Bab 7 Tawaran 2
"Makanlah."
Jordan sejak beberapa menit yang lalu mencoba membujuk Gwen agar mau makan.
"Tidak mau."
Dan wanita itu akan mengatakan penolakan yang sama.
"Kalau tidak mau makan bagaimana kau bisa sembuh?"
Sudah dua hari ini Gwen terbaring sakit. Dia memikirkan bagaimana caranya memiliki anak dan membujuk Jordan agar setuju.
Jordan mencoba menyuapi istrinya dengan bubur itu. Namun, Gwen tetap tidak mau membuka mulutnya.
"Makanlah." Jordan mencoba sekali lagi.
"Nanti kumakan."
"Baiklah. Terserah padamu saja." Jordan menyerah. "Aku akan pergi ke kantor."
"Hm."
Jujur. Jordan sudah lelah membujuk istrinya itu untuk makan.
Di tempat lain.
Nara masih berkeliling untuk mencari pekerjaan atau pinjaman uang. Tapi tidak satu pun yang membuahkan hasil.
"Aku harus ke mana lagi?"
Nara jatuh terduduk di atas trotoar, dia sudah sangat lelah dengan semuanya. Rentenir itu pasti akan menagih lagi besok dan dia tidak punya uang. Dia sudah tidak punya pekerjaan lagi.
Tiba-tiba seseorang menaruh jaket di atas kepalanya. Nara mendongak dan mendapati Samuel yang berdiri di sana.
"Di sini panas. Ayo pindah," ajak Samuel mengulurkan tangannya.
Nara meraih tangan Samuel untuk berdiri. Lalu mereka berdua berjalan ke sebuah bangku di bawah pohon. Mereka duduk di sana.
"Kenapa? Kau ada masalah?" tanya Samuel.
Nara menggeleng lemah. "Tidak ada."
"Benarkah? Tapi kenapa aku tidak percaya, ya?"
Nara hanya diam tanpa berniat menyahutinya.
"Oh! Kau mau ikut?" tawar Samuel mengalihkan topik pembicaraan.
"Ke mana?"
"Nanti kau tahu."
Samuel menarik tangan Nara untuk mengajak gadis itu pergi. Nara yang bingung pun hanya mengikuti saja.
Dan ternyata Samuel mengajaknya ke sebuah restoran.
"Kenapa membawaku ke sini?" tanya Nara.
"Temani aku makan." Nara hendak protes sebelum di potong oleh Samuel. "Tidak ada penolakan."
Dan Nara pun hanya pasrah. Dia juga ikut makan karena dipaksa oleh Samuel.
Setelah mereka jalan-jalan sebentar dan mengobrol. Nara diantar pulang oleh Samuel ke rumahnya.
"Terima kasih sudah mengantarku," ucap Nara tersenyum pada Samuel.
"Terima kasih juga untuk hari ini. Maaf sudah menculikmu."
Nara terkekeh. "Tidak masalah."
"Aku pulang, ya," pamit Samuel.
Nara mengangguk. "Hati-hati."
Samuel pergi dan Nara masuk ke dalam rumahnya. Nara membersihkan diri dan menyiapkan bahan makanan untuk makan malam.
Dia tidak akan ke rumah sakit malam ini. Tadi dia sudah menelepon ibunya meminta izin dan ibunya juga mengizinkan Nara.
Keesokan harinya, Nara buang seperti biasanya. Dia mulai membersihkan wajah, gosok gigi, beres-beres rumah dan sebagainya.
Setelah selesai Nara pun mandi, sarapan, dan bersiap untuk pergi ke rumah sakit.
Tiba-tiba pintu rumahnya diketuk dengan sangat keras dan bertenaga.
Siapa yang menggedor pintu sekeras itu pagi-pagi? Pikirnya.
Sedetik kemudian terdengar teriakan dari seorang wanita paruh baya, yang meneriakkan namanya.
"Astaga! Itu ..." Nara mengenali siapa pemilik suara itu.
Nara buru-buru membuka pintu dan di sana sudah ada si rentenir itu dengan kedua bodyguard-nya.
"Ny-nyonya?"
"Jangan banyak alasan, ya, Nara! Cepat bayar hutangmu atau kau pergi dari sini!"
Nara berlutut. "Nyonya, beri saya waktu lagi."
"Halah! Aku sudah sering memberikanmu waktu."
"Saya mohon, Nyonya."
"Kalian, seret gadis ini dan keluarkan barang-barangnya," katanya pada kedua bodyguard itu.
"Jangan! Saya mohon! Saya mohon beri saya waktu sedikit lagi."
"Halah!" Si rentenir hendak melayangkan protes lagi sebelum dipotong oleh Nara.
"Besok," ucap Nara dengan cepat. "Beri saya waktu sampai besok. Saya janji akan melunasinya, saya mohon!"
Si rentenir itu terlihat berpikir sejenak. Menimbang-nimbang keputusannya.
"Baiklah. Aku beri waktu sampai besok, tapi jika besok kau belum bisa bayar juga. Rumah ini yang akan jadi jaminannya," finalnya.
Rentenir itu pun pergi meninggalkan Nara yang mulai terisak.
"Aku harus bagaimana?" gumam Nara dengan nada frustrasi.
Lalu dia berlari ke kamarnya dan mengambil sesuatu di sana. Nara mengetikkan sebuah nomor yang tertera di kartu nama itu dan menghubunginya.
Panggilan itu tersambung lalu seseorang mengangkatnya.
"Halo, Nyonya. Ini saya, Yoo Nara. Saya ingin bertemu."
Di sisi lain.
Gwen masih terbaring di atas ranjangnya. Ponselnya berdering dan di sana tertera sebuah nomor yang tidak dia ketahui menelepon.
Dengan lemas dia mengangkat panggilan itu.
"Ya, halo? Siapa?"
Sesaat kemudian Gwen membelalakkan matanya. "Baiklah. Aku akan kirim alamatnya padamu."
Dan di sinilah Gwen dan Nara. Keduanya berada di sebuah restoran Italia, Gwen yang mengajaknya untuk bertemu di sana.
"Seharusnya kita bertemu di rumah Nyonya saja jika sedang sakit."
"Tidak. Aku juga ingin mencari udara segar di luar rumah, aku bosan di rumah terus."
Pesanan mereka datang dan mereka berdua mulai memakannya.
"Jadi, ada apa?" tanya Gwen sambil menyendok makanan ke dalam mulutnya.
Nara terdiam sejenak.
"Begini, Nyonya. Em ... saya ..." ucap Nara ragu-ragu.
"Katakanlah."
Nara menghela napasnya. "Saya terima tawaran Nyonya."
Gwen terkejut. "Kau serius?"
Nara mengangguk mantap. "Iya, Nyonya."
"Oh, astaga! Aku senang sekali," girang Gwen tersenyum lebar. "Baiklah. Kita bicarakan ini lagi dengan suamiku, nanti malam datanglah ke rumahku."
"Baik, Nyonya."
"Makanlah yang banyak."
***
Setelah urusannya selesai. Nara pergi menemui ibunya di rumah sakit.
"Ibu ..." Nara mengelus rambut ibunya.
"Kenapa, hm?" tanya ibunya lemah.
"Ibu akan segera sembuh, aku janji."
Ibunya tersenyum. "Bagaimana pekerjaanmu?"
Pertanyaan ibunya membuat Nara gugup.
"A-aku ... pindah kerja, Bu."
"Benarkah? Di mana?"
"Di sebuah rumah. Tidak apa-apa, kan, Bu?"
"Jika mereka baik, tak masalah, sayang. Pekerjaan di rumah juga tidak ada salahnya."
Nara tersenyum kecut lalu memeluk ibunya yang sedang terbaring.
"Aku sayang ibu."
"Ibu juga," balas ibunya mengelus rambut Nara.
Satu tetes air mata Nara jatuh tanpa diketahui ibunya.
Malam harinya.
Nara pergi ke rumah Gwen untuk membicarakan perihal kesepakatan mereka.
Sedangkan di dalam rumah keluarga Lee itu, tampak Gwen dan Jordan sedang berbicara di ruang keluarga.
"Richard belum pulang?" tanya Jordan.
"Katanya dia ke rumah Ricky terlebih dahulu."
"Oh."
"Jo, aku sudah menemukan orang yang mau menjadi ibu pengganti kita."
Jordan mengernyitkan dahi. "Kau benar-benar mau melakukannya?"
"Iya, sayang." Gwen memeluk Jordan lalu melepaskannya.
"Kau sudah setuju, ingat!"
Ya, sebelumnya mereka sudah membicarakan perihal ini saat Gwen sakit, Jordan tidak tega dan akhirnya menyetujui itu.
"Hm."
"Dia akan datang sebentar lagi," kata Gwen.
Alis Jordan terangkat meminta penjelasan lebih.
"Untuk membicarakan semuanya," jelas Gwen dan Jordan mengangguk mengerti.
Ting! Tong!
Sura bel rumah mereka berbunyi.
"Kurasa itu orangnya," tebak Gwen. "Aku buka pintu dulu, ya."
"Hm." Jordan hanya fokus pada ponselnya.
Gwen membuka pintu rumahnya dan tersenyum. "Kau sudah datang?"
Nara ikut tersenyum dan mengangguk.
"Ayo masuk, suamiku juga sudah menunggu."
"Baik."
Gwen membawa Nara masuk ke dalam dan menuju ruang keluarga. Saat sampah Nara berhenti sejenak, dia melihat sosok yang beberapa waktu aku menciumnya di rumah sakit, duduk di sofa dengan tangan di ponselnya.
"Kenapa?" tanya Gwen. "Ayo. Tidak usah malu."
"Ba-baik." Nara gugup dan matanya tidak bisa lepas dari sosok di depan sana yang masih fokus pada ponselnya.
"Sayang," Gwen berbicara pada Jordan, Nara langsung menoleh pada Gwen, "ini orang yang mau menjadi ibu pengganti untuk kita."
Jordan menaruh ponselnya dan mendongak. Nara dan Jordan bertemu pandang, keduanya sama-sama terkejut. Pupil mata Jordan juga membesar.
Nara terkejut karena orang yang menciumnya itu adalah suami dari Gwen. Dan Jordan terkejut karena yang mau menyewakan rahimnya itu ada Nara. Gadis yang berusia 21 tahun.
Di rumah Ricky.
Ricky dan Richard sedang bermain game.
"Yaish! Kau curang!" teriak Richard.
"Bagian mana yang kau sebut curang?" tanya Ricky.
"Aku mau pulang."
"Mau kuantar?"
"Aku bukan anak kecil lagi," ucap Richard menatap sinis pada Ricky.
"Ini sudah malam, lho."
"Siapa bilang ini masih pagi?"
"Ish! Aku serius! Mau diantar tidak?"
"Aku bawa mobil, Ricky!" Richard ikut emosi jadinya.
"Aku lupa, hehe."
"Sampai jumpa besok."
"Hm, hati-hati."
Kembali lagi ke kediaman Jordan.
"Jadi, kau hanya akan mengandung anak kami sampai kau melahirkan," kata Gwen menjelaskan. "Kau mengerti, kan?"
"Saya mengerti," sahut Nara yang duduk di hadapan Gwen.
"Aku sudah menyiapkan surat kontraknya," ucap Gwen menyerahkan dua lembar kertas.
Itu adalah surat kontrak mereka. Yang satu lembar untuk dipegang Nara dan yang satunya lagi untuk Gwen sendiri.
"Dan selama kau mengandung anakku, kau akan tinggal di sini," ucap Gwen.
"Apa?" Nara kaget. "Kenapa harus begitu?"
"Kau mau dikatai orang-orang?" timpal Jordan dengan nada sinis.
Nara menggeleng.
"Bersikap lembutlah padanya, Jo." Gwen menatap Jordan lalu pada Nara. "Dan untuk ibumu, biar aku yang bicara padanya nanti."
"Baik, Nyonya. Saya mengerti."
"Apa kau butuh uang sekarang?" tanya Gwen.
Nara meremas kedua tangannya. "Saya butuh uang 100 juta untuk sekarang."
"Untuk membayar hutangku besok," lanjut Nara.
"Baiklah. Aku akan mengambilnya. Sebentar, ya." Gwen pun pergi ke kamarnya.
Jordan menatap Nara dengan tatapan tajamnya, membuat Nara menundukkan kepala.
"Kenapa kau melakukan ini?" tanya Jordan dengan suara yang sarat akan kemarahan.
Nara diam.
"Jawab aku Yoo Nara."
"Saya butuh uang."
"Kau-" ucapan Jordan terpotong dengan kedatangan Gwen.
"Nara, ini uangnya. Pakailah," kata Gwen menyerahkan sebuah amplop berwarna cokelat yang gemuk.
Nara menerima amplop yang berisi uang itu.
"Untuk sisanya biar aku yang mengurusnya," kata Jordan.
"Aku serahkan padamu." Gwen menimpali.
Richard sedang bersenandung kecil di dalam mobil ketika dia melihat Jordan satu mobil dengan seorang gadis.
"Itu, kan ... Jordan dan ..." Richard memicingkan mata. "Nara?"
"Mereka saling kenal?" Richard bertanya dalam kebingungannya.
Di dalam mobil Jordan, auranya sangat mencekam. Tidak ada yang bersuara dari mereka.
Ya, Jordan mengantarkan Nara untuk pulang.
"Kenapa?" tanya Jordan.
Mengerti. Nara pun menjawab, "Bukannya tadi sudah saya jawab, Tuan?"
"Kenapa harus dengan cara ini? Kenapa untuk mendapatkan uang kau harus membayarnya dengan kehamilan?" Jordan berteriak kesal padanya.
Nara menjawab, "Tuan. Segala sesuatu itu ada imbalan yang harus dibayar dengan impas."
"Jadi semua ini wajar," lanjut Nara.
Jordan memberhentikan mobilnya di tepi jalan.
"TAPI TIDAK DENGAN MENJADI IBU PENGGANTI, NARA! KAU MASIH TERLALU MUDA!"
"LALU AKU HARUS BAGAIMANA? AKU SUDAH TIDAK PUNYA JALAN KE LUAR LAGI!"
"KAU BISA MEMINTANYA PADAKU!"
"DAN KAU PASTI JUGA MEMINTA IMBALAN ATAS ITU SEMUA, KAN?" Nara menjawab telak.
Jordan terdiam, matanya menatap lurus ke depan. Dan Nara mulai terisak.
"Jawab aku, Tuan. Kau juga meminta imbalan atas itu semua nantinya, kan?" tanya Nara disela isak tangisnya. "Jawab!!"
"Ya!! Aku akan memintamu menjadi milikku!"
"Lalu apa bedanya?" Nara mulai menangis tersedu.
"Setidaknya, kenapa kau mau menjadi ibu pengganti?" tanya Jordan, suaranya melembut.
"Lalu sekarang aku harus bagaimana? Semuanya sudah terlanjur."
"Kita batalkan kontraknya. Aku bisa mencari pekerjaan yang layak untukmu."
"Dan membuat nyonya Gwen kecewa?"
Jordan terdiam. Nara benar. Dia masih ingat bagaimana kondisi Gwen saat memikirkan bagaimana caranya dia ingin memiliki anak. Entah apa yang akan terjadi jika kontrak ini dibatalkan.
"Tuan tidak lihat? Bagaimana nyonya Gwen sangat senang dengan semua ini."
Ya. Jordan melihatnya. Dia melihat bagaimana Gwen begitu antusias atas kesepakatan ini.
Jordan menatap nanar pada Nara. "Lalu bagaimana denganmu?"
Nara diam sebentar. "Aku akan tetap menjalani semua ini."
Nara menundukkan kepalanya dan kembali menangis.
Jordan meraih tubuh Nara dan memeluknya. Nara ingin berontak, tapi kali ini Nara memang membutuhkan sebuah pelukan. Semuanya terasa berat di pundak Nara dan ia ingin menumpahkan semuanya dalam dekapan seseorang.
"Menangislah sepuasmu."
Di kamar Richard, dia sedang melamun sendiri. Dia masih memikirkan kejadian tadi, di mana dia melihat kakaknya dan Nara dalam satu mobil.
Ada hubungan apa antara Nara dan kakaknya? Itulah pertanyaan yang terus bersarang di kepalanya.
"Yaish!!" Richard mengacak rambutnya. "Apa yang aku pikirkan? Mungkin mereka memang ada kepentingan. Sudah, aku mau tidur."
Richard menarik selimutnya sampai menutupi seluruh tubuhnya. Dan terlelap.
Bagaimana nasib Nara kedepannya?
Entahlah, tidak ada yang tahu.
Bersambung...
