Bab 6 Tawaran
Di taman rumah sakit Nara duduk di salah satu bangku yang ada di sana sambil menangis.
"Kenapa orang itu menciumiku?" tanya Nara entah pada siapa.
"Nara?" Seseorang datang menghampiri Nara.
Nara menghapus air matanya lalu mendongak. Dia mendapati Gwen yang sedang berdiri.
Gwen pun duduk di samping Nara dan bertanya, "Kenapa kau menangis?"
"Ti-tidak apa-apa."
"Hei, kau bisa cerita padaku."
Nara menundukkan kepala.
"Tak apa, anggap saja aku teman," ucap Gwen meyakinkan Nara.
Kemudian Nara menatap Gwen yang tersenyum lembut padanya.
"Mau cerita?" tanya Gwen kembali memastikan.
Nara menghela napas. "Ibuku sakit, dia harus segera dioperasi. Dan aku juga masih harus membayar hutangku."
"Aku tidak tahu lagi bagaimana caranya mendapatkan uang sebanyak itu," lanjut Nara.
Gwen mengusap punggung Nara. "Aku turut bersedih. Semoga kau cepat menemukan jalan keluarnya."
Nara mengangguk kecil. "Terima kasih, Nyonya."
"Ah, ya! Ini kartu namaku." Gwen mengisi Katy namanya. "Bermainlah ke rumahku kapan-kapan, mungkin aku bisa sedikit mengurangi bebanmu."
Nara mengambil kartu nama itu. "Aku tidak ingin banyak berhutang, Nyonya."
"Hei, kau bisa bekerja apa saja padaku. Atau bekerja di agensi yang menaungiku juga tak masalah. Aku bisa mencarikan posisi yang tepat untukmu," jelas Gwen panjang lebar.
Nara tersenyum. "Terima kasih."
"Tak masalah."
"Oh, sepertinya aku harus kembali ke dalam. Aku takut ibuku akan mencariku, aku sudah pergi terlalu lama," pamit Nara dan diangguki oleh Gwen.
Setelah kepergian Nara tak lama Jordan pun datang menghampiri Gwen. Pria itu ikut duduk di samping istrinya dan merangkul pundak Gwen.
"Sedang apa dia ini, hm?" tanya Jordan.
Gwen menjawab, "Hanya mencari udara segar."
"Apa kau lapar?" tanya Jordan lagi.
"Sangat."
"Ayo cari makan," ajak Jordan.
"Ayo."
Nara membuka pintu kamar rawat ibunya. Dia masuk ke dalam dan menghampiri sang ibu.
"Ibu sudah sadar?" tanya Nara yang melihat ibunya sedang melihat sekeliling ruangan.
"Oh, Nara! Kenapa ibu bisa di sini?" tanya ibunya heran.
"Tadi ibu pingsan," jelasnya. "Apa yang ibu rasakan sekarang?"
Ibunya tersenyum. "Hanya tidak enak badan. Kapan ibu bisa pulang?"
"Kita tunggu instruksi dari dokter, ya, Bu."
"Jangan terlalu lama, kita tidak punya uang."
Nara tersenyum menenangkan ibunya. "Itu urusan Nara. Ibu jangan memikirkan apa pun, fokus saja pada kesehatan ibu."
"Tapi-"
"Ssttt ... aku akan panggil dokter. Ibu tunggu di sini." Nara beranjak pergi meninggalkan ibunya yang melamun.
***
Richard sedang asyik menonton televisi di kamar rawat ibunya.
"Richard?" Ibunya memanggil.
"Hm?" Richard menjawab tanpa menoleh.
"Cepatlah lulus kuliah," kata ibunya memandang punggung Richard.
Pria itu pun menoleh. "Kenapa?"
"Agar kau cepat menikah."
"Uhuk!!" Richard tersedak ludahnya sendiri. "A-apa?" Dia menatap horor ibunya.
"Atau sebaiknya kau menikah sekarang saja. Tidak apa-apa menikah di usia muda, sambil lanjut kuliah juga tak masalah." Ibunya terus berceloteh.
Sementara Richard hanya menatapnya dengan ternganga.
"I-ibu ..." Richard tidak melanjutkan perkataannya.
"Kenapa? Ibu hanya ingin segera punya cucu darimu."
Richard terdiam. Kini kedua bibirnya tertutup rapat. Dia tahu apa alasan ibunya menyuruh Richard untuk segera menikah.
Dan saat itu Jordan dan Gwen pun masuk ke dalam kamar rumah sakit itu.
"Ah, kalian dari mana?" tanya ibunya.
"Makan siang." Jordan menjawab singkat.
Richard melotot. "Kau tidak mengajakku?"
Jordan hanya menatap datar pada Richard.
"Kejam sekali," cibir Richard.
"Ini. Aku bawakan makanan untukmu," kata Gwen menyerahkan sebuah bungkusan.
"Terima kasih, Kakak ipar." Richard menjulurkan lidahnya pada Jordan dan berkata, "Kau pelit."
"Itu juga bayar pakai uangku," jawab Jordan santai tanpa merasa tersinggung.
Richard hanya mengangkat kedua bahunya tak peduli dan langsung makan.
Malam harinya mereka semua pulang, setelah sebelumnya Jordan mengantarkan ibunya pulang.
Kini mereka bertiga sedang duduk di ruang keluarga di rumah Jordan, dengan Richard yang sudah terkantuk-kantuk.
"Jo?" Gwen memanggil.
"Hm?"
"Apa kita adopsi anak saja, ya?"
Jordan diam tak membalas.
"Ibu benar-benar menginginkan cucu, Jo."
Sebenarnya mereka berdua tadi sempat mendengar perkataan ibunya pada Richard saat di rumah sakit. Dan itu membuat Gwen terus memikirkannya.
"Kita pikirkan itu lain kali," kata Jordan.
Gwen lebih memilih untuk diam, dia takut jika Jordan akan marah lagi seperti malam sebelumnya.
Pagi harinya Gwen sedang membaca sebuah artikel di ponselnya. Artikel itu berjudul "Surrogate mother's".
Di artikel itu dijelaskan tentang tetek-bengeknya apa dan bagaimana itu Surrogate mother's.
"Hm ... ibu pengganti, ya." Gwen mengangguk-anggukkan kepalanya. "Bayi tabung. Ini ide yang bagus, aku harus mengatakannya pada Jordan."
Tak lama Jordan pun turun dan disusul oleh Richard di belakangnya. Jordan memeluk dan mencium kening istrinya, sementara Richard berdiri di ujung anak tangga.
"Sedang apa, hm?" tanya Jordan.
"Aku ingin bicara," kata Gwen to the points.
"Katakan saja."
"Emh, lihat ini!" Gwen menunjukkan artikel itu pada Jordan.
Pria itu membacanya sejenak dan terdiam cukup lama.
"Lalu?" Itu pertanyaan yang keluar dari mulut Jordan.
"Bagaimana jika kita melakukan ini saja?" Gwen memberi usulan. "Kita akan mencari ibu pengganti. Dia akan hamil dengan melalui proses bayi tabung, dan dia akan mengandung anak kita sampai dia melahirkan. Bagaimana?"
Jordan tidak langsung menjawab, ada banyak kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi yang dia pikirkan.
Dan Richard masih bersifat di tempatnya tanpa bisa mendengar apa yang mereka berdua diskusikan.
"Jo?" Gwen masih berharap.
"Aku lapar. Ayo kita sarapan," kata Jordan sambil berlalu pergi.
"Hah ... aku tidak akan menyerah," ucap Gwen pada dirinya sendiri dan mengikuti Jordan ke dapur.
***
Nara berjalan menunduk menuju ke tempat kerjanya. Dia masih bingung bagaimana caranya mendapatkan uang dengan cepat.
"Aku harus bagaimana?" gumamnya.
Lalu dia tanpa sengaja menabrak seseorang dan meminta maaf.
"Nara?"
"Richard?"
"Hai, kita bertemu lagi," kata Richard tersenyum lebar.
Nara ikut tersenyum. "Kau mau pergi kuliah?"
"Iya. Kau sendiri mau bekerja, ya?"
"Iya."
"Apa ada yang berbuat masalah lagi?" tanya Richard.
"Tidak ada. Oh, ya! Ke mana temanmu?"
"Hari ini kami tidak berangkat bersama. Kurasa lain kali kami akan berkunjung ke kafe lagi."
"Iya, aku tunggu."
Dan mereka berdua pun berpisah.
Ricky berjalan di area kampus dengan headset di kedua telinganya.
Beletak!!
Itu suara pukulan. Ada seseorang yang memukul belakang kepalanya.
"Agh!" Ricky berteriak dan berbalik. "Kau? Sakit tahu!"
"Rasakan! Kenapa meninggalkanku?" tanya Richard.
"Hehe, lupa. Maaf."
"Ck! Terserah."
"Oh ... Tua putri merajuk," goda Ricky main-main.
"Hei! Bantet!" Richard berteriak marah.
"Hahahaha," tawa Ricky pecah.
"Menyebalkan."
***
Nara sedang melayani pelanggan kafe seperti biasa, sampai seseorang masuk dan menyapanya.
"Hai, kita bertemu lagi."
"Kau?" Nara terbelalak.
"Oh, ya. Siapa namamu?" tanya pria tersebut.
"Aku Nara," Nara menjawab. "Dan kau?"
"Samuel Han," ucap pria itu tersenyum.
"Terima kasih untuk waktu itu," kata Nara merujuk pada saat dia diantar pulang oleh Samuel malam hari.
"Tak masalah. Ah, aku pesan moccha satu."
"Baik. Mau tunggu di sini atau nanti kuantarkan?" tanya Nara.
"Aku tunggu di sini saja."
"Baiklah, tunggu sebentar, ya."
Nara mulai meracik kopinya dan setelah selesai dia menyerahkannya pada Samuel.
"Ini. Selamat menikmati," kata Nara.
"Terima kasih."
Samuel pergi duduk dan seseorang masuk untuk memesan.
"Moccha satu, sayang," ucap pria itu membuat Nara yang awalnya menunduk menoleh padanya.
"Hai," sapa pria itu menyeringai seperti biasa.
Nara mulai meracik kopi tanpa menghiraukan Jordan di sana. Dan setelah selesai Nara pun menyerahkannya.
"Mana kata-katanya?" tuntut Jordan.
"Selamat menikmati, Tuan."
Jordan tersenyum miring dan meraih tangan kanan Nara untuk mengecupnya tanpa ada yang tahu. Sontak itu membuat Nara terkejut dan menarik tangannya.
Sedangkan Jordan hanya menyeringai dan pergi duduk di meja sana. Jordan melihat Samuel dan menatap tidak suka pada Samuel, yang ditatap hanya sibuk dengan kegiatannya tanpa tahu apa-apa.
***
"Siapa, ya, yang mau menjadi ibu pengganti untuk kami?" Gwen berpikir keras. Hari ini dia di rumah karena tidak ada jadwal pemotretan.
"Aha! Selena! Ya, pasti dia mau," ucap Gwen dengan yakin. "Kalau pun tidak, ya, harus mau."
Gwen bergegas menuju ke kantor suaminya dengan mengendarai mobil. Sesampainya di kantor Jordan, Gwen masuk ke ruangan suaminya tapi tidak menemukan Jordan di sana.
"Ke mana dia jam segini? Apa ada urusan?" Gwen terus bertanya-tanya.
"Kalau begitu aku akan mencari Selena."
Gwen mencari sekretaris suaminya ke ruangan wanita itu. Namun, saat dia tiba di sana. Gwen mematung di ambang pintu yang dia buka sedikit.
Dia mematung menyaksikan pemandangan di depannya. Di ruangan sekretaris muda itu, terlihat Song sedang bercumbu dengan seseorang yang Gwen kenal.
Pria itu adalah salah satu koleganya Jordan.
Di sana, Selena duduk di atas mejanya dan pria itu berdiri yang diapit kedua kaki Selena. Mereka sedang berciuman, bahkan Gwen sampai mendengar suara basah dari ciuman mereka.
Jas pria itu berada di lantai dan Gwen bisa menebak jika kemeja pria itu terbuka seluruhnya, meski dia tidak melepaskannya.
Gwen bahkan bisa melihat celana dalam Selena yang menggantung di salah satu kakinya. Bahkan pria itu kini menggerakkan pinggulnya dengan cepat.
"Astaga!" Gwen menutup mulutnya tak percaya. Kemudian dia buru-buru menutup pintunya.
"Selena. Astaga ... aku tidak percaya percaya dia bisa melakukan ini. Dia bukan wanita yang tepat. Lalu siapa?"
Gwen berpikir keras. Dia kebingungan sampai dia menggigiti kuku tangannya. Sedetik kemudian matanya berbinar seperti telah menemukan harta Karun. Dia tersenyum.
Satu nama yang terlintas dalam benaknya. Jawaban dari pertanyaan dan solusinya selama ini.
"Yoo Nara."
***
Sore hari. Nara hendak pulang ke rumahnya sebelum dia pergi ke rumah sakit. Namun, di jalan pulang dia dihadang seseorang.
"Nyonya Gwen?"
"Bisa kita bicara?"
Dahi Nara berkerut, tapi kemudian dia mengangguk.
Di sinilah mereka berdua, duduk di bangku yang ada di sebuah taman.
"Bagaimana kabar ibumu?" tanya Gwen memulai percakapan dan basa basi.
"Begitulah," jawab Nara sekenanya.
"Apa kau sudah mendapatkan biayanya?"
Nara terdiam sejenak sebelum menjawab dengan gelengan kepala.
"Jadi ... kedatanganku menemuimu adalah ..." Gwen menggenggam kedua tangan Nara.
"Nara?"
"Kenapa, Nyonya?"
"Aku ... ingin menawarkan sesuatu untukmu."
Alis Nara saling bertautan. "Apa itu?"
"Apa kau mau, menjadi ibu pengganti?" tanya Gwen dengan penuh harap.
"Ma-maksudnya?" Dia sungguh-sungguh tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Gwen.
"Dengar, aku mandul. Dan ... ibu mertuaku sangat menginginkan cucu, suamiku juga tidak mau menikah lagi. Jadi ..."
Perasaan Nara mulai tidak enak.
"Kau mau menjadi ibu pengganti bagi kami?"
"Aku masih tidak paham."
"Kita akan melakukan program bayi tabung dan kau akan mengandung janinnya selama sembilan bulan. Aku akan membayar dengan bayaran yang sangat tinggi jika kau mau. Bagaimana?"
Wajah Gwen benar-benar putus asa saat mengatakan itu. Dia benar-benar berharap Nara mau menerima tawarannya.
Nara belum merespon sedikit pun. Dia terlalu bingung, setia kata yang keluar dari mulut Gwen dan penjelasannya membuat dia pusing dan mual.
"Tidak. Maaf." Nara menemukan kesadarannya kembali. Dia melepaskan genggaman tangan Gwen darinya. "Aku tidak bisa. Apa kata orang nanti?"
"Aku mohon Nara. Hanya kau satu-satunya harapanku, hanya sampai kau melahirkan. Setelah itu kau bisa bebas." Gwen memohon dengan sangat frustasi.
"Maaf, cari saja orang lain yang bersedia," tolak Nara.
"Aku akan membayar hutangmu, biaya rumah sakit ibumu, dan aku akan hidupmu selama satu tahun. Aku mohon Nara."
"Mengandung anak orang lain yang bukan anakku dan hamil tanpa suami serta pernikahan sudah terdengar buruk di telingaku." Nara berdiri dari duduknya dan melanjutkan, "Maaf, Nyonya. Aku tidak bisa. Permisi."
Nara pun pergi meninggalkan Gwen yang terus meneriakkan namanya. Namun dia tetap tidak menoleh sedikit pun dan terus berjalan.
Sesampainya di rumah. Nara membanting pintu dengan sangat keras.
"Apa itu tadi? Ibu pengganti? Bayi tabung?" Nara mengabsen nama-nama yang terdengar asing di telinganya itu. "Hamil tanpa suami, tanpa pernikahan, dan mengandung anak orang lain? Dunia ini sangat gila!"
Pagi ini Nara hendak menemui ibunya sebelum berangkat bekerja. Semalam dia tidak pergi mengunjungi ibunya karena masalah kemarin.
Dia terus memikirkannya sepanjang malam. Nara sudah siap dan pergi membuka pintu.
Deg!
Di depan rumahnya sudah berdiri rentenir itu bersama dengan dua bodyguardnya.
"Ny-nyonya?"
"Kenapa? Terkejut melihatku? Bayar hutangmu."
"Ta-tapi ..."
"Aku tahu masih ada dua hari lagi. Tapi aku juga sedang membutuhkan uang, jadi cepat! Bayar hutangmu."
"Nyonya, saat ini saya belum memegang uang."
"Kau pikir aku percaya?"
"Nyonya, saya mohon. Beri saya waktu. Ibu saya juga sedang sakit."
"Siapa peduli, huh? Aku ingin kau segera melunasi hutangmu, kau pikir ini sudah berapa tahun? Masih untung aku tidak menambahkan bunganya lagi."
"Jangan Nyonya!"
"Kalau begitu cepat bayar hutangmu."
"Beri saya waktu lagi. Saya mohon."
"Baiklah. Kuberi waktu tiga hari lagi dari sekarang. Jika saat itu kau belum bisa membayarnya juga, lihat saja nanti," ancam si rentenir itu. Kemudian dia pergi dari sana.
Nara pergi ke rumah sakit untuk menemui ibunya.
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!"
"Ibu!!" Nara langsung berlari menghampiri ibunya yang terbatuk-batuk. "Ibu tidak apa-apa?"
"Uhuk! Uhuk!"
"Da-darah?" Nara melihat darah di telapak tangan ibunya.
"N-nara." Ibu Nara jatuh pingsan.
"Ibu!! Dokter! Dokter!" Nara lari ke luar dan memanggil dokter.
Seorang dokter pun datang dan memeriksa kondisi ibunya. Setelah selesai dokter itu pun ke luar.
"Bagaimana, Dok?" tanya Nara khawatir.
"Ibu anda kritis saat ini. Kita harus segera melakukan operasi, secepatnya."
Nara membisu sejenak. "Te-terima kasih, dok."
"Saya permisi." Dokter itu pergi.
Nara pun masuk ke ruang inap ibunya, duduk di sana, dan menggenggam tangan ibunya. Pikirannya semakin kalut, sekarang dia harus bagaimana?
"Sekarang apa yang harus aku lakukan?" Nara mondar-mandir di dekat ranjang rumah sakit ibunya.
"Aku akan meminta pinjaman pada pemilik kafe. Kuharap dia bisa memberiku pinjaman."
Nara berjalan menuju tempat kerjanya, sepanjang perjalanan dia terus melamun.
Saat sampai di sana, Nara melihat beberapa semua pegawai ada di sana. Tidak seperti biasanya, seingatnya ini bukan hari gajian.
lalu ada apa?
Dia juga melihat ada beberapa barang yang dikeluarkan dari kafe itu.
"Ada apa ini?" tanya Nara keheranan.
Nara menghampiri seorang gadis, salah satu rekannya di sana dan bertanya, "Ada apa?"
"Nara, kau tahu pria yang waktu itu mengganggumu?"
Nara mengangguk.
"Dia berbuat sesuatu?" lanjut teman kerja Nara.
"Apa? Bagaimana bisa?"
"Entahlah. Yang pasti bos mau menutup kafe ini, dia jadi punya banyak hutang ke bank."
"Kenapa bisa begitu?" tanya keheranan."
"Aku juga tidak tahu. Yang pasti orang tua itu bukan orang sembarangan."
Nara hanya terdiam mencerna semua kejadian ini. Kafe ini tutup juga karena masalahnya waktu itu. Dia jadi merasa bersalah.
Nara menatap kafe itu dengan pandangan mengiba. Sampai si pemilik kafe menghampiri Nara.
"Nara?"
"Tuan ..." Nara menatap pria yang selama ini menjadi bosnya itu dengan khawatir dan rasa bersalah.
"Aku baik-baik saja, Nak. Ini," pria itu menyerahkan sebuah amplop, "gajimu untuk bulan ini."
Nara menggeleng. "Tidak. Untuk tuan saja."
"Terimalah. Aku tahu kau butuh biaya untuk pengobatan ibumu, kan?"
Nara terdiam, dia masih ragu menerima amplop uang itu. "Maaf, semua salahku."
"Kau tidak salah, Nak. Ambilah uang ini, hanya ini yang bisa aku berikan. Aku tidak bisa berbuat lebih."
Dengan ragu Nara menerima amplop itu. "Terima kasih."
Setelahnya pun Nara mencari pekerjaan seharian. Namun, saat sore tiba pun Nara belum kunjung mendapatkannya.
Nara duduk di sebuah bangku di pinggir jalan. Dia meraih tas kecil yang dia bawa dan mengeluarkan sebuah kartu nama yang bertuliskan nama, Gwen Lee.
Apa dia harus menghubungi nomor itu? Dan menerima tawarannya? Nara berperang dengan pikirannya.
Tidak, tidak. Nara menggeleng kuat-kuat, dia tidak akan menerima tawaran yang gila itu.
"Tenang Nara, kau masih punya waktu tiga hari lagi, kan?" katanya pada diri sendiri. "Kau pasti bisa."
Tbc
