Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 8

Satu minggu semenjak Bu Mayang meninggalkan rumah. Semua tampak kaku. Abi selalu pulang larut malam. Tak jarang dia pulang dalam keadaan mabuk dan harus dipapah oleh Rio. Entah apa yang ada di kepala Abi sehingga dia melakukan hal itu yang jelas akan membuat mamanya sangat kecewa jika tahu. Atau malah Abi memang sengaja melakukan hal ini saat mamanya sedang tidak ada.

Anna masuk ke kamar Abi, dia berniat untuk meminta izin kepada Abi. Setelah Bu Mayang pergi, Abi meminta Anna untuk tidur di kamar tamu. Dia tidak ingin terlalu sering melihat wajah Anna. Anna pun menyambut baik tawaran dari Abi, dia juga tidak ingin terlalu sering melihat wajah Abi apalagi mendengar teriakan dan makian dari Abi. Anna hanya bertugas menyiapkan kebutuhan-kebutuhan Abi.

“Tuan Abi, saya mau izin keluar.” Ucap Anna saat sudah berada di dekat Abi yang saat ini sedang sibuk dengan ponselnya.

“Mau kemana kamu hahh?” Tanya Abi dengan nada suara tinggi.

“Saya mau ke makam Ibu, sejak saya di sini saya belum mengunjungi makam Ibu. Setelah itu saya mau ke rumah Ibu, saya mau bersih-bersih sebentar di sana.”

“Beneran kamu mau ke sana?”

“Iya Tuan saya beneran mau ke makam dan ke rumah Ibu. Saya enggak mau kabur kok.” Jawab Anna dengan wajah jengkel.

“Baik, awas kalau kamu bikin masalah!” Kata Abi bersungut-sungut.

“masalah apa sih, mau bikin masalah sama setan apa.” Gumam Anna pelan, namun Abi ternyata masih bisa mendengar.

“Kali aja kamu mau berantem sama setan, kamu kan temannya setan.” Kata Abi sambil terbahak yang membuat Anna merasa sangat jengkel dan segera pergi dari ruangan itu.

*****

“Anna mana sih udah siang gini belum pulang juga. Pasti dia belum siapin makan siang saya.” Gerutu Abi sambil berulang kali melihat jam di ponselnya.

Berulang kali dia ingin membuat panggilan ke ponsel Anna, namun niat itu selalu dia urungkan. Namun kali ini Abi sudah tidak bisa menahannya, perut Abi sudah sanagt lapar. Mau tidak mau Abi harus menghubungi Anna. BAginya menyiapkan makan untuk Abi adalah kewajiban Anna.

“Halo..” Jawab Anna dari seberang.

“Eh cewek kampung kemana aja sih jam segini belum pulang? Pasti kamu lagi nongkrong sama teman-teman kamu.”

“Saya ada di rumah Ibu, saya lagi bersih-bersih Tuan. Kan tadi saya sudah bilang.”

“Bohong.”

“yaudah kalau Tuan enggak percaya saya video call ya.” Kata Anna sambil mengganti status panggilannya ke panggilan video.

“Percaya? Ini ada sapu, kemoceng, kain pel, ember. Masih enggak percaya?” Suara Anna ikut meninggi.

“Eh eh berani ya kamu ngomong keras ke saya. Awas kamu ya!”

“Emang ada apa sih Tuan nelfon saya?”

“Ada apa? Kamu bilang ada apa? Kamu tahu ini jam makan siang saya. Mana makanan saya?”

“Kalau nanyain makanan ya di dapur dong Tuan, saya enggak bawa makanan Tuan ke sini. Saya ke sini enggak bawa makanan dari rumah Tuan kok.”

“Eh cewek go*lok, maksut saya kamu siapin makan siang saya sekarang!”

“hahh, kan di rumah ada banyak orang Tuan. Ada Bik Surti, Bik Minah. Mereka pasti mau kok nyiapin makan siang Tuan.”

“Udah berani ngelawan ya sekarang. Saya bilang pulang sekarang dan siapin makanan saya. sekarang!.”

Klek, sebuah kebiasaan bagi Abi untuk memutus telefon sepihak.

“Hiihhh, dasar orang gila.” Umpat Anna sambil menginjak-injakkan kakinya di tanah saking jengkelmya dia dengan sikap Abi.

Mau tidak mau Anna segera meninggalkan rumah tersebut dan segera pulang ke rumah Abi untuk menyiapkan makan siang.

*****

“Tuan makan siang anda sudah siap.” Kata Anna.

“Saya sudah enggak laper.” Kata Abi tepat di depan wajah Anna dan berlalu meninggalkannya. Hal ini membuat Anna merasa sangat marah. Mungkin rasa lelah setelah bersih-bersih di rumah Ibunya membuat moodnya buruk.

“Maksud Tuan apa?” Anna berteriak. Abi berbalik ke arah Anna, dia sangat terkejut mendengar teriakan seorang perempuan yang selama ini hanya bisa diam.

“Maksut Tuan apa? Menyuruh saya segera pulang ke rumah untuk menyiapkan makan siang padahal anda bisa melakukan sendiri. Dan setelah saya menuruti permintaan Tuan, dengan mudahnya Tuan bilang enggak lapar.” Anna mengomel seperti seorang Ibu di pagi hari.

Abi masih terdiam, dia tidak menyangka Anna bisa seperti itu.

“Sekarang saya minta Tuan Abi makan. Makan yang banyak. Saya sudah capek menyiapkan makanan ini untuk Tuan.” Bentak Anna. Entah setan dari mana yang merasukinya saat ini. Anna pun juga heran keberanian dari mana yang dia dapatkan sehingga dia bisa sekasar ini dengan Abi.

Sementara Abi seperti kerbau yang dicolok hidungnya, dia segera duduk di meja makan dan memakan makanan yang telah Anna siapkan.

Uhuuk.. Uhuuk… Abi tersedak.

Anna yang masih berada di dekat Abi dengan sigap segera mengambilkan air minum untuk Abi dan membantu Abi untuk meminum airnya.

“Pelan-pelan Tuan.” Kata Anna sambil mengelus punggung Abi.

Disisi lain Bik Surti sedang memperhatikan pasangan itu. Dia senyum-senyum sendiri. “Bu Mayang memang enggak salah kalau memilih mantu. Bener banget. Cuma Non Anna yang bisa merubah Tuan Abi jadi lebih baik.” Gumamnya. Kemudian Bik Surti mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan sebuah pesan singkat dan mengirimnya ke Bu Mayang.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel