipi Abi. Dan dibalas Abi dengan kecupan lembut di tangannya.

Setelah berpamitan dengan semua orang, Bu Mayang masuk ke dalam mobil. Mereka akan ke Singapura dengan jet pribadi demi kenyamanan Bu Mayang tentunya.

Melihat mobil Bu Mayang yang tidak terlihat lagi Anna merasa sangat sedih.

“Apa yang akan aku lakukan di sini? Bukankah aku di sini hanya untuk Bu Mayang? Dan bagaimana dengan janji Bu Mayang? Apa aku anggup untuk tetap bersama Tuan Abi? Tuan Abi sangat membenciku, bagaimana bisa aku tetap bersamanya?” Gumam Anna lirih sampai tidak ada seorangpun yang mendengarnya.

“Non Anna kenapa? Ayo masuk!” Ucap Bik Surti membuyarkan lamunan Anna.

“Bu Mayang pergi untuk berobat Non, seharusnya Non malah seneng karena sebentar lagi Bu Mayang sembuh bukan malah sedih begini.” Imbuhnya. Bik Surti tahu benar kalau saat ini Anna sedang bersedih.

Anna tersenyum melihat Bik Surti sambil menganggukan kepala, “Bik Surti benar.” Jawabnya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel