Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

5. Non Arlyna!

“Non Arlyna!”

Suara seorang pria memanggil namanya ketika Arlyna sedang berjalan menuju taman belakang.

Arlyna menghentikan langkah.

“Wah... cantik sekali!” Mamang, sopir pribadi Gideon, berjalan menghampirinya dengan wajah sumringah. “Sampai pangling Mamang melihatnya.”

Arlyna tersenyum. “Kirain siapa.”

“Sendirian, Non?”

“Berdua.” Jawaban Arlyna yang begitu santai membuat Mamang spontan menoleh ke kanan dan kiri.

“Dengan siapa?”

Arlyna menunjuk ke bawah. “Itu.”

Mamang mengikuti arah telunjuknya. Bayangan tubuh Arlyna terlihat jelas di bawah sorot lampu taman. Mamang langsung terkekeh. “Bisa saja Nona ini.”

Arlyna ikut tertawa kecil. Kemudian pandangannya beralih ke arah rumah. “Di dalam sudah banyak yang datang, Mang?”

“Sudah penuh, Non.” Mamang menunjuk ke arah taman belakang. “Tapi acaranya di taman belakang. Langsung saja ke sana.”

Arlyna mengangguk. Namun, begitu Mamang pergi, langkahnya justru terhenti. Ia berdiri di depan rumah besar itu sambil memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang. Masalahnya... Tidak ada satu pun wajah yang dikenalnya.

“Duh...” Arlyna menarik napas. “Gue ngapain di sini?”

Ia hampir saja berbalik pulang. Namun, dari arah taman belakang terdengar alunan musik. Suara biola yang lembut mengalun di udara malam.

Arlyna akhirnya melangkahkan kakinya.

---

Suara biola semakin jelas terdengar.

Langkah Arlyna yang terbalut high heels membawanya menuju taman belakang, persis seperti yang dikatakan Nyonya Mela siang tadi. Begitu sampai, Arlyna berhenti.

Taman tersebut sudah dihiasi lampu-lampu kecil yang bergantung di antara pepohonan. Meja-meja tertata rapi. Banyak anak muda seusianya sedang berbincang dan tertawa. Semuanya terlihat begitu akrab. Sementara Arlyna... Hanya berdiri sendirian.

Ia bahkan belum tahu acara apa yang sebenarnya sedang berlangsung. Nyonya Mela hanya mengatakan agar dirinya datang malam ini. Tidak lebih.

“Gue benar-benar enggak tahu ini acara pesta apa,” Arlyna menghela napas. “Kenapa tadi siang enggak gue tanya?”

Seorang pelayan yang membawa baki kemudian menghampirinya. “Minumannya, Nona.”

“Oh, terima kasih.”

Arlyna mengambil segelas jus jeruk. Ia meneguk sedikit sambil memperhatikan suasana.

---

Tidak jauh dari sana, Gideon sedang berbincang dengan beberapa rekan bisnisnya.

“Bro.” Bram menepuk bahu Gideon. “Coba lihat itu.”

Gideon menoleh. “Apa?”

Bram menunjuk seseorang. “Gue baru lihat gadis itu.”

Gideon mengikuti arah telunjuknya. Dan seketika... Tatapannya berhenti.

Arlyna.

Gadis itu sedang berdiri sendirian sambil memegang segelas jus jeruk. Wajahnya terlihat begitu cantik di bawah cahaya lampu taman.

Namun, seolah merasakan sedang diperhatikan, Arlyna tiba-tiba menoleh. Tatapan mereka bertemu.

Gideon membeku. Jantungnya kembali berdetak lebih cepat. Perasaan yang sama seperti ketika melihat Arlyna siang tadi.

Bram mengernyit. “Bro?”

Gideon tidak menjawab.

“Bro!”

“Hm?”

“Loe bengong.”

Gideon buru-buru mengalihkan pandangan. “Enggak.”

Bram tertawa kecil. “Siapa gadis itu?”

Gideon melirik Arlyna sekali lagi. “Enggak tahu.”

“Cantik.”

Gideon diam.

Bram semakin menyeringai. “Loe suka?”

“Enggak.” Jawabannya terlalu cepat.

Bram tertawa. “Gue belum bilang apa-apa.”

Gideon mendengus. Ia kemudian meneguk jus jeruk yang ada di tangannya. Entah kenapa, setiap kali melihat Arlyna, jantungnya selalu bertingkah seperti bukan miliknya.

---

Suara dari mikrofon tiba-tiba terdengar.

“Para tamu yang terhormat, silakan berkumpul di depan. Acara akan segera dimulai.”

Arlyna mengerutkan kening. “Acara apaan?”

Karena tidak tahu harus berbuat apa, ia akhirnya mengikuti tamu lainnya.

Tidak lama kemudian, Nyonya Mela muncul bersama suaminya. Arlyna langsung terpana. Nyonya Mela mengenakan gaun hitam rancangan Arlyna. Gaun tersebut terlihat begitu elegan ketika dikenakan. Di sampingnya, Tuan Alex berjalan dengan gagah. Mereka kemudian berhenti di depan. Gideon sudah berdiri menunggu.

Arlyna mengerutkan kening. “Sebenarnya acara apa sih ini?” Ia menghela napas. “Gue bego banget sampai lupa enggak tanya Nyonya Mela tadi siang.”

Beberapa wanita di dekatnya mulai berbisik.

“Gideon ganteng banget malam ini.”

“Iya. Wajahnya benar-benar mirip bule.”

“Dia kan pewaris perusahaan keluarganya.”

“Anak tunggal pula.”

Arlyna diam-diam mendengarkan. Matanya membesar. “Pewaris?” Ia kembali melihat Gideon. “Jadi selama ini...” Arlyna menelan saliva. “Gue pikir dia cuma pekerja biasa yang ikut mejeng di kantor bapaknya.” Ia menggeleng kecil. “Ternyata CEO.”

Arlyna kembali memperhatikan Gideon. “Pantesan gaya hidupnya begini.”

---

Susunan acara akhirnya dimulai. Dan beberapa menit kemudian Arlyna baru menyadari sesuatu. Ini pesta ulang tahun.

Ulang tahun Gideon Bastian.

Sebuah kue tart tinggi dibawa menggunakan troli kecil oleh dua pelayan pria. Tepuk tangan meriah langsung terdengar. Arlyna ikut bertepuk tangan.

Gideon berdiri di depan kue tersebut. Lilin-lilin menyala di atasnya.

Arlyna tanpa sadar bergumam, “Sudah besar begitu masih tiup lilin.” Ia menahan tawa. “OMG... dasar anak Mami.”

“Ssst!” Pria yang berdiri di sampingnya langsung menegur. “Jangan sembarangan bicara. Kalau Gideon dengar, bisa marah.”

Arlyna langsung menutup bibir. “Ups. Sorry.”

Tepuk tangan kembali terdengar. Gideon meniup lilin. Kemudian ada acara menyuapi kedua orang tuanya.

Arlyna hanya bisa tersenyum simpul. Dalam hati ia terkekeh. Ini benar-benar ulang tahun anak SMA atau orang dewasa?

Namun, entah kenapa... Melihat Gideon tersenyum bersama kedua orang tuanya membuat hati Arlyna terasa hangat. Ia terlihat berbeda ketika bersama keluarganya. Lebih lembut. Lebih manusiawi. Dan untuk pertama kalinya, Arlyna menyadari bahwa pria yang selama ini hanya dikenalnya dari satu pertemuan singkat itu ternyata memiliki sisi lain yang begitu menarik.

---

Setelah acara utama selesai, Arlyna kembali memisahkan diri. Ia berdiri di salah satu sudut taman sambil menikmati jus jeruknya.

“Hai.”

Arlyna menoleh.

Pria berjas hitam yang tadi menegurnya sudah berdiri di sampingnya. “Sendirian?”

“Seperti yang kamu lihat.”

Pria tersebut tersenyum. “Dafa.” Ia mengulurkan tangan. “Kamu bisa panggil aku Dafa.”

Arlyna melihat tangan tersebut sejenak sebelum akhirnya menyambutnya. “Arlyna Aira.”

Dafa tersenyum lebar. “Nama yang cantik.”

Arlyna hanya tersenyum tipis.

“Secantik orangnya.”

Arlyna melengos. Dalam hati ia langsung berkomentar. "Nah, ini dia. Salah satu buaya darat yang lepas dari penangkaran. Baru lihat jidat licin sedikit sudah mulai merayu."

Dafa belum menyerah. “Saya baru melihatmu malam ini. Kamu temannya...”

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, suara Mamang terdengar. “Non Arlyna!”

Arlyna menoleh.

Mamang berjalan menghampiri mereka. “Nyonya Besar meminta Non ikut bergabung di sana.” Ia menunjuk meja tempat keluarga Gideon duduk.

Arlyna menunjuk dirinya sendiri. “Gue?” Kemudian ia buru-buru memperbaiki ucapan. “Eh... maksud saya, saya?”

Mamang mengangguk. “Iya, Non. Mari.”

Dafa hanya bisa mengerutkan kening.

Arlyna kemudian pamit. “Maaf, saya pergi dulu.”

Dafa mengangguk. “Iya.”

Namun, matanya masih mengikuti langkah Arlyna.

---

Arlyna mengikuti Mamang menuju meja keluarga Gideon. Begitu duduk, ia langsung merasa canggung. Apalagi... Gideon tidak berhenti memperhatikannya. Arlyna menunduk. Ia tidak tahu harus berbuat apa.

Tuan Alex akhirnya membuka suara. “Ini siapa?”

Arlyna langsung duduk lebih tegak. “Saya Arlyna Aira, Tuan.”

Nyonya Mela tersenyum. “Dia fashion designer yang tadi siang datang ke rumah.”

Nyonya Mela menunjuk gaun yang dikenakannya. “Gaun yang Mami pakai ini salah satu rancangannya. Bagus, kan?”

Tuan Alex mengangguk kecil. “Bagus.” Namun, sorot matanya tetap tajam.

Arlyna mulai gugup. Tangannya meremas ujung taplak meja di atas paha.

Gideon menyadarinya. Tanpa banyak bicara, ia mengambil gelas jus jeruk yang ada di dekatnya dan mendekatkannya kepada Arlyna. “Minum.”

Arlyna menoleh. “Terima kasih.” Ia mengambil gelas tersebut.

Tatapan mereka bertemu. Gideon tersenyum tipis. Senyum sederhana itu membuat kegugupan Arlyna sedikit mereda.

---

Tidak lama kemudian, kedua orang tua Gideon meninggalkan meja untuk menyambut beberapa tamu yang baru datang. Kini hanya tersisa Gideon dan Arlyna. Suasana mendadak hening.

Arlyna berdeham. “Ehm...”

Gideon menoleh.

“Selamat ulang tahun.”

“Thank you.” Jawaban Gideon terdengar datar. Namun, sebenarnya jantungnya berdetak cepat.

Arlyna tersenyum kecil. “Semoga panjang umur.”

“Terima kasih.”

“Semoga sehat selalu.”

Gideon mengangguk.

“Semoga...” Arlyna terdiam.

“Apa?”

“Enggak.”

Gideon tersenyum. “Kamu mau bilang apa?”

Arlyna menggeleng. “Enggak jadi.”

Gideon menatapnya beberapa detik. “Padahal saya penasaran.”

Arlyna tersenyum. “Rahasia.”

Gideon ikut tersenyum. “Baik.”

Hening kembali. Namun kali ini tidak terasa canggung. Justru terasa nyaman. Sampai Dafa datang.

“Happy birthday, bro!”

Gideon langsung berdiri. “Thank you, bro!”

Dafa kemudian duduk bersama mereka. Suasana yang semula canggung langsung mencair. Tidak lama kemudian beberapa teman Gideon lainnya ikut bergabung. Arlyna hanya bisa tersenyum sambil sesekali mendengarkan percakapan mereka. Beberapa kali ia tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan. Namun, anehnya ia tidak merasa ingin pergi. Mungkin karena seseorang di sampingnya membuatnya merasa cukup nyaman.

---

Rintik hujan tiba-tiba jatuh dari langit. Satu tetes. Dua tetes. Kemudian semakin banyak.

“Wah... hujan!”

Para tamu langsung mulai berhamburan mencari tempat berteduh. Pesta yang diadakan di ruang terbuka membuat semua orang panik.

Arlyna ikut berdiri. Ia meraih tas tangannya. “Aduh...” Beberapa tetes air mulai mengenai rambutnya. Ia hendak mencari tempat berteduh.

Namun, tiba-tiba sebuah tangan meraih tangannya. “Ayo.”

Arlyna menoleh.

Gideon.

Pria itu menggenggam tangannya. “Kita cari tempat berteduh.”

Arlyna membeku. Seolah seluruh suara di sekitarnya menghilang. Matanya turun melihat tangan Gideon yang menggenggam pergelangan tangannya. Hangat, begitu hangat. Aliran darah seakan mengalir lebih cepat menuju jantung. Denyutnya menjadi tidak beraturan.

“Gideon...”

“Hm?”

“Pegangannya...”

Gideon melihat tangan mereka. Sepertinya baru menyadari bahwa ia masih menggenggam tangan Arlyna. Namun, bukannya langsung melepaskan... Gideon justru menggenggamnya sedikit lebih erat. “Kalau saya lepaskan, kamu bisa kehujanan.”

Arlyna menatapnya. “Bukannya kita sama-sama kehujanan?”

Gideon tersenyum. “Kalau begitu, kita kehujanan bersama.”

Arlyna terdiam.

Hujan semakin deras. Gideon menariknya perlahan menuju teras rumah. Namun, tangan mereka masih saling menggenggam. Dan untuk pertama kalinya... Arlyna tidak ingin buru-buru melepaskannya. Begitu pula Gideon. Mungkin mereka belum menyadarinya.

Tetapi malam itu, di bawah hujan yang turun tanpa rencana... sebuah perasaan baru mulai tumbuh.

Pelan. Diam-diam. Namun semakin sulit untuk diabaikan.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel