Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3 Pria Tua Licik

Si sebuah kampus ternama, Richard terlihat sedang berbicara dengan sahabatnya. Mereka sedang membicarakan perihal di mana mereka akan makan siang kali ini.

"Ricky, ayo kita minum kopi," ajak Richard pada temannya.

"Siang-siang begini?" tanya Ricky terbelalak kaget.

Richard mengerutkan kening dengan reaksi Ricky. "Apa salahnya?"

"Kopi itu untuk membantumu bergadang. Dan kau akan bergadang di siang hari?" tanya Ricky menyerukan pendapatnya.

"Kau aneh Tuan muda Lee," lanjut Ricky.

"Hei, dengar, ya! Tuan muda bantet Kim. Kopi itu untuk diminum kapan pun, di mana pun tanpa ada batasan konsumsi. Kecuali tanggal kadaluwarsa," ujar Richard tak mau kalah. "Kau tahu?"

"Terserah," Ricky memutar matanya, "ayo kalau begitu."

"Dasar tsundere."

Ricky dan Richard pun pergi ke sebuah kafe. Setelah sampai mereka langsung masuk dan memesan.

"Selamat siang," sapa Nara pada pelanggannya itu, Ricky dan Richard.

"Kau mau apa?" tanya Richard pada Ricky.

Ricky menjawab, "Latte."

"Latte dua," kata Richard pada Nara.

"Ada lagi," tanya Nara lagi.

"Black forest satu," jawab Richard.

"Dua," susul Ricky menyahut. Richard melirik sinis pada Ricky.

"Apa?" tanya Ricky tak kalah sinis.

Nara tersenyum melihat interaksi keduanya.

"Baiklah. Latte dua dan black forest dua," kata Nara mengulang pesanan kedua pelanggannya.

"Kami akan duduk di sana," kata Richard menunjukkan sebuah meja.

"Baik." Nara mengangguk dan kedua pelanggannya pergi ke meja mereka.

Setelah beberapa menit pesanan mereka pun selesai. Nara mengantarkan pesanan keduanya ke meja mereka.

"Ini, selamat menikmati," ucap Nara dengan senyuman manis.

"Terima kasih," balas keduanya.

Setelahnya Nara pun kembali ke belakang meja kasirnya.

"Dia cantik, Ri," kata Ricky sedikit berbisik dan mendapat pukulan di kepala oleh Richard. "Awh, sakit!"

"Jelalatan."

"Memang kenyataannya begitu apa salahnya?" tanya Ricky sewot. "Oh! Kau cemburu?"

"Amit-amit," jawab Richard.

***

"Kau akan pulang?" tanya Jordan pada Gwen yang tengah bersiap.

"Iya. Sebentar lagi para pelayan pasti akan datang. Aku akan mengintegrasikan apa saja yang akan mereka kerjakan."

"Perlu kuantar?"

"Tidak usah, sayang. Aku bisa sendiri, kau fokus saja pada pekerjaanmu."

Jordan mengecup pipi Gwen dan memeluknya. "Aku merindukanmu."

"Kau ini. Kita setiap hari bertemu. Sudah, aku mau pulang."

"Jo?" Seseorang masuk ke dalam membuat keduanya melepaskan pelukan dan menoleh pada orang tersebut.

"Ibu? Kupikir siapa?" kata Jordan yang kini sedikit mendudukkan dirinya di ujung meja. "Ada apa? Tumben."

Ibu Jordan duduk di sofa yang tersedia di ruangan itu.

"Ibu berpikir untuk mampir ke sini sebentar sebelum pulang."

"Ibu ke sini hanya untuk menumpang duduk?" tanya Jordan dengan nada sedikit mengejek bercanda.

Ibunya mendelik sinis padanya dan Gwen terkekeh geli dengan keduanya.

"Aku akan pulang sekarang," pamit Gwen.

"Sungguh tak perlu kuantar?" tanya Jordan sekali lagi.

"Tidak usah, Jo."

"Kau jarang sekali menawari ibu untuk diantar pulang, beda jika dengan istrimu," kata ibunya.

"Ibu sudah tua, jadi tak perlu kuantar," jawab Jordan.

"Anak ini! Justru karena aku sudah tua, kau benar-benar."

Kemudian pintu ruangan itu diketuk dari luar dan seseorang membuka pintunya.

"Tuan Lee, rapatnya akan segera dimulai," kata Selena. Kemudian dia membungkuk setelah melihat ibu Jordan yang berbeda di sana.

"Selamat siang Nyonya besar," ucap Selena.

"Hm," ibu Jordan menjawab dengan bergumam. "Kau cantik."

"Ah, terima kasih, Nyonya besar," kata Selena sembari tersenyum malu dan menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.

"Baiklah, aku akan segera menghadiri rapat. Ibu bisa berada di sini jika mau. Dan Gwen, kau hati-hatilah."

"Iya," jawab Gwen.

"Kau bisa pergi," sahut ibunya.

***

"Selamat datang. Mau pesan apa?" tanya Nara saat seorang pelanggan pria datang.

Pria itu menatap Nara dengan penuh minat, dia menjilat bibir bawahnya sendiri.

"Aku pesan kopi susu satu, antarkan ke sana, ya," kata si pria itu menunjukan sebuah meja di sana.

"Baik, Tuan," sahut Nara dengan senyum ramahnya.

Si pria itu pergi untuk duduk di kursinya sembari terus memperhatikan Nara. Membuat Ricky yang duduk di seberangnya menatap pria itu penuh curiga.

"Kau kenapa?" tanya Richard sambil meminum latte miliknya.

"Jangan bilang kalau kau tertarik dengan pria gendut itu," tuduh Richard pada Ricky sambil mengerutkan keningnya.

Mendengar itu membuat Ricky menatap tajam pada Richard. "Sialan mulutmu itu, Richard!"

Richard mengangkat bahunya. "Siapa tahu kau mau menjadikannya sugar daddy-mu."

"Aduh! Sakit!" protes Richard setelah mendapatkan pukulan di kepala oleh Ricky.

"Dasar bodoh! Aku kesal sekali padamu," sungut Ricky padanya.

"Lihat itu!" ucap Ricky melanjutkan, dia menunjuk si pria itu.

Richard mengikuti arah tunjuk Ricky dan dibuat semakin keheranan.

Richard bertanya, "Ada apa dengan pria itu?"

"Kau tidak lihat?"

Richard menggeleng dan Ricky berdecak kesal.

"Memangnya lihat apa? Hantu? Setan? Atau penjaganya? Tinggal bilang saja apa susahnya?" Richard berkata dengan kesalnya.

"Lihat itu! Dia dari tadi terus menatap waiters wanita itu," jelas Ricky membuat Richard menatap si pria dengan seksama.

"Awas saja jika dia macam-macam," desis Richard. "Kita lihat saja, Rick. Jika pria jelek itu berbuat macam-macam, kita bergerak."

"Bergerak?" ulang Ricky dengan wajah yang mesum membuat Richard mencubitnya dengan sangat keras.

"Sialan otak kotormu itu!"

Pesanan pria itu pun selesai, Nara mengantarkan pesanan pria itu. Nara membawa kopi itu di atas nampan, saat Nara sudah dekat dengan meja si pria.

Lalu pria itu sengaja menjulurkan kakinya dan membuat Nara tersandung. Kopi panas itu pun tumpah ke pada si pria.

"ARGHH PANAS!" Pria itu menjerit dan langsung berdiri dari duduknya, membuat semua orang di sana menatap padanya.

Ricky dan Richard juga melotot tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh pria gendut jelek itu.

"Pria tua licik!" desis Richard menahan kesal.

"Kita lihat dulu selanjutnya apa," kata Ricky yang sama kesalnya.

"Astaga! Maaf, Tuan. Saya tidak sengaja," kata Nara panik.

"Kau bisa bekerja tidak?" bentak pria itu pada Nara.

"Maaf ... maaf ..." Nara terus menerus mengulang kata itu dengan terus membungkuk beberapa kali.

"Ini panas sekali. Kau harus bertanggungjawab," tunjuk pria membuat Nara tersentak kaget.

"Ada apa ini?" tanya si pemilik kafe setelah dia mendengar keributan.

"Lihat pegawaimu yang tidak becus ini!" kata si pria kembali menunjuk Nara. "Celana mahalku jadi basah tersiram kopi dan ini panas bukan main!"

"Dia harus bertanggungjawab jawab! Dia harus ganti rugi!" lanjut pria itu.

"Sa-saya minta maaf, Tuan. Saya tidak sengaja." Nara menundukkan kepalanya, kedua tangannya memegang erat nampan di tangannya.

"Mau sengaja atau tidak, kau harus tetap bertanggungjawab!" Pria itu terus menyudutkan Nara.

"Maaf, apa tidak bisa dibicarakan baik-baik?" tanya si pemilik kafe.

"Tidak bisa! Aku harus membawanya ke kantor polisi," tegas si pria itu membuat Nara terkejut bukan main.

"A-apa?" Nara menatap pria itu dengan horor. "Tidak! Jangan, Tuan. Saya mohon."

"Tidak! Ayo ikut aku." Pria itu meraih pergelangan tangan Nara. Membuat nampan di tangannya terjatuh ke lantai.

"Tuan, ini bisa dibicarakan baik-baik," kata si pemilik kafe setelah si pria itu menarik Nara.

Nara memberontak saat pria itu menyeretnya menuju ke pintu kafe itu untuk keluar. Dia menatap pada si pemilik kafe memohon.

"Tuan, saya mohon. Ini bisa dibicarakan baik-baik."

"Minggir!" Pria itu sedikit mendorong tubuh si pemilik kafe.

"Lepaskan gadis itu," kata Richard yang berdiri tak jauh dari mereka bersama Ricky.

"Siapa kau?" tanya si pria. "Ini bukan urusanmu."

"Kubilang lepaskan," ulang Richard.

"Cih! Dia harus bertanggungjawab-"

"Dengan membawanya ke hotel? Begitu?" tanya Ricky dengan seringai di wajahnya. Dan itu membuat Nara serta semua orang terkejut.

"A-apa maksudmu? Jangan sembarangan kau kalau bicara," kata si pria dengan gugup.

"Cih, aku tahu trik murahan dari pria hidung belang sepertimu," Ricky berucap meremehkan. "Pertama-tama kau akan membuat mangsamu seolah-olah melakukan kesalahan. Lalu kau akan membawanya dengan dalih bertanggungjawab, padahal kau akan membawanya ke hotel dan melakukan aksi bejatmu."

Ucapan Ricky yang panjang lebar itu sukses membuat para pengunjung kafe di sana mulai berbisik.

Pria itu melihat sekeliling dengan wajah yang merah karena malu dan marah.

"Ta-tahu apa kau bocah? Jangan sembarangan bicara, aku bisa melaporkanmu atas tuduhan mencoreng nama baik," ancam si pria itu.

Ricky mulai mengeluarkan ponsel miliknya dan memperlihatkan sebuah video. Di mana dalam video itu menunjukkan bahwa si pria dengan sengaja membuat Nara tersandung.

"Bagaimana?" tanya Ricky. "Kau yang sengaja menyandung kakinya, Tuan gendut!"

Dan semakin memerahlah wajah si pria jelek dan gendut itu.

"Sekarang, lepaskan tangan gadis itu," ucap Richard dengan penuh ancaman.

Seluruh pengunjung kafe itu menyoraki si pria, membuat pria itu melepaskan tangan Nara dan melesat pergi dari kafe itu dengan rasa malu yang luar biasa.

"Kau baik-baik saja?" tanya si pemilik kafe pada Nara yang menunduk dan menangis.

Nara mengangguk.

"Sudah, tidak usah di pikirkan," hibur si pemilik kafe mengelus punggung Nara.

"Maafkan saya, Tuan." Nara berucap dengan lirih, dia mengusap air matanya.

"Kenapa minta maaf? Kau tidak salah, aku selalu percaya padamu," kata si pemilik kafe.

"Terima kasih," ucap Nara dengan bersungguh-sungguh.

"Oh, ya. Dan untuk kalian, terima kasih karena sudah membantu." Si pemilik kafe berucap pada pada Ricky dan Richard.

"Sama-sama, Pak," ucap Ricky dan Richard bersamaan.

"Aku tidak tahu jika tidak ada kalian. Siapa nama kalian?" tanya si pemilik kafe.

"Perkenalkan, saya Richard Lee dan ini teman saya. Ricky Kim," jawab Richard memperkenalkan.

"Saya pemilik kafe ini. Sekali lagi terima kasih banyak untuk kalian berdua," kata si pemilik kafe.

"Baiklah, aku akan memanggilkan seseorang untuk membersihkan kekacauan ini. Kau bisa istirahat dulu, Nara. Aku permisi," sambung si pemilik kafe dan berlalu pergi.

"Kau baik-baik saja?" tanya Richard pada Nara.

"Aku baik-baik saja. Terima kasih untuk kalian berdua," ucap Nara bersungguh-sungguh. "Oh, ya. Namaku Nara, sekali lagi terima kasih banyak."

"Sama-sama, Nara," ucap Ricky.

Setelah sedikit berbincang, Richard dan Ricky pun pamit undur diri. Tentu saja setelah membayar pesanan mereka, bahkan Richard membayar kopi si pria tadi, dan ganti rugi meski bukan dia pelakunya.

"Ini pertama kalinya aku jadi pahlawan," ujar Ricky dengan tersenyum bangga saat di perjalanan untuk kembali ke kampus mereka.

"Omong-omong, kapan kau merekamnya?" tanya Richard.

"Aku jenius, kan? Kau saja sampai tidak sadar, kan?" Bukannya menjawab Ricky malah balik bertanya.

"Hm." Richard menjawab dengan seadanya dan Ricky hanya nyengir kuda.

***

Nara berjalan menuju ke rumahnya. Jujur, dia masih syok atas kejadian tadi sebenarnya. Tapi ... dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatannya.

Bruk!!

Nara menabrak seseorang. Dengan refleks Nara membungkukkan badan.

"Maaf, saya tidak sengaja," ucapnya meminta maaf.

"Dasar sialan!"

Nara mendongak mendengar perkataan itu. "Nyonya?"

Di hadapannya kini berdiri si wanita rentenir itu. Ternyata dia yang Nara tabrak.

"Kenapa? Terkejut melihatku?" tanya si rentenir.

"Dasar tidak berguna! Ingat, ya. Sampai waktu yang aku tentukan, uangnya harus segera di tanganku, mengerti?" Si rentenir memperingati.

Di sebuah mobil yang sedang menunggu lampu merah berganti hijau, ibu Jordan memperhatikan Nara yang sedang dimaki oleh wanita paruh baya.

"Gadis yang malang," ucap ibu Jordan dan mobilnya kembali melaju setelah lampu hijau menyala di depan sana.

"Iya, Nyonya," jawab Nara.

"Jika kau tidak bisa bayar, kau akan tahu akibatnya!" ucap si rentenir itu penuh dengan ancaman.

Nara menghela napas setelah si rentenir itu pergi dari hadapannya.

"Kau pasti bisa, Nara. Pasti," ucap Nara pada diriku sendiri.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel