Pustaka
Bahasa Indonesia

Hanya Istri Bohongan

70.0K · Tamat
novilia
68
Bab
21.0K
View
9.0
Rating

Ringkasan

Pernikahan seperti apa yang kamu inginkan? Anna akhirnya harus menikah dengan Abi karena desakan dari Bu Mayang, perempuan yang telah dia anggap sebagai ibunya sendiri semenjak ibu kandengnya pergi untuk selamanya. Namun Abi memberikan syarat pernikahan yang tidak masuk akal untuk Anna, yaitu pernikahan ini berlangsung hanya sampai Bu Mayang sembuh dari sakitnya setelah Bu Mayang sembuh mereka bercerai. Namun seiring berjalannya waktu, Anna dan Abi menjadi saling mencintai, namun kisah cinta mereka tidak bejalan mulus karena adanya Gisel perempuan yang telah mengisi hati sebelumnya dan juga Bastian laki-laki yang pernah menghianati Anna.

MenantuTuan MudaRomansaPernikahanKeluargaIstriLove after MarriageDewasa

BAB 1

“Sampai mama sembuh. Setelah mama sembuh, semua ini berakhir.”

Kalimat itu berulang-ulang muncul di kepala Anna. Kalimat yang muncul dari mulut laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. Laki-laki arogant yang sangat Anna benci selama ini. Dengan mudahnya laki-laki itu mengatakan syarat pernikahan yang sama sekali tidak masuk akal.

“Apa-apaan ini? Apa aku bisa menikah dengan cara seperti ini?” Racau Anna dalam kefrustasian.

Ya,, hanya tinggal menunggu satu jam lagi bagi Anna untuk melangkah ke sebuah altar pernikahan. Pernikahan yang sama sekali tidak pernah dia bayangkan. Pernikahan yang jauh dari impiannya saat kecil.

“Ibu.. Anna rindu.” Gumam Anna seorang diri.

Dia biarkan air matanya jatuh membasahi riasan tebal di wajahnya. Tangan yang telah dihias dengan henna pun menjadi sasaran jatuhnya air mata Anna. Saat ini Anna seperti mati rasa.

Sebulan yang lalu Ibunya meninggal karena serangan jantung, menyusul Sang Ayah yang telah bertahun-tahun meninggalkan mereka. Sebelum meninggal Ibu telah menitipkan Anna kepada sahabatnya, Bu Mayang.

Bu Mayang adalah istri dari Tuan Dirga, atasan Anna di kantor. Bu Mayang orang yang sangat baik, dia sangat menyayangi Anna jauh sebelum Ibu Anna meninggal. Bagi Bu Mayang, Anna sudah dianggap sebagai putrinya sendiri.

Bu Mayang mengidap leukimia stadium empat, bukan perkara yang mudah untuk membuatnya terus hidup dan menemani keluarganya. Dokter menyarankan Bu Mayang untuk menjalani pengobatan di Amerika selama beberapa bulan demi kesembuhannya. Namun Bu Mayang malah memberikan syarat kepada Anna dan putranya bahwa dia akan menjalani pengobatan itu setelah melihat keduanya menikah.

“Sah”

“Sah”

“Sah”

Sahutan suara dari luar membuyarkan lamunan Anna.

“Apa ijab qobulnya telah selesai dilakukan? Apa aku sekarang sudah resmi menjadi seorang istri?” Gumam Anna. Air matanya seketika turun sangat deras dengan sendirinya. Sampai dia sama sekali tidak bisa menahannya. Semua impian yang telah Anna bangun sejak kecil telah sirna. Hanya tinggal sesak di dada.

“Anna, waktunya kamu keluar Sayang.” Sebuah suara yang Anna yakini adalah milik Bu Mayang tiba-tiba menyapa. Anna sangat terkejut sampai tidak sempat untuk menghapus air matanya.

“Hai, kenapa kamu mennagis Sayang?” Tanya Bu Mayang sambil mengusap air mata di wajah Anna. Namun perlakuan Bu Mayang kepadanya bukan malah membuat Anna tenang, namun malah menangis lebih keras.

“Anna, kamu kenapa Sayang? Apa ada yang salah?” Tanya Bu Mayang dengan wajah khawatir.

“Apa kamu merindukan Ibumu?” Tanya Bu Mayang lagi, mungkin dia mengetahui hal ini setelah melihat foto Ibu yang masih Anna pegang.

“Cup.. Cup, sudah-sudah jangan menangis lagi! Kamu perempuan yang kuat Anna. Mama yakin di sana Ibu kamu pasti bahagia saat melihat kamu dan Abi sudah menikah.” Ucapnya sambil memeluk Anna.

Anna bisa merasakan ketulusan yang Bu Mayang berikan kepadanya. Rasa nyaman di pelukan perempuan yang kini menjadi Ibu mertuanya sama halnya seperti rasa nyaman yang biasa Anna dapat dari Ibunya. Hingga air mata yang awalnya tidak bisa dia kendalikan saat ini berhenti mengalir dengan sendirinya.

“Kita keluar ya!” Ajak Bu Mayang sambil menggandeng lengan Anna.

“Iya tante.” Jawab Anna sambil tersenyum.

“Sayang, saat ini saya telah resmi menjadi Ibu mertua kamu. Apa kamu mau memanggil Ibu mertuamu dengan sebutan tante?” Ucapnya menyeringai.

“Iya mama.” Kata Anna, yang diikuti oleh kecupan manis Bu Mayang di pipinya.

Anna berjalan menuju altar pernikahan ditemani oleh Sang Paman yang saat ini didapuk sebagai walinya, di sana telah ada seorang laki-laki tampan yang kini resmi menjadi suami Anna.

Mungkin bagi orang yang melihat, Anna adalah wanita sangat beruntung. Memiliki suami yang tampan dan juga kaya raya, serta mertua yang sangat menyayangi dia seperti putrinya sendiri. Namun lain yang Anna rasakan saat ini.

Dia sangat membenci laki-laki yang kini menjadi suaminya. Laki-laki yang selama tiga bulan ini menjadi bosnya di kantor. Laki-laki yang menurutnya sangat sombong, arrogan, dan galak.

Karena laki-laki ini juga dia harus memutuskan hubungan asmaranya dengan Bastian. Bastian adalah kekasih Anna. Anna sangat mencintai Bastian, namun Bastian hanya memanfaatkan Anna untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Meskipun Anna telah menyadari hal itu, tapi dia tetap menerima Bastian dan berharap Bastian akan merubah sikapnya suatu hari nanti. Hingga pada suatu waktu Anna mendapati Bastian sedang berselingkuh dengan perempuan lain. Hal ini membuatnya sangat hancur. Sehingga tidak ada yang bisa Anna lakukan selain menuruti perintah Abi untuk mengakhiri hubungannya dengan Bastian. Bukan dengan perintah yang halus tentunya, melainkan dengan sebuah kata-kata keji yang tidak pantas untuk didengar.

“Nak Abi, Paman serahkan keponakan paman kepadamu. Tolong dijaga baik-baik. Perlakukan Anna dengan baik. Dan jangan sakiti hatinya dengan sengaja.” Ucap Paman Anna sesaat sebelum menyatukan tanganku dengan tangan Abi.

“Baik Paman.” Jawabnya tegas.

“Dasar raja drama.” Batin Anna meracau.

Anna masih ingat betul bagaimana dengan sombongnya Abi menjelaskan perjanjian pernikahan yang telah dia buat sendiri.

“Pertama, pernikahan ini terjadi hanya agar mama mau menjalani pengobatan di Amerika, setelah mama sembuh semua selesai dan kita bercerai. Kedua, kamu tidak boleh ikut campur tentang urusan saya meskipun kita suami istri tapi kehidupan kita tetap masing-masing. Ketiga, saat di luar rumah dan juga di depan keluarga saya kamu adalah istri saya tapi saat di dalam rumah kamu tetap bawahan saya dan tetap panggil saya dengan sebutan Tuan Abi. Keempat, jangan sekalipun kamu berharap untuk menyentuh saya. Wanita seperti kamu sama sekali bukan tipe saya. Kelima, jangan kamu coba-coba kamu bermain dengan saya.”

Ya, itulah perjanjian pernikahan yang telah Abi berikan untuk Anna. Tidak ada satu katapun terlewat dari ingatan Anna. Namun Anna hanya bisa bernafas panjang tanpa tahu apa yang harus dia lakukan.

Anna sangat menyayangi Bu Mayang. Membuat Bu Mayang kecewa dan sedih adalah suatu hal yang akan selalu dia hindari. Dan juga penghianatan Bastian di depan matanya yang membuat dia sudah tidak bisa melakukan apapun lagi selain menurut dengan Abi.”

“Kamu enggak lihat banyak orang yang sedang memperhatikan kita.” Bisik Abi.

“Saya lihat.” Jawab Anna polos. Dia benar-benar tidak tahu apa maksud Abi.

“Dasar bodoh, pasang senyum kamu. Kamu mau semua orang di sini pada ngomongin kita. Pada bilang kalau istri Abi cemberut di hari pernikahannya. Kamu mau seperti itu. Kamu mau membuat nama saya jelek di depan semua orang, hahh.” Bentaknya dengan suara pelan. Ya, meskipun pelan tapi jelas sekali kalau itu adalah suatu bentakan.

“Baiklah.”Ucap Anna yang kemudian menyunggingkan senyum manisnya.