Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 15 - Gagal

Hari ini Nara kuliah seperti biasanya. Saat Nara sendirian, dia di hampir oleh seseorang.

"Hai cantik!" sapa Samuel.

Nara Senyum. "Hai, Sam."

"Sendirian?"

Nara mengangguk.

"Ke mana temanmu?" tanya Samuel merujuk pada Hanna.

"Dia menghilang." Nara cemberut karena temannya itu pergi entah ke mana.

"Kasian sekali kau ditinggal sendirian. Mau ke kantin bersama?"

"Ayo."

Keduanya pun pergi ke kantin. Saat mereka asyik makan, lalu datanglah kutu bersama telurnya -Maksudnya Richard dan Ricky, yang sudah seperti amplop dan prangko.

"Nara, aku merindukanmu!" kata Richard berlebihan.

"Tadi pagi kita berangkat bersama," jawab Nara main-main.

"Hm?" Richard berpura-pura lugu. "Ehehehe."

"Hai, Nara," sapa Ricky.

"Hai, Ricky."

Samuel menatap Ricky dan Richard. "Apa tidak ada yang mau menyapaku?"

Keduanya hanya berkedip seolah Samuel tidak mengatakan apa-apa dan Samuel menatap datar keduanya.

"Sudah, habiskan makanan kalian." Nara menengahi mereka.

Setelah selesai makan, Richard dan Ricky pamit undur diri. Menyisakan Nara dan Samuel berdua.

"Nara?"

"Hm?"

"Hari libur nanti, aku ingin mengajakmu pergi. Kau mau?" ajak Samuel.

"Akan kupikirkan."

"Baiklah."

Lalu datanglah orang yang dicari-cari oleh Nara sedari tadi itu menghampiri mereka.

"Hai," sapa Hanna, "kalian sudah makan?"

"Kau dari mana saja?" Bukannya menjawab, Nara justru balik bertanya.

"Hehehe, menemui seseorang."

"Siapa?"

"Rahasia."

"Terserah." Nara jengkel dengan temannya ini, setelah menghilang sekarang dia main rahasia dengannya.

"Ayo, sebentar lagi bel," ajak Hanna dan Nara mengangguk.

"Dah, Sam," pamit keduanya dan Samuel mengangguk.

Nara dan Hanna pergi menuju kelas mereka.

"Tadi bicara apa saja?" tanya Hanna.

"Dia mengajakku pergi hari libur nanti."

Hanna mengangguk-ngangguk. "Nara, kau tahu sesuatu?"

"Soal apa?"

"Aku lihat-lihat ... sepertinya dia menyukaimu."

"Menyukaiku? Siapa?" tanya Nara kebingungan.

Hanna menaik turunkan alisnya. "Samuel."

Nara diam sejenak sebelum menjawab, "Mana mungkin."

"Eiy ... yasudah kalau tidak percaya."

"Siapa yang menyukai siapa?" Tiba-tiba Richard sudah berdiri di belakang mereka membuat keduanya terkejut.

"Astaga!!! Kau mengagetkanku." Hanna memukul bahu pria itu.

"Maaf," kata Richard menyengir seperti anak kecil.

"Richard, bisa tidak? Kau jangan sering bertingkah imut?" kata Nara.

"H-hah?" Richard terkejut dengan itu, "Aihh ... aku jadi malu ..." Richard mendusel di lengan Nara.

"Hei ... menjauh darinya." Hanna mendorong dahi Richard.

"Hei! Hei! Hei!" Richard protes tak terima pada Hanna.

"Apa? Apa?" Hanna menantang Richard.

"Wanita pendek ini!"

"Monster tiang."

"Hei!" Richard tak terima.

Nara pergi lebih dulu, meninggalkan keduanya yang terus bertengkar. Pusing Nara lama-lama berada di dekat mereka berdua. Bisa-bisa pecah gendang telinganya.

"Jadi siapa yang menyukai Nara?" tanya Richard mulai sadar.

"Samuel Han, siapa lagi?"

"Benarkah?"

"Aku sangat yakin."

"Bagaimana menurutmu Nar -Loh, ke mana?" Richard hendak bertanya pada Nara, tapi orang itu sudah tidak ada di sana.

"Aku di tinggalkan. Hiks." Hanna menangis dramatis.

"Ini gara-gara kau." Richard menunjuk pada Hanna.

"Enak saja. Kau!"

"Kau!"

Hanna kembali menjawab, dia tak terima. "kau!"

"Ka- ahh ... sudahlah." Richard menyerah dan pergi ke kelasnya.

***

Sepulangnya. Nara dan Hanna berjalan menuju ke depan gerbang, lalu datanglah mobil yang menjemput Hanna.

"Nara, aku duluan, ya? Bye," pamit Hanna dan Nara mengangguk.

"Nara!!" Richard menghampiri Nara.

"Kenapa, Richard? Dan di mana Ricky?" tanya Nara, dia bingung karena biasanya Richard akan pulang bersama sahabatnya itu.

"Ah, dia ada kelas tambahan."

Nara mengangguk-nganggukkan kepalanya.

"Nara?"

"hm?"

"Kau menyukai Samuel?" tanya Richard.

Nara terdiam.

"Kau menyukainya?" tanya Richard sekali lagi.

"Hah? Ti-tidak."

"Ah ... yang benar?"

"Te-tentu saja." Nara menjawab dengan terbata.

"Aku tidak percaya."

"Terserah."

"Berhenti menggodanya." Jordan tiba-tiba sudah berada di depan mereka.

"Astaga!" Richard terlonjak kaget. "Kau mengagetkanku."

"Ayo pulang," ajak Jordan dan Richard juga ikut.

Mereka semua masuk ke dalam mobil.  Setelah menjalankan mobilnya Jordan melirik kaca spion depan.

"Apa yang kalian bicarakan tadi?" tanya Jordan.

Nara diam tak mau membahasnya, tapi Richard justru malah bongkar-bongkaran.

"Itu Jo, sepertinya ada yang menaksir Nara."

"Siapa?" tanya Jordan tanpa minat, dalam hati sebenarnya dia marah.

"Samuel," jawab Richard singkat.

Jordan diam tidak banyak bicara lagi dan tidak ada lagi percakapan di antara mereka, sampai mereka pun sampai di rumah.

"Kalian sudah pulang?" Gwen sapa Gwen saat ketiganya masuk ke dalam rumah.

"Hm," sahut Jordan.

"Jo, dokter Sena bilang kita bisa pergi ke rumah sakit sekarang," kata Gwen memberikan informasi.

"Bukankah harusnya besok?"

"Besok dia harus ke luar kota dan mungkin untuk waktu yang lama sepertinya," jawab Gwen mengira-ngira.

"Baiklah."

"Nara, kau ikut kami, ya?" ajak Gwen.

"Baik." Nara hanya menurut saja, dia tahu untuk apa mereka ke rumah sakit.

"Dan Richard, kau jaga rumah, ya." Gwen berkata pada adik iparnya itu.

"Oke. Kalian pulang malam?" tanya Richard.

"Mungkin. Kami pergi," kata Gwen.

Richard hanya mengangguk dan mereka bertiga pun pergi menuju ke rumah sakit. Di perjalanan, Gwen ditelepon managernya.

"Ya, halo? sekarang? Tidak bisa di tunda? Baiklah. Aku ke sana sekarang." telepon ditutup.

"Kenapa?" tanya Jordan.

"Aku harus pergi sekarang, penting."

"Kuantar."

"Tidak usah, kau bawa saja Nara ke rumah sakit. Aku akan naik taksi."

"Sebaiknya di antar saja." Nara memberi usulan.

"Tidak perlu, sungguh," kukuh Gwen.

"Kau yakin?" tanya Jordan sekali lagi.

"Hm. Aku turun di sini saja."

"Kalau ada apa-apa hubungi aku."

"Tentu," jawab Gwen mencium Jordan. Gwen pun turun dan memberhentikan taksi.

Setelah beberapa menit Nara dan Jordan sampai di rumah sakit. Nara langsung di periksa dokter Sena untuk memastikan bahwa proses bayi tabungnya berhasil atau tidak.

"Kau istirahat saja dulu, ya, Nara," kata dokter Sena pada Nara.

"Baik, Dok."

"Tuan Lee, aku ingin bicara dengan mu. Mari ikut saya."

"Aku akan kembali," kata Jordan pada Nara.

Jordan mengikuti dokter Sena ke ruangannya dan Jordan langsung duduk di kursi setelah dia sampai ruangan dokter Sena.

"Jadi begini tuan Lee," kata dokter Sena memberi jeda. "Sepertinya, bayi tabungnya gagal."

"Gagal? Bagaimana bisa?" tanya Joe.

"Ya, ada beberapa faktor yang mempengaruhi kegagalan bayi tabung ini." Dokter Sena mulai menjelaskan, "Dan salah satunya, penyebab kegagalan ini bisa dari hal yang tidak bisa di jelaskan. Dan untuk kasus Nara, kegagalan dari bayi tabung pada Nara itu masih tidak bisa dijelaskan apa penyebabnya."

"Lalu, kami harus bagaimana?"

"Jika kalian mau, kita bisa mengulanginya lagi. Tapi karena saya harus ke luar kota besok dalam waktu yang cukup lama. Mungkin kalian bisa mencobanya di rumah sakit lain."

"Oh, begitu. Baiklah kalau begitu, Dok. Terima kasih banyak."

"Sama-sama tuan."

Mereka berjabat tangan. Kemudian Jordan menemui Nara di kamar rumah sakit.

"Ayo, kita pulang." Jordan menuntut Nara untuk turun dari ranjang rumah sakit.

"Sudah selesai?"

"Hm."

Saat sudah berada di dalam mobil, Nara terus memperhatikan Jordan yang sedang menyetir dengan diam.

"Tuan?" Jordan tak merespon. "Tuan kenapa diam saja?"

"Hah?" Jordan tersentak, "Tidak ada. Kau lapar?" tanya Jordan mengalihkan perhatiannya.

Nara mengangguk, dia memang merasa lapar saat ini.

"Kita akan mampir ke restoran."

"Baik."

***

Pagi harinya, Gwen dan Jordan sudah berada di dapur. Hari ini adalah hari libur, jadi Jordan tidak perlu berangkat ke kantor.

"Bagaimana hasilnya kemarin?" tanya Gwen mengenai pemeriksaan kemarin.

"Tidak ada masalah," jawab Jordan berbohong.

"Syukurlah."

"Mereka belum turun?" tanya Jordan yang belum melihat Nara dan Richard.

"Belum."

Lalu tak lama Richard datang bersama Nara di belakangnya.

"Pagi semua," sapa Richard.

"Pagi," sapa Nara juga.

"Pagi," jawab Gwen dan Jordan masih diam dengan koran paginya.

"Emh, Nyonya?"

"Kau ingin sesuatu?"

Nara menggeleng. "Aku akan pergi keluar, apa boleh?"

"Kenapa bertanya? Tentu saja boleh, inikan hari libur. Pergilah keluar untuk jalan-jalan."

"Terima kasih, Nyonya."

"Kau akan pergi dengan Samuel, ya?" tebak Richard menaik-turunkan alisnya.

"Samuel? Siapa itu?" tanya Gwen.

Jordan langsung menatap tajam pada Nara, sedangkan yang ditatap menundukkan kepalanya sedikit.

"Pria yang menyukai Nara," kata Richard menaik turunkan alisnya lagi, mencoba untuk menggoda Nara.

"Benarkah? Ternyata Nara ada yang menyukai, ya?" Gwen terkekeh.

Nara sendiri masih menunduk, takut untuk menatap pada Jordan.

"Seharusnya kau juga cari wanita, Richard," kata Jordan.

"Benar, sesekali cobalah berkencan," timpal Gwen menyetujui perkataan suaminya.

"Tunggu." Mata Richard bergulir menatap Gwen dan Jordan, "Kenapa aku yang kena?"

"Jangan kebanyakan bergaul dengan Ricky," ujar Jordan.

"Memangnya kenapa?"

"Aku takut kau jadi belok."

" Jordan!!" Richard erteriak kesal dan cemberut. Gwen dan Nara menahan tawa mereka.

"Apa-apaan ekspresi mu itu? Katanya laki-laki."

"Aku memang laki-laki."

"Tidak ada manly-nya."

"Jordan, aku sangat teramat manly."

"Terserah."

"Sudah, makan sarapan kalian," lerai Gwen

Ting ... Tong ...

Bel rumah mereka berbunyi, menimbulkan pertanyaan dari mereka semua.

"Siapa?" tanya Gwen.

Richard mengangkat bahu. Lalu datanglah salah satu pelayan mereka.

"Nyonya, ada yang mencari nona Nara?"

"Siapa?"

"Namanya Samuel," ucap si pelayan membuat ketiga orang di sana sedikit terbelalak. Jordan benar-benar menatap tajam pada Nara dan yang ditatap semakin menciut saja nyalinya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel