Bab 2 Anak
Pagi hari di sebuah rumah bercat putih, bernuansa modern, dan terkesan megah juga mewah. Terlihat seorang pria menghampiri dua orang yang berada di dapur.
"Kau sudah bangun?" tanya Gwen pada sang suami.
Si suami tersenyum kemudian memeluk istrinya dari belakang dan mencium pipi sang istri.
Lalu seseorang yang sedari tadi duduk memperhatikan dua pasturi di depannya berdeham.
Ia berkata, "Ada manusia di sini."
"Oh, aku tidak melihatnya," sahut si pria.
"Oh, ayolah, Kak. Aku sudah setinggi ini kau masih tidak melihatku? Payah," kata Richard pada kakaknya.
"Dasar anak kecil," jawab Jordan kakak Richard.
"Kak, aku sudah besar." Richard tentu saja tak terima dirinya dikatai anak kecil.
"Bagiku kau masih anak kecil, Ri."
Richard mendengus. "Terserah."
"Kapan kau akan pulang?" tanya Jordan setelah dia duduk di kursi.
"Ini juga rumah," jawab Richard sambil memakan sarapannya.
"Ini rumahku."
"Aku tinggal di sini saja. Aku tidak mau tinggal bersama ibu, dia cerewet," jawab Richard.
"Anak durhaka." Jordan menggeleng tak habis pikir dengan kelakuan adiknya.
"Kau juga," sahut Richard tak mau kalah.
"Sudahlah kalian ini, kenapa malah bertengkar? Tidak baik bertengkar di depan makanan," timpal Gwen yang sedari tadi jengah dengan perdebatan kecil kakak beradik itu.
"Kakak ipar~ Lihat kakak, dia nakal!" adu Richard pada Gwen, kakak iparnya.
"Pengadu." Jordan mendengus melihat Richard menjulurkan lidah meledek padanya.
"Oh, ya! Semalam kau pulang jam berapa?" tanya Richard pada Jordan.
"Jam satu malam. Kenapa?" tanya Jordan heran.
"Tumben sekali. Kasian kakak ipar, dia menunggumu sampai jam 11 malam."
"Suami kejam," lanjut Richard sambil kembali memakan sarapannya.
Jordan menatap istrinya lekat dan di balas oleh Gwen dengan sebuah senyuman.
"Kau pasti sibuk," kata Gwen dengan lembut.
"Aku tidak mengabarimu, aku lupa," ucap Jordan penuh sesal.
"Kau ini ... tak masalah. Kau sudah bekerja keras, sayang."
"Maafkan aku, ya, sayang." Jordan memeluk istrinya dari samping.
"Cih! Aku jadi ingin menikah," sungut Richard yang menyaksikan adegan mesra itu.
"Kuliah yang benar," sahut Jordan setelah dia melepaskan pelukannya.
"Hm." Richard menanggapinya dengan malas.
"Aku selesai. Aku berangkat, ya." Richard bersiap-siap untuk pergi ke kampus.
Jordan ikut bersiap. "Kuantar."
"Siap, Bos!"
"Aku berangkat, ya, sayang," pamit Jordan pada Gwen.
"Hm, kalian hati-hati, ya."
Jordan mencium kening istrinya dan memeluknya sebentar.
"Kakak ipar, peluk aku juga." Richard merentangkan tangannya. Tapi Jordan menarik kerah belakang baju adiknya itu menjauh dari Gwen.
Jordan berkata, "Sudah ayo berangkat. Nanti terlambat."
"Hei! Hei! Kak! Ish, dasar pelit!" teriak Richard tak terima sambil meronta-ronta. Gwen yang melihatnya hanya terkekeh geli.
***
Seorang wanita paruh baya terlihat sedang menjemur pakaian di belakang rumahnya. Lalu seseorang memeluknya dari belakang.
"Oh, astaga! Kau mengagetkan ibu," katanya pada sang anak.
Seorang gadis -sang pelaku hanya tersenyum dan menggumamkan kata maaf. Kemudian gadis itu mencium pipi ibunya.
"Kubantu," kata Nara pada ibunya.
"Kau akan ke kafe hari ini?" tanya sang ibu pada Nara.
"Iya, Bu. Hari ini aku sift pagi," jawab Nara sambil menjemur pakaian.
"Minta izinlah barang sehari. Pemilik kafe pasti mengizinkanmu, dia sangat baik."
"Iya, paman pemilik kafe itu memang sangat baik," ucap Nara membenarkan. "Tapi, Bu. Jika aku izin sehari itu artinya uang upahku juga akan hilang sehari."
"Dan aku tidak mau menyia-nyiakan itu, Bu," lanjut Nara menjelaskan.
Ibu Nara menghela napasnya. "Ibu mengerti. Jika kau merasa sangat lelah, istirahatlah. Jangan terlalu memaksakan diri."
Nara hanya mengangguk menanggapi apa yang ibunya katakan padanya.
"Ayo kita sarapan," ajak sang ibu setelah selesai menjemur semua cuciannya.
"Ayo!" jawab Nara dengan sangat girang.
***
Siang hari di rumah keluarga Lee. Gwen sedang menyiapkan bekal makan siang untuk suaminya di dapur. Wanita itu berencana untuk mengantarkan makan siang itu ke kantor Jordan.
"Menantu?" Suara seorang wanita paruh baya menginterupsi pendengaran Gwen.
Wanita itu menengok ke arah sumber suara. "Oh, ibu. Kenapa tidak menghubungiku dulu? Jika tahu ibu akan ke sini aku akan mengosongkan jadwalku."
Ibu mertua Gwen itu mendudukkan dirinya di sofa ruang tengah. Ruang tengah dan dapur memang berdekatan, jadi mereka masih bisa berkomunikasi.
"Aku hanya kebetulan lewat sini," ucap sang ibu mertua sambil melihat sekeliling ruangan, "tidak ada yang berubah di sini."
Gwen menghampiri ibu dari suaminya ini dengan membawa sebuah paper bag berisi kotak bekal makan siang yang dibuatnya.
"Ibu mau kubuatkan minuman apa?" tanya Gwen seraya meletakkan paper bag di atas meja.
"Tidak usah, nanti aku mengambil sendiri." Ibu Jordan melirik pada paper bag itu. "Bekal untuk Jordan?"
"Iya," jawab Gwen duduk di sofa. "Ibu mau ikut ke kantor Jordan?"
"Tidak. Kau saja. Aku ingin beristirahat sebentar di sini."
"Tak apa jika di sini sendirian?" tanya Gwen khawatir.
"Aku bukan anak kecil lagi," mertua Gwen mulai berbaring di atas sofa, "di mana pembantumu?"
"Sudah pulang, nanti sore ke sini lagi."
"Seharusnya kau menyuruh Jordan untuk menyewa beberapa pelayan lagi," usul sang ibu mertua.
"Tidak usah, Bu. Ini saja cukup."
"Kau istri yang baik," ibu Jordan melirik Gwen, "keluarga yang sempurna. Apalagi jika ditambah momongan."
Gwen hanya tersenyum menanggapi itu dan ibu mertuanya memainkan ponsel.
"Jika bukan karena wasiat dari ibumu dan dia adalah teman baikku, aku sudah mengusirmu dari rumah ini. Tapi aku takut oleh ibumu nanti jika kita bertemu di kehidupan berikutnya."
Dan Gwen lagi-lagi hanya tersenyum. Dia sudah biasa dan memaklumi sifat mertuanya yang satu ini.
"Aku akan berangkat sekarang, Bu."
"Hm, hati-hati."
Ibu Lee sebenarnya sangat baik. Dia hanya bawel pada Gwen masalah keturunan. Dia tidak marah kalau Gwen tidak bisa memiliki anak, itu hanya insting seorang ibu yang ingin mempunyai cucu.
Tapi, ya ... bisa apa?
Menantunya mandul. Itu sudah menjadi garis takdir dari Tuhan. Terlebih anaknya -Jordan juga tidak ingin menceraikan Gwen atau menikah lagi. Dan lagipula Gwen adalah yatim piatu.
***
Jordan sedang berada di ruangannya, dia sedang mengerjakan berkas-berkas yang menumpuk di atas meja kerjanya. Dia teramat sangat fokus sampai sebuah ketukan di pintu ruangannya terdengar.
"Masuk."
"Tuan Lee?" Selena sekertarisnya menghampiri Jordan.
"Ada apa Selena?"
Selena menyerahkan sebuah map padatnya.
"Ada dokumen yang harus anda tandatangani, Tuan."
Jordan mengambil dokumen yang diserahkan Selena dan menandatanganinya. Kemudian dia melanjutkan pekerjaannya tadi yang sempat tertunda.
Selena memperhatikan atasannya dengan seksama. "Tuan Lee tidak makan siang?"
"Belum," jawab Jordan masih memperhatikan pada komputer di depannya.
"Bagaimana jika kita makan siang bersama? Ma-maksud saya dengan para karyawan yang lainnya juga." Selena sedikit gelagapan saat mengatakan itu.
Kini atensi Jordan beralih pada sekertaris wanitanya itu.
"Bagaimana jika kau segera pergi dan makan siang? Takutnya waktu makan siang habis dan kau tidak bisa makan," kata Jordan sehalus mungkin tapi masih meninggalkan kesan tegasnya.
"Tapi ... Tuan-"
"Sayang ... aku bawa bekal untukmu."
Selena dan Jordan seketika mengalihkan pandangan mereka ke arah sumber suara. Dan mereka mendapati Gwen yang baru masuk dengan sebuah paper bag di tangannya.
Jordan kemudian tersenyum. "Kemarilah."
Selena menatap Gwen yang mendekati Jordan, kemudian Selena membungkuk hormat padanya.
"Selamat siang, Nyonya Gwen."
Gwen tersenyum. "Siang."
"Mau makan siang bersama kami?" tanya Gwen pada Selena.
"Ah, tidak usah, Nyonya. Saya permisi." Selena kembali membungkuk hormat dan pergi dari ruangan itu.
"Dia cantik," ucap Gwen setelah menatap kepergian Selena dari sana.
"Lebih cantik istriku."
Gwen mendengus geli mendengar tanggapan dari Jordan.
"Makanlah," titah Gwen setelah dia selesai menyiapkan bekalnya.
"Suapi."
"Dasar bayi!"
Mereka pun mulai makan bersama -maksudnya Gwen yang menyuapi suaminya.
"Jo?"
"Kenapa, sayang?" tanya Jordan sembari mengunyah makanannya.
"Selena masih lajang, kan?" tanya Gwen membuat alis Jordan sedikit mengerut.
"Hm, kenapa?" tanya Jordan lagi dengan bingung.
"Kau mau menjodohkan dia?" lanjut Jordan bertanya pada Gwen yang masih diam.
"Menikahlah dengannya."
Perkataan Gwen sukses membuat Jordan berhenti mengunyah dan menajamkan tatapan matanya. Membuat Gwen sedikit menundukkan kepalanya.
"Aku ..." Gwen meremas kedua tangannya di atas paha.
"Ibu ke rumah?" tanya Jordan tepat sasaran. Terbukti saat Gwen masih terdiam tak membalas.
"Sudah berapa kali kubilang? Jangan dengarkan omongan ibu. Aku tidak masalah jika tidak punya anak, aku hanya tidak sanggup jika harus melakukannya. Aku tidak ingin menyakitimu."
Gwen menatap Jordan yang berbicara panjang lebar.
"Tapi, Jo ... ibu sangat mengharapkan keturunan darimu. Dan aku tidak bisa memberikannya."
"Dan aku harus menyakitimu, begitu?" tanya Jordan membuat Gwen lagi-lagi terdiam.
"Aku tidak bisa. Aku tidak mau. Sudah, jangan bicarakan itu lagi. Nanti selera makanku hilang," ujar Jordan lanjut memakan makan siangnya. Dan Gwen terdiam.
