Bab 16 - Cemburu?
Samuel sudah dipersilakan masuk dan saat ini kelima orang itu sudah berada di ruang tamu.
"Jadi ini yang namanya Samuel?" tanya Gwen.
"Halo." Samuel menyapa.
"Ada keperluan apa datang ke sini?" Jordan berkata dengan ketus.
"Jo ..." Gwen menyentuh lengan Jordan dan menatap tak enak hati pada Samuel.
"Saya ingin mengajak Nara untuk keluar," jawab Samuel tanpa beban. Sedangkan Nara terdiam.
"Ti-" Jordan hendak melarang sebelum Richard menyelanya.
"Bawa saja, Sam. Kasian dia, pasti kesepian."
"Bawalah, tapi pulangnya jangan malam-malam," timpal Gwen. Dua-satu, dan Jordan kalah.
"Baik." Samuel mengangguk mengerti.
"Tunggu, aku seperti melihat seorang pria yang sedang meminta izin pada calon mertuanya," kata Richard membuat Gwen terkekeh dan Samuel tersenyum.
"Kau ada-ada saja," kata Gwen.
Jordan menatap Nara yang masih menunduk.
"Kalau begitu kami permisi. Ayo Nara," ajak Samuel.
Nara mengangguk dan mereka berdua pun pergi. Jordan menatap kepergian Nara dan mengepalkan tangannya.
"Jo, apa kita pergi ke luar juga?" tanya Gwen mengusulkan.
"Kau mau?" balik tanya Jordan membuat Gwen mengangguk. "Ayo kalau begitu."
"Lalu aku?" Richard menunjuk dirinya sendiri. Masa dia ditinggal sendirian di rumah.
"Berkencan saja dengan Ricky," jawab Jordan dan berlalu pergi.
Richard berkedip-kedip mencerna perkataan kakaknya itu, lalu berteriak. " JORDAN!!!"
***
"Kau mau pergi kemana?" tanya Samuel di dalam mobil.
"Terserahmu saja."
"Bagaimana kalau menonton film?"
"Boleh, ayo."
Keduanya pergi ke bioskop dan mulai memesan tiket nonton mereka berdua. Lalu mereka masuk ke dalamnya.
"Kita duduk di sebelah sana." Samuel menunjuk sebuah kursi yang sesuai dengan nomor yang ada di tiket milik mereka.
Beberapa saat setelahnya, film pun diputar.
"Kau suka filmnya?" tanya Samuel saat film setengah jalan.
Nara mengangguk, fokus pada layar di depan sana.
"Kau suka film romance?" tanya Samuel lagi. Pasalnya yang mereka tonton saat ini adalah film bergenre romantis.
"Em, lumayan. Kau?"
"Aku lebih suka action."
"Apa itu seru?"
"Sangat."
Lalu tak ada percakapan apa pun dari keduanya. Mereka menikmati setiap adegan demi adegan film itu, dengan Samuel yang sesekali melirik Nara.
Sampai layar lebar di depan itu menunjukkan adegan kedua pemeran utama yang berciuman. Samuel memegang tangan kanan Nara membuat wanita itu menoleh padanya. Samuel mendekatkan wajahnya
deg deg deg
Lalu tiba-tiba lampu menyala, filmnya selesai. Mereka berdua tersentak.
"Ah! Ayo kita keluar,"bajak Samuel sedikit gugup dan Nara mengangguk, dia juga gugup karena hal barusan.
"Sekarang kau mau kemana?" tanya Samuel saat sampai di luar bioskop.
"Emh, bagaimana kalau taman?"
"Ayo."
***
Gwen dan Jordan pergi ke sebuah pantai. Mereka sedang berjalan-jalan di pesisir pantai putih itu.
"Mau naik boots?" tanya Gwen.
"Ayo. Kau di depan," kata Jordan.
"Kenapa?"
"Agar aku bisa memelukmu."
"Terserah." Gwen memukul lengan atas Jordan mendengar gombalan pria itu.
"Kalian disini?" tanya seseorang yang menghampiri mereka berdua.
"Oh, Bobby?" Gwen bereaksi tak percaya.
"Hm." Jordan hanya menyahuti seadanya saja.
"Sedang apa disini?" tanya Gwen.
"Sama seperti kalian, liburan."
"Dengan siapa?" Kali ini Jordan yang bertanya.
Bobby hendak menjawab sampai seseorang datang menghampiri Bobby.
"Aku sudah si-" perkataan orang itu terhenti saat melihat Gwen dan Jordan.
Jordan mengernyit. "Dia kekasih mu?" bisiknya di telinga Bobby.
"Ya."
"Anak-anak?"
"Oh, ayolah Lee. Umur kami tidak beda jauh." Jordan memutar mata. "Lagi pula seharusnya kau bercermin," lanjut Bobby masih berbisik.
"Pacarmu, ya?" kata Gwen. "Dia cantik." Ucapan Gwen itu mampu membuat Hanna tersenyum malu.
"Kalau begitu kami permisi," pamit Bobby dan menarik tangan Hanna.
"Hm." Jordan menyahutinya seperti biasa.
"Ayo, kita juga pergi."
***
"Makan es krimmu yang benar." Samuel terkekeh melihat sisa-sisa es krim di sudut bibir Nara.
"Hm?"
Samuel mengelap ceceran es krim di sudut bibir Nara. "Seperti anak kecil."
"Ah, terima kasih. Kau sering ke sini?" tanya Nara mengalihkan kegugupannya.
"Taman ini?"
Nara mengangguk sambil memakan es krim.
"Ya, sesekali. Kau sendiri?"
"Dulu sering pergi ke taman saat masih kecil. Bersama ayah ..." Nara terdiam tak melanjutkan.
"Kenapa?"
"Dia sudah tidak di sisiku lagi sekarang."
Samuel diam sejenak, sepertinya dia salah bertanya. "Kau merindukannya?" Nara mengangguk. "Ayo kita ke sana."
Nara menoleh, tak paham dengan ajakan Samuel.
"Kita kunjungi makam ayahmu," kata Samuel menjelaskan.
Keduanya pun sudah berada di sebuah pemakaman. Nara berjongkok di salah satu makam itu dan Samuel berdiri di sampingnya.
"Hai, ayah. Ini Nara, apa kabar ayah?" Nara mulai berbicara, dia sangat merindukan ayahnya. "Ayah, Nara sudah melanjutkan kuliah lagi. Ibu juga sudah sembuh dan hutang-hutang kita juga ... sudah lunas ... ayah." Nara mulai menangis. Samuel berjongkok dan mengusap bahu Nara.
"Maafkan Nara. Maafkan Nara ayah, maaf ..." Nara terus melafalkan kata-kata itu di dalam hatinya.
"Sudah, jangan menangis lagi." Samuel menghapus air mata Nara.
"Ayah, kenalkan. Ini temanku, namanya Samuel."
"Halo, Paman. Senang bertemu dengan paman."
"Akhir-akhir ini, aku bertemu orang-orang baru. Mereka baik, sangat baik." Nara menghela napas berat. "Sampai jumpa lagi Ayah, aku harus pulang. Ini sudah sore. Aku akan datang lagi di lain waktu."
"Sampai jumpa, Paman."
Mereka pun berjalan ke luar area pemakaman.
"Sekarang mau kemana lagi? Biar kuantar."
"Aku ingin menemui ibuku."
Samuel tersenyum. "Baiklah, ayo."
Sesampainya di rumah Nara, dia langsung menghampiri ibunya.
"Ibu?!"
"Oh, Nara? Kau ke sini? Oh, siapa ini?"
"Halo bibi, aku Samuel. Teman Nara," kata Samuel memperkenalkan diri.
"Ah, mari masuk. Ajak temanmu masuk, Nara."
"Ayo." Nara menarik tangan Samuel.
"Kebetulan aku sedang memasak untuk makan malam. Kalian duduklah, aku akan siapkan makan malam segera."
"Kubantu, Bu." Nara menawarkan diri.
Ibu Nara tersenyum. "Ayo."
"Sebentar, ya?" Nara berkata pada Samuel dan pria itu mengangguk.
Nara dan ibunya memasak bersama, sambil di sertai dengan canda tawa mereka. Sedangkan Samuel hanya memerhatikan keduanya dan ikut tersenyum. Dia merasa lega, setidaknya Nara sudah tidak menangis lagi.
***
Sudah sejak dua jam lalu Jordan dan Gwen pulang dari pantai. Keduanya kini tengah berada di dapur untuk makan malam, lalu Richard datang.
"Dimana Nara?" Richard celingukan mencari Nara. "Dia belum pulang?"
Gwen menggeleng. "Biarkan saja, mereka perlu waktu berdua, kan?" Gwen terkekeh mengingat Nara dan Samuel. "Ayo, makan makanan kalian."
Jordan hanya diam, dia sebenarnya sangat kesal Nara belum pulang. Apalagi jika bersama orang bernama Samuel itu.
Di rumah Nara.
"Makan yang banyak nak Samuel," kata ibu Nara.
Samuel tersenyum. "Masakan bibi sangat enak."
"Kau bisa saja. Kau juga makan yang banyak Nara."
"Iya, Bu." Nara tersenyum bahagia pada ibunya. Tanpa disadarinya, Samuel juga ikut tersenyum memperhatikan Nara.
***
Di rumah Jordan, tepatnya di ruang kerja pria itu. Jordan mondar-mandir dan sesekali melihat jam di tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
"Ck, kemana dia? Jam segini belum pulang."
Sementara, di rumah Nara.
Mereka telah selesai makan malam dan kini Nara dan ibunya sedang mencuci piring. Lalu terdengar bunyi telepon rumah mereka.
"Kau lanjutkan dulu, ya. Ibu akan mengangkat teleponnya."
"Baik, Bu."
Setelah kepergian ibunya, Samuel menghampiri Nara.
"Boleh kubantu?"
"Boleh."
Mereka pun mencuci piring bersama.
"Oh, aku lupa sesuatu." Nara berbalik dan terpeleset, beruntung Samuel bisa menangkap tubuh Nara. Mereka saling pandang cukup lama.
"Ah, kau tidak apa-apa?"
"Em, ya. Terima kasih."
"Kau mau mengambil apa?"
"Gelas itu." Nara menunjuk sebuah gelas.
"Apa sudah selesai?" tanya ibunya yang sudah menelepon.
"Sedikit lagi, Bu."
"Kalian pulanglah, biar sisanya ibu yang bereskan?"
"Tapi Bu ..." Nara terlihat enggan untuk meninggalkan ibunya.
"Majikanmu menelpon, katanya kau pulanglah. "
"Tapi aku masih merindukanmu."
"Ibu jug, tapi kau jangan lepas dari tanggung jawab. Ini sudah malam."
"Baiklah. Aku akan kesini lagi nanti."
"Ya, datanglah kapan pun yang kau mau. Kerja yang benar, ya?"
Nara mengangguk.
"Tolong antarkan putriku, ya, Nak Sam."
"Tentu, Bibi."
"Aku pulang, Bu." Nara memeluk ibunya.
"Kami permisi, Bibi."
"Hm, hati-hati."
Samuel mengantarkan Nara ke rumah Jordan. Setelah sampai Nara pun berterima kasih dan Nara keluar dari mobil. Setelah Samuel pergi Nara berjalan menuju pintu masuk.
"Kencannya menyenangkan?"
"Tu-tuan ..." Nara di hadang oleh Jordan di pintu masuk, membuat wanita itu menunduk.
"Kenapa menunduk? Angkat kepala mu."
Nara mengangkat kepalanya.
"Tatap aku," kata Jordan, tapi Nara masih belum menatapnya. "Tatap aku, Nara. "
Nara masih bergeming.
"Ku bilang tatap aku, Yoo Nara." Jordan menggeram marah, Nara pun menatap padanya. "Bagaimana kencannya?Menyenangkan?"
Nara tak menjawab.
"Jawab!!!"
Wanita itu mulai berkaca-kaca di saat Jordan mencengkeram dagu Nara. "Kau menyukai pria itu? Iya? Kau menyukainya? Apa dia sangat tampan?" Serentetan pertanyaan itu keluar dari mulut Jordan.
Nara diam saja tak menanggapinya.
"Hoo ... tentu saja tampan, dia juga masih muda. Begitukan?"
Nara menggeleng dan cengkraman Jordan semakin kencang dan kuat. Nara meringis dan mulai menangis.
"Tuan ... lepaskan ... sakit ..."
"Ini hukuman untukmu," kata Jordan, "Sekali lagi kutanya, kau menyukainya?"
Nara kembali menggeleng.
"Sudah kubilang, aku tidak suka kau berdekatan dengannya." Jordan berdesis di akhir kalimatnya.
"Ada apa ini?" tanya Gwen menghampiri mereka.
Jordan melepaskan cengkeramannya dan menoleh, Nara buru-buru menghapus air matanya.
"Ada apa?" tanya Gwen lagi.
"Kau belum tidur?" balik tanya Jordan.
"Aku menunggumu."
"Saya permisi ke kamar nyonya," kata Nara, Gwen mengangguk dan Nara pergi.
"Masuklah, sudah malam," kata Jordan pada Gwen dan diangguki wanita itu.
Nara menangis di kamarnya dengan keadaan tengkurap. Lalu seseorang masuk dan mengusap rambut Nara.
"Maafkan aku." Jordan membalikkan tubuh Nara dan mengusap air mata Nara. "Maaf ..."
Nara diam sejenak. "Sakit ..."
Jordan bergerak untuk mengusap bekas cengkramannya. "Maafkan aku." Lalu dia mencium bekas cengkramannya. "Masih sakit?"
Nara mengangguk dan ikut berbaring.
"Maafkan aku. Tidurlah. "
"Apa aku cemburu?" Batin Jordan.
