Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 17 - Rencana Kemah

Sekitar jam empat pagi Nara terbangun dari tidurnya dan dia mendapati Jordan yang masih berada di sampingnya, memeluk tubuh Nara.

"Kenapa bangun?" tanya Jordan.

"Tuan masih disini?"

"Aku tidak bisa meninggalkanmu, aku sudah menyakiti mu."

Nara tak membalas.

"Tidurlah lagi, nanti kubangunkan."

"Aku tidak bisa tidur lagi," jawab Nara.

Jordan lalu mencium bibir Nara dengan dalam, wanita balas menciumnya. Ciuman itu berlangsung cukup lama sampai Jordan mengakhirinya.

Mereka saling menatap satu sama lain, lalu Jordan membuka bajunya dan baju Nara. Dia melemparkan bajunya sembarangan, lalu mulai menyatukan tubuh mereka.

***

Pagi harinya Nara terbangun, dia membuka matanya.

"Tuan masih di sini?"

"Pergilah mandi, kau harus kuliah," jawab Jordan memakai pakaiannya yang berserakan.

Nara pun beranjak ke kamar mandi dan setelah beberapa menit dia pun keluar.

"Tu-tuan masih disini?"

"Kau sudah dua kali menanyakan itu," kata Jordan, "tiga dengan dini hari tadi." Jordan menghampiri Nara dan menciumnya, "Morning Kiss."

Nara gugup. "Tuan, bisa keluar. Nanti nyonya mencari."

Jordan menangkup wajah Nara dan berkata. "Tidak akan."

"Aku ingin ganti baju."

"Ganti saja, tapi aku tidak akan kemana-mana."

"Tuan ..."

Jordan merengkuh Nara dan kembali menciumnya. Dia kembali menjatuhkan Nara ke atas ranjang dan menyingkap Bathrobe wanita itu untuk melakukannya lagi.

***

Richard menghampiri Gwen yang sudah berada di dapur.

"Jordan dan Nara mana?"

"Nara belum turun. Dan kakakmu kurasa masih tertidur di ruang kerjanya."

"Biar kubangunkan." Richard pergi untuk membangunkan Jordan.

Di kamar Nara.

Jordan mencium Nara di atas kasurnya dan menatap Nara. "Kau cantik."

Nara menatap Jordan dan mengalungkan tangannya.

"Apa kau menyukaiku, Nara?"

Nara diam.

"Jawab aku."

Nara enggeleng pelan dia tidak bisa menjawab apa pun saat ini, karena Jordan masih bergerak di atasnya.

Pria itu lalu menyeringai. "Jangan berbohong."

"Tidak, Tuan."

"Kau menyukaiku, kan?"

"Ti-tidak."

"Kenapa, hm?"

"Ka-karena aku tidak-"

Jordan mengecup bibir Nara, membuat wanita itu tidak melanjutkan perkataannya.

"Kalau begitu, aku akan membuat mu menyukaiku." Jordan kembali mencium Nara dan wanita itu membalasnya. Jordan tersenyum di sela ciumannya dan dia masih bergerak cepat.

Richard membuka pintu.

"Jo! hm? Di ruang kerjanya tidak ada. Lalu di mana? Apa di kamar mandi?"

Richard beranjak pergi untuk membuka pintu kamar mandi yang terdekat.

"Di kamar mandi juga tidak ada. Ah, sudahlah. Lebih baik aku membangunkan Nara."

Di kamar Nara.

Jordan mencium kening Nara. "Aku mencintaimu. Bersiaplah," katanya sambil merapikan baju dan celananya.

Nara bangkit dan merapikan bathrobenya. Jordan berjalan menuju pintu dan meraih handle pintu.

"Jordan?" Richard dan Jordan sama-sama terkesiap.

"Sedang apa kau di sini?" tanya Jordan sewot.

"Seharusnya aku yang bertanya, sedang apa kau di sini?" Richard lalu melihat Nara. "Oh, Nara. Kau sudah-" perkataanya terpotong,  "Apa itu di dagumu?"

Richard menghampiri Nara. "Hah? I-ini ... bekas cengkraman. Siapa yang melakukannya?" tanya Richard.

"I-itu ..." Nara gelagapan.

"Pasti Jordan, kan?" tebak Richard menatap tajam pada Jordan.

"Hm. Kenapa?" Jordan berujar ringan. "Dia pulang telat."

"Astaga, Jo. Nara itu sudah besar, dia juga butuh waktu untuk bersenang-senang."

"Tapi tidak pergi dengan laki-laki."

"Ya biarkan saja, itu hak Nara."

"Dan ini rumahku."

"Ck, bebal. Lalu kenapa kau ada di sini?"

"Sudah jelas, kan? Untuk meminta maaf atas bekas di dagunya itu," kata Jordan lalu pergi dari sana.

"Hah ... dia itu. Nara? Kau tidak apa-apa, kan?"

Nara mengangguk. "Aku baik-baik saja, Richard."

"Kuobati, ya."

"Terima kasih."

***

"Richard, hari ini kau berangkat dengan Nara," kata Jordan saat mereka hendak pergi.

"Kau mau ke mana?"

"Aku akan mengantarkan Gwen."

"Baiklah."

"Cepat makan sarapan kalian, nanti terlambat," timpal Gwen dan Nara hanya diam.

Setelah selesai, Nara dan Richard pergi ke kampus bersama.

"Pagi, Nara."

"Pagi."

"Bagaimana kabarmu? Dengan Samuel?" tanya Hanna sambil terkekeh pelan.

"Diamlah."

"Haha, apa menyenangkan?"

"Tentu, dia sangat baik."

"Apa kau menyukainya?"

Nara menggeleng. "Tidak tahu."

"Aish! Kau ini."

"Kau sendiri pergi liburan ke mana?" tanya Nara.

"Ke pantai."

"Dengan?"

"Orang spesial."

"Hoo, apa itu kekasihmu?"

"Emm ... bisa dibilang begitu."

"Siapa orangnya?"

"Nanti kukenalkan."

"Baiklah."

Di tempat lain. Richard menghampiri sahabat karibnya itu.

"Ricky!! Aku merindukanmu!" Richard memeluk Ricky.

"Oh, astaga!! Richard, lepas."

"Hehehe." Richard hanya nyengir saja, senang dia mengganggu temannya ini.

"Aku jadi takut kau benar-benar menyukaiku."

Beletak!!

Richard memukul kepala Ricky.

"AGH!! Sakit!" Ricky berteriak.

"Rasakan." Richard lalu melenggang pergi meninggalkan Ricky yang mengusap kepalanya.

"Tentu saja aku takut, bahkan kemarin kami bertemu. Aish, monster tiang. Hei!! Tunggu aku!!"

"Pergi sana!" usir Richard.

"Kau merajuk?"

"Cih, tidak!"

"Lalu kenapa kau jutek?"

"Urusanku!"

Ricky terus mengikuti langkah Richard yang berjalan cepat.

"Berhentilah, aku lelah."

"Kalau begitu pergi sana."

"Maafkan aku."

"Tidak sudi!" Mana mau dia. Richard sangat kesal pada Ricky.

"Ayolah," bujuk Ricky.

"Enyah kau!!"

"Sayang jangan merajuk," ucap Ricky main-main, tapi sepertinya itu sesuatu yang fatal. Setelahnya dia harus memeriksakan telinganya.

"ENYAHLAH KAU KIM BANTET RICKY!!" Richard berteriak sangat keras, membuat Ricky harus menutup telinga.

"Berhenti berjalan, aku pusing terus-terusan berputar di sini," kata Ricky yang sukses membuat Richard berhenti.

Ya, dari tadi Richard hanya berputar-putar di situ-situ saja sebenarnya.

"MUSNAH KAU SANA!" Richard pergi dan Ricky memijat pangkal hidungnya sendiri.

"Astaga, dosa apa aku punya sahabat seperti dia? Hiks:')"

***

Di kantin.

Saat jam istirahat terlihat lima orang sedang berkumpul di sana. Mereka tampaknya sedang membicarakan sesuatu yang serius.

"Bagaimana kalau minggu depan kita pergi kemping?" usul Hanna.

"Kemping?" tanya Richard dan Hanna mengangguk.

"Aku setuju, sudah lama aku tidak pergi kemping." Ricky menimpali.

"Boleh aku ikut?" tanya Samuel.

"Tentu saja," jawab Hanna. "Kau bagaimana Nara?"

"Emh, aku ..."

"Ikut saja denganku ... ya?" kata Richard. "Ayolah, kita akan minta izin pada Jordan."

"Emh, baiklah." Nara setuju untuk ikut.

"Kalau begitu, semua sudah ditentukan. Minggu depan kita pergi kemping," kata Hanna final.

"Naik mobil siapa?" tanya Ricky.

"Kakakku saja. Bagaimana?" jawab Richard.

"Setuju, mobil kakakmu, kan, banyak," kata Ricky membuat Richard memutar mata malas.

"Baiklah, kita bicarakan lagi nanti." Samuel menimpali dan semuanya mengangguk serentak.

***

Malam hari di rumah Lee. Richard langsung meminta izin pada Jordan dan Gwen.

"Kemping?" tanya Gwen.

Richard mengangguk. "Boleh, ya, kakak ipar?"

"Tidak boleh," sahut Jordan tegas.

"Ish! Jo ... Ayolah, kapan lagi kami akan berkumpul." Richard mencoba membujuk Jordan.

"Sekali tidak tetap tidak. Kalian jauh dari pengawasanku," kata Jordan kukuh dengan pendiriannya.

"Jo, kami bukan anak kecil."

"Menurut padaku."

"Ish!!! Kau menyebalkan. Ini jangan, itu jangan. Semuanya kau selalu melarangku untuk ini dan itu!" Richard marah-marah dan lari ke kamarnya. Dia bahkan mengabaikan Gwen yang memanggil namanya.

"Izinkan saja, Tuan," kata Nara, "kasian Richard. Dia yang paling bersemangat di sini."

"Iya Sayang, mereka bisa menjaga diri sendiri."

"Tidak. Kalian akan jauh dari pengawasanku," jawab Jordan.

"Kalau begitu, kalian juga ikut saja." Nara juga ikutan kesal pada Jordan. Ucapan Nara itu sukses membuat Jordan dan Gwen saling tatap.

Richard menjatuhkan tubuhnya di atas kasur sambil marah-marah, bahkan dua sudah berkaca-kaca.

"Orang tua itu menyebalkan sekali," gerutu Richard sambil memukul bantal.

"Aku tidak setua itu." Jordan tiba-tiba menyahutinya dan menghampiri adiknya.

Richard mendengus. "Mau apa kau ke sini?"

Jordan sudah berdiri di depan Richard. "Kalian boleh pergi."

Richard memicingkan mata.

"Asal kami ikut," kata Jordan.

Richard terbelalak. "Sungguh?"

"Hm."

Richard pun melompat ke pelukan Jordan. "Aku menyayangimu, Jo!"

Jordan meringis. "Ya, ya," katanya menepuk-nepuk punggung adiknya itu.ⁿ

***

Nara sedang mengerjakan sesuatu di kamarnya, sampai seseorang masuk dan menghampiri Nara.

"Kau sedang apa?"

"Tuan? Aku sedang mengerjakan laporan."

"Sudah selesai?"

"Sedikit lagi."

Jordan memeluk Nara dari belakang. "Mau kubantu?"

'Ti-tidak usah."

"Nara, aku ingin tanya sesuatu." Jordan memutar duduk Nara untuk menghadapnya.

"Tentang apa, Tuan?"

Jordan berjongkok dan mendongak menatap Nara. "Apa kau cemburu, ketika melihatku dengan Gwen?"

"H-hah?" Nara terkejut dengan pertanyaan dari Jordan.

"Apa kau cemburu?" ulang Jordan dan menggeleng. "Jawab jujur, apa kau cemburu?"

"A-aku ... tidak tahu," jawab Nara membuat Jordan diam, lalu pria itu berdiri.

"Lanjutkan pekerjaanmu, selamat malam."

"Ma-malam."

Jordan pergi meninggalkan Nara dan menutup pintu kamar wanita itu. Sedangkan Nara diam menatap kepergian Jordan, dia sedikit merasa heran dengan tingkah laku Jordan.

"Aku akan membuatmu mengakui perasaanmu, Nara," kata Jordan menyeringai di luar kamar Nara.

Gwen menghampiri. "Jo? Kau habis dari kamar Nara?"

"Hm. Membicarakan soal perkemahan nanti."

"Oh," Gwen mengangguk.

"Ayo tidur, sudah malam."

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel