BAB 6
Anna melirik jam dinding di kamar Bu Mayang, pukul 23.30. Dan sampai saat ini Abi masih belum pulang. “Apa yang dia fikirkan sampai jam segini belum pulang juga?” Batin Anna yang kini malah cemas memikirkan Abi. Betapa tidak, sejak makan malam sekitar empat jam yang lalu mama selalu menanyakan Abi. Abi kok belum pulang Ann? Abi sudah telefon Ann? NAnti Abi pulang jam berapa? Pertanyaan-pertanyaan itu berulang-ulang Bu Mayang ucapkan. Hingga kesehatannya menurun dan mengharuskannya untuk beristirahat di kamar saat ini.
Anna melihat wajah Bu Mayang saat tidur. Wajah yang tadi pagi masih terlihat segar, kini nampak pucat. Bahkan Bu Mayang sempat tidak mau makan malam karena memikirkan Abi. Sementara Anna sama sekali tidak bisa menghubungi Abi, sepertinya ponsel Abi mati.
Anna mengelus dahii Ibu mertuanya dengan lembut dan penuh kasih. “Mama pasti akan sangat kecewa jika tahu apa yang Tuan Abi lakukan saat ini, bersama siapa dia saat ini.” Batin Anna.
Anna mengambil ponselnya, kemudian mengetikkan pesan kepada Abi.
Mama sudah tidur. Beliau nanyain Tuan Abi terus dari tadi, hingga kondisinya drop.
Anna bisa bernafas lega setelah melihat tanda centang dua yang artinya pesannya terkirim dan tak lama tanda centang tersebut berubah warna menjadi biru.
*****
Di apartemen Gisel
“Gisel, kenapa kamu matikan ponselku? Dan kenapa kamu tidak membangunkan aku? Ini sudah sangat larut. Mama pasti sangat cemas.” Teriak Abi sembari memakai pakaiannya yang berserakan di lantai sejak tadi pagi.
“Kamu sedang bersamaku Sayang, aku tidak ingin ada yang mengganggu kita.” Jawab Gisel tidak terima.
“tapi tidak seperti ini Gisel.” Jawab Abi sambil membaca pesan-pesan yang masuk di ponselnya setelah beberapa saat ponsel itu dia aktifkan.
Sementara Gisel tampak sangat tidak suka dengan sikap Abi.
Abi terperanjat kaget saat melihat lima belas panggilan tidak terjawab dari Anna. Dia bergegas melangkahkan kaki meninggalkan apartemen saat membaca pesan yang baru saja Anna kirim.
“Abi, kamu tidak boleh kemana-mana. Tetap disini!” Teriak Anna yang masih tetap duduk di tempat tidur karena dia belum memakai pakaian sehelaipun.
Abi tetap melangkahkan kakinya keluar tanpa menggubris teriakan Anna. Baginya kesehatan mamanya adalah yang paling utama. Dan saat ini yang paling penting adalah dia segera sampai di rumah dan melihat keadaan mamanya.
*****
Sampai di rumah Abi segera menuju ke kamar mamanya. Dibukanya pintu perlahan agar mamanya tidak terbangun.
Sebuah pemandangan yang sangat membuatnya takjub. Anna sedang duduk sambil memijat kaki mamanya, meskipun saat ini mamanya sedang tertidur pulas. Abi melihat jam di ponselnya, ini sudah dini hari. Dan Abi yakin Anna memijat mama dari sebelum mama tidur. Ini adalah kebiasaan mamanya, minta dipijat sebelum tidur disaat fikirannya sedang kacau. Biasanya Bik Surti yang melakukan ini, dan saat mama sudah tidur Bik Surti pergi. Namun Anna masih tetap tejaga dan tetap memijat kaki mama.
“Sebegitu sayangnya kah Anna kepada Mama sampai dia rela tidak tidur hanya untuk menjaga dan memijat mama?” Ucap Abi dalam hati.
“Tuan Abi.” Suara Anna membuyarkan lamunan Abi. Abi segera masuk ke kamar dan mendekati mamanya yang tampak pucat.
“Dari tadi Mama nyariin Tuan.” Kata Anna lagi sambil berdiri menjauh dari Abi. Dia tidak mau Abi memarahinya dan membangunkan mama saat Abi tahu Anna sedang di dekatnya.
Abi mencium tangan mamanya pelan, dia sama sekali tidak berniat membangunkan perempuan yang sangat dia sayangi. Namun rasa bersalah semakin menderanya saat dia melihat wajah mamanya yang pucat memikirkannya.
“Tuan Abi lapar?” Anna memberanikan diri mengatakan hal tersebut setelah lmat-lamat dia mendengar suara perut yang dia yakini adalah suara perut Abi.
Abi mendongak ke arah Anna dengan wajah sayu, entah karena iba melihat mamanya atau karena dia kelaparan karena seingatnya hari ini dia baru makan sekali waktu sarapan. Seharian dia habiskan di tempat tidur bersama Gisel hingga lupa segalanya.
“Saya siapkan makanan buat Tuan ya.” Ucap Anna sambil berlalu ke dapur. Anna memang tidak menyukai Abi, tapi sebagai sesama manusia kan memang harus saling membantu. Anna juga tahu betul saat ini Abi sedang cemas memikirkan kondisi mamanya.
Anna mulai sibuk menghangatkan makanan yang Bik Surti simpan di dalam kulkas. Kemudian menghidangkannya di meja makan yang disana Abi sudah duduk dengan manis. Seperti anak kecil yang sedang antri mendapatkan makanan. Anna tersenyum melihatnya namun buru-buru dia hilangkan senyum cantik di wajahnya. Dia tidak mau mencari masalah saat ini.
Setelah menghidangkan makanan untuk suaminya Anna bergegas kembali ke kamar Bu Mayang. Dia berniat tidur di sana malam ini. Anna khawatir jika Bu Mayang membutuhkan sesuatu sedangkan tidak ada orang sama sekali di sampingnya.
Dengan lahap Abi memakan makanan yang dihidangkan Anna. Tidak buruk, malah ini terlihat istimewa. Ditambah teh panas yang Anna siapkan begitu pas untuk perutnya yang sudah mulai kembung karena masuk angin.
Abi merasa sangat lelah saat ini. Badannya terasa remuk setelah hal gila yang dia lakukan hari ini. Namun fikirannya kembali kepada mamanya. Rasa bersalahnya kepada Bu Mayang mampu menutupi semua rasa lelah yang mendera raganya.
Segera Abi kembali ke kamar Sang Mama hanya untuk memastikan jika semua baik-baik saja. Pamandangan yang sama masih terlihat. Anna masih setia bersama mamanya. Namun kali ini tampak Anna sudah terlelap di sofa yang terletak tak jauh dari tempat tidur. Abi menarik nafas lega, setidaknya saat ini Anna bisa diandalkan untuk menjaga mamanya. Kembali Abi menutup pintu kamar dengan pelan dan pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri dan beristirahat.
Abi tidak bisa tenang saat ini, matanya takmampu terpejam. Di matanya masih terbayang—bayang saat Anna memijit kaki mamanya, saat Anna tertidur di sofa untuk menemani mamanya. Apakah Gisel bisa melakukan hal itu seperti yang Anna lakukan terhadap mama? Apakah dia bisa menjadi menantu yang baik untuk mama? Fikiran itu yang saat ini memenuhi otaknya hingga akhirnya dia menutup mata dan tertidur lelap.
*****
“Tuan.. Tuan Abi.. Tuan..” Anna membangunkan Abi dengan sangat pelan, Anna tidak mau Abi marah hanya karena dia membangunkan Abi dengan kasar. Namun setelah sekian lama Anna memanggilnya tak sedikit pun tanda-tanda Abi bangun dari tidur pulasnya.
Anna sedikit mendekat ke arah Abi. Antara yakin dan tidak yakin Anna memberanikan diri untuk menyentuh pundak suaminya itu. Sambil kembali memanggilnya pelan.
Ternyata Abi merespon dan mulai menggeliat. Tanpa enunggu lagi Anna segera menyatakan tujuannya. “Tuan Abi mama memanggil Tuan untuk sarapan di bawah.”
Abi yang bau saja tersadar memandang Anna dengan sangat tajam sehingga membuat Anna sedikit memundurkan tubuhnya karena takut.
“Heh cewek kampung bilang apa kamu kemarin sama mama sampai mama drop hahh?”
“Saya enggak bilang apa-apa Tuan, saya bilang sesuai yang Tuan perintahkan kalau Tuan masih ada meeting. Tapi mama tidak begitu saja percaya, dan meminta saya terus menghubungi Tuan tapi ponsel Tuan tidak aktif. Tuan sih pakai acara ponselnya dimatiin segala, kan mama cemas jadinya. Sampai kondisinya lemah karena memikirkan Tuan Abi. Sementara Tuan disana…”
“Eh diam kamu siapa yang nyuruh kamu ngomelin saya hahh!” Potong Abi sambil berlalu meninggalkan Anna.
Anna yang masih terpaku juga heran dengan dirinya sendiri. “Bagaimana aku bisa mengatakan hal itu kepada Tuan Abi? Ahh bodohnya aku.” Batinnya merutuki diri sendiri.
