BAB 4
****Di kantor Abi
“Tuan Abi, di luar Nona Gisel memaksa untuk masuk ke ruangan Tuan.” Ucap Rio dengan sedikit cemas.
“Hahh, Gisel? Kenapa dia datang sekarang?” Jawab Abi dengan wajah yang tak kalah cemas.
“Bawa dia masuk, saya tidak mau Gisel membuat keributan di luar. Saya tidak mau ada yang mengenali Gisel.” Perintah Abi.
“Baik Tuan.” Ucap Rio sambil berlalu.
Abi menghela nafas panjang seraya melemparkan punggungnya ke kursi direktur. Jantungnya berdegup kencang. Dia sangat cemas saat ini.
Gisel adalah kekasihnya, kekasih yang telah tiga tahun ini menemaninya. Abi sangat mencintai Gisel. Namun Bu Mayang tidak merestui hubungan mereka. Bu Mayang tidak menyukai Gisel karena profesinya sebagai model. Dimana Gisel sangat suka mempertontonkan lekuk tubuhnya di depan umum.
Abi pernah meminta Gisel untuk berhenti menjadi model dan mulai memikirkan masa depan hubungan mereka. Abi meminta Gisel untuk mendekati Bu Mayang dan mengambil hatinya agar Bu Mayang mau merestui hubungan mereka. Namun Gisel menolak dengan alassan belum siap untuk melepaskan dunia modelnya saat ini.
“Kamu tega banget sih Bi. Inikah arti dari kata cinta yang selama ini kamu ucapkan di depanku? Menghianatiku, menikah dengan bawahan kamu. Itukah maksud dari kata-kata cinta itu Bi? Aku sama sekali tidak menyangka jika kamu tega melakukan hal itu. Mana janji-janji manis yang sering kamu ucapkan saat kita bersama? Apakah semua itu hanya bualan kamu?” Ungkap Gisel sambil bercucuran air mata saat dirinya sudah masuk ke ruangan Abi.
“Sayang, ini semua tidak seperti yang kamu fikirkan. Aku bisa menjelaskan semuanya.” Kata Abi sambil menopang tubuh Gisel yang terhuyung kemudian mendudukkannya di kursi tamu.
“Kamu jahat Bi, kamu jahat banget. Aku benci sama kamu.” Teriak Gisel sambil berusaha melepaskan pelukan Abi.
“Tidak Sayang, aku bisa jelaskan semuanya. Kamu tenang dulu ya!” Abi masih terus menenangkan Gisel yang kini mencoba berontak dan ingin berlari.
“Apalagi Bi, apa lagi yang mau kamu jelaskan? Semuanya udah jelas, kamu hianatin aku.” Tutur Gisel sesenggukan.
“Sayang.. Ini hanya sementara. Aku sama sekali tidak mencintai Anna, dia gadis kampungan yang sangat buruk.”
“Lalu kenapa kamu menikahi dia Bi?”
“Ini semua karena papa dan mama ku Sayang. Mama hanya akan pergi ke Amerika untuk perawatan setelah aku menikah dengan Anna. Kamu tahu Mama kan Sayang?” Kata Abi dengan wajah memelas.
Gisel melirik Abi, dia tahu betul kekasihnya ini sangat menyayangi dan menghormati Ibunya. Dia tidak mungkin bisa menolak permintaan Ibunya.
“Aku sudah membuat perjanjian dengan Anna, kalau pernikahan ini hanya sampai Mama sembuh. Jika mama sudah sembuh aku akan menceraikannya. Dan akan bersama kamu lagi Sayang.” Ucap Abi samil menggenggam tangan Gisel.
“kenapa mama kamu tidak bisa menerima aku Bi? Kenapa Mama kamu malah memilih Anna untuk menjadi istri kamu? Bukankah aku lebih baik dari Anna?” Gisel masih terus terisak.
“Anna adalah anak dari sahabat mama, dia yatim piatu. Setelah Ibunya meninggal, mama yang jagain dia. Sudahlah Sayang, percaya sama aku. Tidak akan ada hubungan diantara aku dan Anna. Ini semua akan berakhir setelah mama sembuh. Cinta aku Cuma buat kamu Gisel.” Abi mencium tangan Gisel berusaha meyakinkan wanita sexi di depannya.
Gisel masih membuang muka dari Abi. Air mata di pipinya sudah tak nampak lagi, namun suara isak tangis masih terdengar dari mulutnya.
“Sayang, kamu percaya kan sama aku?” Abi memegang kepala Gisel dan menghadapkan ke arahnya.
“Kamu segalanya buat aku Gisel, kamu yang terbaik. Tidak mungkin ada yang bisa gantiin posisi kamu di hati aku. Apalagi hanya cewek kampungan macam Anna.” Ungkapnya lagi.
“Aku pegang janji kamu Bi.” Kata Gisel yang jelas membuat mata Abi kembali berbinar.
“Pasti Sayang, aku tidak akan menghianati kepercayaan kamu. Terimakasih Sayang.” Ucap Abi sambil memeluk Gisel.
Kini Abi bisa bernafas lega. Hal yang sangat dia takuti tidak terjadi. Abi sanagt takut jika dia kehilangan cintanya, Abi sangat takut jika dia kehilangan Gisel.
“Bi, aku ingin menghabiskan hari ini bersama kamu. Besok aku akan ke Singapura, aku ada kerjaan di sana.” Kata Gisel.
“Kenapa mendadak Sayang?”
“Iya, baru tadi pagi agency di sana menghubungiku. Aku di sana sekitar tiga bulan.”
“Apa? Tiga bulan? Kenapa lama sekali Sayang?”
“Abi, setiap aku bekerja di luar negeri pertanyaan itu terus yang selalu kamu ucapkan. Ini semua demi karier aku Sayang, ini semua demi nama besar aku. Aku mohon kamu mengerti ya Bi.” Kata Gisel merajuk.
“BAiklah.” Jawab Abi sedikit terpaksa. Namun Gisel tersenyum lebar dan kecupan manis dari bibirnya mendarat di pipi kanan Abi.
“Kita ke apartemen aku yuk Bi. Sudah lama kamu enggak nemenin aku di sana.” Ajak Gisel yang sudah jelas Abi terima dengan sedang hati.
***** Di salon
“Anna, bagaimana rasanya? Kamu bisa menikmatinya?” Kata Bu Mayang yang saat ini tengah berada sedang pijat spa di salon langganannya.
Tampak Anna juga melakukan hal yang sama.
“RAsanya nyaman banget Ma. Anna merasa rilex, pegel-pegel ilang. Fresh banget deh rasanya.” Jawab Anna sambil menikmati pijatan di tubuhnya.
“Syukurlah kalau kamu suka. Kamu harus sering spa kayak gini Ann, biar kamu fresh, rilex. Biar auranya juga terpancar. Kalau kamu cantik kan suami kamu juga yang senang.” Kata Bu Mayang sambil tertawa.
Anna pun juga ikut tertawa meskipun terlihat sangat memaksa.
“Dulu waktu masih pengantin baru, mama juga sering spa kayak gini ya biar papa makin lengket?” Goda Anna yang membuat Bu Mayang tertawa lebar.
“Ihh Anna apaan sih?”
“Tapi bener kan Ma? Tuh buktinya sampe sekarang papa lengkeet banget sama mama. Udah kayak perangko aja.” Goda Anna lagi.
Anna memang tidak salah. Bu Mayang dan Tuan Dirga adalah pasangan yang sangat serasi. Meskipun usia pernikahan mereka sudah tidak muda lagi, namun mereka masih terlihat sangat harmonis. Dari cara Bu Mayang dan Tuan Dirga memandang sudha sangat terlihat cinta dari keduanya.
Anna pun sangat mengagumi mereka. Hingga sering berharap agar nantinya dia juga seperti mereka setelah menikah. Namun kini harapan itu harus dikubur dalam-dalam oleh Anna.
“Dalam setiap pernikahan pasti ada yang namanya up and down nya. Kadang bahagia, tapi kadang juga susah, malah sering juga berantem. Namanya juga dua kepala dijadikan satu. Tapi kalau sudah komit untuk membangun keluarga pasti semua itu bisa dihadapi dengan mudah. Kayak orang berjalan di jalanan, pasti ada kerikil-kerikil kecilnya.” Tutur Mama.
“Nanti Anna juga pasti merasakan hal itu.” Imbuh Mama sambil menatap ke aarah Anna yang sontak membuat Anna salang tingkah.
