Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 19 - Kemah

Hari ini adalah hari keberangkatan mereka untuk kemping. Nara dan Richard turun ke lantai satu dengan masing-masing tas ransel yang di bawa mereka.

"Kalian sudah siap?" tanya Jordan dan keduanya mengangguk.

"Ugh, ini berat, Jo," keluh Richard.

"Tidak seberat rindu." Jawaban Jordan itu membuat Richard memutar mata malas.

"Sudah, ayo ke mobil."

Mereka berempat pun menuju ke halaman depan rumah. Jordan memasukkan barang-barang mereka ke dalam bagasi mobil di bantu oleh Richard.

"Yang lainnya menunggu di mana katanya?" tanya Jordan.

Richard menjawab, "Di halte depan katanya, Jo.

"Baiklah, sudah siap, kan?" Ketiga orang di sana mengangguk. "Ayo berangkat."

Mereka pun masuk kedalam mobil dan berjalan menjemput yang lainnya. Setelah sampai di halte, mereka semua naik kedalam mobil.

Di perjalanan mereka nyanyi-nyanyi dan berisik. Meskipun yang berisik hanya Richard dan Ricky.

"Jo, apa masih lama?" tanya Richard.

"Hm."

"Bosaaaannn ..." keluh Richard.

"Sabar, atau kulempar kau."

"Kejam sekali."

Setelah diam lama, Richard kembali bertanya.

"Are we there yet?"

"Not yet."

"Are we there yet?"

"Not yet." Jordan memutar mata.

"Are we there yet?"

"Let's play a game. What you look with me and tell me what you see, draving in the car."

"Eh, ada yang ketinggalan, Jo, satu bait."

"Aku lupa."

"Lagi pula sudah berapa lama kita tidak nonton lagu itu."

"Saat kau kecil dan sering mengompoliku."

Richard tersipu malu mendengar itu. "Jo, ih!!"

Semua orang di sana tertawa.

"Kak Jo, bagaimana saat dia kecil?" tanya Ricky.

"Gemuk, telinganya lebar."

"YAH!!!" Richard berteriak tak terima aibnya diumbar oleh Jordan.

"Cengeng."

"Semua bayi, balita, batita dan anak-anak juga begitu." Richard melakukan pembelaan.

"Sampai sekarang juga kau masih cengeng."

"Mana ada?"

"Aku setuju." Nara menyahut.

Richard melotot dramatis. "Kukira kau di pihak ku?"

"Aku ingat saat kau tak diberi izin untuk kemping," kata Nara.

"Memangnya kenapa?" Hanna bertanya penasaran.

"Tidak usah dibahas," Richard menimpali. Nara  hendak membuka mulut sebelum Richard kembali berkata, "Aku akan marah padamu."

Nara menahan tawa.

"Dia menangis." Bukan Hanna yang menjawab, tapi Gwen.

"Benarkah!" Ricky melotot antusias.

"Kakak ipar!!" Richard merengek.

"Sudah kuduga. Hahaha." Ricky tertawa terbahak-bahak.

Samuel hanya memperhatikan saja.

"Sudahlah." Richard cemberut.

"Kau seperti bayi." Kini Samuel menimpali.

"Hei, hei! Aku sudah dewasa."

"Darimananya?"

"Semuanya.

"Tidak yakin."

"Akan kubuktikan."

"Buktikan," sahut Ricky.

Richard memegang kedua tangan Nara membuat wanita itu bingung.

"Aku mencintaimu Nara," kata Richard.

Perkataan Richard itu sukses membuat Jordan mengerem mendadak dan membuat kegaduhan di dalam mobil.

"Astaga!" Gwen benar-benar terkejut akan rem dadakan itu.

"AW. Jidatku," Richard mengeluh karena jidatnya terbentur jok di depan.

"Hidungku." Kali ini Ricky yang hidungnya jadi korban.

"Aku masih hidup." Hanna syok.

Samuel terkejut dan Nara hanya mengedip-ngedipkan matanya.

"Kenapa, sih?" sembur Richard.

"Aku kaget," jawab Jordan.

"Kau tidak apa Jae?" tanya Gwen.

"Aku baik," jawab Jordan, "Maaf semuanya, tadi aku hampir menabrak seekor kucing."

"Heh, kau." Ricky menunjuk Richard. "Apa maksudmu barusan?"

" Aku bercanda. Pokoknya aku sudah dewasa."

"Terserah." Jordan kesal bukan main, lalu dia menjalankan lagi mobilnya.

Setelah beberapa saat, semua orang di sana tertidur kecuali Jordan tentunya dan Nara.

"Kau tidak tidur?" Jordan melirik Nara dari kaca spion depan.

Nara menggeleng. "Belum mengantuk, Tuan."

"Tidurlah, perjalanan kita masih agak jauh."

"Tuan sendiri?"

"Kau mengkhawatirkanku?" tanya Jordan menyeringai.

"Ti-tidak."

"Aku tidur saat sudah sampai saja. Kau tidurlah."

Nara mengangguk dan dia pun mencoba untuk tidur. Setelah beberapa lama akhirnya mereka pun sampai di tempat kemah. Di sebuah hutan lindung yang dekat dengan sungai dan perumahan penduduk di bawah sana.

Semuanya turun untuk mendirikan tenda, kecuali Nara yang masih tertidur.

"Nara masih tertidur," kata Richard.

"Apa perlu di bangunkan?" Hanna menyahuti.

Jordan melirik Nara dan menjawab, "Tidak usah, biarkan saja."

"Ayo kita siapkan tenda." Samuel pergi lebih dulu untuk membangun tenda.

Para pria mulai mendirikan tenda, mereka mendirikan dua. Satu untuk pria dan satu lagi untuk wanita. Hanna dan Gwen mengeluarkan bahan makanan yang mereka bawa untuk memasaknya.

Setelah beberapa saat Nara membuka matanya.

"Tidurmu nyenyak?"

"Tuan?"

Jordan duduk di samping Nara. "Terkejut?"

Nara melihat keluar. "Tuan sedang apa di sini?"

"Mengambil tali," katanya menunjukkan tali di tangannya.

"Tendanya sudah jadi, kenapa tidak ada yang membangunkan ku?"

"Sudah, ayo turun," sahut Jordan membuat Nara cemberut. Jordan mengecup bibir Nara.

"Tu-tuan." Nara panik dan matanya melirik ke arah luar.

"Tidak akan ada yang lihat, ayo."

Mereka turun dari mobil dan menghampiri yang lain. Nara duduk di sebelah Hanna.

"Kenapa tidak membangunkan aku?" Nara protes pada Hanna.

"Kau sepertinya kelelahan. Jadi dibiarkan saja."

"Aku jadi merasa tidak berguna."

"Semuanya, api unggun nanti kita bakar ikan." Ricky berteriak heboh dan menunjukkan ikan yang didapatnya dari sungai.

"Ikannya besar-besar, tapi milik siapa,ya?" Samuel bertanya.

"Hei, mana ada orang memelihara ikan di sungai. Ada-ada saja," sahut Richard.

"Benar juga."

"Bagaimana air sungainya?" tanya Nara.

"Jernih." Richard menjawab.

"Sejuk." Samuel juga ikut menimpali.

"Dingin." Ricky memeluk dirinya sendiri.

"Aku akan bersihkan ikannya," kata Gwen.

"Aku ikut." Nara ikut membersihkan ikan bersama Gwen.

Mereka berdua pun pergi. Tak lama, mereka kembali dari membersihkan ikan. Lalu semuanya makan siang bersama.

***

"Lihat, lihat, itu ikannya." Nara menunjuk ikan di sungai.

Sebenarnya sungainya dangkal, tapi banyak ikannya. Di beberapa titik ada juga yang dalam sebatas pinggang. Mereka saat ini sedang bermain di sungai.

"Sejuknya ... segar." Richard berendam di sungai.

Ricky melompat ke sungai membuat Richard terkena cipratan air. "Astaga. Kaget!"

"Hehehe, maaf."

Samuel duduk di samping Richard, dia ikut berendam juga.

"Segar," kata Samuel.

"Jo?" Gwen menyentuh bahu Jordan.

"Hm?"

"Kau tidak ikut berendam?"

"Malas."

"Tidak tidur?"

"Aku akan menemanimu di sini."

"Tadi, kan, hanya kau yang tidak tidur. Sekarang istirahatlah."

Jordan melihat Nara menuju tenda. "Aku akan ke tenda."

"Hm, istirahatlah."

Nara mengubek tas Hanna untuk mencari sebuah kamera. Lalu ada seseorang yang memeluk Nara dari belakang.

"Astaga!Tuan? Apa yang sedang tuan lakukan di sini?" Nara melihat ke luar tenda.

"Tidak akan ada yang lihat. Kau sedang apa?"

"Me-mencari kamera Hanna."

"Ikut aku." Jordan menarik tangan Nara untuk masuk ke dalam tenda pria. "Temani aku tidur."

"Tuan, Hanna menunggu."

"Sebentar." Jordan menarik Nara dalam dekapannya.

setelah beberapa saat menunggu, Nara coba memastikan Jordan sudah tidur atau belum.

"Tuan? Tuan Sudah tidur?"

"Kalau kau terus bicara, aku tidak akan tidur-tidur."

"Maaf."

Jordan mencium kepala Nara. Waktu terus berjalan, tapi Jordan tak kunjung menutup matanya. Dan Nara juga masih diam di tempat.

"Kenapa aku tidak bisa tidur, ya? Apa karena ada kau?" kata Jordan membuat Nara kesal dan mendorong tubuh pria itu.

"Sudahlah, Tuan membuang waktu." Nara pun pergi sementara Jordan terkekeh melihat tingkah Nara.

"Aku ngantuk sekali." Jorda akhir memejamkan mata.

Nara kembali ke sungai dengan kamera di tangannya.

"Kenapa lama?" tanya Hanna.

"Sulit menemukannya."

"Hehehe, maaf."

Nara lalu menyerahkan kamera pada Hanna.

"Semuanya, ayo kita berfoto." Hanna berteriak

"Ayo!" Richard melompat menghampiri Hanna. Di susul Ricky, Samuel, dan Gwen.

Dan mereka semua pun asyik berfoto, kecuali Jordan yang tertidur di tenda.

***

Nara dan Samuel sedang mencari kayu berdua. Mereka semua terpisah dan Nara pergi bersama Samuel.

"Nara?"

"Ya?"

"Kau sudah punya kekasih?"

"Kenapa?"

"Ku rasa ... ah, tidak. Aku menyukaimu, kau mau jadi kekasihku?"

Nara terkejut dengan pengakuan Samuel. "Oh ... Samuel ... itu ..."

"Jangan dijawab dulu kalau belum siap. Ayo, kita lanjutkan mencari kayu."

Malam harinya mereka menyalakan api unggun dengan kayu yang tadi mereka kumpulkan.

"Richard, kipas yang benar."

"Ini juga sudah sangat benar, Ricky. Sesuai dengan peraturan perundang-undangan."

"Sejak kapan membakar ikan ada undang-undangnya."

"Sejak aku yang mengipas apinya."

"Kenapa berdebat? Ikannya nanti hangus jika kalian bertengkar terus," timpal Samuel yang sedang memanggang ikan.

Lalu Jordan datang menghampiri mereka. "Maaf, aku baru bangun," katanya.

"Sayang, duduk di sini," kata Gwen pada Jordan dan pria itu duduk di samping Gwen.

"Sam, sudah matang belum?" Nara bertanya pada Samuel.

"Sedikit lagi."

Hanna datang setelah dia menelepon, wajahnya ditekuk. Sepertinya dia sehabis marah-marah.

"Sudah menelponnya?" tanya Ricky.

"Sudah. Sini kubantu," kata Hanna pada Ricky.

"Wanginya ..." Richard menghirup aroma ikan bakar itu.

Mereka sedang sibuk dengan urusan masing-masing sampai seseorang datang.

"Kalau mau bersenang-senang ajaklah aku, Jo." Bobby datang ke perkemahan mereka untuk menyusul Hanna, kekasihnya.

"Kau ke mari?" tanya Jordan.

"Duduklah." Gwen mempersilakan Bobby untuk duduk. Dan pria itu memilih duduk di samping Hanna.

"Sayang?"

"Berhenti memanggilku seperti itu."

"Kau marah?"

"Tidak tahu!" Hanna berucap kesal pada Bobby, lalu pria itu menghampiri Hanna dan duduk di sampingnya.

"Jangan marah. Aku hanya mengkhawatirkanmu," kata Bobby membelai rambut Hanna.

"Tidak usah marah-marah, kan?"

Bobby menjawab, "Maaf."

"Kak Bobby, kau berpacaran dengan Hanna?" tanya Richard.

"Hm." Jawaban Bobby itu membuat Richard syok dan Ricky melongo, lalu keduanya saling tatap tak percaya.

"Ikannya sudah matang," kata Samuel.

Ricky menyahuti. "Ayo kita makan."

"Sini, kusuapi? Jangan marah lagi," kata Bobby pada Hanna. Dia pun menyuapi Hanna ikan bakar itu.

"Kau mau ku suapi juga?" tanya Jordan pada Gwen.

"Berlebihan," kata Gwen.

"Sudah sini." Jordan pun menyuapi Gwen. Di tengah-tengah dia menyuapi istrinya, Jordan melirik Nara dan tersenyum miring pada wanita itu.

Nara sedikit mendecih melihatnya dan hendak memanggil Samuel. "Sam, ak-"

"Mau kusuapi?" tanya Samuel pada Nara.

"H-hah?" Nara sedikit terkejut, belum juga dia menyelesaikan ucapannya, Samuel sudah memotongnya.

"Buka mulutmu." Dan Nara membuka mulutnya, lalu Samuel menyuapi Nara.

Melihat itu membuat Jordan jadi kesal, dia sampai mematahkan panggang ikan yang terbuat dari kayu itu.

Pletek!

"Kau kenapa?" tanya Gwen.

"Maaf, aku terlalu bersemangat," ucap Jordan menatap panggangan itu sedikit meringis.

Melihat itu membuat Nara menahan tawa.

"Awas kau," kata Jordan dalam hati.

Saat yang lain saling menyuapi berpasang-pasangan, Richard melirik Ricky dan pria itu balas melirik Richard.

"Apa? Mau ku suapi?" tanya Ricky.

"Cih, kenapa aku selalu harus denganmu."

"Mungkin sebuah kesialan bagiku."

"Hei!!" Richard berteriak tak terima.

Ricky menjejalkan daging ikan ke mulut Richard. "Diam dan makanlah."

Itu membuat Richard sedikit kesal, di hendak marah tapi dia urungkan. "Ikannya enak sekali."

Setelah selesai memakan ikan bakar, mereka pun melanjutkannya dengan bernyanyi-nyanyi ria. Tenang saja, semua pria di sana penyanyi semua. Eh, maksudnya bisa bernyanyi semua.

"Sudah malam, ayo kita tidur." ucap Gwen.

Richard menguap lebar. "Aku juga sudah sangat mengantuk."

Dan mereka semua pun pergi untuk tidur.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel