Bab 18 - Cemburu!
Pagi harinya di dapur. Nara datang bersama Richard.
"Pagi semua," sapa Richard.
"Pagi," jawab Gwen dan Jordan langsung menatap Nara.
"Kau cantik pagi ini," kata Jordan pada Gwen, dia akan memulai aksinya untuk memanas-manasi Nara.
"Hanya pagi ini?" tanya Gwen.
"Ya. Karena biasanya selalu ada lingkaran hitam dibawah matamu."
"Kau ini." Gwen menyikut Jordan lalu pria itu mencium pipi Gwen.
Nara yang melihatnya mengalihkan pandangan. Dan Jordan menyeringai melihat itu.
"Tumben sekali, pagi ini sangat romantis," ucap Richard.
"Bilang saja cemburu." Jordan membalas dan Richard mendecih.
"Sudah, ayo sarapan." Gwen berkata layaknya seorang ibu.
***
"Aku turun duluan, Ricky menungguku." Richard langsung keluar mobil saat mereka sampai di depan kampus.
"Aku juga permisi, Tuan."
"Nara?"
"Ya?
"Berikan aku satu ciuman." Nara diam. "Di bibir," lanjut Jordan.
Nara jadi gugup, "Tu-tuan ..."
"Tatap mataku. Dan lakukanlah."
Nara melakukan apa yang di suruh Jordan. Dia menatap tepat mata Jordan dan memajukan wajahnya. Jarak di antara mereka semakin dekat dan Jordan sedikit menyeringai.
Bibir mereka benar-benar menyatu dan Nara memejamkan matanya. Dan Jordan benar-benar tersenyum. Jordan menahan kepala Nara, setelahnya Nara mendorong tubuh pria itu dan terengah.
"Masuklah," kata Jordan membuat Nara buru-buru keluar.
Nara berlari ke dalam area kampus. Dia berhenti dan memegang dadanya. "Tidak. Ini tidak boleh. Jangan Nara, kau tidak boleh." Nara kini berjongkok. "Tidak. Tidak. Jangan. Berhenti." Dia memukul-mukul dadanya.
"Nara?" Hanna berdiri tepat di depan nara. "Apa yang kau lakukan di sini? Kenapa memukul-mukul dadamu seperti itu?"
"Hah?" Nara langsung berdiri. "Aku hanya sesak napas sehabis berlari."
"Oh, ayo masuk."
***
Jordan sedang berada di dalam ruangannya di kantor
tok tok tok
"Masuk."
"Jo?" Ternyata yang datang adalah Gwen.
"Kenapa ke sini?"
Gwen menggeleng. "Hanya ingin." Wanita itu duduk di sofa dan Jordan menghampirinya.
"Merindukanku?"
Gwen terkekeh. "Iya. Aku sangat merindukanmu." Dia berdiri dan mengalungkan tangannya di leher Jordan.
"Lalu? Kau mau sesuatu dariku?" Gwen menggeleng. "Lalu istri cantikku ini mau apa, hm?"
"Tidak ada. Hanya saja ..."
"Apa?"
"Akhir-akhir ini aku merasa resah."
Jordan diam.
"Aku takut terjadi sesuatu yang buruk."
Jordan mencoba menenangkan Gwen. "Tidak akan terjadi apa-apa." Lalu dia mencium gwen dan dibalas oleh wanita itu.
***
Richard dan yang lainnya sedang membicarakan perihal kemping di area taman kampus.
"Jadi kakakmu akan ikut?" tanya Ricky.
Richard mengangguk. "Apa boleh?"
"Kenapa tidak? Ikut saja." Hanna menimpali.
"Mereka khawatir, jadi tidak masalah," sahut Samuel.
Di saat yang lain sedang berbincang, Nara justru melamun. Entah apa yang dipikirkan olehnya.
"Nara? Kau baik?" tanya Richard.
"Hah? Ya, aku tidak apa-apa." Nara tersenyum paksa. Dan Samuel menatap Nara lekat.
***
Sekarang adalah waktunya pulang kuliah, Nara menunggu jemputan di depan gerbang. Sedangkan Richard sudah pergi duluan dengan Ricky. Dan Hanna juga sudah pulang duluan.
"Kau belum pulang?" tanya Samuel.
"Oh, aku sedang menunggu jemputan."
"Apa kau mau ku-" belum sempat Samuel menyelesaikan kalimatnya, suara klakson mobil Jordan sudah berbunyi. Mobil itu berhenti di depan mereka.
"Masuklah Nara," kata Jordan.
"Aku duluan, ya, Sam."
"Hm, hati-hati."
Nara masuk ke dalam mobil dan Jordan menjalankan mobilnya.
"Bagaimana kuliah mu?" tanya Jordan di perjalanan.
"Huh? Emm ... seperti biasa."
Jordan diam setelahnya.
"Dia tidak mencium ku? Astaga, Nara! Apa yang kau pikirkan?" Nara membatin.
"Sial! Aku ingin menciumnya. Tahan Jo, tahan. Ingat tujuanmu, buat dia merindukan dan mencemburuimu," giliran Jordan yang membatin.
"Kau sudah makan?" tanya Jordan basa-basi.
"Sudah, Tuan."
Sepanjang perjalanan Nara diam-diam mencuri pandang, dia merasa heran dengan sikap Jordan. Lalu tak lama, mereka pun sampai di rumah.
"Kalian sudah pulang?" Gwen menyambut mereka di ruang tengah.
"Hai, sayang." Jordan memeluk dan mencium Gwen.
"Jo ... sudah kubilang jangan melakukan itu di depan orang." Gwen berucap malu-malu melihat Nara.
Sedangkan Nara memalingkan wajahnya.
"Maaf, aku kelepasan." Jordan berkata dengan nada yang lempeng.
"Aku masuk, Nyonya, Tuan."
Gwen mengangguk, sementara Jordan dan Nara saling melirik sebentar.
***
Malam harinya di saat orang lain tidur, Nara terbangun dari tidurnya karena haus dan pergi ke dapur. Nara mengambil gelas dan menuangkan air ke dalamnya. Saat ia berbalik, dia mendapati Jordan berdiri di belakangnya.
"Tuan?"
Jordan mendekat dan Nara mundur.
"A-ada apa, Tuan?"
Jordan terus mendekat tanpa menghiraukan Nara.
"Tu-tuan?"
Jordan mencondongkan tubuhnya.
deg deg deg
Suara dekat jantung Nara terdengar, dia merasa bahwa Jordan akan menciumnya. Nara memejamkan matanya dan Jordan tersenyum miring.
"Kau kenapa?" tanya Jordan.
Nara membuka mata. "Hah? Apa?"
"Aku tanya, kau kenapa?" tanya Jordan sambil mengambil gelas di lemari, di atas kepala Nara. Jordan lalu berbalik dan menuangkan air.
Nara salah tingkah. "A-aku permisi, Tuan."
"Hm." Jordan meminum airnya dan Nara pergi. Pria itu kembali menyeringai setelah kepergian Nara. "Kena kau!"
***
Dan di setiap harinya, Jordan selalu bermesraan dengan Gwen. Niatnya Jordan tentu untuk membuat Nara cemburu.
Seperti saat ini. Mereka berempat sedang menonton televisi bersama malam hari. Jordan terus mendusel di bahu Gwen.
"Kau wangi," kata Jordan.
"Em ... Jo? Bisa kau agak menjauh?" tanya Gwen.
"Kenapa? Kau tidak suka?"
"Ayolah Jo, ada anak-anak."
"Huh?" Jordan cuek saja seolah-olah hanya ada dirinya dan Gwen. "Anak-anak? Aku merasa seperti seorang ayah."
"Biarkan saja kakak ipar, mungkin Jordan sedang melalui masa kawin," kata Richard.
"Kau pikir aku sejenis hewan," sahut Jordan sinis.
Jordan melepaskan pelukannya pada Gwen dan dengan tanpa sadar wanita itu menghela napas lega.
"Apa sebebas itu?" sindir Jordan membuat Gwen memijat pangkal hidungnya. "Kejam sekali."
Nara melirik mereka berdua Jordan dan Gwen.
"Abaikan saja Nara," kata Richard berbisik.
Nara mengangguk. "Apa selalu seperti itu?" Nara balas berbisik.
Rich menggeleng. "Entah apa yang merasukinya?" Richard masih berbisik.
"Pasti berat untuk nyonya."
"Aku malu sebagai adiknya."
"Sabar, Richard," kata Nara berbisik dan Richard mengangguk.
"Ekhem!! Kupingku panas." Jordan berdeham membuat Nara dan Richard terkejut. Keduanya memang saling berbisik, tapi Jordan dan Gwen masih bisa mendengarnya.
"Wah, lihat! Ada pesawat yang terbang." Nara menunjuk televisi mengalihkan.
"Ha.ha.ha. Iya, ya." Richard tertawa hambar, "Pesawat, kan memang terbang, Nara." Richard berkata dengan senyum terpaksa dan tanpa membuka lebar mulutnya.
"Oh, ha.ha. Iya, ya. Aku lupa, haha." Nara juga ikut ertawa hambar.
Gwen hanya menahan tawa menyaksikan itu, sedangkan Jordan mendengus. Setelah selesai menonton televisi mereka pergi ke kamarnya masing-masing.
Nara merebahkan tubuhnya di atas kasur.
"Hari ini melelahkan sekali." Diamemejamkan matanya lalu ada telpon masuk ke ponselnya. Nara mengangkat panggilan itu tanpa melihatnya.
"Halo? Sayang?" ucap pria di seberang sana.
Nara membuka matanya. "Tuan?"
"Iya, ini aku."
"Ada apa?"
"Hanya merindukanmu."
Nara tak membalas.
"Tidurlah, sudah malam. Besok kau harus kuliah."
"Selamat malam, Tuan."
"Malam, sayang."
Panggilan pun berakhir. Nara tersenyum mendengar panggilan sayang untuknya dari Jordan. Entah di mana pria itu menelpon, tapi Nara merasa bahagia. Dia lalu menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Apa-apaan barusan itu?"
***
Pagi hari, Nara bersiap dan turun ke lantai bawah. Dia sarapan pagi hanya di temani oleh Jordan. Entah apa yang di rencanakan Tuhan, tapi Gwen dan Richard hilang entah ke mana?
"Hanya kita berdua, Tuan?"
"Hm."
Tidak ada jawaban yang memuaskan, jadi dia lanjut makan saja. Selesai makan pun Nara diantar ke kampus oleh Jordan. Tidak ada percakapan atau hal-hal yang diinginkan lainnya selain diam. Sampai mereka sampai di tempat tujuan.
"Masuklah."
"Terima kasih, Tuan."
"hm."
Nara turun dari mobil dan dia langsung di hampiri oleh Samuel yang baru datang juga.
"Nara!"
"Oh, Sam?"
"Hai, selamat pagi."
"Pagi."
"Ayo masuk bersama."
Nara mengangguk dan mereka berdua pun berbincang ringan di sepanjang jalan.
Di dalam mobil, Jordan menatap Nara dan Samuel. "Aku berniat membuat Nara cemburu padaku. Kenapa aku yang jadi cemburu?" kata Jordan dan dia meletakkan kepalanya di atas stir mobil.
