Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 8 Tahap Awal

"Terima kasih," ucap Nara pada Jordan ketika mereka sudah sampai di rumah Nara.

Nara membuka pintu mobil dan berjalan ke depan rumahnya dengan lemas. Rasanya dia seperti kehabisan energi dengan begitu banyak. Langkahnya gontai, rasanya kaki Nara mengambang. Dia seperti tidak hidup.

Dia mengeluarkan kunci rumah dan masuk ke dalam rumahnya.

"Di mana ibumu?"

"Astaga!!" Nara terlonjak kaget mendengar suara Jordan di belakangnya. "Tu-tuan ... di sini?"

"Kau melamun?" tanya Jordan. "Melamunkan apa sampai kau tidak sadar aku mengikutimu?"

"Maaf. Ada apa?"

"Ini," Jordan menyerahkan sebuah kartu ATM. "Pakailah sesukamu."

Nara diam memandang kartu itu. Lalu dia mengambilnya setelah melihat Jordan menyuruhnya dengan kode mata.

"Terima kasih," ucap Nara.

"Kau belum menjawab pertanyaanku tadi," kata Jordan.

"Huh?" Nara masih loading sampai akhirnya dia ingat. "Oh! Ibuku di rumah sakit."

"Oh. Kalau begitu aku akan pulang," Jordan terdiam sejenak lalu menyeringai, "atau kau mau kutemani?"

"A-apa? Ti-tidak, Tuan pulang saja. Istrimu pasti menunggu."

"Tapi aku merindukanmu." Jordan mendekati Nara, tapi Nara justru mundur ke belakang.

"Tu-tuan ..."

"Kenapa, hm?"

Nara terus mundur sampai punggungnya membentur pelan dinding di belakangnya. Dan Jordan memenjarakan Nara dengan kedua tangannya.

Sedangkan, Nara menoleh ke sana ke mari, tapi tidak ada cara untuk lepas dari Jordan. Wajah pria itu begitu dekat dengan Nara, bahkan dia bisa merasakan napas pria itu pada wajahnya.

"Kau cantik." Jordan mengelus pipi Nara lalu menyentuh rambut Nara. Kemudian dia mengirup helai rambut Nara. Gadis itu memejamkan mata dengan risih. "Aku suka baumu."

Jordan lebih mendekatkan wajahnya dan Nara menggeleng. Namun, seolah tak melihat Jordan terus memajukan wajah. Satu sentimeter lagi bibir mereka akan bertemu, Nara meremas kedua sisi bajunya di bawah.

Lalu sebuah panggilan masuk pada ponsel Jordan. "Ck! Sial!"

Jordan meraih ponselnya dan mengangkat panggilan itu. "Apa? Hm. Ya. Aku ke sana."

Dia kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya. "Aku pergi. Kau baik-baik di sini. Dan ..."

Jordan mencium pipi kiri Nara dan berkata, "Aku mencintaimu."

Nara merosot ke bawah setelah kepergian Jordan dari sana. Dia merasa lemas dan hancur. Apa-apaan itu tadi?

Dia menangis dengan menyembunyikan wajahnya di atas lutut. Kedua tangannya memeluk lututnya dan isak tangis mulai terdengar samar.

***

Pagi harinya di depan rumah Nara, sudah berdiri seorang wanita paruh baya di sana dengan dua orang pria bertubuh besar.

"Nara!" Suara teriakkan wanita itu mulai terdengar.

Dengan terburu-buru Nara membuka pintunya. "Nyonya. Masuklah dulu.

"Tidak," tolaknya, "aku ada urusan lain. Mana uangnya?"

"Sebentar, Nyonya." Nara masuk ke dalam rumah dan kembali dengan sebuah amplop penuh dengan uang di tangannya, yang kemarin diberikan oleh Gwen.

"Ini uangnya." Nara menyerahkan amplop itu dan diterima oleh si rentenir.

"Aku hitung dulu," kata si rentenir mulai menghitung uangnya. "Baiklah, hutangmu lunas."

"Terima kasih untuk semuanya, Nyonya." Nara membungkukkan badannya hormat.

"Hm." Rentenir itu memasukkan amplop ke dalam tasnya dan pergi dengan kedua bodyguard-nya itu.

Setelahnya Nara pergi ke rumah sakit. Hari ini adalah jadwal operasi ibunya dan dia harus ke sana secepatnya. Sesampainya, dia langsung menemui ibunya di kamar rawat pasien.

"Ibu, hari ini ibu akan di operasi."

Ibunya tersenyum lemah. "Semoga ibu masih bisa melihatmu lagi."

"Tentu saja. Kenapa ibu berbicara seperti itu?" Nara cemas, "Ibu akan sembuh."

"Hm. Ibu sangat sayang dan bangga padamu," kata ibunya memeluk sang anak.

"Maafkan aku, Ibu," ucap Nara membatin.

Ibu Nara pun dibawa ke ruangan operasi dan Nara menunggu di luar. Berjam-jam lamanya dan Nara dibuat gelisah karenanya. Dia terus saja mondar-mandir dan sesekali menggosok telapak tangannya yang terasa sangat dingin. Dia begitu gugup.

Setelah penantian panjangnya, akhirnya dokter pun keluar dan mengatakan pada Nara bahwa operasinya telah berhasil. Itu membuat Nara menangis terharu dan mengucapkan rasa terima kasih.

Ibu Nara dipindahkan kembali ke kamar inap. Nara duduk di samping ibunya yang terbaring dan belum sadar pasca operasi.

"Maafkan aku, Ibu," kata Nara di sela tangisnya. "Maaf ..."

Nara ingat bagaimana perjuangannya selama beberapa hari ini untuk mendapatkan uang. Sampai dia berakhir harus meminjamkan rahimnya untuk mengandung anak orang lain.

Dan itulah yang dia tangisi sekarang. Nara menyesali segalanya.

Setelahnya, Nara pergi ke kediaman Lee untuk menemui Jordan dan Gwen.

"Bagaimana operasinya?" tanya Gwen.

Nara menjawab, "Operasinya berhasil."

"Kita akan pergi menemui dokter setelah ibumu bisa pulang ke rumah," kata Gwen. "Untuk sementara waktu kau tinggal di sini saja. Saat ibumu pulang kau boleh menemuinya, tapi setelahnya kau harus kembali ke sini," lanjut Gwen menjelaskan.

"Baik. Saya mengerti," ucap Nara mengangguk.

"Aku pulang." Jordan datang dari arah pintu masuk. Pandangannya tertuju pada Nara, lalu dia berkata, "Ada yang ingin aku bicarakan denganmu, Nara."

"A-ada apa, Tuan?" tanya Nara gugup, entah kenapa dia masih merasa canggung dengan Jordan.

Pria itu kemudian duduk di samping Gwen. Di depan Nara.

"Kau mau melanjutkan kuliahmu?" tanya Jordan membuat Nara sedikit terkejut.

"Ku-kuliah?" Nara membeo.

"Ah, benar!" Gwen menyahuti. "Sebaiknya kau lanjutkan kuliahmu, Nara."

"Tapi ..." Nara terlihat ragu.

"Kami yang akan menanggung semua biayanya," timpal Jordan.

"Aku tidak ingin merepotkan kalian," ucap Nara sedikit menunduk dan tak enak hati.

"Hei ... kau bicara apa?" Gwen menyela, "Ini masih belum seberapa ketimbang apa yang kau lakukan untuk kami."

"Mau, ya?" lanjut Gwen sedikit memohon, "kumohon."

Mata Nara menatap Jordan dan pria itu mengangguk, mencoba meyakinkan Nara.

"Baiklah. Aku mau," jawab Nara membuat Gwen tersenyum dan Jordan sedikitnya menghembuskan napas.

"Bagus. Kalau begitu kau bisa satu kampus dengan adiknya Jordan," kata Gwen senang.

Nara mengangguk.

"Aku akan membersihkan diriku," kata Jordan pada Gwen dan pergi.

"Malam ini kau tidur saja di sini, ya," pinta Gwen pada Nara.

"Baik."

***

"Aku akan menginap di sini malam ini," kata Richard yang saat ini sedang berada di rumah Ricky.

"Kau sudah meminta izin kakakmu?" tanya Ricky padanya.

"Tentu saja."

"Kalau begitu ayo kita makan malam," ajak Ricky.

"Ayo!!!" jawab Richard penuh semangat.

"Semangat sekali, huh?" tanya Ricky dengan pandangan mengejek.

"Aku kelaparan dari tadi," sungut Richard membela diri dan Ricky hanya memutar mata malas.

Di rumah Jordan.

Mereka bertiga baru saja selesai makan malam.

"Aku sangat lelah. Jo, aku duluan," kata Gwen.

"Istirahat yang banyak," ucap Jordan mencium kening Gwen.

"Hm." Gwen pun pergi ke kamarnya.

"Pergilah ke kamarmu. Ini besok saja dibereskan oleh pelayan yang akan datang pagi-pagi," kata Jordan pada Nara yang merujuk pada beberapa tumpukan piring kotor di wastafel. "Kau jangan macam-macam, aku tidak mau kau bekerja di rumah ini."

"Ba-baik."

Nara dan Jordan sama-sama naik ke lantai dua. Mereka berpisah, Nara ke kamarnya dan Jordan juga pergi ke kamarnya dan Gwen.

Gwen sudah memberitahu Nara tadi di mana letak kamarnya. Dan itu ada di lantai dua di ujung lorong.

Nara masuk ke kamar dan langsung menjatuhkan dirinya di atas kasur. "Empuk sekali."

Kemudian, Nara bangkit dan menuju ke balkon. Dia membuka pintunya dan berdiri di sana dengan merentangkan kedua tangannya ke samping.

"Hah ... segarnya."

Lalu seseorang memeluknya dari belakang, membuatnya terkejut. "Tuan!"

"Hm." Jordan meletakkan dagunya di pundak Nara. Pria itu sudah mengganti pakaian dengan piyama.

Nara berpikir. Apakah pria ini mandi? Tapi tubuhnya wangi segar sabun mandi. Tapi apakah secepat itu dia mandi?

"Le-lepas, Tuan."

Jordan tidak menghiraukan dan malah mencium pipi kanan Nara dengan posisi yang masih sama. "Tidak akan. Aku suka seperti ini."

"Tuan, kumohon." Nara mulai berkaca-kaca.

Jordan membalikkan badan Nara agar menghadap padanya dan mengusap kedua pipi Nara. "Ssttt ... jangan menangis. Aku tidak akan menyakitimu, sayang."

"Tuan, kumohon jangan seperti ini." Nara menatap Jordan dengan memohon.

Jordan hanya tersenyum kemudian mencium bibir Nara dengan lembut. Sedangkan, Nara yang terkejut akan perlakuan Jordan hanya bisa diam mematung.

Ciuman itu hanya menempel, tapi cukup lama. Ciuman itu baru terlepas setelah sebuah panggilan masuk ke ponsel Jordan.

Jordan kembali mengelus pipi Nara sebelum mengangkat panggilan telepon itu. "Aku pergi dulu, sayang."

Jordan mencium lembut kening Nara lalu pergi. Meninggalkan Nara yang terduduk di balkon itu dan menangis.

Jordan berjalan menuruni tangga. "Sial! Dia sangat manis," geram Jordan mengusap bibirnya dengan punggung tangan.

Jordan mengangkat panggilan teleponnya. "Ada apa? Si bedebah itu? Singkirkan dia."

Jordan kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku piyama. Dia kemudian mengambil Coat tebal dan panjang yang berada di sofa, lalu pergi ke luar.

"Merepotkan," katanya sambil mulai menyalakan mobil.

***

Hari ini adalah hari kepulangan ibu Nara dari rumah sakit. Dan Nara datang ke rumah sakit untuk menjemput ibunya.

Kini Nara dan ibunya sudah sampai di rumah mereka, keduanya berada di dalam kamar ibunya.

"Ayo, Bu." Nara membantu ibunya untuk duduk di atas kasur. "Istirahatlah."

"Ibu masih tidak percaya kalau ibu bisa sembuh," ucap ibu Nara.

Nara tersenyum dan membaringkan ibunya lalu menyelimutinya. "Aku juga, Bu. Untuk sementara waktu ibu istirahat saja, ya."

"Iya, Nak."

"O, ya, Bu." Nara teringat sesuatu. "Mulai besok, Nara akan tinggal di rumah majikan Nara. Apa tidak masalah?"

"Tidak apa-apa, Nak. Kau bekerja untuk mereka, layani mereka dengan baik, ya."

"Iya, Bu."

"Kemarilah. Malam ini ibu ingin tidur bersamamu."

"Nara juga," kata Nara berbaring di samping ibunya. "Ibu?"

"Kenapa, hm?"

"Aku akan melanjutkannya kuliah lagi."

"Benarkah?" Ibu Nara terkejut dan menatap Nara tak percaya.

Nara mengangguk.

"Apa ini mimpi?" Ibunya mendekap Nara erat, "ibu sangat bahagia, Nak."

Nara dan ibunya saling berpelukan dan menangis bersama. Jika ibunya menangis bahagia bercampur haru, maka Nara menangisi hal yang lainnya.

***

Hari berikutnya Nara pergi ke rumah Gwen. Hari ini adalah jadwal Nara menemui dokter. Nara dan Gwen sudah berada di jalan dengan Gwen yang menyetir mobil.

"Nara, hari ini kita akan memulai semuanya," kata Gwen membuat Nara sedikit gugup dan gelisah. "Dan untuk kuliah, kau akan mulai masuk besok."

"Saya mengerti, Nyonya."

Mereka berdua sampai di sebuah rumah sakit dan langsung menemui seorang dokter wanita kenalan Gwen. Dokter itu bernama Sena.

Seorang dokter cantik dan tinggi, usianya sekitar 31 tahun.

"Selamat datang nona Lee," sambut dokter Sena. "Silakan duduk."

Nara dan Gwen duduk di depan meja dokter tersebut.

"Jadi, gadis di sampingmu ini yang akan menjadi ibu pengganti itu?" tanya dokter Sena.

"Iya, dokter Sena. Mohon bantuannya," kata Gwen.

Dokter Sena menatap menelisik Nara. "Sepertinya dia masih cukup muda," tebak dokter Sena.

"Dia 21 tahun," jawab Gwen.

"Siapa namamu?" tanya dokter Sena pada Nara.

"Yoo Nara, Dok," jawab Nara.

"Nama yang bagus." Dokter Sena mengangguk. "Baiklah, kita akan mulai dari tahap awal dulu."

"Mari," ajak dokter Sena pada keduanya.

Mereka pun pergi menuju sebuah ruangan khusus.

Dokter pun mulai memeriksa kondisi Nara, dari mulai memeriksa kadar estrogen dalam darahnya sampai melakukan USG transvaginal.

"Selanjutnya aku akan menyuntikkan obat pada Nara. Obat ini bertujuan untuk kesuburan pasien." Dokter Gwen menjelaskan.

"Lihat dan perhatikan, aku akan mengajari kalian cara menyuntikkan obatnya jikalau di rumah. Lakukan ini 1-4 kali sehari dalam seminggu. Dan beberapa hari sekali datanglah lagi kesini, untuk memantau perkembangan sel telur dan memeriksa kadar Estradiol." Dokter Sena kembali menjelaskan.

"Nah, pertemuan kali ini sampai di sini saja. Kalian boleh pulang," kata dokter Sena tersenyum ramah.

"Terima kasih, Dok," kata Gwen.

"Sama-sama, nona Lee."

"Kalau begitu kami permisi," pamit Gwen dan kemudian pergi dari rumah sakit itu bersama Nara.

Kini keduanya sudah berada di dalam mobil untuk pulang.

"Nyonya?"

"Kenapa?" tanya Gwen melirik Nara sebentar lalu kembali fokus ke jalan.

"Jika bayi tabung, kenapa nyonya tidak melakukannya sendiri?" tanya Nara membuat Gwen diam sejenak.

"Nara, satu hal lagi yang perlu kau ketahui. Selain aku mandul, kondisi fisikku juga sangat lemah. Aku dan Jordan sering melakukan ini, tapi hasilnya tetap gagal. Pernah satu kali kami hampir berhasil, tapi itu membuatku hampir kehilangan nyawa. Dan sejak itu, Lee tidak pernah mau mencoba apapun lagi. Apalagi setelah sesuatu terjadi padaku dan aku dinyatakan tidak bisa hamil lagi. Jadi ..." Gwen menjelaskan panjang lebar, "kau sudah mengerti, kan?"

Nara mengangguk paham. Dia merasa kasihan pada Gwen, Nara berpikir entah bagaimana rasanya divonis tidak bisa memiliki anak seumur hidup.

"Pasti sangat berat untuk Nyonya."

Gwen tersenyum. "Ya. Semuanya terasa berat untukku, tapi ... selama suamiku ada di sampingku, maka semuanya akan terasa lebih baik."

Nara terdiam.

"Di mana rumahmu," tanya Gwen membuat Nara kaget.

"Ya? Oh! Satu belokkan lagi," jawab Nara.

"Aku ingin menemui ibumu," kata Gwen menjawab kebingungan Nara.

Keduanya pun sampai di rumah Nara. Gwen disambut ibu Nara dengan hangat. Ketiganya pun duduk di ruang tamu minimalis rumah Nara dan ibu Nara.

"Silakan diminum, Nyonya," kata ibu Nara menyuguhi Gwen. "Maaf, kami tidak punya apa-apa untuk disuguhkan."

Gwen tersenyum lembut. "Tidak perlu repot-repot. Ini saja sudah cukup, Bibi."

"Jadi, apa Nara bekerja dengan baik?" tanya ibu Nara menatap anaknya dengan khawatir.

"Tentu saja," kata Gwen, "Nara menjadi asisten pribadiku sekarang dan pekerjaannya sangat baik."

Nara hanya duduk di samping ibunya dengan canggung.

"Oh, ya. Apa bibi mau jika pindah ke sebuah apartemen?" tanya Gwen membuat keduanya kaget.

Nara dan ibunya saling beradu pandang.

"Terserah ibu saja," kata Nara pada ibunya.

Ibu Nara tersenyum pada Gwen. "Bukannya saya tidak mau, tapi di sini banyak kenangan tentang suami saya. Dan saya ingin mengenangnya selama sisa hidup saya," tolak ibu Nara dengan halus, tak ingin menyinggung Gwen.

Gwen tersenyum. "Saya mengerti, Bi. Baiklah kalau begitu, ini ..." Gwen menyodorkan sebuah kartu ATM di atas meja untuk ibu Nara. "Tolong pakailah ini sebaik mungkin, Bi."

"Ny-nyonya, ini tidak perlu," kata ibu Nara tergagap.

"Tidak. Saya mohon terimalah," paksa Gwen.

Ibu Nara menatap Nara meminta pendapat dan Nara mengangguk. Ibu Nara tersenyum dan dengan sedikit berat hati menerima kartu ATM itu.

"Terima kasih banyak, Nyonya," kata ibu Nara.

"Sama-sama."

Setelah mengobrol lama, Gwen dan Nara pun pamit pulang pada ibu Nara. Keduanya pulang jam tujuh malam.

Dan pada hampir tengah malam. Nara merasa kehausan dan turun ke dapur untuk mengambil minum.

Sedangkan, di arah pintu masuk rumah, Richard datang. Dia baru pulang setelah kemarin menginap di rumah Ricky.

"Jordan akan marah tidak, ya? Aku baru pulang dari kemarin. Tapikan ... aku sudah meminta izin padanya."

Merasa haus Richard pun berbelok ke dapur untuk minum. Dia merasa pusing dan memijat keningnya, Richard tidak memperhatikan jika pintu kulkas itu terbuka.

Nara menutup pintu kulkas setelah minum dan berbalik, dia bisa melihat Richard yang berdiri di depannya.

"AAAGGHHH!!" Keduanya sama-sama menjerit kaget dan melotot.

"Nara?"

"Richard?"

Keduanya saling menunjuk satu sama lain.

"Ke-kenapa kau di sini?" tanya Richard.

"Kau sendiri kenapa di sini?" tanya balik Nara.

"Ada apa ini?" tanya Jordan di belakang Richard. Gwen juga berada di samping Jordan, mereka berdua turun setelah mendengar teriakkan Nara dan Richard.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel