Pustaka
Bahasa Indonesia

Hamil Kontrak

75.0K · Tamat
S_Pearl
44
Bab
46.0K
View
9.0
Rating

Ringkasan

Nara terlilit hutang yang banyak karena pengobatan untuk ibunya. Dia diburu rentenir dan harus segera melunasi semua hutangnya, sedangkan gaji dari pekerjaannya tidak cukup untuk biaya satu bulan. Jordan Lee adalah seorang CEO muda kaya yang mempunyai seorang istri yang mandul. Istrinya sering menyuruhnya untuk menikah lagi, tapi ia menolak. Gwen istri dari Jordan Lee bertemu dengan Nara. Gwen menawarkan kontrak pada Nara agar mau mengandung anaknya, dengan bayaran yang tinggi. Masalah pun tiba ketika Nara mulai jatuh cinta pada tuannya, Jordan.

Mengandung Diluar NikahPresdirBaperPerselingkuhan

Bab 1 Pertemuan Pertama

Yoo Nara seorang gadis berusia 21 tahun yang harus banting tulang untuk mencari uang dan membayar hutangnya. Nara tinggal dengan ibunya, ayahnya sudah meninggal sejak satu tahun yang lalu karena kecelakaan kerja.

Nara harus bekerja keras untuk menghidupi keluarganya. Gaji di tempatnya bekerja tidak seberapa, masih belum cukup untuk dia, ibunya, dan rentenir itu. Dan karena itu juga dia harus menunda kuliahnya, karena kekurangan biaya.

Meskipun dia dapat tunjangan dari perusahaan ayahnya dulu, tapi itu belum seberapa. Mengingat ayahnya hanya seorang karyawan kecil.

Dia selalu melamar ke beberapa perusahaan kecil, tapi mereka selalu menolaknya. Entah karena tidak ada lowongan, atau karena mereka selalu menuntut uang muka padanya, biasanya itu dilakukan oleh calo-calo tak berakhlak.

Cih, kerja itu untuk mendapatkan uang, bukan untuk memberikan uang. Dasar lintah-lintah darat.

Seperti hari ini, Nara sudah berkeliling ke sana dan ke mari untuk melamar pekerjaan. Namun tidak ada yang mau menerima Nara, yang hanya lulusan SMA dan putus kuliah.

Hari sudah sore dan Nara belum mendapat pekerjaan yang lebih menjanjikan untuk menambah biaya.

Nara menghela napasnya. "Ya, ampun. Aku harus mencari pekerjaan ke mana lagi?"

"Semua perusahaan yang aku datangi menolakku."

"Aku harus bagaimana, Ya Tuhan? Gaji di tempatku bekerja belum cukup."

"Hah ... Ayah ..." Nara mendongak menatap langit, mencoba mengadu pada ayahnya di atas sana.

Nara berjalan gontai menuju rumahnya, sesampainya di sana dia mendengar sebuah keributan. Nara pun berhenti sejenak.

"Ada apa? Suara ribut apa ini?"

Hati Nara sedang bertanya-tanya saat ia mendengar suara teriakan ibunya.

"Ibu!!" Nara berlari menuju ke rumahnya.

"Berhenti, Nyonya. Saya mohon, hentikan!"

"JANGAN!!" Ibu Nara berteriak saat barang-barang di dalam rumahnya dilempar.

Nara langsung menghampiri ibunya yang terduduk sambil memeluknya. Dia bisa melihat kedua bodyguard si rentenir yang mengacak-acak rumah mereka.

"Periksa semua sudut ruangan di rumah ini. Mungkin mereka menyembunyikan uangnya," kata si rentenir wanita itu memerintah kedua bodyguard itu.

"Kau!" Si rentenir itu menunjuk Nara. "Kau sehabis pulang kerja, kan? Kau pasti bawa uang, berikan uangnya!"

"Tidak, Nyonya. Saya tidak punya uang," jawab Nara menggelengkan kepala.

"Halah! Jangan berbohong kau. Mana uangnya?" Si rentenir itu memaksa.

"Nyonya, saya tidak berbohong. Saya tidak punya uang saat ini." Nara masih mencoba meyakinkan si rentenir.

Sang rentenir hendak akan melontarkan kata-kata lagi pada Nara, sebelum kedua bodyguard-nya datang.

"Tidak ada apa pun, Nyonya," kata si bodyguard yang baru saja keluar dari kamar.

"Tidak ada sepeser pun uang di dalam rumah ini," timpal temannya si bodyguard.

"Saya sudah bilang, Nyonya. Saya tidak punya uang," ucap ibu Nara, membuat si rentenir wanita itu berdecih.

"Tidak berguna! Aku tidak mau tahu, minggu depan uangnya harus segera ada. Jika tidak, kalian akan tahu akibatnya," ancam si rentenir itu.

Rentenir itu pun pergi dari rumah Nara, diikuti oleh kedua bodyguard-nya.

"Bagaimana ini, Nara? Ibu harus bagaimana?" tanya ibu Nara sambil menangis.

"Bu ... biar Nara saja yang memikirkan soal uang. Ibu istirahat saja yang cukup," kata Nara mengusap bahu ibunya.

"Ingat kata dokter, ibu tidak boleh kelelahan," lanjut Nara.

"Tapi Nara, ibu tidak tega melihatmu pergi pagi pulang malam untuk bekerja. Seharusnya kau melanjutkan kuliahmu, tapi ibu malah-"

"Bu ... sudah. Ini sudah kewajiban Nara untuk menjadi pengganti ayah. Sudah, ya, jangan dipikirkan."

Nara memeluk ibunya yang masih menangis. Nara juga ikut berkaca-kaca memikirkan semua masalah yang menimpanya.

"Lebih baik kita bereskan kekacauan ini dulu," kata Nara mengusap air mata ibunya.

Mereka berdua pun bangkit dan membereskan kekacauan yang dibuat oleh orang-orang tadi. Rumahnya benar-benar berantakan sekarang.

Nara menghampiri meja televisi di sana, lalu tangannya terulur untuk menyentuh sebuah foto di sana. Yaitu foto ayahnya. Dia mengambil foto itu, tersenyum, dan mengusap wajah ayahnya di sana.

"Ayah ..."

Kemudian Nara membongkar pigura foto itu, membuat ibunya keheranan.

"I-ini ...?" Ibu Nara tercengang melihatnya.

"Nara hebat, kan?" tanya Nara tersenyum pada ibunya.

"Putri ibu benar-benar hebat." Ibunya balas tersenyum.

"Hehehe, tentu saja, Bu."

"Simpan uangnya baik-baik."

"Ini untuk pengobatan ibu," ucap Nara.

Ibu Nara tersenyum kecut. "Seharusnya kau menabungnya."

"Iya, setelah ibu sembuh."

"Baiklah. Kau bereskan sisa kekacauan ini, ibu akan masak makan malam."

Nara mengangguk dan kemudian menatap genggam uang yang berada di tangannya.

***

Malam ini adalah giliran Nara untuk bekerja. Waktu telah menunjukkan pukul 10 malam saat Nara berada di kafe tempatnya bekerja. Masih ada beberapa pelanggan di sana, entah sehabis dari lemburnya, istirahat di sana sebentar atau memang sengaja datang kesana untuk memesan kopi.

Kemudian ada seorang pria masuk dan menghampiri Nara. Nara membungkuk badan hormat menyambutnya. "Selamat malam, Tuan."

Pria itu membalas dengan sedikit anggukan, terlihat pria itu sedang berbicara di telepon.

"Moccha satu," ucap pria itu sambil mengangkat jari telunjuknya.

"Baik." Nara pun mulai meraciknya. Setelah beberapa saat kopi moka itu pun jadi dan dia menyerahkannya ke hadapan si pria. "Ini, Tuan."

Pria itu memutuskan panggilan telponnya dan memasukkan ponselnya ke dalam saku jas yang dia pakai.

"Sampai jam berapa siftmu?" tanya pria itu.

"Emm, jam 12 malam, Tuan," jawab Nara sedikit kebingungan. Untuk apa pria ini menanyakan sifat kerjanya.

Pria itu masih di sana memperhatikan Nara dengan seksama dan berkata, "Oh."

Kemudian pria itu pergi menuju salah satu meja yang ada di sana.

Entah ini perasaannya saja atau memang pria itu sering mencuri pandang padanya. Jujur, Nara merasa di awasi. Beruntung seorang pelanggan datang lagi dan dia bisa sedikit mengalihkan kegugupan nya.

***

Kini waktu menunjukkan pukul 12 malam, terhitung dua jam sudah pria itu masih ada di sana.

Duduk di meja dengan ponsel yang tak pernah lepas dari tangan si pria.

Saat pelanggan lain sudah pulang satu jam lalu, pria itu masih betah di sana. Entah pekerjaan apa yang dia kerjakan di dalam ponsel mahalnya itu.

"Nara, pulanglah. Siftmu sudah berakhir." Si pemilik kafe menghampiri Nara dan menyuruhnya untuk pulang.

"Ah, baiklah. Selamat malam, Tuan."

Setelah mendapat anggukan dari si pemilik kafe Nara pun bergegas pergi ke luar. Dia berjalan kaki untuk menuju rumahnya, selain karena jaraknya tidak terlalu jauh Nara juga tidak memiliki uang untuk membayar taksi.

Di tengah-tengah perjalanan tiba-tiba ada seseorang yang berjalan di samping Nara.

"Di mana rumahmu?" tanya si pria yang berjalan di sampingnya. Nara hanya diam tak menjawab, sebenarnya dia agak takut dan waspada.

"Kenapa jalan kaki? Kenapa tidak naik taksi saja? Jalan malam sangat berbahaya untuk seorang gadis sepertimu." Pria itu terus-menerus mengoceh menanyakan banyak hal.

"Kau tidak takut sendirian?" Masih tak ada jawaban pria itu pun menghadang Nara.

Nara mendongak dan ternyata pria itu adalah pria yang sama dengan pria yang tadi terus memperhatikannya di kafe. "Permisi, Tuan."

Si pria mendengus mendengar perkataan Nara. "Aku bicara padamu sedari tadi, bukan dengan tembok."

Nara menatap mata si pria. "Bukan urusan Anda."

Si pria lagi-lagi mendengus setelah Nara melewatinya begitu saja.

"Aku akan mengantarmu," kata si pria mengikuti langkah Nara.

Terserah.

Nara tidak peduli. Dasar pria aneh.

Sepanjang perjalanan tidak ada yang berbicara lagi. Nara sampai berpikir bahwa pria itu sudah tidak mengikutinya lagi. Syukurlah jika begitu.

Tapi ... Nara masih bisa mendengar suara langkah dari si pria yang di hasilkan dari sepatu pantofel milik pria itu.

Tibalah Nara di gang yang menuju ke perumahannya. Nara berhenti sejenak, dia melihat ada tiga orang pria yang sedang mabuk di depan sana. Nara agak sedikit ragu, karena biasanya tidak ada mereka, kenapa sekarang ada?

Sial.

Nara mencoba memberanikan diri untuk terus berjalan. Dalam hati dia berdoa agar ketiga pria itu acuh padanya.

"Wah ... ada bidadari cantik yang lewat," kata seorang pria mabuk yang melihat Nara.

Sial. Kenapa pria itu harus melihatnya. Padahal abaikan saja Nara.

"Wah, iya. Tapi siapa pria yang ada di belakangnya?" tanya teman si pria mabuk itu.

"Halah! Abaikan pria itu, kita akan bersenang-senang dengan gadis cantik ini," timpal satu lagi si pria mabuk.

Nara mulai agak risih saat ketiga pria itu menghampiri Nara dengan jalan yang terseok-seok.

"Hei, Nona cantik." Salah satu pria mabuk itu mencengkram tangan Nara.

"Lepaskan!" Nara mencoba menyentaknya, tetapi hasilnya nihil.

"Oh, tidak manis. Ayo kita bermain." Ketiga pria mencoba untuk menarik Nara.

Lalu seorang pria yang dari tadi diam saja menarik Nara ke belakangnya. Mata pria itu menatap tajam ketiga pria mabuk itu.

"Hei, Tuan. Gadis ini milik kami, kau pergilah," titah salah satu pria mabuk itu.

"Jangan menggangunya," ucap si pria dengan nada dingin.

Ketiga pria itu hendak menghampiri Nara, tapi langkah mereka terhenti saat si pria yang melindungi Nara menyibakkan ujung jas yang dia pakai.

Para pria mabuk itu saling memandang satu sama lain dengan wajah terkejut. Mereka bisa melihat sebuah hand gun yang terselip di celana bahan milik si pria.

"Ayo, kita pergi." Para pria mabuk itu lalu pergi dari sana dengan sedikit terhuyung dan buru-buru.

Si pria dengan tinggi 182 cm itu berbalik untuk melihat keadaan Nara.

"Te-terima kasih." Nara berterima kasih pada si pria. Meski awalnya dia punya pemikiran jelek terhadap si pria.

Si pria menyeringai tipis. "Hm."

Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju ke rumah Nara. Nara dan si pria masih saling diam sampai mereka tiba di depan rumah Nara.

"Sekali lagi terima kasih," ucap Nara seraya membungkuk hormat.

"Masuklah."

Nara mengangguk dan masuk ke dalam rumahnya.

Lama pria itu memperlihatkan pintu di depannya, dia pun mendesis.

"Sial ..."

Dia ingat, mobilnya masih terparkir di area kafe tempat Nara bekerja. Kemudian dia mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.

"Bisa kalian menjemputku?"

"Dan bawa mobilku yang terparkir di dekat kafetaria seberang jalan toko antik."

"Tidak usah banyak tanya dan lakukan saja."

Setelah panggilan berakhir, pria itu kembali memperhatikan pintu rumah Nara. Kemudian dia tersenyum manis, sangat manis sampai seekor kucing yang lewat terpeleset.

Bersambung...