Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 12 Tuan Jahat 2

Keesokan harinya Nara masuk kuliah bersama dengan Richard. Tadi pagi dia tidak melihat Jordan. Syukurlah, jadi Nara tak perlu berbasa-basi di depan Richard pada Jordan.

"Nara, kudengar kau sakit. Sakit apa?" tanya Hanna.

"Huh? Emh, hanya ... tidak enak badan saja."

"Kau baik-baik saja, kan?"

Nara tersenyum. "Sekarang sudah lebih baik."

"Syukurlah kalau begitu."

Kini keduanya sedang berada di perpustakaan, lalu seseorang menghampiri mereka berdua.

"Hai." Samuel menyapa keduanya.

"Hai, Sam." Nara dan Hanna balas menyapa.

"Kemarin aku tidak melihatmu," kata Samuel pada Nara.

Nara menjawab, "Kemarin aku tidak masuk."

Samuel mengangguk. "Minggu depan, mau tidak menemaniku menonton film?" tanya Samuel pada Nara.

Nara tersenyum. "Tentu."

"Oke, nanti kuhubungi," kata Samuel dan Nara mengangguk.

***

Setelah kampusnya selesai, Nara berniat untuk mengunjungi ibunya di rumah. Dia benar-benar merindukannya dan membutuhkan pelukan hangat ibunya.

"Nara, mau pulang bersamaku?" tanya Richard.

Nara menggeleng. "Aku akan pulang ke rumah ibuku. Aku sudah merindukannya."

"Kalau begitu, ayo. Kuantar," kata Richard menawarkan.

"Baiklah."

Nara pun diantar Richard menuju ke rumahnya. Setelah beberapa menit berkendara mereka pun sampai.

"Terima kasih."

"Sama-sama. Apa kau akan menginap?" tanya Richard.

"Aku rasa begitu."

"Aku mengerti," kata Richard, "Aku pulang dulu."

"Hati-hati."

Richard mengangguk dan dia pun pergi. Nara masuk ke rumahnya, tapi dia melihat pintu rumah ibunya terbuka.

"Apa ada yang datang?" Nara bertanya-tanya, lalu dia memanggil ibunya saat di depan pintu masuk. "Ibu ... aku datang-" perkataan Nara terhenti, dia melihat seseorang yang dikenalnya di sana. Bertamu di rumah ibunya.

"Oh, Nara. Ayo masuk, nak." Ibunya membawa masuk Nara.

Sedangkan Nara masih terdiam melihat sosok yang kini duduk di sofa di ruang tengah rumahnya.

"Hai, Nara," sapa Jordan dengan seringaiannya.

"Ayo, duduklah. Ibu akan siapkan makan malam," kata ibunya.

"Akan kubantu, Bu," ucap Nara.

"Baiklah, ayo."

Nara dan ibunya pun mulai memasak dan menyiapkan malam mereka. Setelah beberapa saat, makan malam pun siap dan mereka mulai makan.

"Jadi tuan Lee ini adalah majikan Nara?" tanya ibu Nara.

"Betul, ibu," jawab Jordan.

Nara menoleh pada Jordan setelah mendengar panggilan pria itu pada ibunya.

"Boleh, kan, aku memanggil ibu?" tanya Jordan pada ibu Nara, seolah pria itu paham apa maksud tatapan Nara padanya.

"Ah, tentu saja, Tuan," jawab ibunya. "Omong-omong ... di mana nyonya?"

"Dia sedang ada pekerjaan di Jepang," sahut Jordan.

"Oh, begitu ..." Ibu Nara mengangguk mengerti. "Nara, tuan Lee ini sudah ada di sini sejak pagi, lho," kata ibunya pada Nara. Membuat wanita itu kembali menatap Jordan dan yang ditatap menatap balik dengan pandangan yang membanggakan diri.

Setelah makan malam mereka pun hanya berbincang-bincang di ruang tengah. Jordan dan ibu Nara berbincang bersama sambil sesekali tertawa. Dan Nara hanya diam.

"Hahaha, Tuan bisa saja." Ibu Nara tertawa menanggapi lelucon Jordan.

"Tapi aku sungguh-sungguh, Ibu. Putrimu ini sangat cantik. Aku ingin menjadikannya istri keduaku," kata Jordan sambil melirik jahil ke arah Nara.

Ibu Nara kembali tertawa bersama dengan Jordan. "Tuan ini ada-ada saja. Tapi, boleh saja jika tuan mau."

Mereka berdua pun kembali tertawa bersama. Ibunya tahu jika ini hanya sebuah candaan, tapi bagi Jordan ini berbeda. Dan Nara bisa menangkap maksud dari tuannya itu, jadi dia memilih untuk diam.

"Nara ... kau mau?" tanya ibunya main-main.

"Ibu ..." Nara menjawab setengah kesal dan setengah merajuk.

"Hahaha, dia sangat pemalu," kata ibu Nara. "Tuan Lee, apa Nara bekerja dengan sangat baik?" tanyanya mulai serius.

"Tentu saja, dia bekerja dengan sangat baik, Ibu," jawab Jordan menyeringai pada Nara.

Wanita itu memalingkan wajahnya.

"Nara, layani mereka dengan sangat baik, ya," ujar ibunya dan Nara mengangguk.

Setelah perbincangan random mereka selesai, ketiganya pun pergi tidur ke kamar masing-masing. Di rumah itu ada tiga kamar, satu dipakai ibu Nara, satu lagi kamar Nara dahulu, dan yang satu lagi adalah kamar tamu.

Jordan sendiri menginap di sana, dia meminta izin pada ibu Nara. Pria itu beralasan sedang malas pulang ke rumah. Ibu Nara pun memperbolehkan dan menyuruh Jordan untuk tidur di kamar tamu di sana.

Tepat tengah malam, Nara tidak bisa tidur, entah apa yang dia pikirkan. Sampai tidak menyadari ada seseorang yang masuk ke dalam kamarnya dan memeluknya dari belakang. Nara kaget dibuatnya.

"Tuan ..." Nara sedikit gelisah, bagaimana orang ini bisa masuk ke kamarnya? Bagaikan jika ibunya tahu?

"Aku merindukanmu," ucap Jordan mencium tengkuk Nara dari belakang.

"Tu-tuan ... tidurlah." Nara mencoba mengusir Jordan, dalam hati dia berharap pria ini segera pergi.

"Aku ingin tidur bersamamu." Jordan membalikkan tubuh Nara dan mengungkungnya.

"Tu-tuan ..." Suara Nara begetar, begitu juga dengan seluruh tubuhnya.

"Ssttt ..." Jordan menaruh jari telunjuknya di bibir Nara, tanda untuk Nara agar diam, "nanti ibumu dengar."

"Kumohon, jangan lakukan ini." Nara memohon dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

Jordan membelai wajah Nara. "Nara, kau tahu? Aku sudah sangat tertarik padamu, aku tidak bisa menghentikannya. Dan satu hal, kau hanya milikku. Tidak ada yang boleh memilikimu selain aku," kata Jordan terdengar penuh keseriusan.

"Tuan, nyonya-" ucapan Nara terpotong saat Jordan mencium bibir Nara.

"Jangan menyebutkan namanya saat kita bersama," kata Jordan.

"Tuan Lee, kumohon jangan." Kini air mata Nara sukses terjatuh.

"Ingat kata ibumu," kata Jordan masih membelai wajah Nara dengan lembut, "kau harus melayani dengan baik."

Bedebah. Jordan benar-benar pria berengsek bagi nara.

Jordan kembali mencium Nara. "Aku sangat menyukaimu," kata Jordan dan mulai meraba dada Nara.

Jordan kembali mencium bibir Nara dengan satu tangannya bermain di dada Nara. Keduanya tak berjarak satu senti pun, ditambah posisi Jordan yang berada di atasnya, membuat Nara tak bisa berontak.

Ciuman itu mulai turun ke leher Nara, kedua tangan Jordan kini bermain di dada Nara. Dan Nara hanya dapat menggigit bibirnya menahan desahan yang akan keluar.

Jordan mengangkat kepalanya, dia juga sedikit memberikan jarak dengan menopang tubuhnya menggunakan satu tangan. Sedangkan, tangannya yang lain mulai membuka kancing kemeja piyama Nara.

Tatapan Jordan begitu bergairah melihat Nara di bawahnya. Bibir merah Nara semakin merah setelah dua menciumnya. Nara menggeleng saat Jordan berhasil melepaskan seluruh kancing baju Nara.

Nara semakin menjatuhkan air matanya saat Jordan berhasil melepaskan seluruh pakaian atasnya, beserta dengan dalamannya.

Jordan tersenyum tulus dan mengelus pipi Nara dengan sebelah tangannya, kemudian dia kembali mencium Nara. Satu tangannya masih tertekuk menahan bobot tubuhnya dan tangan lainnya memainkan dada Nara.

Dia mengusap, membelai, dan meremasnya di sana. Membuat Nara mengerang dalam ciumannya.

Jordan kembali bangkit dan mulai melepaskan pakaian atasnya. Dia tidak langsung mencium Nara, melainkan memainkan dada Nara dengan kedua tangannya.

Nara hanya memejamkan mata dan menutup mulutnya dengan punggung tangan.

Jordan meraih tangan Nara lembut, sementara tangan lainnya masih berada di dada Nara.

"Jangan ditahan, Nara. Keluarkan saja suaramu," kata Jordan setengah berbisik dengan suara dalamnya.

Nara menggeleng. "I-ibu, bisa dengar."

"Dia tidak akan dengar," kata Jordan. Lalu dia membuka seluruh celananya beserta dengan celana Nara.

Jordan melemparkan celana mereka ke sembarang arah, lalu meraih selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua.

Nara sedikit meringis saat Jordan melakukan penyatuan mereka. Kemudian, dengan perlahan Jordan menggerakkan pinggulnya.

"Tu-tuan ..." Nara meremas kuat bantal di bawahnya, matanya terpejam erat.

"Jangan ditahan Nara." Jordan kini mulai menggerakkan pinggulnya dengan cepat, kedua tangannya meraba seluruh tubuh Nara. Bibirnya juga mencium seluruh tubuh Nara dengan ritme gerakan yang masih sama.

Kamar Nara terasa begitu panas. Dan di dalam kamarnya bisa terdengar suara desahan Nara yang mulai bersuara meski pelan, beserta suara kain seprei yang bergesekkan.

Nara terhanyut ke dalam permainan Jordan. Wanita itu kini memeluk leher Jordan saat pria itu mencium bibirnya, kakinya juga dia kaitkan ke atas punggung Jordan.

Tubuh Nara terlonjak ke atas setiap kali Jordan bergerak di atasnya. Sesekali Nara akan menjambak rambut Jordan ketika pria itu menciumi dan meremas dadanya.

"Ngh! Ah! Ahh! Tuan, aahh." Nara terus meracau saat Jordan menggerakkan pinggulnya di belakang Nara.

"Kau nikmati, Nara. Kau hebat, mmhh ... ratuku," racau Jordan.

Dan pujian dari Jordan itu membuat Nara merasa senang. Entah kenapa? Tapi dia merasa sangat bahagia.

Entah berapa lama mereka melakukannya sampai kini Nara tertidur lelap karena kelelahan. Sedangkan Jordan masih membuka mata, dia memainkan rambut Nara.

"Aku mencintaimu."

***

Pagi harinya Nara dan Jordan telah bangun dan siap untuk berangkat, setelah mereka menyelesaikan sarapan paginya.

"Apakah tidur anda nyenyak, Tuan?" tanya ibu Nara.

"Sangat nyenyak, Ibu." Jordan menyeringai samar.

"Bu, aku akan berangkat," kata Nara berpamitan dan memeluk ibunya.

Ibunya balas memeluk Nara. "Kuliah yang rajin, dan bekerjalah dengan baik."

"Tentu," ucap Nara.

"Ayo Nara, kita berangkat."

Keduanya pergi dan Jordan pun mengantar Nara ke kampusnya. "Nanti saat kau pulang aku akan menjemputmu di sini."

"Hm." Nara hendak keluar sebelum Jordan menarik Nara dan menciumnya.

"Mulai sekarang, lakukan itu setiap kali kita berpisah dan bertemu."

Nara diam tak merespon.

"Masuklah."

Nara keluar dari mobil dan masuk ke kampus. Dia berjalan dengan lemas, lalu tiba-tiba tubuhnya oleng. Samuel menangkap tubuh Nara yang hampir terjatuh.

"Kau baik-baik saja?" tanya Samuel dengan khawatir.

"Nara!!!" Richard yang melihatnya berlari ke arah Nara. "Kau tidak apa-apa?"

"Aku ... baik," jawab Nara lemas.

"Suhu tubuhmu panas," ucap Richard menyentuh dahi Nara.

"Benarkah?" Samuel ikut menyentuh dahi Nara "Astaga, benar. Sebaiknya kau ke ruangan kesehatan saja Nara."

"Aku setuju dengannya. Tolong antarkan dia, aku sebentar lagi ada kelas," ucap Richard pada Samuel.

Samuel mengangguk. "Tentu."

"Terima kasih," ucap Richard.

Samuel pun membawa Nara ke ruangan kesehatan, dia di periksa dan diberi obat.

"Aku masuk kelas dulu, kau minum obatnya, ya," kata Samuel penuh perhatian.

Nara mengangguk. "Terima kasih, Sam."

Samuel tersenyum dan mengusak rambut Nara. "Tak masalah."

Setelah satu jam Nara berbaring dan istirahat di ruang kesehatan. Richard, Ricky, dan Hanna masuk menemuinya.

"Nara!" Richard masuk ke ruang kesehatan.

"Kau baik-baik saja?" tanya Hanna menyentuh dahi Nara. "Ya, ampun, kau panas."

"Aku baik Hanna."

"Baik dari mananya? Kau sangat panas asal kau tahu!" seru Hanna sedikit kesal.

"Kalau masih panas sebaiknya pulang saja," usul Ricky.

"Barusan aku sudah menelpon Jordan untuk menjemputmu," kata Richard memberitahu, "Kau pulang, ya?"

Nara hanya mengangguk lemah. Lalu tak lama kemudian Jordan pun datang dengan langkah yang tergesa-gesa.

"Richard."

"Jordan! Nara sakit," kata Richard mengadu.

Jordan menatap Nara dan menghampirinya. "Ayo pulang." Jordan mengulurkan tangannya.

Nara menatap tangan Jordan sebentar dan meraihnya, tubuhnya oleng dan dengan sigap Jordan menangkap tubuh Nara dan menggendongnya.

"Richard, ikut aku. Nanti kau bukakan pintu mobil untukku."

"Baik."

Mereka pun pergi menyisakan Hanna dan Ricky.

"Wah, itu kakaknya Richard?" tanya Hanna terpesona, "Seksi sekali."

Ricky melirik Hanna. "Dia sudah beristri," katanya memperingatkan.

"Aku tahu!!" Hanna berseru kesal pada Ricky dan Hanna bergumam, "Lalu apa maksudnya mencium Nara tadi pagi?"

"Kau mengatakan sesuatu?" tanya Ricky yang sepertinya dia mendengar Hanna bergumam.

"Hah? Tidak ada. Ayo."

Keduanya pun pergi dari ruang kesehatan itu.

Bersambung...

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel