Bab 14 - Dia Siapa 2
Jordan langsung memeluk tubuh Nara.
"KAU APA-APAAN?!!BAGAIMANA JIKA KAU TERTABRAK?!"
"Lepaskan aku, Tuan." Nara mendorong tubuh Jordan, tapi pria itu meraih tangan Nara.
"Kau mau ke mana?" tanya Jordan.
"Aku ingin pulang."
"Biar kuantar."
"Aku bisa sendiri." Nara tetap pada pendiriannya.
"Kau masih sakit." Jordan menarik Nara menuju parkiran.
Di dalam mobil.
"Kenapa kau lari begitu?" tanya Jordan dan Nara hanya diam.
"Kau marah?"
Nara masih diam tak menjawab.
"Aku tanya apa kau marah?" ulang Jordan." Tapi sepertinya kesabaran Jordan telah habis. "APA KAU MARAH?" Jordan membentak.
"AKU TIDAK MARAH!!"
Mereka pun sama-sama saling diam. Sampai mereka berhenti di depan rumah Jordan.
"Turunlah," ucap Jordan.
Nara turun dari mobil dan masuk ke rumah. Jordan di belakangnya mengikuti Nara lalu meraih tangan Nara dan langsung memeluknya.
"Maafkan aku."
"Kenapa tuan meminta maaf?"
Jordan mencium kepala Nara dan berujar, "Istirahatlah."
"Hm."
Nara pergi ke kamarnya. "Hahh ... aku kenapa?" Nara marah dan kesal saat tadi melihat Jordan dengan Selena.
Jordan kembali ke kantornya setelah sedikit meredakan keterkejutannya. Dia benar-benar terkejut saat ada mobil yang hampir menabrak Nara.
Malam hari Richard pulang ke rumah, dia membawa sesuatu di tangannya.
"Aku pulang. Hah? Ke mana semua orang?" Richard tidak bisa menemukan siapa pun.
Lalu Nara turun ke bawah setelah mendengar Richard. "Richard?"
Pria itu menoleh. "Apa Jordan belum pulang?"
Nara menggeleng.
"Kemarilah, aku bawakan ayam krispi. Ayo makan bersama," kata Richard dan mengangguk.
Saat mereka asyik makan, Jordan pun datang.
"Kau sudah pulang? Mau makan bersama?" tanya Richard.
"Kalian saja, aku sudah makan. Aku akan membersihkan diri," ucap Jordan pergi ke kamarnya
Setelah beberapa saat mereka berdua pun selesai makan dan pergi ke kamarnya masing-masing.
Nara masuk ke dalam kamarnya, dia sebenarnya belum mandi sore. Jadi, dia berniat untuk mandi sekarang. Setelah ke kamar mandi Nara pun menjatuhkan dirinya di atas kasur, lalu seseorang masuk.
"Kau sudah tidur?" tanya Jordan menghampiri Nara.
"Tuan?" Nara duduk.
Jordan duduk di depan Nara dan duduk meraih helai rambut Nara. "Tidurlah, sudah malam."
Nara mengangguk dan berbaring. Jordan menyelimuti Nara dan ikut tidur di sampingnya.
"Tadi kau kenapa?"
"Tidak apa-apa."
"Kau cemburu?"
"Tidak."
"Jangan cemburu. Nanti kau sakit lagi."
"Aku tidak, Tuan." Nara masih tetap menyangkal.
"Tidurlah."
Nara pun memejamkan matanya debgan Jordan yang memeluk Nara.
***
Esoknya Nara pergi ke kampus, dia disambut gembira oleh Hanna.
"Nara!! Oh, ya, ampun. Aku merindukanmu. Bagaimana keadaanmu?" tanya Hanna.
"Aku sudah lebih baik."
"Syukurlah," ucap Hanna.
Satu jam setelah kelas Hanna dan Nara istirahat, mereka berdua pergi ke perpustakaan mencari sesuatu.
"Hah ... aku menyerah." Hanna mengembuskan napas jengah.
"Hei ... ayo sedikit lagi." Tapi Nara masih mencoba mencari buku yang dapat membantu mereka mengerjakan tugas.
"Hai." Samuel menghampiri mereka.
"Oh, hai," jawab Hanna lemas.
Samuel melirik Nara. "Bagaimana kabarmu, Nara?"
"Jauh lebih baik. Terima kasih untuk waktu itu," ucap Nara.
"Tak masalah. Tadinya aku ingin mengajakmu pergi hari ini, tapi sepertinya kau masih butuh istirahat. Jadi lain kali saja kurasa."
"Maaf," ucap Nara bersalah. Aku janji, nanti akan kutemani."
"Haha, iyaa." Samuel tertawa.
"Ada apa ini, hm?" goda Hanna.
"Tidak ada," jawab Nara.
"Oh, kalian mau kencan, ya?" tanya Hanna menggoda Nara.
"Terserah kau saja," kata Nara menyerah pada Hanna. Dan Hanna hanya terkekeh geli.
Jam pulang pun tiba, Nara berjalan di koridor kampus.
"Nara!!" Samuel berlari menghampiri Nara.
"Oh, ada apa?"
"Boleh aku mengantarmu pulang? Sebagai ganti karena tidak jadi pergi," ucap Samuel tersenyum.
"Aku mau, tapi ..."
"Apa ada masalah?" tanya Samuel.
"Eh, itu ..."
"Nara, ayo pulang." Jordan memanggilnya. Samuel dan Nara pun menoleh.
"Ba-baik, Tuan. Emh, Samuel ... mungkin lain kali, ya."
Samuel mengangguk pasrah dan Jordan melirik Samuel sebentar. Nara masuk dan duduk di dalam mobil.
Jordan melirik Nara di sampingnya dan berkata, "Aku tidak suka kau dekat dengannya."
Nara menyahut, "Dia temanku, Tuan."
"Tapi dia tidak menganggapmu teman."
"Maksud tuan?" Nara benar-benar tidak memahami maksud dari perkataan Jordan.
"Sudahlah," Jordan menyerah, "mana ciumanku?"
"H-hah?"
Jordan mendekatkan wajahnya.
"Tu-tuan ..." Nara melirik ke luar jendela mobil.
"Baiklah, di rumah saja." Jordan kembali menjalankan mobilnya. Tanpa sepengetahuan mereka, ada seseorang yang memperhatikan kepergian mereka dengan tatapan yang sulit di artikan.
***
"Tuan ..." Nara memukul bahu Jordan saa dia merasa butuh pasokan udara. Mereka sudah berciuman di dalam mobil, di depan rumah Jordan sejak lima menit lalu mereka sampai.
Jordan melepaskan ciumannya. "Masuklah. Aku akan kembali ke kantor."
Nara mengangguk dan masuk ke dalam rumah.
***
Hari Minggu ini Nara menghabiskan di rumah sendirian. Jordan sedang pergi ke luar karena ada hal yang penting katanya. Dan Richard pergi dengan Ricky.
Nara pergi ke dapur untuk mengambil minum, di sana ada beberapa pelayan yang datang untuk membersihkan rumah.
"Ada yang bisa kubantu, Nona?" tanya salah satu pelayan itu, sepertinya dia ketua pelayannya.
"Ah, tidak, Bibi. Aku hanya mengambil minum."
Ketika Nara minum, lalu datang seseorang.
"Pokoknya Richard harus pulang, tidak boleh tidak. Aku akan memaksanya. Bibi-" Perkataan orang itu terpotong kala melihat Nara di sana.
Nara terdiam dengan gelas di tangannya.
"Siapa kau?" tanya ibu Jordan.
"Em ... saya ..." Saat Nara kebingungan untuk menjawab, Gwen datang.
"Ibu?"
"Oh, Gwen."
"Nyonya," sapa naravpada Gwen.
Ibu mertua Gwen kembali menatap Nara. "Nyonya?"
Di suatu tempat.
"Jadi bagaimana?" tanya Bobby pada Jordan. Keduanya kini sedang berada di sebuah restoran.
"Apanya?"
"Gadis itu."
"Dia cantik," jawab Jordan sekenanya.
"Kau benar-benar menyukainya?"
"Aku sangat tertarik padanya," koreksi Jordan.
"Kau sedang tidak mempermainkannya, kan?"
"Justru aku mempermainkan diriku sendiri."
"Berhentilah, Jo. Sebelum terlambat." Bobby memperingatkan.
"Aku sudah setengah jalan, Bob." Jordan menyantap makanannya.
Bobby menggeleng. "Jika disuruh memilih, kau akan memilih siapa?"
"Tidak akan ada yang berani menyuruhku begitu. Bahkan ibuku."
"Terserah kau saja," Bobby menterh. "Kau sudah dengar beritanya?"
"Berita apa?"
"Orang yang mengganggu gadismu dan yang membuat kafe itu tutup."
"Apa ada berita menyedihkan darinya?" tanya Jordan menyeringai.
"Dia bangkrut total sekarang."
"Kerja bagus, Bob."
"Hm," jawab Bobby ikut menyeringai.
Ya, jika pria itu bangkrut, itu adalah ulah Jordan.
***
Di ruang tengah, Nara duduk di samping Gwen dan di depannya duduk ibu Lee.
"Kupikir kau pulang hari Rabu."
"Di percepat, Bu," jawab Gwen.
"Jadi, dia siapa?" tanya ibu Jordan melirik Nara.
"Dia Nara, asisten pribadiku jika di rumah."
Nara membungkuk. "Salam kenal, Nyonya."
Ibu Jordan mengangguk. "Lalu kenapa dia tidak ikut denganmu?"
"Ah, saat itu dia sedang sakit. Jadi aku tidak mengajaknya, lagi pula dua juga berkuliah."
"Dan dia tinggal di sini?"
"Ya, aku yang menyuruhnya tinggal di sini."
Ibu Jordan mengangguk lagi. "Kalau begitu aku pulang sekarang."
"Tidak menginap dan menunggu Richard pulang?"
"Tidak usah, untuk Richard biar nanti kuhubungi anak bebal itu."
"Jangan terlalu keras padanya, Bu. Dia masih terlalu muda."
"Ya, jika dia tidak berbuat macam-macam, aku akan melepaskannya. Kau terlalu memanjakan Richard," ucap ibu Jordan.
"Aku sudah menganggapnya sebagai adik sendiri," kata Gwen. "Aku yakin Richard tidak akan berbuat yang aneh-aneh."
"Semoga saja. Aku permisi."
"Hati-hati, Bu."
Ibu Jordan pergi ke luar dan masuk ke dalam mobilnya. "Siapa gadis itu? Sepertinya aku pernah melihatnya, tapi di mana?"
"Kita akan ke mana, Nyonya?" tanya sang supir.
"Oh, antarkan aku ke kantor Jordan."
"Baik, Nyonya."
Jordan mendapat telepon dari Selena di kantor. "Kenapa?"
"Ibu anda datang ke kantor, Tuan," jawab Selena di seberang telepon. "Dia mencari Anda."
"Aku segera ke sana."
"Baik."
Jordan mematikan ponselnya.
"Ada apa?" tanya Bobby.
"Ibuku datang ke kantor."
"Di hari libur?"
"Aku tidak tahu ada urusan apa?"
"Sekretarismu di sana?"
"Beberapa orang ada di sana. Aku pergi dulu," pamit Jordan.
"Hm."
Jordan meluncur ke kantornya dan langsung menemui ibunya di ruangannya.
"Ada apa, Bu?"
"Duduklah. Aku ingin bertanya sesuatu padamu."
Jordan duduk depan ibunya di sofa. "Mengenai apa?"
"Siapa dia? Wanita yang tinggal di rumahmu?"
Jordan diam sebelum menjawab, "Apa ibu mendapatkan informasi tentangnya?"
"Istrimu bilang dia asistennya."
"Gwen sudah pulang?"
"Dia tidak mengabarimu?"
Jordan menggeleng. "Belum."
"Mungkin dia lupa. Jadi, siapa wanita itu?"
"Jika istriku berkata seperti itu, maka memang seperti itu adanya."
"Aku hanya takut dia akan menguras harta kalian," kata ibunya berlebihan.
"Itu tidak akan terjadi."
"Semoga saja. Kalau begitu ibu akan pulang."
"Mau kuantar?" tawar Jordan.
"Tidak usah, aku bersama sopir."
"Hati-hati."
"Hm."
Jordan menatap kepergian Ibunya dan bergumam, "Justru aku yang akan memberikannya secara cuma-cuma."
***
Malam harinya, Richard pulang bersama dengan Jordan. Richard masuk terlebih dahulu dan dia melihat Gwen yang duduk di sofa.
"Aku merindukan kakak ipar." Richard memeluk Gwen.
"Aku juga merindukanmu."
Jordan menghampiri mereka. "Kenapa pulang tidak menghubungiku?"
"Aku tidak ingin mengganggumu."
Jordan memeluk dan mencium kening Gwen. Nara yang melihat itu memalingkan wajah.
"Aku lapar, ayo makan," ajak Jordan
"Ah, baiklah kita makan."
Di meja makan, keempatnya mulai makan malam mereka.
"Kapan ke rumah sakit lagi?" tanya Gwen pada Jordan.
"Lusa," jawab Jordan.
"Ke rumah sakit? Untuk apa?" tanya Richard kebingungan.
"Anak kecil tidak perlu tahu," timpal Gwen membuat Richard cemberut. Nara hanya diam dan memakan makanannya.
Gwen menatap Nara. "Kau baik-baik saja, kan, Nara?"
"I-iya, Nyonya."
"Syukurlah."
Jordan acuh tak acuh dan hanya fokus makan.
"Kemarin Nara sempat jatuh sakit," adu Richard pada kakak iparnya dan wanita itu terkejut.
"Benarkah?" tanya Gwen menatap Nara.
Nara mengangguk. "Hanya ... demam biasa, Nyonya."
"Tolong jaga kesehatanmu, ya, mulai dari sekarang," kata Gwen, dia mengkhawatirkan Nara dan kandungannya.
"Baik."
Bersambung...
