Bab 10 Dia Siapa?
Satu minggu setelah kejadian dimana Jordan mencium Nara, mereka sudah tak saling banyak bicara. Gwen juga sudah kembali pulang satu hari setelah kejadian itu.
Gwen sedang berada di depan cermin, dia melakukan perawatan wajah di kamarnya.
"Jo, besok antar Nara untuk menemui dokter Sena, ya," kata Gwen pada Jordan yang sedang duduk bersandar pada kepala ranjang dengan laptop di pangkuannya.
"Hm," jawab Jordan, "kau masih sibuk?"
"Kurasa selama beberapa minggu ke depan aku akan sibuk."
"Jaga kesehatanmu," kata Jordan yang kini memeluk Gwen dari belakang.
"Tentu saja," balas Gwen tersenyum melihat Jordan lewat cermin. Dan suaminya itu balas tersenyum padanya.
Kemudian Jordan memutar tubuh Gwen agar menghadap padanya, lalu dia berjongkok di depan Gwen. Jordan sedikit mendongak menatap Gwen dengan posisi itu.
Jordan masih mempertahankan senyumannya ketika dia membelai pipi istrinya. Lalu dia menarik tengkuk Gwen dan mencium bibirnya dengan lembut, Gwen juga membalas ciuman itu.
Semakin lama ciuman itu semakin dalam. Jordan melumat, menghisap, dan menjilat bibir Gwen. Membuat wanita itu menjatuhkan kapas yang tadi dipegangnya untuk memeluk leher Jordan.
Keduanya kini berdiri dengan bibir yang tidak terlepas. Jordan semakin merapatkan tubuhnya dan memeluk erat tubuh sintal Gwen. Pria itu mengelus punggung Gwen, lalu berhenti di belah pantat istrinya. Jordan meremas dan mengelusnya di sana.
Gwen melepaskan ciuman mereka, dia membuka piyama Jordan dan kembali menciumnya. Kini tangan Gwen tak tinggal diam, dia mulai mengelus perut suaminya, menghitung kotak-kotak otot di perut suaminya itu. Elusannya naik ke atas dan berakhir meremas dada bidang Jordan.
Ciuman Jordan turun ke leher Gwen, tangannya membuka kimono yang dipakai istrinya, dia melepaskan seluruh pakaian yang dipakai oleh Gwen. Kemudian pria itu sedikit menjauh hanya untuk melihat tubuh istrinya yang tanpa cacat itu.
Jordan kembali membalik tubuh Gwen menghadap cermin, keduanya saling pandang lewat cermin di depan mereka. Jordan menyusuri seluruh tubuh Gwen sambil menatapnya di cermin. Lalu dia mencium pundak dan leher istrinya.
Setelahnya, Jordan mengangkat tubuh Gwen dan mendudukkannya di atas meja rias.
"Kau begitu cantik Gwen," kata Jordan.
"Kau sering mengatakan itu suamiku," ucap Gwen tersenyum, lalu tangannya membuka celana Jordan. Gwen menaikkan kedua kakinya ke atas meja rias, ke masing-masing samping tubuhnya dan membuka lebar kakinya.
Jordan bergerak menanggalkan celananya dan maju memeluk Gwen. Dia menciumnya dengan bergairah, ciuman yang basah dan penuh hasrat. Pria itu mulai menggerakkan tubuhnya.
Lalu, tanpa melepaskan penyatuan mereka. Jordan menggendong istrinya ke atas kasur dan kembali menggerakkan tubuhnya dengan cepat, membuat Gwen menggaruk dan mencakar punggungnya.
***
Keesokan harinya, Richard menghampiri Jordan yang berada di ruang tengah.
"Kak! Kakak ipar ke mana?" tanyanya.
"Sudah berangkat," jawab Jordan.
"Ini hari Minggu."
"Dia ada urusan. Memangnya ada apa?" tanya Jordan.
"Tidak ada, hanya bertanya saja," jawab Richard. "Hah ... aku ingin tidur sepanjang hari libur ini."
"Lakukan sesukamu, Richard. Hari libur ini milikmu," ujar Jordan.
Richard beranjak dari sana. "Jangan merindukanku, ya, Nara," ucapnya saat berpapasan dengan Nara di tangga. Dan Nara hanya mengangguk saja meski dia bingung.
"Sudah siap?" tanya Jordan ketika Nara sampai di hadapannya.
"Iya," jawab Nara mengangguk.
"Ayo." Jordan akan membawa Nara ke rumah sakit, sesuai dengan apa yang dibilang oleh Gwen semalam.
Saat sampai Nara langsung disambut oleh dokter Sena dan melakukan beberapa pemeriksaan. Jordan menunggunya sampai mereka selesai dan kini mereka berdua sudah berada di dalam mobil lagi.
"Aku ada urusan lain," kata Jordan, "kau akan langsung pulang atau ke mana?" tanyanya sambil menjalankan mobilnya.
"Antarkan aku ke tempat aku bekerja dulu," jawab Nara.
"Untuk apa? Bukankah tempat itu sudah tutup."
"Aku ada janji bertemu dengan Hanna di sana."
"Hm, baiklah."
Jordan melajukan mobilnya ke tempat yang dimaksud oleh Nara. Sesampainya di sana Nara menatap lekat bangunan kafe itu dari dalam mobil.
"Kau merindukan tempat ini?" tebak Jordan setelah meliriknya sejenak. Dan Nara sedikit tersentak.
"Hah? Ah, ya ... pemilik toko ini sangat baik padaku." Nara melihat Hanna di depan sana. "Oh! Itu Hanna!"
"Turunlah," kata Jordan, "jika perlu jemputan kau bisa menghubungiku."
Nara mengangguk dan keluar dari mobil, lalu dia menghampiri Hanna.
"Siapa yang mengantarmu?" tanya Hanna melirik pada mobil Jordan.
Nara mengikuti arah pandang sahabatnya ini. Dia menjawab, "Kakaknya Richard."
Hanna mengangguk mengerti. "Ayo. Aku akan mengajakmu jalan-jalan."
Ternyata Hanna mengajaknya pergi ke sebuah taman di dekat danau. Mereka duduk di bangku dan menghirup udara segar banyak-banyak.
"Udaranya sejuk, ya," ucap Hanna.
"Iya," jawab Nara dengan mata terpejam menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya.
"Boleh aku bergabung?" tanya seseorang dari belakang mereka.
Nara langsung membuka matanya dan menoleh ke belakang, begitu juga dengan Hanna.
"Samuel?" Nara dan Hanna menatap Samuel tak percaya.
"Hai," sapa Samuel tersenyum, "sedang apa kalian di sini?"
"Kami hanya jalan-jalan saja," jawab Hanna.
"Wah, kebetulan sekali. Aku sendirian," kata Samuel, "bagaimana jika kita jalan-jalan bersama?" Samuel memberi usul.
Hanna dan Nara saling pandang lalu mengangguk. "Boleh," kata keduanya bersamaan.
"Baiklah. Sekarang kita akan pergi ke mana?" tanya Samuel.
"Bagaimana jika pergi menonton," jawab Hanna menatap Nara dan Samuel bergantian.
"Aku ikut saja," ucap Nara.
"Ayo. Aku yang traktir," kata Samuel.
"Yes!!" Hanna bersorak gembira membuat Nara dan Samuel terkekeh kecil.
Ketiganya pun berjalan kaki menuju ke tempat yang mereka tuju. Sesampainya di sana Samuel langsung memesan tiket dan membeli popcorn lengkap dengan minumannya. Llau mereka masuk ke dalam bioskop dan duduk di kursi mereka.
Setelah menunggu beberapa saat film pun mulai ditayangkan. Selama film itu berlangsung, Samuel tidak fokus pada filmnya, melainkan pada wajah Nara. Dia memperhatikan Nara dari samping dan itu tidak luput dari perhatian Hanna. Membuat gadis itu menahan senyumannya.
"Kau kenapa?" tanya Nara sedikit berbisik pada Hanna.
"Bukan apa-apa," jawab Hanna.
Nara yang bingung dengan tingkah temannya itu mengabaikannya dan kembali fokus pada layar di depan sana.
Setelah lebih dari satu jam film pun selesai. Ketiganya pun pergi untuk makan siang, lalu setelahnya mereka berkeliling di dalam mall sampai hampir tiba sore.
"Sepertinya aku harus pulang duluan," kata Hanna setelah melihat pesan dari ponselnya.
"Perlu kuantar?" tanya Samuel menawarkan.
"Tidak usah, aku bisa sendiri. Sebaiknya kau jaga Nara saja," kata Hanna, "aku duluan, ya."
"Hati-hati," kata Nara dan Hanna mengangguk.
Samuel dan Nara pun kembali melanjutkan perjalanan mereka, kini keduanya menyusuri trotoar. Mereka berjalan sambil berbincang ringan. Lalu mereka berpapasan dengan seorang pria.
"Nara." Orang itu menyebut nama Nara.
Samuel dan Nara mendapati Jordan yang tengah berdiri di depan mereka dengan tatapan dinginnya yang tertuju pada Samuel.
Samuel membalas tatapan dingin Jordan dengan tatapan tak suka. Dia tidak suka cara Jordan yang menatapnya seperti itu.
"Ikut denganku," kata Jordan meraih tangan Nara dan menariknya, tapi Samuel meraih tangan Nara yang satunya. Keduanya kini saling menatap tajam dan tak suka.
"Lepaskan tanganmu anak muda," titah Jordan.
"Maaf, Tuan. Anda siapa?" tanya Samuel.
Nara hanya melirik keduanya bergantian. Dia sangat canggung berada di situasi yang seperti ini.
"Samuel, sepertinya aku harus pergi," kata Nara tak enak hati.
Jordan tersenyum penuh kemenangan pada Samuel, dan yang ditatap hanya memalingkan wajahnya. Kemudian Samuel menatap pada Nara dan gadis itu mengangguk padanya.
Samuel akhirnya melepaskan genggamannya pada Nara.
"Sampai jumpa," ucap Nara dan Samuel hanya tersenyum tipis ambil mengangguk.
Jordan pun menarik tangan Nara pelan untuk mengikuti langkahnya.
"Kita akan ke mana, Tuan?" tanya Nara.
"Hm?" Jordan melirik Nara, "kantorku."
Nara hanya diam saja sampai mereka sampai di kantor Jordan. Meski di hari Minggu kantornya masih terdapat beberapa karyawan di sana. Terkadang ada beberapa kolega yang meminta bertemu dengannya di kantor Jordan. Dan biasanya Selena juga akan standby di sana, itulah biasanya para karyawan penting punya rumah kecil sendiri di ruangan mereka.
"Ayo," ajak Jordan menunduk pada Nara untuk mengajaknya masuk ke dalam ruangan Jordan.
Deg!
Jantung Nara berdetak sedikit lebih cepat saat melihat wajah Jordan yang begitu dekat dengannya. Nara hanya bisa sedikit mengangguk dan menunduk saja. Jordan mempersilakan Nara untuk duduk di sofa.
Tok! Tok! Tok!
Suara pintu yang diketuk membuat Nara mengalihkan pandangan, lalu seseorang membuka pintu dan masuk ke dalam. Seorang wanita tinggi, kurus langsing, bibir merah oleh lipstik dengan pakaian kantor, tapi tak mengurangi keseksian wanita itu. Dia adalah Selena, sekertaris Jordan.
"Tuan-" ucapan Selena terhenti ketika dia melihat Nara yang sedang duduk di sofa. "Dia siapa, Tuan?" tanya Selena melirik para Nara.
"Ada apa?" tanya Jordan tanpa menghiraukan pertanyaan Selena.
"Ah, itu ... ada kolega dari Jerman yang ingin bertemu dengan Anda," kata Selena.
"Hm." Jordan berdiri dan menatap Nara. "Kau tunggu dulu di sini."
"Ba-baik, Tuan," jawab Nara.
"Ayo, Selena," ajak Jordan, lalu dia berjalan terlebih dahulu.
Selena menatap Nara lekat sebelum pergi menyusul Jordan.
***
Satu jam telah berlalu dan Nara hanya mengelilingi ruangan itu untuk menghilangkan kebosanannya. Dia sudah melihat ke luar jendela beberapa kali, melihat dan masuk ke dalam toilet yang ada di ruang kerja Jordan, dan Nara juga sudah melihat sebuah kamar lengkap dengan lemari pakaian milik Jordan.
Nara tahu seharusnya dia tidak selancang itu, tapi Nara terlalu bidan berada di sana. Lalu dia menghampiri meja kerja Jordan, di atas meja terpajang sebuah foto Gwen dan Jordan yang saling berpelukan. Nara mengambilnya dan memperhatikan foto itu dengan seksama.
"Jo, aku-" Seseorang masuk dan sedikit terkejut ketika melihat Nara berada di sana.
Nara menoleh pada sosok itu dan meletakkan kembali fotonya ketika sosok itu menghampiri Nara. Orang itu menatap Nara dari bawah ke atas dengan lekat. Dan itu membuat Nara sedikit canggung.
"Kau ... Nara, kan?" tanya orang itu.
"I-iya," jawab Nara sedikit bingung, pasalnya dia tidak kenal pria di depannya ini, tapi kenapa pria itu justru mengenalinya.
"Aku Bobby," katanya, "temannya Jordan. Tolong katakan padanya, nanti malam datang ke tempat biasa."
Nara mengangguk. "Baik. Akan ku sampaikan."
"Terima kasih sebelumnya. Kalau begitu aku permisi," pamit Bobby dan Nara hanya mengangguk.
Setelah kepergian Bobby, Nara kembali duduk di sofa. Kemudian, Selena masuk ke sana dan menghampiri Nara.
"Hei, siapa namamu?" tanya Selena yang kini berdiri di depan Nara dengan kedua tangan bersilang di atas perut.
"Saya Nara," jawab Nara seadanya.
"Ada hubungan apa antara kau dengan tuan Jordan?"
"Hah?" Nara bingung dengan apa yang dimaksud oleh Selena, "Maksud nona apa?"
Selena berdecih. "Dengar, ya. Tuan Jordan hanya milikku, jangan coba-coba untuk menggodanya."
"Nona, kau-"
"Sayang?" Jordan muncul.
Nara hendak mengatakan kalau Selena sudah salah paham sebelum Jordan menyela, dan kini menghampiri Nara.
Lalu Jordan duduk di samping Nara dan melingkarkan sebelah tangannya pada pinggang Nara. Dan Nara sedikit menahan bahu Jordan ketika pria itu mendekatkan wajahnya, lalu berbisik, "Kau cantik, Nara."
Sebenarnya itu bukan bisikan, karena Selena masih bisa mendengarnya dan itu membuatnya merasa terbakar api cemburu.
"Kau akan tetap di sini?" tanya Jordan pada Selena tanpa melihat wanita itu.
"Tu-tuan, dia siapa?" tanya Selena.
"Kau tidak lihat?" Jordan menatap Selena dingin, "Dia kekasihku."
Perkataan Jordan membuat Selena dan Nara sama-sama terkejut.
"Apa?" tanya Selena melotot tak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Pergilah," perintah Jordan padanya dan tanpa diduga dia dia mencium bibir Nara. Yang dicium hanya membelalakkan matanya dan Selena semakin cemburu dan pergi dari ruangan itu.
"Tuan," kata Nara saat Jordan melepaskan ciumannya, "ta-tadi ada yang datang."
"Bobby?" tebak Jordan dan Nara mengangguk. "Aku tahu," kata Jordan.
Jordan bangkit dan kembali ke kursinya dan berkata, "Aku menyelesaikan sesuatu dulu, setelah itu kita pulang."
Dan Nara hanya bisa mengangguk patuh.
Bersambung...
