Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 9 Tahap Awal 2

"Jadi, Nara akan tinggal di sini?" tanya Richard menatap Nara dan Nara juga balas menatapnya.

Keempat orang itu kini sedang duduk di kursi meja makan di dapur. Gwen dan Jordan menjelaskan pada Richard prihal Nara yang akan tinggal di rumah mereka. Tentu saja dengan sedikit kebohongan, tapi besar.

"Iya, dan jangan menaksirnya," kata Jordan dengan mata yang mulai mengantuk.

Richard melirik sinis pada Jordan dan mendecih. "Mana ada."

Jordan mengangkat kedua pundaknya. "Siapa tahu?"

"Mulai besok Nara juga akan satu kampus denganmu," timpal Gwen.

"Benarkah? Wah! Kita bisa berangkat bersama kalau begitu." Richard merespon dengan antusias.

"Jadi ..." Jordan memicingkan mata pada Richard, "kalian sudah saling mengenal?"

Richard mengangguk.

"Richard dan temannya pernah menolongku," kata Nara yang sedari tadi diam.

"Ya. Waktu itu ada seorang pria tua jelek yang ingin menjebak Nara di kafe, dan untunglah ada Ricky dan aku yang menolongnya," jelas Richard.

"Syukurlah kalau begitu," kata Gwen.

"Ayo kita tidur, ini sudah sangat malam," kata Jordan pada semuanya. "Terutama kalian berdua, besok kalian harus berangkat kuliah."

Nara dan Richard pergi ke kamar mereka masing-masing terlebih dahulu. Lalu Gwen dan Jordan.

"Aku merasa memiliki dua anak," ucap Gwen terkekeh.

Jordan menyeringai. "Ya."

"Jo, mulai besok aku akan sangat sibuk. Aku banyak tawaran pemotretan akhir-akhir ini," kata Gwen yang kini naik ke atas ranjangnya. "Tak masalah, kan?"

"Tentu saja istriku sayang," jawab Jordan mencium bibir Gwen kilas. "Ayo tidur."

***

Pagi tiba.

Mereka semua sedang sarapan di dapur.

"Sayang, aku berangkat duluan, ya," pamit Gwen pada Jordan.

Jordan mencium kening Gwen. "Hati-hati."

"Aku berangkat anak-anak," kata Gwen pada Nara dan Richard. "Jo, antarkan mereka berdua, ya."

"Hm."

Gwen bergegas pergi, dia diantar oleh sopir.

"Habiskan sarapan kalian dan kita akan berangkat," kata Jordan pada Nara dan Richard.

Setelah selesai mereka pun masuk ke dalam mobil. Nara dan Richard duduk di kursi belakang, sementara Jordan duduk di kursi kemudi.

"Apa aku jadi sopir sekarang?" tanya Jordan melihat kaca spion depan sesaat setelah dia menjalankan mobilnya.

"Terima saja, Kak," sahut Richard. "Nara?"

"Ya?"

"Umurmu berapa?" tanya Richard.

"21 tahun," jawab Nara. "Kenapa?"

"Kita seumuran," jawab Richard nyengir.

"Benarkah?" tanya Nara.

"Iya." Richard mengangguk. "Mau tidak, jadi pacarku?"

"Uhuk!!" Jordan tersedak ludahnya sendiri mendengar perkataan Richard.

Lalu tiba-tiba Nara tertawa mendengar perkataan Richard. Jordan tertegun mendengar tawa renyah Nara, lalu dia terpesona.

"Wah! Ini pertama kalinya aku mendengarmu tertawa," kata Richard berbinar dan mewakili suara hati Jordan yang terpesona.

Jordan menyeringai. "Kau cantik kalau sedang tertawa."

Nara seketika menjadi kikuk.

"Jadi, mau tidak?" tanya Richard pada Nara.

"Richard! Jangan macam-macam." Jordan memperingatkan.

"Ish! Aku hanya bercanda," jawab Richard cemberut dan Nara hanya tersenyum.

"Richard, jaga Nara baik-baik," kata Jordan setelah mereka sampai di depan gerbang kampus.

Richard menjawab, "Siap!"

Richard menarik tangan untuk keluar dari mobil.

"Bye, Jo." Richard melambaikan tangan pada Jordan.

Jordan pergi. Nara dan Richard masuk ke area kampus.

"Yo! Richard!" Ricky menyapa Richard lalu menatap Nara terkejut. "Nara?"

"Hai, Ricky." Nara tersenyum.

"Kau sedang apa di sini," tanya Ricky pada Nara.

"Apa-apaan pertanyaanmu itu? Mulai hari ini Nara akan berkuliah di sini," sahut Richard.

"Benarkah?" tanya Ricky memastikan.

Nara mengangguk.

"Semoga betah, ya, di sini," kata Ricky.

"Mudah-mudahan saja," jawab Nara.

"Ayo. Kuantarkan ke kelasku, Nara," ajak Richard.

Richard pun mengantarkan Nara ke depan kelasnya. Diikuti Ricky di belakang mereka.

"Masuklah dan bertemanlah dengan mereka," ucap Richard.

"Terima kasih."

Richard dan Ricky hendak pergi sebelum suara seseorang membuat mereka menunda niatnya.

"Nara?"

"Hanna?"

Keduanya sama-sama terkejut.

"Oh, ya, ampun!!" Hanna memegang kedua bahu Nara," Ini sungguh kau?" Hanna melihat Nara dari atas ke bawah lalu naik lagi ke atas.

"Tentu saja, ini aku," jawab Nara senang.

Hanna memeluk Nara. "Aku merindukanmu."

"Aku juga." Nara juga membalas pelukan Hanna.

"Kau kuliah di sini sekarang?" tanya Hanna.

"Ya, begitulah," jawab Nara. "Bagaimana kabarmu?"

"Aku baik. Bagaimana kabar bibi?" tanya Hanna menanyakan ibu Nara.

"Ibuku baik."

"Syukurlah. Aku masih tidak percaya kita bisa bertemu lagi."

Nara tersenyum. "Iya, aku juga. Ini benar-benar di luar dugaan."

"Kau?" Hanna memicingkan mata sinis pada Richard. Dan pria itu juga balas menatap sinis padanya.

Sementara Ricky hanya menahan tawanya dan Nara hanya melirik Richard dan Hanna. Dia tidak tahu apa yang terjadi dengan mereka berdua.

"Apa lihat-lihat?" tanya sinis Hanna pada Richard.

"Apa?" tanya balik Richard tak kalah sinis.

"Aih, kalian ini," ucap Ricky tak habis pikir, lalu dia berbisik ke telinga Nara, "mereka memang tidak pernah akur."

Dan Nara hanya mengangguk dan tersenyum geli melihat tingkah keduanya.

"Jadi, kenapa kau bisa kenal dengan makhluk kelebihan tinggi ini, Nara?" tanya Hanna menunjuk pada Richard.

"Hei! Singkirkan jarimu itu," kata Richard dan Hanna hanya berdecih.

"Kami bertiga pernah bertemu," sahut Ricky.

"Dan sekarang Nara tinggal bersamaku di rumah Jordan," kata Richard membuat Ricky menyemburkan minuman yang tadi dia beli dan Hanna terkejut.

"Bagaimana bisa?" tanya Ricky tak percaya.

"Aku bekerja pada Nyonya Gwen," jawab Nara dan Richard mengangguk membenarkan.

Hanna dan Ricky mengangguk paham. Lalu keempat orang itu berpisah dengan masuk ke dalam kelas masing-masing.

***

Jam pulang tiba.

Richard dan Ricky menghampiri Nara di kelasnya.

"Nara, aku akan pergi dengan Ricky. Ada urusan," kata Richard, "nanti mau akan dijemput oleh Jordan."

"Ba-baiklah," jawab Nara.

"Kami duluan, Nara," pamit Ricky. Keduanya pergi meninggalkan Nara.

Hanna juga sudah pulang duluan untuk pergi les yang dia ikuti. Jadi Nara berjalan sendirian menuju ke gerbang kampus, tapi kemudian dia menabrak seseorang saat dia di depan gerbang.

"Oh! Maaf," ucap Nara sedikit membungkuk.

"Nara?"

Nara mendongak untuk menatap orang itu. "Samuel?"

"Hai, kita bertemu lagi," kata Samuel tersenyum dan Nara balas tersenyum.

"Kau berkuliah di sini juga?" tanya Samuel, "Aku baru melihatmu."

Nara menjawab, "Aku baru masuk hari ini."

Samuel mengangguk mengerti. "Oh, ya! Aku melihat kafe tempat kerjamu saat itu sudah tutup. Ada apa?"

"Ya. Ada sedikit masalah, tapi aku tidak tahu pasti apa penyebabnya."

"Sekarang kau kerja di mana?"

Nara bingung harus menjawab apa. Saat Nara hendak membuka mulutnya sebuah klakson mobil berbunyi, mobil itu berhenti beberapa meter di depan mereka.

Keduanya menoleh pada sumber suara dan Nara melihat Jordan berada di dalam mobil dengan kaca yang terbuka.

"Sepertinya aku harus pergi," kata Nara, "aku duluan, ya."

"Hm. Sampai jumpa lagi."

Nara menghampiri mobil Jordan, sementara Samuel masih berdiri di sana melihat kepergian Nara.

"Masuklah," perintah Jordan pada Nara. "Pakai sabuk pengamanmu," lanjut Jordan saat Nara sudah duduk di sampingnya.

"Siapa tadi?" tanya Jordan sambil mengemudikan mobil.

"Samuel," jawab Nara.

Jordan melirik Nara sekilas. "Aku tidak tanya siapa namanya."

Nara menggigit bibir bawahnya sebelum menjawab, "Temanku."

"Bukan pacarmu?"

Nara menggenggam sabuk pengamannya erat. "Bu-bukan, Tuan."

"Kenapa gugup?"

Nara menunduk.

"Kau sudah makan?" tanya Jordan lagi.

"Su-sudah, Tuan," jawab Nara dan dia mulai gelisah saat Jordan menepikan mobilnya.

Kemudian, pria itu menghadap pada Nara. "Tatap aku!"

Nara menatap Jordan dengan ragu, lalu Jordan menangkup kedua pipi Nara, membuat gadis itu sedikit terkejut.

"Rilekslah saat bersamaku," kata Jordan selembut mungkin.

Nara mengangguk patuh.

Pria itu menatap intens pada Nara, lalu mengecup bibir Nara kilas. Sedangkan, yang dicium hanya bisa mematung.

"Kau tambah cantik ketika menjadi penurut," kata Jordan.

Pria itu kembali menjalankan mobilnya, dia tidak langsung membawa pulang, tapi Jordan membawa Nara ke sebuah pasar malam.

"Kenapa kita ke sini?" tanya Nara.

"Jalan-jalan," jawab Jordan melirik Nara yang berjalan di sampingnya. Lalu dia menggandeng tangan Nara. "Jangan jauh-jauh dariku dan kau bisa membeli apa pun yang kau mau."

Nara mengangguk mantap, matanya melihat ke sana ke mari. Ada begitu banyak orang berlalu lalang di sana.

Mereka terus berjalan-jalan, mendatangi setiap stand makanan dan permainan. Keduanya bersenang-senang sampai lupa waktu, hingga waktu menunjukkan pukul sepuluh malam.

"Ada yang ingin kau beli lagi?" tanya Jordan.

Nara berpikir sejenak. "Tidak ada."

"Ayo kita pulang," ajak Jordan dan menarik Nara menuju parkiran mobilnya.

Setelah beberapa saat keduanya sampai di rumah.

"Kalian dari mana saja?" tanya Richard yang sedang menonton televisi.

"Membawa Nara jalan-jalan," jawab Jordan dengan santai.

"Kau tidak mengajakku?" Richard melotot, lalu melanjutkan, "Kejam."

"Sshh ... suaramu itu." Jordan mendesis dan mengorek kupingnya dengan jari kelingking.

"Huh!" Richard membuang muka dari Jordan, dia kesal.

"Kupikir kau pergi dengan Ricky," kata Jordan yang kini duduk di sofa dan menarik Nara untuk duduk juga.

"Tapi aku tidak jalan-jalan," sanggah Richard.

"Tapi kau bersenang-senang, kan?" kata Jordan.

"Sudahlah, aku marah padamu. Selamat malam." Richard pun beranjak dari sana dan pergi ke kamarnya.

Jordan mendekati Nara dan itu membuatnya gugup. Kemudian pria itu menangkup kedua pipi Nara dan mencium bibir Nara.

Kali ini gadis itu hanya bisa terpejam dengan kedua tangan yang mengepal di atas pahanya. Ciuman itu berlangsung cukup lama sampai Jordan melepaskannya. Pria itu menatap Nara yang masih terengah.

"Jadilah simpananku."

Plak!!

Nara menampar pipi Jordan dan mulai menjatuhkan air mata.

"Selama ini aku selalu diam karena aku tidak bisa melawanmu," kata Nara disela tangisnya, "tapi kali ini kau benar-benar keterlaluan!" Nara langsung berlari ke kamarnya setelah mengatakan itu.

Sepeninggalnya, Jordan tersenyum paksa dan memukul meja. Dia begitu kesal dan marah pada dirinya sendiri. Entah kenapa kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya. "Sialan!"

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel