BAB 5
**** Di apartemen Gisel
Uuhh… Aahh.. Aahh.. Sayang.. Kamu.. Uhh..
Suara Gisel meracau dibawah kungkungan laki-laki yang telah menjadi suami orang.
“Kamu memang hebat Abi.” Ucap Gisel saat Abi mulai memelankan gerakan tubuhnya.
“Kamu suka Sayang?” Abi mencium leher Gisel yang sontak membuat Gisel menggelinjang karena geli.
“Aku sangat menyukainya.” Ucap Gisel mendesah, menambah gelora di hati Abi yang kini sudah tertutup seluruhnya oleh nafsu.
“Baiklah, terima ini.” Kata Abi sambil memulai gerakan mautnya. Sementara Gisel hanya bisa membuka dan menutup matanya sambil terus mendesah.
Ahh.. Esst.. Abi.. Aahhh..
Hingga mereka berdua berada di puncak kenikmatan. Abi menjatuhkan tubuhnya yang basah oleh keringat di atas tubuh Gisel yang keadaannya tak jauh beda dengannya. Keluh keringat yang mereka keluarkan menjadi saksi bisu penghianatan Abi kepada Anna.
“sayang, bagaimana kalau besok aku mengantarmu ke Singapura?” Ucap Abi setelah mereka yang masih berada dalam satu selimut yang sama.
“Buat apa Sayang?” Gisel terkejut mendengar permintaan kekasihnya.
“Aku ingin tahu dimana kamu bekerja. Aku juga ingin mengenal orang-orang yang selama ini bekerja sama kamu. Selama ini aku sama sekali tidak kenal dengan rekan kerjamu bahkan sahabatmu.”
“Eehh.. Tidak perlu Sayang. Aku bisa mengurus semuanya sendiri Abi.”
“kenapa Sayang? Aku juga ingin mengenal kamu lebih dalam lagi.”
“Abi.. Apa kamu tidak percaya denganku?” Wajah Gisel memelas.
“Bukan begitu Sayang, aku hanya takut..”
Belum selesai Abi menyelesaikan kata-katanya, Gisel telah menancapkan bibirnya ke mulut Abi. Yang membuat Abi kelabakan dengan tuntutan dari bibir Gisel.
Ciuman Gisel mulai menurun ke leher Abi. Jemari manisnya mulai memainkan buah dada Abi yang sangat menggemaskan. Abi yang memah sangat lemah dalam hal kekuatan akhirnya kembali bergairah. Adik kecilnya yang mulai mengendur kini mengeras kembali. Dan mereka pun memulai lagi permainan itu.
****
Langit telah berubah warna menjadi merah bersemu kuning. Matahari telah bersiap untuk beristirahat. Sementara bulan dengan wajah yang masih malu-malu sedikit demi sedikit mulai menunjukkan parasnya. Tuhan memang Maha Kuasa, segala keindahan Dia ciptakan di muka bumi ini untuk makhluk-Nya.
Anna berdiri termenung di taman depan rumah keluarga Abi yang sangat luas. Jika dibandingkan dengan rumah Anna bersama Ibunya, taman ini lebih dari tiga kalinya. Taman ini sangat indah, di sekeliling banyak sekali ditanami bunga-bunga cantik.
“Pasti ini semua mama yang mengatur.” Batin Anna sambil tersenyum. Dia tahu betul tentang Bu Mayang. Bu Mayang sangat menyukai bunga, dia bisa menghabiskan waktu seharian hanya untuk merawat bunga-bunganya.
Pandangan Anna beralih ke kolam kecil yang berada di sudut taman. Sebuah kolam ikan yang sangat estetik. Desain kolam yang minimalis memperlihatkan keanggunan dan kemewahan bagi rumah ikan-ikan disitu.
Anna melangkahkan kakinya untuk melihat betapa bahagianya ikan-ikan itu, tak lupa dia mengambil makanan untuk sekalian memberi ikan-ikan makan.
“Beruntung sekali ikan ini, mereka masih bisa berenang kesana kemari menikmati hari bersama keluarga yang mereka sayangi.” Batin Anna yang tak sadar air mata telah menetes di pipinya.
Anna membandingkan dirinya dengan ikan-ikan itu. Saat ini dirinya memang sudah menjadi bagian dari keluarga Tuan Dirga yang pastinya tidak perlu diragukan lagi jika hidupnya bergelimang dengan harta dan kemewahan. Namun kehidupannya hancur.
Dengan lugas Abi mengiriminya pesan, mengatakan jika saat ini dirinya tengah bersama kekasihnya Gisel. Dan Anna diminta untuk meyakinkan mamanya bahwa Abi sedang meeting sampai malam.
Anna memang tidak pernah menaruh hati dengan Abi. namun statusnya sebagai istri lah yang membuat sakit hati dengan pesan yang Abi kirim. Apalagi Abi berkata bahwa dirinya sedang bersama kekasihnya. Apa saja yang mereka lakukan? Pertanyaan itu yang membuatnya tidak tenang dan membuat hatinya hancur.
Anna pun teringat dengan Bastian. Laki-laki yang sangat dia cintai namun akhirnya berselingkuh tepat di depan matanya.
“Tuhan, apa aku tidak layak bahagia? Apa aku tidak pantas merasakan kebahagiaan seperti yang orang lain dapatkan? Pertama Engkau mengambil Ibuku, satu-satunya orang yang selalu ada untukku yang selalu menemaniku, mencintaiku. Lalu Bastian. Dan terakhir Engkau memasukkanku dalam lubang buaya ini. Memiliki suami yang sama sekali tidak menghargaiku. Menikah dengan perjanjian konyol. Ahh, aku sangat membenci ini semua.” Gumam Anna lirih dengan derai air mata yang kian lama kian deras mengalir.
“Non Anna, buruan masuk! Ini hujan.” Teriak Bik Surti yang membuyarkan lamunannya.
Anna menoleh ke sumber suara. Dilihatnya Bik Surti sedang berlari ke arahnya sambil membawa payung. Yaa, Anna sama sekali tidak menyadari jika saat ini hujan. Entah berapa lama hujan ini turun, yang jelas air ini telah berhasil membuatnya basah kuyup.
“Non Anna ngapain hujan-hujanan di sini? Nanti kalau masuk angin terus sakit gimana? Ini bajunya sampe basah semua gini.” Omel Bik Surti.
Bik Surti adalah asisten rumah tangga di rumah ini. Namun dia yang paling dekat dengan Bu Mayang, bisa dikatakan Bik Surti adalah ornag kepercayaan Bu Mayang. Selain masakannya yang sangat nikmat, Bik Surti juga orang yang sangat baik. Bik Surti sangat perhatian dengan semua anggota keluarga di rumah ini. Dia telah menganggap anggota keluarga ini sebagai keluarganya sendiri. Maka dari itu Bu Mayang sangat dekat dekatnya. Termasuk dengan Anna yang notabene adalah orang baru di rumah ini.
“Anna enggak apa-apa kok Bik?” Jawab Anna sambil membiarkan Bik Surti menggandeng tangannya dan menariknya untuk masuk ke dalam rumah.
“Non Anna buruan mandi gih, terus ganti baju. Biar enggak masuk angin. Duhh Non Anna kenapa bisa hujan-hujanan gini sih.” Bik Surti masih terus meracau.
Anna menuruti perintah Bik Surti. Anna sedikit lega Bik Surti tidak bisa melihat air mata yang menetes di pipinya, mungkin tertutupi air hujan yang juga membahasahi wajahnya.
“Ini Non, Bibi bikinin the panas. Diminum ya Non. Bibi takutnya Non Anna masuk angin.” Kata Bik Surti sambil menyodorkan cangkir kepada Anna, setelah Anna keluar dari kamar mandi .
Anna menerima cangkir itu sambil tersenyum lembuh ke arah Bik Surti. “Terimakasih ya Bik sudah perhatian sama Anna.”
“Sama-sama Non cantik.” Jawabnya tersenyum sambil meninggalkan Anna sendirian di kamar.
Drrt… Drrt…
Anna melihat ponselnya, tampak nama “Tuan Abi” di layar. Dengan sedikit malas Anna mengambil ponselnya dan menggeser tombol hijau di layar. Dia tahu betul Abi pasti akan memarahinya karena dia tidak membalas pesan dari Abi.
“Hallo”
“Eh cewek kampung, kamu udah bilang sama mama kalau aku pulang malam hahh?”
“Sudah.”
“Mama percaya?”
“Enggak tahu.”
“Kok enggak tahu sih.”
“Ya mana saya tahu Tuan, mama pergi ke kamar setelah saya mengatakan hal itu.”
“Mama pasti marah.”
“Kalau sudah tahu mama bakal marah kenapa masih dilakuin?”
“Eh siapa yang nyuruh kamu bicara. Ini urusan saya, kamu jangan ikut campur.” Bentak Abi di telefon.
“Sayang.. Sini..”
Anna bisa mendengar suara seorang perempuan dari telefon, itu pasti kekasih Abi. Fikirnya namun dia hanya bisa diam. Bersamaan dengan bunyi klek, yang berarti Abi telah memutus sambungan telefonnya.
Anna melemparkan ponsel sekenanya sambil bernafas panjang. Ada yang mengganjal di dadanya, ada sedikit sesak yang dia rasakan.
