Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 13 - Waktu Bersama

"Buka pintu depan, Richard," kata Jordan pada Richard.

Richard mengangguk dan bergegas membuka pintu depan mobil. Jordan mendudukkan Nara dan memasangkan sabuk pengaman padanya.

"Kau telepon dokter untuk datang ke rumah." Jordan kembali berucap pada Richard.

"Baik." Richard mengangguk.

Jordan bergegas masuk ke dalam mobil.

"Hati-hati," kata Richard dan Jordan mengangguk.

Di perjalanan, Jordan menyentuh dahi Nara dengan punggung tangannya. "Seharusnya tadi tidak usah berangkat," katanya khawatir.

"Tadi aku baik-baik saja," jawab Nara dengan lemas.

Jordan menggenggam tangan kanan Nara. "Jangan membuat aku khawatir," kata Jordan menatap lurus jalan. Nara  menatap Jordan dari samping, dia memperhatikan wajah Jordan dengan seksama, lalu tersenyum kecil.

Sesampainya Nara pun langsung diperiksa oleh dokter di kamarnya.

"Dia hanya kelelahan dan terlalu banyak pikiran," kata dokter pria pada Jordan. "Ini resepnya. Saya permisi," kata dokter itu pamit pergi.

"Terima kasih, Dok," ucap Jordan pada dokter itu. Kemudian Jordan menghampiri Nara dan duduk di sampingnya. Dia meraih satu tangan Nara. "Kau memikirkan apa, hm? Sampai jatuh sakit begini?" tanya Jordan lembut.

"Tidak ada," jawab Nara sekenanya.

"Tidurlah."

Nara menggelengkan kepalanya.

"Kenapa?" tanya Jordan menyingkirkan anak rambut di dahi Nara.

"Aku takut, Tuan."

"Kau merasa takut sendirian ketika sakit?"

Nara mengangguk dan Jordan terkekeh geli sampai matanya menyipit, membuat Nara terpukau.

"Tuan tampan jika tertawa," kata Nara spontan.

"Hm?" Jordan kembali datar dan itu membuat Nara gugup.

"Ti-tidak." Nara gelagapan.

Lalu Jordan berbaring di samping Nara, dia berkata, "Aku memang selalu tampan. Tidurlah, aku akan menemanimu."

Nara pun memejamkan mata dan tertidur.

***

Malam harinya Nara sedang menonton TV sambil makan.

"Fokus pada makananmu," tegur Jordan.

"Dramanya seru," ucap Nara.

"Aku pulang." Richard datang dan menghampiri mereka. "Nara, bagaimana kabarmu?" tanyanya pada Nara, lalu dia duduk di samping Jordan.

"Jauh lebih buruk ketika kau datang," kata Jordan menyahuti.

"Kau keterlaluan!" sembur Richard kesal. Nara terkekeh.

"Richard?" Jordan memanggil.

"Hm?" Richard menoleh pada Jordan

"Kenapa kau sangat tampan?"  tanya Jordan, "Tidak sia-sia aku mewariskan ketampananku padamu," ucapnya bangga.

Richard hanya mengedip-ngedipkan matanya. "Apa baru saja kau mengatakan aku tampan?" tanya Richard memastikan.

"Ya, ingat! Itu warisan dariku," kata Jordan. Richard memeluk Jordan. "Ck. lepas!!" Jordan protes.

"Aku menyayangimu, Jo," kata Richard.

Jordan memutar mata malas. "Ya, ya, aku tahu."

Richard melepaskan pelukannya. "Hehehe."

"Kau sudah makan?" tanya Jordan, begitu-begitu juga dia sangat menyayangi adiknya.

"Sudah," jawab Richard sambil menonton televisi.

"Ibu selalu menanyakanmu," kata Jordan, "dia menyuruhmu pulang."

"Pokoknya aku akan tinggal di sini," kukuh Richard.

"Terserah, asal selalu hubungi ibu."

"Iyaaa."

"Besok Nara tidak masuk kuliah dulu," kata Jordan lagi, sedangkan yang disebut namanya masih fokus pada film yang ditontonnya.

Richard mengangguk. "Bawalah Nara jalan-jalan sesekali. Biar dia tidak bosan," usul Richard

Nara menyahuti, "Aku bukan anak kecil."

Richard melirik Nara. "Kau butuh hiburan. Sudah, Jo. Culik dia besok. Bawa dia kemana pun, bantu dia melepas penatnya," kata Richard beruntun.

"Hm." Jordan menyahuti dengan mata tertutup dan menyadarkan kepalanya.

***

Keesokan harinya Richard sudah pergi setelah menghabiskan sarapannya. Dan kini hanya ada Jordan dan Nara.

"Kau sudah siap nona cantik?"

Nara mengangguk.

"Pakai jaketmu," kata Jordan. Nara pun memakai jaket yang dipegangnya.

"Kita akan pergi ke mana, Tuan?"

"Hm?" Jordan menatap Nara. "Nanti kau juga tahu. Ayo."

Mereka pun masuk ke dalam mobil dan meninggalkan pekarangan rumah. Bermenit-menit Jordan menjalankan mobilnya

"Tuan?"

"Hm?" Jordan menyahuti.

"Nyonya kapan pulang?"

"Rabu depan."

Setelah itu Nara diam.

"Tuan, sekarang hari apa?" Nara kembali bertanya.

"Hari Rabu."

Jordan fokus menyetir saat Nara kembali bertanya.

"Besok kita ke rumah sakit lagi?"

"Iya."

Nara kembali diam.

"Tuan, kapan sampai?"

"Sebentar lagi."

Beberapa menit berlalu.

Tuan, apa masih lama?"

Jordan melirik Nara dan berkata, "Kau jadi cerewet kalau sedang sakit."

Nara diam.

"Sebentar lagi kita akan sampai, sayang," kata Jordan menyeringai.

Dan di sinilah mereka, di pantai yang indah dengan pasir putih dan udara yang begitu sejuk.

"Ayo turun," ucap Jordan.

Mereka pun turun dari mobil.

"Kenapa ke pantai? Kenapa sepi?" tanya nara.

Pria itu menarik tangan Nara. "Ikut saja."

Mereka berjalan menuju dermaga.

"Kita akan naik kapal ini?" Nara kembali bertanya.

Jordan naik lebih dulu dan mengulurkan tangannya pada nara. "Ayo."

Nara meraih tangan Jordan, mereka pun masuk ke dalam duduk di sana.

"Berapa lama kita akan di sini?" tanya Nara.

"Sampai sore."

Nara mengangguk. "Wah! Lumba-lumba." Nara menunjuk lumba-lumba di luar sana yang melompat.

Jordan tersenyum.

"Tuan pernah menonton film Titanic?

"Hm."

"Itu iya atau tidak?"

Jordan melirik Nara. "Bagaimana jika kita meniru salah satu adegan di film itu?"

"Maksud tuan adegan rose merentangkan kedua tangannya dan-"

"Bukan," sela Jordan, "tapi yang lainnya," katanya menyeringai.

Nara memalingkan wajahnya dan Jordan semakin menyeringai.

"Kau malu?" tanya Jordan.

"Ti-tidak."

"Masa, sih?"

Nara mengangguk, lalu Jordan menarik hidung Nara.

"Kau manis," ujar Jordan membuat Nara menunduk.

Hari sudah siang dan mereka kini berbaring di tempat tidur yang ada di dalam kapal feri itu. Posisinya saat ini Jordan sedang berbaring sambil memeluk Nara dari belakang.

"Kau lapar?" tanya Jordan.

"Sedikit."

"Ayo makan," ajak Jordan.

"Sebentar lagi."

"Jangan menunda-nunda, kau sedang sakit."

"Malas tuan ... sebentar lagi saja."

"Lebih nyaman di pelukanku, ya?" ucap Jordan main-main sambil menyeringai.

Nara langsung duduk. "Ayo kita makan," saru Nara membuat Jordan terkekeh.

Di kampus.

"Apa Nara tidak masuk?" tanya Samuel.

"Sepertinya demamnya belum turun," jawab Hanna.

"Apa dia ada di rumahnya?"

"Dia tinggal di rumah majikannya."

"Majikan?" tanya Samuel.

"Iya, tanya saja pada Richard. Dia juga majikannya," kata Hanna. "Aku permisi, ya, bye."

"Hm." Samuel terdiam untuk mencerna perkataan Hanna.

***

"Sekarang istirahatlah, nanti aku bangunkan jika kita akan pulang."

"Tuan tidak akan meninggalkanku, kan?" tanya Nara memastikan.

"Bagaimana? Dengan melompat ke laut dan berenang jauh sampai ke pantai?" kata Jordan. "Aku tidak sekonyol itu."

"Entahlah, dengan sekoci, mungkin?"

Jordan menangkup pipi Nara. "Aku tidak akan meninggalkanmu, sayang. Ayo tidur."

Nara pun menurut.

Samuel mencari Richard di kampus untuk menanyai prihal Nara padanya.

"Aku ingin bicara," kata Samuel to the point.

"Oh, bicara saja," kata Richard.

Samuel menatap Ricky.

"Ah, aku ... permisi dulu," pamit Ricky yang paham maksudnya dan pergi.

Richard menatap kepergian Ricky. "Ada apa sampai harus mengusir temanku?"

"Maaf soal itu. Aku ingin bertanya, bagaimana keadaan Nara?"

"Masih demam," jawab Richard.

"Dia tinggal di rumahmu?"

"Iya."

"Bagaimana bisa?"

"Dia jadi asisten pribadi kakak iparku."

"Oh begitukah? Terima kasih." Samuel pun pergi.

"Hanya itu?" tanya Richard tak percaya.

***

Jordan mengelus kepala Nara yang terlelap.

"Kenapa tidak datang padaku lebih awal? Jika datang lebih awal padaku, maka ..." ucapannya terhenti. "Sial! Tetap saja tidak akan ada bedanya." Jordan mencium bibir Nara. "Kau milikku Nara, hanya milikku."

Setelah beberapa jam berlalu, Nara masih tertidur.

"Hei, bangunlah." Jordan memainkan rambut Nara. Membuat wanita itu membuka matanya.

"Tuan?"

"Ya, ini aku. Ayo bangun, kita akan pulang?"

"Hm."

Mereka pun beranjak keluar. Dan Nara bisa melihat pemandangan laut mendung dengan angin yang cukup kencang. Membuat Nara memeluk dirinya sendiri.

"Dingin, hm?" Jordan memeluk Nara dari belakang dan Nara mengangguk. "Sudah baikan?" tanya Jordan atas demam Nara.

"Lebih baik."

Jordan mempererat pelukannya. "Jangan sakit lagi."

Nara tak merespon, dia lebih menikmati angin sore dan pelukan hangat dari Jordan.

***

Malam harinya di ruang tengah.

"Nara, bagaimana jalan-jalannya?" tanya Richard.

Nara menjawab, "Menyenangkan."

"Kakakku tidak nakal, kan?"

Jordan melirik Richard. "Apa maksud pertanyaanmu itu?"

Richard mengangkat kedua bahunya. "Besok tidak usah kuliah dulu lagi, ya?" kata Richard pada Nara.

"Tapi jenuh ..." jawab Nara.

"Ikut saja denganku, kau masih sakit."

Richard ngangguk setuju dengan perkataan Jordan.

"Ikut saja dengannya, daripada di sini sendirian."

"Hm," jawab Nara.

Keesokan harinya.

"Aku berangkat, ya. Bye." Richard pun pergi menggunakan mobilnya.

"Ayo, kita juga pergi," kata Jordan pada Nara.

Richard berangkat ke kampusnya, sedangkan Nara dan Jordan pergi ke rumah sakit dulu untuk menemui dokter Sena.

Di rumah sakit.

"Nah, untuk proses kali ini adalah memasukkan embrio ke dalam leher rahim," ucap dokter Sena.

"Dan untuk mengetahui apakah ini berhasil atau tidaknya. Kalian bisa ke sini lagi setelah dua mingguan."

Jordan mengangguk.

"Sekarang, Nara ayo ikut aku ke ruangan lain."

"Baik, Dok," jawab nara.

"Tuan Lee bisa menunggu di sini," kata dokter sena.

"Hm."

Prosesnya pun berjalan dengan lancar dan saat ini mereka pergi untuk ke kantor Jordan. Tak lama mereka pun sampai di kantor Jordan dan masuk ke ruangan pria itu.

"Kau tunggu di sini, aku ada meeting yang harus kuhadiri," ucap Jordan pada Nara dan dia  mengangguk.

Jordan mencium bibir Nara sekilas. "Aku tidak akan lama." Setelahnya Jordan pun pergi.

"Apa yang harus aku lakukan di sini?" Nara kebingungan.

Setelah lebih dari satu jam Jordan pun keluar dari ruang meeting dan hendak menuju ruangannya, sebelum di jegat oleh sekretarisnya.

"Tuan Lee."

"Ada apa?" tanya Jordan.

"Kulihat tadi Nara ke sini juga."

"Hm."

"Tuan ... apakah tidak bisa jika aku menggantikan posisi istrimu?"

Jordan menatap tak minat. "Sudah ada penggantinya."

"Kalau begitu, aku akan jadi pengganti Nara." Selena menyentuh bahu kiri Jordan.

"Kau tidak pantas bahkan untuk menjadi nomor dua setelah Nara," kata Jordan dengan tenang.

"Kenapa? Kenapa tidak bisa? Dia juga jalangmu!" Selena sedikit berteriak.

"Dia hanya jalangku, hanya untukku. Berbeda denganmu," kata Jordan.

"Aku juga hanya untukmu, Tuan."

Jordan mencondongkan tubuhnya. "Benarkah? Lalu bagaimana dengan kolega-kolegaku?"

Selena membelalakkan mata. "Da-dari mana, Tuan ..."

Jordan menyeringai. "Aku selalu tahu apa pun, Selena. Tapi aku berterima kasih padamu. Berkatmu, mereka mau bekerjasama denganku."

Selena menahan amarah dan malu, sampai tangannya mengepal erat.

"Pertahankan kinerjamu," ucap Jordan.

Nara merasa bosan dan hendak untuk berjalan di koridor. Saat dia keluar, dia melihat Jordan memunggunginya dan sekretarisnya yang menghadap padanya.

Selena melihat Nara di sana dan dia menyeringai. Satu ide muncul di kepalanya, dia mengalungkan tangannya di leher Jordan. "Baiklah, aku akan mundur. Tapi ..." Selena mendekatkan wajahnya. "Aku minta ini." Selena mencium bibir Jordan.

Pria itu sedikit membalas ciuman sekertarisnya yang binal ini. Jordan meremas bokong dan dada Selena, membuat wanita itu sengaja mendesah dengan keras di sela ciuman mereka.

Selena bahkan menggesekkan bagian bawah mereka agar Jordan bermain lebih panas. Pada saat itu Selena memutar tubuhnya hingga kini Jordan menghadap ke arah Nara.

Jordan terkejut melihat Nara.

Nara juga tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dia melihat mereka berciuman, bahkan di koridor kantor. Seketika Nara merasa buruk, dia berpikir bahwa dirinya sangat rendah saat ini. Nara berlari keluar.

Jordan yang melihat itu langsung menghempaskan tubuh Selena.

"NARA!!!" Jordan mengejar Nara, sedangkan Selena tersenyum puas.

Nara terus berlari keluar dari kantor Jordan dan saat ini dia sudah berada di luar.

"Nara! hei!! Tunggu!!" Jordan masih berlari mengejar Nara. Sampai Jordan melihat sebuah mobil yang melaju kencang.

Tin! Tin!

"Yoo Nara!!!"

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel