Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 11 Tuan Jahat

Setelah jam makan Nara dan Jordan pulang, mereka makan malam berdua di perjalanan pulang tadi. Saat mereka masuk Gwen tengah berada di ruang tengah.

"Kalian baru pulang?" tanya Gwen yang heran melihat Jordan dan Nara baru pulang. "Dari mana saja?"

"Aku membawanya ke kantor ku," jawab Jordan memberi penjelasan singkat.

Gwen menatap prihatin pada Nara dan berkata, "Kau pasti merasa kesepian, ya?"

"Tidak, Nyonya." Nara berkilah, ia tak ingin Gwen merasa bersalah.

"Kau bisa pergi dengan temanmu kapan-kapan. Atau kalau mau menemui ibumu juga boleh," ucap Gwen pada Nara.

Nara mengangguk.

"Jo, dokter Sena bilang besok kalian berdua harus ke sana," kata Gwen memberitahukan.

"Baiklah," jawab Jordan mencium bibir Gwen singkat. Nara mengalihkan pandangannya ketika melihat itu.

"Jo ... kau apa-apaan?" Gwen mendorong tubuh Jordan dan menatap malu pada Nara. Jordan juga menatap Nara.

"Aku duluan, Nyonya." Nara berpamitan pergi ke kamarnya.

Gwen mengangguk.

"Richard belum pulang?" tanya Jordan pada Gwen setelah kepergian nara.

"Nanti malam katanya," jawab Gwen. "Jo, aku harus ke Jepang selama dua minggu untuk pemotretan di sana."

"Aku ikut."

"Jo, kau harus menjaga Nara. Pastikan Nara menjalani semua prosesnya dengan lancar."

"Hm, aku mengerti," jawab Jordan rela tak rela. Kemudian dia menggendong Gwen menuju ke kamar mereka berdua.

"Aku merindukan mu," ucap Jordan berbisik di telinga Gwen.

Wanita itu memukul bahu Jordan. "Ini masih sore," ucapnya malu-malu.

"Sstt, diam." Pria itu pun membaringkan tubuh Gwen di atas kasur dan mulai menciumnya.

***

Esok harinya, mereka sudah bersiap-siap. Gwen bersiap pergi untuk pekerjaannya dengan membawa sebuah koper dan Richard yang akan mengantarkan Gwen. Sementara Jordan dan Nara bersiap untuk menemui dokter Sena.

"Aku akan mengantarkan kakak ipar ke bandara. Kau bawa saja Nara ke rumah sakit," kata Richard pada Jordan.

Mereka sudah berada di depan rumah mereka.

"Hm," jawab Jordan dengan gumaman.

"Kau sakit apa Nara?" tanya Richard pada Nara, membuat Nara gelagapan.

"Richard, ayo berangkat." Gwen memanggil Richard ketika Nara hendak membuka mulutnya.

"Oke." Richard menghampiri Gwen dan membatu wanita itu memasukkan koper ke dalam bagasi mobil.

Mereka berempat pun pergi ke arah tujuan mereka masing-masing.

Nara dan Jordan akhirnya sampai di rumah sakit setelah berkendara beberapa menit. Keduanya memasuki gedung rumah sakit itu dan menuju ke ruangan dokter Sena.

"Nah, tuan Lee. Sementara aku akan mengambil sel telur dari Nara," kata menyerahkan sebuah cawan pada Jordan, "Aku ingin kau melakukan sesuatu.

Ucapan dokter cantik itu rupanya membuat Jordan bingung. "Apa?Dan untuk apa cawan ini?"

Dokter Sena tersenyum. "Cawan itu untuk wadah spermamu, Tuan Lee," katanya membuat Jordan sedikit memerah dan Nara menundukkan kepala.

"Ah, ya." Jordan mengangguk mengerti.

"Aku sudah menyiapkan ruangan khusus untukmu di sebelah ruangan ini. Silakan gunakan ruangan itu dengan baik," ujar dokter Sena pada Jordan dan dia mengajak Nara untuk melakukan pemeriksaan. "Ayo Nara."

Nara mengigit bibir bawahnya gugup. Jordan pun menatap Nara sejenak dan pergi ke ruangan sebelah, yang ditunjukkan oleh dokter Sena padanya. Jordan masuk ke dalam ruangan itu dan tidak lupa mengunci pintu.

"Sial," desis Jordan, "Apa dia menyuruhku solo? Aku bukan penyanyi solo hebat," katanya membolak-balikkan sebuah cawan di tangannya.

Jordan duduk di sebuah sofa yang sangat nyaman di ruangan itu. Lalu meletakkannya di meja di dekatnya. Di atas meja itu ada begitu banyak majalah dewasa dan dia tahu untuk apa gunanya.

Pria itu melihat sebentar sebuah majalah dan meletakkannya kembali. Dia merasa itu tidak perlu, dia hanya perlu membayangkan Nara saja.

Jordan mulai membuka sabuk dan resleting celananya, lalu dia menyandarkan kepalanya ke belakang. Kemudian Jordan mulai melenguh dan mendesahkan nama Nara.

***

"Nah, proses pembuahan ini memakan waktu 3-5 hari. Jadi datanglah ke sini seminggu lagi," kata dokter Sena setelah semuanya selesai.

"Terima kasih, dokter Sena," ucap Jordan.

"Sama-sama, Tuan Lee."

"Kami permisi," ucap Jordan. Nara membungkuk pada dokter Sena lalu pergi mengikuti langkah Jordan.

Jordan membawa Nara pulang ke rumah, di sepanjang jalan dia hanya diam sampai mereka sampai di rumah. Pria itu langsung membawa Nara ke kamar utama. Kamarnya dan Gwen.

"Tuan, untuk apa membawa ku ke sini?" tanya Nara merasa was-was ketika Jordan mengunci pintu kamar itu.

Jordan mendekati Nara, membuat gadis itu mundur. "Sstt ... ini semua gara-gara dokter Sena," kata Jordan menaruh jari telunjuk di atas bibirnya sendiri.

"Huh?" Nara tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Jordan.

Pria itu kemudian mencium bibir Nara dan gadis itu terkejut serta berusaha berontak. Namun, hal itu sia-sia saja dilakukannya. Ciuman itu cukup lama dan dalam sampai Jordan menurunkan ciumannya ke leher Nara.

"Tu-tuan ..." Nara mengigit bibirnya sendiri.

"Kau cantik, Nara," kata Jordan yang bergerak untuk membaringkan Nara di atas ranjang sambil terus menciumnya. Jordan membuka jas dan kemejanya, membuat Nara panik.

"Tuan. Jangan!" Nara mulai menangis.

"Ssttt ... aku tidak akan menyakitimu." Jordan kembali mencium Nara dan kedua tangannya bergerak untuk melepaskan pakaian Nara.

Nara tentunya saja berontak dan memukul-mukul Jordan, tapi kekuatan pria itu sangat besar. Dia tidak bisa membuat Jordan bergeser sedikit pun.

Jordan berhasil menanggalkan pakaian Nara dan dirinya sendiri. Dia kini mulai meraba, membelai, dan mencium setiap jengkal tubuh Nara

Sedangkan Nara hanya bisa terisak menangis. Dia begitu malu, merasa begitu rendah, dan jijik pada dirinya sendiri. Ia menangis dan memohon agar Jordan menghentikan niatnya.

"Tuan, jangan-AH!" Nara tersentak saat Jordan mulai bermain di bawah sana. Dengan refleks, Nara menjambak rambut Jordan di bawah sana.

Suara-suara desahan dan erangan Nara keluar dari mulutnya. Dia begitu mengutuk suaranya sendiri, tapi Nara juga mengutuk dirinya saat dia mulai menikmatinya.

Jordan kembali mencium bibir Nara dan memainkan dadanya.

Teriakkan Nara teredam ciuman Jordan saat pria itu melakukan penyatuan, butuh waktu bagi Jordan melakukannya.

Jordan menatap Nara dengan bersalah. "Maafkan aku, tapi aku tidak bisa berhenti."

Nara hanya bisa menangis terisak.

Jordan mencium seluruh wajahnya dengan lembut. "Dan terima kasih, karena ini adalah yang pertama untukmu."

Setelahnya, Jordan mulai bergerak perlahan sambil menatap wajah Nara yang begitu menggoda untuknya. Lama-lama, gerakkan Jordan semakin kencang, membuat tubuh Nara ikut tersentak.

Deru napas keduanya beradu, erangan, desahan, rintihan sakit, dan nikmat itu bercampur menjadi satu.

Nara ingin marah, mengumpat, dan berteriak pada pria di atasnya ini atas apa yang pria ini lakukan padanya. Tapi tubuhnya mengkhianati dirinya, dia menikmatinya, mendamba, dan begitu menginginkan yang lebih dari tuannya. Bukannya mendorong, Nara justru mengalungkan tangannya dan memeluk leher Jordan.

"Tuan ... kumohon ... lebih."

Jordan tersenyum mendengar permintaan Nara. Dia bersumpah, dia tidak akan berhenti sampai wanita yang kegadisannya ini dia renggut barusan, memohon untuk berhenti.

***

Setelah mengantarkan Gwen ke bandara, Richard langsung pergi ke kampusnya.

"Heh! Tiang," Hanna menghampiri Richard.

Pria dengan tinggi 180 cm itu mendecih. "Apa?!"

"Di mana Nara?" tanya Hanna.

"Ah, iya, di mana dia?" sahut Ricky yang berada di sampingnya.

"Nara sakit, tadi dia di bawa ke dokter untuk di periksa."

"Sakit?" Hanna membeo dan Richard mengangguk.

"Sakit apa?" Ricky bertanya.

"Aku juga belum tahu," jawab Richard.

Setelah melakukannya Nara tidur membelakangi, dia menangis dan marah pada Jordan. Lalu Jordan memeluk Nara dari belakang.

"Maafkan aku," kata Jordan mencium pundak Nara dan membenarkan selimutnya.

"Kenapa tuan melakukan ini?" tanya Nara di sela tangisannya.

Jordan mengelus rambut Nara. "Maaf ..." Jordanmencium pipi Nara. "Aku sudah bilang, aku mencintaimu."

"Tuan jahat!" kata Nara. Dia begitu marah pada Jordan, juga pada dirinya sendiri.

Pria itu membalik tubuh Nara menghadapnya. "Aku tahu, maafkan aku." Jordan bergerak menghapus air mata Nara yang masih sesenggukan. "Maaf ..."

Jordan terus menciumi seluruh wajah Nara dan terus melafalkan kata maaf pada Nara. "Maaf ..."

Malam harinya. Nara masih marah dan perasaannya masih campur. Sehingga dia menolak makan malam yang telah seorang pelayan tadi siapkan untuk mereka, sebelum pelayan-pelayan itu pulang ke rumah mereka masing-masing.

"Makanlah," kata Jordan menyodorkan sepiring nasi lengkap dengan lauknya. "Bibi pelayan sudah memasak ini semua."

Nara masih diam, matanya menatap kosong ke depan. Dia tidak bisa merasakan apa pun saat ini.

"Nara, ku bilang makan," kata Jordan sekali lagi. Namun, Nara masih tetap diam tanpa mendengarkan dan menatap pada Jordan.

"Yoo Nara!"

Nara masih diam. Jordan mulai jengah.

Prang!!

Suara piring pecah itu begitu memekakan telinga.l, membuat Nara terkejut. Jordan menjatuhkan piring dan berlalu pergi.

Di luar, Jordan berpapasan dengan Richard.

Oh, Jo. Kau mau keman-?" Belum sempat Richard menyelesaikan pertanyannya, Jordan sudah berlalu begitu saja tanpa menggubris Richard. "Ada apa dengannya?" tanya Richard yang keheranan, lalu dia masuk ke dalam rumah.

Richard pergi ke dapur dan dia mendapati Nara yang berdiam diri di sana dengan piring makanan yang berceceran di bawah.

"Astaga!!! Ada apa ini? Siapa yang menumpahkan ini?" tanya Richard ribut, matanya bergerak melihat Nara dan pecahan piring.

"Pasti Jordan, kan?, kau baik-baik saja, kan?"

Richard memegang kedua bahu Nara. "Hei, ada apa? Kenapa diam saja? Bicaralah sesuatu Nara. Apa kau sakit?" Richard menyentuh dahi Nara. Dia begitu panik melihat kondisi Nara yang hanya diam saja.

"Aku baik, Richard." Nara menjawab dengan pelan.

Richard melihat sesuatu pada leher Nara. "Itu ... noda merah apa di leher mu?"

Nara begerak menyentuh lehernya. "Hah? I-ini ... itu ..." Nara tak bisa menjawabnya.

"Apa sakit?" tanya Richard dan Nara mengangguk ragu.

"Astaga ... ayo, sini kuobati." Richard menarik Nara ke ruang tengah. "Tunggu sebentar, ya. Aku cari salep dulu."

Pria itu pergi sebentar dan kembali dengan salep di tangannya. "Sini, mana leher mu?" Ia pun mengoleskan salep pada leher Nara.

"Salep ini juga akan mengurangi ruam merahnya," kata Richard menjelaskan.

Nara menunduk setelah Richard selesai dengan salepnya. "Terima kasih, Richard."

"Hei ..." Richard kembali memegang kedua bahu Nara, "jika ada apa-apa, bilang saja padaku. Jika kau sakit, bilang padaku. Aku akan membantu mengobatinya," katanya tersenyum tulus.

Seandainya kau bisa mengobati seluruh rasa sakit Nara , Richard. Tapi itu mustahil, bukan?

Nara tidak bisa menahan kesedihannya, dia mulai menangis.

"Kenapa kau menangis? Apa ada yang sakit? Kau terluka?" tanya Richard beruntun, tapi Nara tak kunjung menjawab.

Ya, Richard. Dia sakit. Dia terluka sangat parah.

Nara menggeleng. "Aku hanya ... merindukan ibuku." Dan Nara hanya bisa berbohong.

Richard bergerak memeluk Nara. "Sudah, jangan menangis. Kau bisa menemuinya besok." Richard mencoba membujuk dan mengelus rambut Nara.

Setelah tenang, Nara pun pergi ke kamarnya. Kemudian, Richard membereskan dan membersihkan kekacauan yang telah kakaknya perbuat. Setelah itu dia juga pergi ke kamarnya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel