Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 20 - Pengakuan

Pagi harinya mereka pun berkemas untuk pulang. Sebelumnya mereka telah membersihkan tempat kemping itu. Mulai dari membersihkan sampah, bekas api unggun, tulang-tulang ikan bakar yang mereka makan semalam, dan sebagainya.

"Sudah semua?" tanya Jordan.

"Tidak ada yang tertinggal?" Bobby juga ikut memastikan.

"Beres semua," kata Richard sambil menggendong tas ranselnya.

"Kau ke sini bawa mobil, kan?" tanya Jordan pada Bobby.

"Tentu saja, kenapa?"

"Kau bawa mereka bertiga, dan aku akan membawa keluarga ku." Bobby mengangguk. Nara tersipu mendengar perkataan Jordan, dia jadi merasa ikut jadi bagian keluarga Jordan.

Nara membatin. "Astaga, sadar Nara."

"Sampai jumpa lagi Nara," kata Hanna.

"Hm, sampai jumpa."

"Terima kasih semuanya," ucap Ricky.

"Ayo, kita juga pulang," ajak Gwen.

Mereka pun masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan perkemahan.

Mereka sampai ke rumah saat sore hari, mereka mandi dan memisahkan baju kotor mereka saat di perkemahan.

Malam harinya Nara turun ke bawah untuk mengambil minum. Dia berhenti di tangga saat di bawah sana Nara melihat Gwen dan Jordan sedang berciuman. Jordan yang melihat Nara langsung berhenti.

"Ayo kita tidur," ajak Jordan pada Gwen dan bangkit berdiri.

"Ayo," kata Gwen bangkit untuk berdiri. "Oh, Nara. Kau mau ke mana?"

"Aku ingin mengambil minum, Nyonya."

"Kalau sudah cepat tidur, ya, sudah malam."

Nara mengangguk dan turun untuk mengambil minum.

***

Nara di antar ke kampus oleh Jordan saat pagi tiba. Mereka tak banyak bicara sejak kepulangan mereka dari perkemahan. Gwen telah pergi ke agensinya dan Richard pergi terlebih dahulu tadi.

"Masuklah. Nanti akan kujemput," kata Jordan, Nara mengangguk dan turun dari mobil.

Saat dia turun, di sana sudah ada Selena di sana. Jordan memang membuat janji dengan Selena untuk bertemu di kampus Nara. Mereka akan pergi untuk kepentingan bisnis.

"Tuan Lee?" Selena melongok ke dalam mobil.

"Masuklah," kata Jordan.

Selena lalu menatap Nara dan berbisik, "Aku heran, apa yang dilihat tuan Lee darimu? Jelas-jelas aku lebih unggul."

"Dia melihat apa yang tidak kau lihat," balas Nara dan langsung pergi dari sana.

"Sial." Selena mendesis.

"Selena , cepat masuk!"

"Ba-baik." Wanita itu buru-buru masuk ke dalam mobil Jordan.

***

Siang hari Nara pulang ke rumah karena merasa sedikit pusing, ketika dia masuk Nara mendapati Gwen yang sedang berbicara di telepon.

"Jo, sudah. Aku malu."

Entah apa yang dibicarakan oleh Gwen dan Jordan, tapi sepertinya mereka sedang bermesraan.

Gwen kembali menjawab. "Ya ... aku satu-satunya wanita di hati dan hidupmu. Berhenti menggombal."

Nara merasa kesal rasanya, dia mencengkeram erat tali tasnya.

"Lalu itu apa?" Gwen terkekeh. "Jo, hentikan." Gwen melotot sambil tertawa geli. "Haha, iya sayangku."

Semakin lama Nara dibuat semakin kesal.

"Ya, aku ratumu. Oke, love you too."

Panggilan pun berakhir dan Gwen mendapati Nara yang berdiri tak jauh darinya.

"Nara? Kau sudah pulang?"

Nara tersentak. "Ah, Nyonya ... Aku izin ke rumah ibuku, boleh?"

"Tentu saja, kapan berangkat?"

"Sekarang saja."

"Perlu diantar?"

"Tidak usah Nyonya, aku bisa sendiri."

"Baiklah, hati-hati kalau begitu."

"Iya." Nara keluar dari rumah itu dan menghentikan taksi. Nara sampai di depan gedung tinggi yang megah. Nara masuk ke dalam gedung dan menghampiri meja resepsionis.

"Permisi, apa tuan Lee ada di kantor?" tanya Nara pada resepsionis di sana.

"Ya, beliau ada di ruangannya."

"Boleh aku bertemu dengannya?"

"Apa nona sudah membuat janji?"

Nara menggeleng.

"Kalau begitu nona tidak bisa menemuinya," kata resepsionis itu.

"Tolong katakan padanya, Yoo Nara ingin bertemu."

Wanita resepsionis itu menghela napas. "Baiklah, sebentar."

Wanita itu lalu meraih telepon dan menelpon Jordan. "Tuan, ada yang ingin bertemu." Wanita itu diam sejenak. "Namanya Yoo Nara. Baik tuan, baik."

Setelah menelepon, wanita itu menatap Nara dan berkata, "Kau boleh menemuinya."

"Terima kasih." Nara masuk ke dalam lift menuju ke ruangan Jordan. Setelah Nara sampai di depan ruangan Jordan dia membuka pintu.

"Tuan?" Napas Nara terengah-engah saat dia menghampiri Jordan.

"Oh, ada apa sampai kau menemuiku di kantor, hm?"

"Jadikan aku kekasihmu?"

Jordan terdiam sejenak. "Apa? Aku tidak dengar."

"Aku ingin jadi kekasi mu, Tuan."

Jordan tersenyum menyeringai.

***

Nara dibawa ke sebuah apartemen oleh Jordan setelah dia mengatakan bahwa dirinya ingin dijadikan kekasih.

"Ini apartemen siapa?" tanya Nara saat masuk ke dalam kamar apartemen itu.

"Milikku."

"Untuk apa apartemen jika rumah tuan saja besar?"

"Jika aku ingin sendiri, aku ke sini."

"Tapi sekarang tuan tidak sendiri."

Jordan mendekati Nara dan menyeringai. "Agar aku bisa bebas melakukan ini."

Jae-in mulai mencium Nara dan membawanya ke dalam kamar. Nara mengalungkan tangannya dan Jordan menjatuhkan tubuh mereka ke atas kasur. Pria itu membuka jas dan dasi yang dia pakai.

"Kau tahu Nara? Aku sudah sangat merindukanmu." Jordan kembali mencium Nara dan membuka kemejanya. Setelah itu Jordan membuka seluruh pakaian Nara dan dirinya sendiri.

Nara memeluk tubuh Jordan erat saat mereka melakukannya, dia tidak ingin melepaskan Jordan barang sejenak. Nara tidak mau Jordan pergi, dia tidak akan kalah dengan Gwen.

***

Jam 20.55 Nara membuka matanya.

"Kau lapar?" tanya Jordan di sisinya.

"Aku tidak nafsu makan."

"Kau harus makan, sayang."

Nara merona mendengar panggilan itu dari Jordan.

"Berapa umur tuan?" tanya Nara masih memeluk tubuh Jordan di balik selimut.

"Sudah selama ini. Kau masih belum tahu umurku? Kekasih mu?" Jordan menatap tak percaya.

"Jawab saja."

"Tebaklah."

"Ish!" Dengan sedikit kesal Nara terap menebak. "40?"

"Aku tidak setua itu." Jordan mencium pucuk kepala Nara.

"35?"

"Itu umur Gwen."

Nara melotot. "Jadi umur nyonya 35?"

"Iya. Tebak umurku?"

"Sama."

"Tidak. Sudah kubilang itu umur Gwen."

"Lalu berapa?" Nara cemberut, "36?"

"Bukan."

"Aku menyerah."

"30 tahun."

"Apa? Sungguh?" Nara dibuat benar-benar terkejut.

"Ya, umurku 30 tahun."

"Jadi ..."

"Iya, Gwen lebih tua dariku lima tahun." Jordan menyela ucapan Nara.

"Tuan mencintai nyonya?"

"Hm."

"Bagaimana kalian bisa menikah?"

"Karena saling mencintai."

"Bukan itu maksudku."

"Sudah, tidurlah." Jordan benar-benar tidak ingin membahasnya

"Tidak mau."

"Tidur atau kuhajar?" ancam Jordan.

"Lakukan saja."

"Tidur!"

"Ah ... tuan ..." Nara mendesah untuk menggoda Jordan.

"Jangan macam-macam Nara," desis Jordan.

"Sayang."

"Habis kau." Jordan menyeringai dan kembali mencium Nara. "Katakan sesuatu Nara," kata Jordan di tengah-tengah gerakannya di atas Nara.

"Aku mencintaimu, Tuan." Dengan susah payah Nara mengatakan itu. Jordan tersenyum dan kembali mencium Nara tanpa mengurangi kecepatannya.

Ya, Nara jatuh cinta pada tuannya. Dia ingin memiliki tuannya, biar hanya sebentar.  Biarkan dia memilikinya. Sebentar saja.

Kenapa?

Karena dia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel