Bab 5 Rumahsakit
Gwen sedang menonton TV di pagi hari. Kemudian tv tersebut menayangkan sebuah berita tentang dirinya dan suaminya.
"Kali ini berita muncul dari pasangan fenomenal kita, yaitu CEO muda Lee Jae-in dan model cantik Gwen Min, yang sekarang berganti marga menjadi Gwen Lee," kata si pembawa acara.
"Sudah terhitung lima tahun lamanya mereka melangsungkan pernikahan, namun sampai saat ini belum ada kabar dari pasangan ini mengenai buah hati mereka."
"Hem ... mungkin mereka masih sama-sama sibuk, ya. Atau mungkin mereka akan memberikan kejutan kepada publik, kita nantikan saja berita baik dari mereka."
Tiba-tiba seseorang mematikan televisi tersebut membuat Gwen menoleh padanya.
"Kenapa dimatikan?" tanya Gwen tak terima.
"Tidak baik melihat berita pagi-pagi," sahut Jordan meletakkan remote televisi di atas meja.
"Pepatah dari mana itu?"
"Pagi!" Seseorang menyapa mereka dengan sangat riang.
"Pagi, Richard," jawab Gwen. "Ayo kita sarapan," ajak Gwen pada keduanya.
***
Sudah semenjak beberapa jam yang lalu Jordan berkutat dengan pekerjaannya. Sampai akhirnya seseorang menyelonong masuk ke dalam ruangan tanpa mengetuk terlebih dahulu.
"Ketuk pintu sebelum masuk," kata Jordan tanpa melihat orang itu.
"Aku sudah mengirimkan datanya ke email-mu," ucap pria itu yang kini duduk di hadapan Jordan.
"Lalu untuk apa kau datang ke mari?"
"Menagih bayaranku."
"Aku bisa mentransfernya. Ada alasan lain?" tanya Jordan penuh curiga.
"Siapa dia?" tanya Bobby. Si pria berkepala plontos itu, tapi tidak pernah kekurangan ketampanannya.
Dia adalah teman masa kecilnya sekaligus orang kepercayaan Jordan.
Jordan tersenyum miring. "Kurasa kau sudah tahu namanya."
Bobby memutar mata malas. "Ayolah Lee, maksudku ada apa kau dengan gadis itu?"
Jordan hanya menyeringai tanpa menjawab pertanyaan dari Bobby.
"Kau menyukainya?" tebak Bobby diselipi pertanyaan.
"Jatuh cinta." Jordan berujar ringan, seringan helai rambutnya.
"Aku serius Jordan Lee."
Jordan mengangkat sebelah alisnya. "Kau pikir aku bercanda?"
"Gwen?"
"Urusan nanti."
"Biar kuperingatkan. Jangan bermain api."
"Aku tidak akan terbakar."
"Kau mungkin tidak, tapi mereka, Lee."
"Ya, bagaimana? Aku sudah jatuh ke dalam pesonanya." Jordan bersikukuh.
"Terserah kau saja," ucap Bobby menyerah dengan kekeras kepalaan Jordan. "Aku hanya memperingatkan."
"Terima kasih sahabatku yang baik," kata Jordan dengan seringainya.
Bobby hanya berdecih dengan perkataan Jordan. Kemudian pria itu bangkit dan menuju pintu keluar.
"Bayaranku dua kali lipat," kata Bobby meraih gagang pintu lalu berbalik, "untuk uang tutup mulut."
***
Richard sedang kepayahan mencari sahabat yang lebih pendek darinya di kampus, tapi dari tadi dia belum bertemu dengan makhluk bernama Ricky itu.
"Si bantet Kim itu ke mana?"
Richard terus berjalan sambil bertanya-tanya, ke mana perginya Ricky. Kemudian dia menubruk seseorang.
Richard meringis pelan. "Ugh ... sorry."
Mereka berdua saling berpandangan dan mereka berdua sama-sama mengeluarkan ekspresi terkejut.
"Kau?" kata Richard sewot.
"Ya, ini aku. Kenapa?" tanya Hanna menatap sinis pada Richard.
Pria itu hanya berdecih.
"Jalan itu lihat-lihat," sembur Hanna. "Sudah tinggi masih tidak bisa lihat."
"Terserah pada orang tinggi," ucap Richard sambil berlalu pergi.
"Menyebalkan," gerutu Hanna.
Richard sampai di kelasnya. Yang ternyata orang yang dia cari ada di dalam kelas.
"Yo. Richard!"
Richard mengacungkan Ricky.
"Eh, ada apa ini? Kau merajuk?" tanya Ricky tertawa lepas yang melihat Richard menekuk wajahnya.
"Diamlah."
"Oh! Kau bertemu jodohmu itu, ya?"
"Berisik Kim! Enak saja, huh!"
Mana rela Richard harus berjodoh dengan gadis yang bernama Hanna itu. Mereka berdua memang sudah bermusuhan semenjak masuk ke universitas ini.
Ricky hanya bisa menahan tawanya.
"Tidak usah menahan tawa seperti itu. Kau jelek!"
Dan tawa Ricky pun pecah. Membuat Richard menutup kedua telinganya dan orang-orang yang berada di kelas menoleh pada mereka dengan terkejut.
***
"Uhuk! Uhuk!"
"Ya, ampun! Kenapa tambah parah?" Nara menghampiri ibunya yang terduduk di atas kasur.
"Ibu, kita ke rumah sakit, ya."
Ibunya menggeleng. "Tidak perlu. Istirahat di rumah saja, lagi pula ... kau sudah beli obat, kan?"
Nara mengangguk.
"Ibu bisa meminum obat saja, tidak usah ke rumah sakit."
"Tapi batuk ibu belum reda, panasnya juga."
"Besok juga akan membaik. Kau harus bekerja, bukan?" tanya ibunya dengan bibir yang agak pucat.
Nara mengangguk lagi.
"Pergilah. Ibu tidak apa-apa."
"Tapi, Bu ..." Nara menatap khawatir ibunya yang terlihat pucat.
"Tidak apa-apa, ibu akan baik-baik saja." Ibu Nara bersikukuh.
"Hah ... baiklah." Nara menyerah. "Kalau begitu ibu istirahat yang cukup, ya."
Ibu Nara tersenyum dan mengangguk.
***
Gwen baru saja selesai melakukan pemotretan. Dia dipersilakan untuk beristirahat sejenak. Dan dia memutuskan untuk pergi ke sebuah kafe menggunakan mobilnya.
Di sisi lain, Nara terus melamun sepanjang perjalanan menuju ke kafe. Dia terus memikirkan kondisi ibunya saat ini.
Nara berhenti sejenak untuk menunggu rambu pejalan kaki menyala.
Gwen menyetir mobilnya, dia juga masih memikirkan bagaimana caranya bisa memiliki anak sekaligus membujuk Jordan.
"Aku harus bagaimana lagi sekarang? Tidak mungkin jika kami tidak akan pernah mempunyai anak seumur hidup." Gwen menggigit kuku-kukunya gelisah.
Dia kemudian melanjutkan, "Aku yakin, jauh di dalam lubuk hatinya Jordan juga menginginkan seorang anak. Aku harus bagaimana, Ya Tuhan?"
Karena terlalu banyak memikirkan itu Gwen menjadi tidak fokus. Dia tidak melihat bahwa lampu merah menyala berbarengan dengan rambu pejalan kaki.
Nara mulai menyeberang jalan.
"Astaga!!" Gwen langsung menginjak rem mobilnya.
Dia hampir saja menabrak seseorang di depan sana. Dan orang itu adalah Nara yang saat ini berjongkok.
"Ya Tuhan!" Dengan setengah syok Gwen keluar dari mobilnya dan menghampiri Nara.
"Nona! Kau baik-baik saja?" tanya Gwen menyentuh bahu Nara dan membantunya untuk berdiri. "Kau tidak apa-apa? Ada yang terluka?"
"Aku baik-baik saja," jawab Nara.
"Syukurlah," Gwen menghela napas lega. "Maaf, tadi aku melamun."
Nara mengangguk. "Tidak masalah."
Kini mereka sedang berbincang di dalam kafe, yaitu kafe tempat Nara bekerja. Mereka duduk berhadapan.
"Jadi, kau bekerja di sini?" tanya Gwen.
"Iya, Nyonya."
Gwen tersenyum mendengar panggilan dari Nara untuknya.
"Tidak usah memanggilku nyonya. Namaku Gwen. Gwen Lee."
"Tapi itu tidak sopan, Nyonya."
"Terserah kau saja." Gwen kembali tersenyum. "Ah, siapa namamu?"
"Yoo Nara," jawabnya.
Gwen mengangguk mengerti.
"Oh! Saya harus permisi, Nyonya. Saya harus bekerja," pamit Nara ketika dia melihat beberapa pelanggan datang. Dan Gwen pun mengangguk mengiyakan.
***
Jordan sedang memandangi sebuah foto yang terpampang di layar komputernya. Dia mengusap wajah wajah foto itu di layar komputer.
"Kenapa kau sangat cantik, hm?" tanya Jordan entah pada siapa. Pria itu tersenyum manis setelahnya, senyuman yang jarang dia perlihatkan pada orang asing.
"Wow! Apa baru saja kau tersenyum? Sendirian?" kata seseorang yang masuk ke ruangannya.
"Ck! Kenapa kau ke sini lagi?" tanya Jordan.
"Ponselku tertinggal," kata Bobby menghampiri meja Jordan dan mengambil ponselnya.
"Sayang sekali aku tidak melihatnya tadi. Akan kubuang ponsel itu dari lantai ini."
"Kejam sekali," cibir Bobby. "Jadi, apa kau benar-benar tertarik pada gadis itu?"
Jordan menyeringai. "Mungkin."
Bobby berdecih. "Terserah. Selamat bersenang-senang."
"Tentu," jawab Jordan dengan seringai masih di bibirnya.
***
Nara tiba-tiba menerima sebuah panggilan dari nomor yang tak dikenal. Dia kemudian mengangkat panggilan telepon itu.
"Halo?"
"Nara, ibumu jatuh pingsan. Kami sudah memanggil ambulans," kata seseorang di seberang sana.
"Apa?" Nara terkejut bukan main. "Baiklah. Terima kasih, Bibi."
"Iya, sama-sama."
Nara mematikan sambungan telepon itu. Dia terlihat panik sampai membuat si pemilik kafe bertanya padanya.
"Ada apa? Kau terlihat cemas."
"Tuan, tetanggaku menelpon. Dia bilang ibuku jatuh pingsan."
"Oh, ya, ampun! Kalau begitu kau pulanglah."
"Tapi ..."
"Tidak apa. Aku mengerti. Kau pulanglah," kata si pemilik kafe.
"Terima kasih. Kalau begitu syaa permisi."
Setelah mendapat anggukan, Nara pun bergegas untuk pergi.
Di sisi lain.
"Apa kita perlu ke rumah sakit?" tanya Gwen pada ibu mertuanya.
Gwen sudah sejak tadi dia berada di rumah ibu Jordan. Sejak dia mendapat kabar kalau ibu mertuanya itu sakit.
"Tidak usah," mertuanya menolak, "kurasa hanya kelelahan saja."
"Tapi ibu sangat pucat." Gwen merasa khawatir.
"Istirahat sebentar juga akan membaik lagi."
"Kalau begitu ibu istirahat di kamar saja, ya," usul Gwen.
Ibu mertuanya mengangguk dan berdiri dari duduknya. Dia berjalan menuju kamar sambil memegang kepalanya.
Tiba-tiba tubuhnya ambruk. Dia pingsan.
"Ibu!!"
***
"Tuan-"
"Di mana tata kramamu Selena?" tanya Jordan saat Selena membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu.
"Maafkan saya, Tuan." Selena membungkuk hormat. "Tapi ... Nyonya Gwen menelepon. Katanya nyonya besar masuk rumah sakit."
Jordan terkejut. "Kalau begitu kau urus urusan kantor. Aku akan pergi."
"Baik."
Jordan keluar dari ruangannya dengan setengah berlari.
Selena berjalan menuju meja kerja Jordan. Dia duduk di kursi atasannya itu.
"Begini rasanya duduk di sini. Aku harus mendapatkanmu, Jordan."
***
Nara sedang berbicara dengan seorang dokter di depan ruangan di mana ibunya dirawat.
"Penyakit ibu anda semakin parah. Dan ... sepertinya ..." Dokter itu tidak melanjutkan perkataannya.
"Apa, Dok?" tanya Nara penasaran.
"Ibu anda harus segera dioperasi."
Deg
"O-operasi?"
"Iya. Jika tidak ... aku takut sel kankernya akan semakin menyebar luas." Sang dokter menjelaskan.
"Kapan operasi harus dilaksanakan?"
"Jangka terpanjangnya satu minggu dari sekarang."
"Satu ... minggu?"
Dokter itu mengangguk. "Kalau begitu saya permisi."
"Iya. Terima kasih, Dokter."
Setelah kepergian sang dokter Nara berbalik untuk melihat ibunya lewat kaca jendela.
Sekarang dia bingung. Dari mana dia akan mendapatkan uang untuk biaya operasi ibunya?
Sedangkan hutangnya pada rentenir itu pun belum bisa dibayar.
Di sebuah kamar rumah sakit lainnya.
Ibu Jordan baru tersadar dari pingsannya. Di sana dia mendapati Gwen dan Jordan yang menemaninya, serta menunggunya untuk sadar.
"Ibu sudah sadar?" Itu Gwen yang berbicara.
"Kalian?"
"Bagaimana bisa begini?" tanya Jordan.
Ibunya hendak menjawab sebelum pintu kamar itu dibuka dengan keras dan kasar. Lalu ...
"Ibu!!"
Richard berteriak di ambang pintu. Dadanya naik turun dan napasnya tak beraturan.
"Ya, ampun." Gwen memegang jantungnya, dia terkejut.
"Astaga, anak ini!" Ibunya jengkel setengah mati, dia hampir saja terkena serangan jantung.
"Adik sialan!" umpat Jordan pelan.
Richard berjalan menghampiri ibunya dan langsung memeluk sang ibunda.
"Ibu ... kenapa bisa begini?" tanya Richard dengan berkaca-kaca. Dia masih memeluk ibunya.
"Dasar cengeng," ejek Jordan yang mendapat sikutan dari Gwen.
"Apa?" tanya Jordan pada Gwen, dia merasa tidak salah dengan kata-katanya.
Richard melepaskan pelukannya dan menatap pada ibunya.
"Ibu ... kenapa ibu bisa di awa ke rumah sakit?"
"Aku hanya kurang fit. Akhir-akhir ini aku stress," jawab ibunya.
"Kenapa bisa?" tanya Richard lagi.
"Ibu memikirkan anak nakal yang tidak mau pulang ke rumah ini," kata ibunya mencubit kedua pipi Richard.
Richard cemberut. "Ish! Aku hanya ingin tinggal bersama dengan kakak dan kakak iparku."
"Bukannya kau bilang tidak mau tinggal bersama ibu karena dia cerewet?" kata Jordan melipat kedua tangannya di atas perut.
"Hei! Kak!" Richard tidak terima kakaknya mengadu.
"Oh ... jadi begitu?" Ibunya berkacak pinggang.
"Ti-tidak, Bu ..." cicit Richard.
Ibunya menarik satu telinga Richard. "Dasar, kau benar-benar anak nakal."
"Aw! Aw! Sakit, Bu! Lepaskan!"
"Rasakan ini! Rasakan!"
Richard terus memohon pada ibunya. Gwen hanya bisa menahan tawa dengan menutup mulutnya.
Sedangkan Jordan menyeringai sambil berkata, "Bocah nakal."
***
Nara berjalan menuju ruangan ibunya lagi. Dia baru saja selesai dari toilet.
"Sekarang aku harus bagaimana? Uang untuk biaya operasi ibu, belum lagi untuk membayar hutangku, waktunya juga sudah mepet. Bagaimana ini?"
Nara mengusap wajahnya frustasi.
Tiba-tiba ada seseorang yang memegang kedua pergelangan tangannya dan menjauhkannya dari wajah Nara.
Nara mendongak dan melotot saat melihat wajah si pelaku.
"Terkejut?" tanya orang itu yang ternyata adalah Jordan.
"Ka-kau?"
"Jangan menutupi wajah manismu, Nara."
"Le-lepas. Saya harus pergi." Nara mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Jordan.
Pria itu menggeleng. "Aku merindukanmu."
"Lepas ..."
Nara masih memberontak. Kemudian, Jordan mendorong Nara ke dinding dengan tangan kirinya yang memenjarakan Nara.
Tangan kanan Jordan membelai pipi Nara, itu membuat Nara terpejam. Lalu Jordan meraih gelar rambut Nara dan memainkannya.
Nara mendorong dada Jordan, tapi itu tidak menghasilkan apa pun.
"Kenapa, hm?" tanya Jordan yang kembali mengelus pipi Nara. "Aku ingin terus melihat wajahmu."
Nara terus saja menghindar. Jordan tersenyum lalu mencium bibir Nara, membuat gadis itu memelototkan matanya.
Jordan merengkuh pinggang Nara lebih erat, dia mencium bibir Nara dengan lebih dalam. Ciuman itu terus semakin dalam dan Nara terus memukul-mukul pundak dan dada Jordan.
Jordan melepaskan ciumannya.
Plak!!
Wajah Jordan sedikit berpaling setelah Nara tampar.
Napas Nara memburu, dadanya naik turun menghirup udara, wajahnya merah karena amarah, dan matanya juga berkaca-kaca.
Jordan terkejut setelah sadar dengan apa yang sudah dilakukannya. "N-nara ... aku ..."
Nara berlari sambil menutup mulutnya dengan punggung tangan. Dia mencoba untuk menahan isakannya.
"Sial!!"
Jordan memukul tembok atas kejadian barusan. Dia menyesal, karena dia tidak bisa mengendalikan diri.
Tbc ...
