Bab 4 Apotek
Pagi hari Nara bangun dari tidurnya. Saat dia hendak masuk ke dalam kamar mandi, dia mendengar suara ibunya yang batuk-batuk.
"Ibu!" Nara berlari masuk ke dalam rumahnya.
Sesampainya Nara berlutut di depan ibunya yang duduk dengan menunduk dan terus batuk-batuk.
"Ibu kenapa?" tanya Nara dengan khawatir.
Ibu Nara terbatuk lagi. Dan kali ini ada darah di telapak tangannya. Batuknya mengeluarkan darah.
Nara panik bukan main.
"Astaga! Bagaimana ini? Ibu Sudah minum obatnya?" tanya Nara penuh kekhawatiran.
Ibu Nara tersenyum dan mengangguk. "Kau tidak usah khawatir."
Nara kemudian memeriksa tempat obat-obatan ibunya.
"Obatnya sudah habis," Nara menatap obat-obat itu dengan lesu, "nanti Nara belikan lagi, ya, Bu."
"Kau akan pergi bekerja?" tanya ibunya.
"Iya, Bu. Sarapannya biar Nara saja yang buat"
"Baiklah."
"Sebaiknya ibu istirahat dulu," kata Nara membantu ibunya untuk berdiri dan memapahnya ke dalam kamar ibunya.
***
Gwen sedang menyiapkan sarapan saat dia mengambil ponselnya untuk menelepon seseorang.
"Halo, sayang." Gwen tersenyum saat mendengar sahutan dari seberang telepon. "Jo, jam berapa kau berangkat ke kantor?"
"Pagi-pagi sekali, ada pertemuan penting dan dadakan. Maaf, aku tidak memberitahumu dahulu. Tadi keu terlihatlah sangat nyenyak," jawab Jordan.
"Perlu kuantarkan sarapan untukmu?"
"Tidak perlu, sayang. Aku bisa sarapan di kantor."
"Jam berapa kau akan pulang?" tanya Gwen.
"Entahlah, tapi akan kuusahakan pulang cepat jika kau rindu," jawab Jordan sambil terkekeh.
"Kau ini. Bukan begitu, hanya saja ... ada hal yang ingin aku bicarakan."
"Membicarakan tentang apa, hm?"
"Aku akan mengatakannya nanti saja saat kau pulang."
"Dasar curang," keluh Jordan dengan main-main. "Richard sudah bangun?"
"Belum. Mungkin sebentar lagi."
"Baiklah, aku tutup dulu teleponnya. Kau tahu? Aku sedang meeting sekarang, haha." Tawa Jordan meledak setelah mengatakan itu dan Gwen hanya menggelengkan kepalanya tak habis pikir.
"Baiklah, selamat bekerja."
Setelah percakapan mereka berakhir, Richard datang.
"Selamat pagi kakak ipar," sapa Richard dengan riang seperti biasa.
"Oh, kau sudah bangun. Ayo sarapan. Aku membuat sesuatu kesuksesanmu."
"Benarkah?"
"Tentu."
"Yes!!" Richard melompat ke meja makan dengan begitu penuh semangat yang menggebu-gebu.
Gwen menggeleng. "Benar kata Jordan. Richard itu masih kanak-kanak," gumam Gwen sambil terkekeh geli.
"Kakak ipar menertawakan apa?" tanya Richard heran.
"Bukan apa-apa. Ayo makan sarapanmu."
***
Tok tok tok
Nara berdiri di depan pintu kamar ibunya. Dia akan segera berangkat kerja, Nara mengetuk pintu ibunya untuk berpamitan.
Tidak ada tanda-tanda ibunya membuka pintu.
"Ibu? Kau di dalam?"
Masih tak ada sahutan juga.
Nara memutuskan untuk masuk ke kamar ibunya. Dia membuka pintu dan masuk ke dalam dan menghampiri ibunya yang sedang berbaring membelakangi Nara.
Ternyata ibunya sedang tertidur nyenyak di sana. Kemudian Nara membenarkan letak selimut ibunya dan mencium keningnya sang ibu.
"Tidur yang nyenyak, Bu. Aku akan berangkat untuk bekerja," kata Nara setengah berbisik, takut jika suaranya membangunkan tidur sang ibu.
Nara tersenyum memperhatikan ibunya yang tertidur pulas lalu bergegas pergi ke luar. Dia pergi menuju tempatnya bekerja.
Saat Nara sampai di kafe dan hendak masuk, tiba-tiba ada seseorang yang keluar dari kafe itu. Nara berpapasan dengan seorang pria tinggi dan dia menghalangi jalan Nara.
Pria itu berdiri di ambang pintu masuk kafe. Dia benar-benar menghalangi jalan Nara. Saat Nara ke kanan, pria itu juga ke kanan. Saat Nara ke kiri pria itu juga ke kiri. Nara berhenti maka pria itu juga berhenti.
Nara menghembuskan napas jengah. Merasa jengkel Nara pun mendongak untuk melihatnya wajah orang itu. Mereka berdua saling pandang satu sama lain, Nara dengan keningnya yang mengerut. Dan si pria dengan senyuman miringnya.
Ternyata pria itu adalah pria yang malam itu mengikuti Nara sampai ke rumah.
"Hai, kita bertemu lagi, Nona," kata si pria.
"Permisi, Tuan," ucap Nara mencoba untuk lewat, tapi pria itu tidak mengizinkan.
Bahkan pria itu kini merentangkan kedua tangannya menghalangi jalan Nara. Dia mencegah Nara untuk masuk ke dalam.
"Nama?" tuntut si pria.
"Permisi." Dan Nara masih kukuh dengan pendiriannya untuk lewat.
"Namamu, Nona," desak pria itu.
"Tuan ... permisi."
Nara masih mencoba untuk menerobos. Sampai akhirnya si pria memeluk Nara dan menghentikan pergerakan Nara.
Nara yang terkejut dengan pelukan tiba-tiba itu menatap pada mata si pria. Kemudian pria itu menunduk untuk mendekatkan wajahnya dengan wajah Nara.
"Siapa namamu, Nona?" bisik Jordan di telinga Nara. Membuat Nara sedikit bergidik mendengar suara dalam dan aura yang begitu mendominasi dari si pria.
Pria itu sedikit menjauhkan kepalanya dan menatap lekat sepasang mata Nara. Membuat gadis itu sedikit menciut.
"N-nara. Yoo Nara, Tuan," cicit Nara menjawab pertanyaan di pria.
Pria itu kembali menyeringai.
"Nama yang cantik," kata si pria sambil menyampirkan rambut Nara ke belakang telinga gadis itu.
"Aku Jordan. Jordan Lee," lanjut Jordan memperkenalkan diri, "ingat namaku, Nona."
Pria itu pun pergi meninggalkan Nara yang masih terpaku di tempatnya berdiri. Dia lalu berbalik dan menatap punggung Jordan yang pergi menjauh dari sana.
"Dia kekasihmu?" tanya seorang gadis, salah satu rekan kerjanya yang menghampiri Nara.
"H-hah?" Nara terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh gadis itu.
"Aku melihat dia memelukmu tadi," jelas gadis itu.
"Ah ... itu ... bukan, dia ..."
"Tidak usah malu. Kau ini!" kata gadis itu. "Ayo, cepat bersiap. Banyak pelanggan saat ini."
Nara mengangguk dan masuk ke dalam kafe untuk bersiap-siap bekerja.
Sementara itu, di dalam sebuah mobil Ferrari berwarna hitam. Terlihat Jordan yang sedang menyetir mobil dan menghubungi seseorang di teleponnya.
"Aku ingin kau mencari tahu tentang seseorang yang bernama Yoo Nara," titah Jordan.
"Berikan informasinya padaku secepatnya."
Setelah mengatakan itu Jordan mengakhiri teleponnya dan kembali menyeringai.
***
Tepat pukul 20.10 malam Jordan pulang dan sampai di rumahnya.
"Aku pulang."
"Oh, kau sudah pulang." Gwen menyambut kedatangan suaminya. Dan Jordan mencium kening sang istri.
"Menungguku?" tanya Jordan.
"Aku sudah bilang, ada yang ingin aku bicarakan," jawab Gwen.
Jordan melihat sekeliling ruangan. "Di mana Richard?"
"Dia di kamarnya." Gwen membimbing Jordan untuk duduk di sofa. "Kau sudah makan malam?"
"Aku ingin makan bersamamu," kata Jordan memeluk istrinya.
"Tapi aku sudah makan."
"Cukup temani aku saja."
Gwen tersenyum. "Ayo kalau begitu."
Mereka berdua berjalan ke dapur dan mulai makan bersama. Maksudnya Jordan yang makan, sedangkan Gwen hanya memperhatikannya makan.
"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Jordan.
Gwen menghela napas sebelum menjawab. Sepertinya ini sangat berat untuk dia katakan.
"Jo, saol sekertaris Selena ..."
Jordan berhenti mengunyah dan menatap Gwen. "Jika kau berniat menjodohkan aku dengannya. Maka kitolak dari sekarang."
"Jo ..."
"Gwen, aku tidak mau."
"Tapi sepertinya ibu menyukai Selena."
"Ibu berkata cantik padanya bukan berarti dia benar-benar menyukainya."
"Jo ... ini kesempatan kata untuk memiliki anak. Aku tidak bisa memberikan anak, tapi Selena bisa. Dia bisa memberikan anak untukmu dan ibu." Gwen mencoba meyakinkan suaminya.
"Dan aku tidak mau," tegas Jordan. Matanya memancarkan sebuah keseriusan saat ini.
Tanpa mereka berdua sadari, ada seseorang di dekat pintu dapur yang sedang menguping pembicaraan mereka. Tepatnya tidak sengaja menguping.
Niatnya Richard turun untuk makan malam. Tetapi dia malah harus mendengarkan perdebatan yang selalu sama sejak dulu.
"Jo, kumohon." Gwen meminta.
"Sekali tidak, tetap tidak." Jordan masih teguh dengan pendiriannya.
"Jo, ibu ingin cucu. Aku mandul dan Selena menyukaimu, aku tahu itu. Jadi-"
"Gwen Lee." Jordan memanggil Gwen dengan marga lengkap dari suaminya, itu tandanya Jordan tidak ingin dibantah. "Sudah. Aku lelah."
Jordan beranjak dari sana.
"Aduh!" Richard kelimpungan saat kakaknya hendak keluar dari dapur. Dia berlari ke ruang tengah.
"Hah ... Ya Tuhan. Bagaimana ini?" ucap Gwen frustrasi.
"Kau mau ke mana?" tanya Richard pada Jordan yang melewatinya tanpa menjawab pertanyaan Richard.
Richard menatap kepergian Jordan dari rumahnya dengan bingung.
"Richard?" sapa Gwen yang muncul dari dapur.
Richard menoleh. "Kakak ipar, dia mau ke mana?" tanyanya merujuk pada Jordan.
"Mungkin ke bar. Biarkan saja, dia jarang ke bar akhir-akhir ini."
"Kakak ipar tidak melarangnya?"
"Dia sudah besar, Ri. Kau jangan sering minum, ya."
Richard mengangguk.
"Aku akan ke kamar. Jika kau ingin makan malam, makanlah."
Richard kembali mengangguk dan Gwen pergi ke kamarnya.
***
Jordan benar-benar pergi ke bar. Dia duduk di depan bartender sambil menikmati segelas cocktailnya.
Dia memikirkan perdebatannya dengan Gwen beberapa waktu lalu. Jordan bingung antara menuruti keinginannya atau menahan keegoisan dirinya.
"Tambah lagi," katanya pada si bartender.
Si pria menuangkan kembali minuman itu dari botol ke dalam gelas Jordan. Dia pun kembali meminumnya.
Lalu muncullah seorang wanita dengan pakaian seksi duduk di samping Jordan. Wanita itu pun memesan minuman sebelum menoleh pada Jordan.
"Tuan Lee?"
Jordan menoleh dan dia mendapati sekertarisnya di sana. Wanita itu memakai dress seksi berwarna hitam yang memperlihatkan paha mulusnya, juga sedikit belah dadanya.
Jordan kembali berpaling dari Selena dan meminum minumannya kembali.
"Sedang apa Tuan di sini?" tanya Selena.
"Kau sendiri?" balik tanya Jordan.
"Ah, aku ... hanya ingin saja," jawab sekertaris itu mengalihkan pandangan.
"Tuan ada masalah?" tanya Selena sembari menyesap sedikit minumannya.
Jordan diam tak menjawab.
"Tuan bisa bercerita padaku," katanya meyakinkan Jordan.
Wanita menyentuh pundak Jordan dengan sensual, menggoda, mencoba untuk menarik perhatian atasannya itu.
Dengan sedikit agak mabuk, Jordan mendekatkan wajahnya pada Selena. Kemudian tersenyum miring, senyuman yang dapat membius Selena.
Selena menggigit bibir bawahnya, menahan godaan atasannya yang entah kenapa beraura seksi ketika sedikit mabuk. Lihat saja, kedua kancing atas kemeja pria itu dibiarkan terbuka.
"Ini rahasia kita, ya?" bisik Jordan di depan wajah Selena dan wanita itu mengangguk.
Lalu Jordan berbisik di telinga Selena, "Istriku mandul."
Jordan menjauhkan sedikit wajahnya dan menatap wajah terkejut Selena. Wanita itu sedikit terbelalak kaget.
"Dia tidak bisa memberikanku anak, Gwen menyuruhku untuk menikah lagi," Jordan meracau.
"Kau tahu, dengan siapa dia menyuruhku menikah?" tanya Jordan dengan mata yang agak sayu.
Wanita itu menggeleng pelan. Pertanda dia tidak tahu dan diam-diam menuntut jawaban dari Jordan sendiri.
"Denganmu," ucap Jordan menyeringai, membuat wanita di depannya kembali terkejut.
Jordan berpaling lagi dan meminum kembali minumannya. Sedangkan Selena menatapnya lekat.
"Kenapa menatapku begitu?" tanya Jordan yang kini balas menatapnya.
Tanpa diduga wanita itu duduk di pangkuan Jordan dan merangkul leher Jordan dengan kedua tangannya.
Refleks, Jordan meraih pinggang Selena dengan kedua tangannya. Memeluknya.
"Aku bisa, memberikan anak untuk Tuan," bisik Selena dengan salah satu tangannya yang membelai dada bidang Jordan seduktif.
Jordan meremas pinggang Selena pelan.
"Tuan ..." lirih Selena dengan nada yang menggoda.
"Hm?" Jordan mengangkat sebelah alisnya dengan seringai khas dirinya.
Selena memberanikan diri mencium bibir Jordan. Pria itu membalasnya dengan penuh gairah dan dalam.
Wanita itu menjambak main-main rambut belakang Jordan ketika pria itu meremas dua belah pantat Selena.
Bunyi basah dari ciuman mereka membuat suasana di antara mereka semakin memanas. Selena menggerakkan pinggulnya di tengah ciuman panas mereka, mencoba untuk menggoda sang atasan.
Ciuman Jordan turun ke leher Selena, wanita itu sedikit mendongak untuk memberikan akses bagi Jordan. Remasan pada rambut Jordan semakin kuat.
Perlahan, ciuman itu turun pada belahan dada Selena. Wanita itu semakin bergairah dibuatnya.
Jordan kembali mencium bibir Selena dan bunyi dari ciuman itu kembali terdengar.
Kemudian, ciuman panas itu terlepas. Keduanya menyatukan kening mereka, memejamkan mata, dan saling meraup oksigen dengan rakus. Deru napas keduanya saling bersahutan dengan mulut yang sama-sama terbuka.
"Tuan ..." Selena menatap sayu pada Jordan. Wanita itu sudah sangat bergairah.
Jordan mengusap bibir penuh Selena dengan sensual dan menggoda.
Dia berkata, "Kau memang cantik Selena, tapi ada yang lebih cantik darimu."
Perkataan Jordan itu membuat Selena mengerutkan keningnya. Kemudian Jordan menyingkirkan Selena dari pangkuannya.
"Aku pergi," kata Jordan pergi meninggalkan dari bar itu.
Kepergian Jordan membuat Selena terdiam di tempatnya dengan mengepalkan tangan.
"Sial!" Selena mendesis. "Apa yang kurang dariku? Kurasa aku sudah lebih unggul dari Gwen."
Wanita itu beranjak dari sana dan menarik seorang pria untuk diciumnya. Menumpahkan kekesalannya.
***
"Aku pulang duluan, ya." Nara berpamitan pada salah satu rekan kerjanya.
"Hati-hati, Nara."
Nara mengangguk dan berjalan ke luar. Hari ini Nara menggantikan sift malam temannya yang sakit. Jadi dia bekerja dari pagi sampai tengah malam. Dan kafe itu memang buka selama 24 jam.
Beruntung. Selama ini Nara belum pernah bekerja lewat dari jam 12 malam. Pemilik kafe itu memang melarang pekerjaan wanitanya bekerja pada waktu itu. Dia akan menyerahkan sift itu pada pekerjaan prianya.
Nara berjalan menuju ke sebuah apotek yang dekat dari sana.
Seseorang di seberang sana memperhatikan Nara dari dalam mobil miliknya.
"Bukankah itu Nara? Mataku," kata Jordan tersenyum miring.
"Untung saja, masih buka," kata Nara lalu masuk ke dalam apotek itu.
"Nara lebih cantik darimu sekertaris Selena," ucap Jordan menyeringai.
Nara menyerahkan kertas resep obat ibunya bersamaan dengan seseorang yang juga menyerahkan kertas resep obat.
"Aku butuh ini," ucap keduanya serentak. Membuat mereka saling memandang satu sama lain.
"Aku cari dulu," kata si penjaga apotek itu.
"Ah, iya," jawab si pria.
Tak lama, resep obat yang mereka minta pun di terima keduanya dan membayar obat itu. Setelah mengucapkan terima kasih, mereka berdua pun ke luar dari apotek itu.
"Emh, Nona?"
"Ada apa?" tanya Nara menoleh pada si pria.
"Kau akan pulang?"
Nara mengangguk.
"Biar kuantar," ucap pria itu membuat Nara mengernyitkan dahi.
Jujur saja, Nara merasa sedikit was-was.
"Aku tidak akan berbuat macam-macam," kata si pria. "Aku hanya akan mengantarmu pulang. Ini sudah malam. Bagaimana?"
Nara sedikit ragu, tapi dia memikirkan kejadian beberapa hari lalu saat dirinya dihadang oleh beberapa pria mabuk.
Jika saat itu ada si pria aneh yang bernama Jordan Lee membantunya, maka hari ini siapa?
"Baiklah." Nara memutuskan untuk ikut dengan pria ini.
Pria itu tersenyum ramah. "Mari."
"Di mana rumahmu?" tanya si pria saat mereka masuk ke dalam mobil.
"Di dekat pertigaan di depan sana," jawab Nara.
"Baiklah."
Mobil pun melaju.
Di dalam mobil Jordan menatap kepergian Nara dengan tidak suka.
"Siapa itu?"
Jordan mengikuti mereka. Dia takut jika pria itu akan berbuat macam-macam dengan Nara.
Setelah beberapa menit, mereka pun sampai di depan jalan rumah Nara.
"Emh, terima kasih," ucap Nara.
"Sama-sama."
"Aku permisi." Nara pamit ke luar dari mobil da masuk ke dalam rumahnya.
"Ah, sial!" Pria itu mengerang kesal. "Aku lupa menanyakan namanya. Semoga kita bertemu lagi."
Mobil pria itu pergi dari sana.
"Sial!" Jordan memukul stir mobil. "Siapa pria itu? Ada hubungan apa mereka?"
Dengan perasaan kesal dan penasaran yang membuncah, Jordan pulang ke rumahnya. Dia langsung masuk ke dalam kamarnya.
"Kau sudah pulang?" tanya Gwen dengan suara serak, dia baru terbangun dari tidurnya.
"Hm." Jordan melepaskan jas dan dasinya yang sedari tadi belum dia lepas.
Gwen bangun dari berbaringnya untuk duduk. "Soal tadi ... aku minta maaf."
"Tidak usah dipikirkan," kata Jordan bergabung duduk di depan Gwen dan mengusap pipi istrinya.
Pikiran pria itu melayang pada kejadian di mana Nara diantar oleh seorang pria. Batinnya terus bertanya-tanya siapakah pria tadi.
"Jo? Kau baik? Apa kau mendengarku?"
"Hah? Ya. Maaf."
"Kubilang sebaiknya kau mendi-"
Perkataan Gwen terputus ketika Jordan mencium bibir wanita itu.
"Jo!" Gwen protes saat Jordan mendorong tubuhnya untuk berbaring dan mengungkung dia. "Apa yang-"
"Ssttt ... aku mau."
Jordan kembali mencium bibir Gwen dan mulai melepaskan pakaian mereka.
Bersambung...
