6. DIKEJAR BUAYA DARAT
Gideon masih menggenggam pergelangan tangan Arlyna. “Ayo. Kita cari tempat berteduh.”
Tidak ada pilihan lain bagi Arlyna selain mengikuti langkahnya. Mereka berlari kecil menuju teras belakang rumah. Hujan yang awalnya hanya berupa gerimis berubah semakin deras. Beberapa tetes air bahkan sudah membasahi rambut dan pakaian keduanya. Begitu sampai di bawah atap, Gideon melepaskan tangan Arlyna. Keduanya berdiri berdampingan sambil memandangi taman yang perlahan kosong karena seluruh tamu berhamburan mencari tempat berteduh.
“Kenapa tiba-tiba hujan?” Gideon mengusap rambutnya yang sedikit basah. “Padahal sebelum acara dimulai, saya sempat melihat prakiraan cuaca. Katanya malam ini tidak akan turun hujan.”
Arlyna merapikan bagian bawah gaunnya yang terkena percikan air. “Cuaca sekarang memang sulit diprediksi.”
“Iya, betul.” Gideon mengangguk. Namun, bukannya memperhatikan hujan, matanya justru tertuju kepada Arlyna. Rambut panjang gadis itu sedikit basah. Beberapa helai menempel di pipinya. Gaunnya juga terkena tetesan air.
Arlyna yang merasa sedang diperhatikan akhirnya menghentikan gerakannya. “Ada apa?”
Gideon tersadar. “Enggak.”
Arlyna kembali melihat pakaiannya. “Untung gaunku enggak terlalu basah.”
“Maaf.”
Arlyna menoleh. “Maaf untuk apa?”
Gideon menunjuk gaun Arlyna yang terkena percikan air. “Sudah membuatmu kehujanan dan basah.”
Arlyna sedikit mendongak. Perbedaan tinggi badan mereka cukup jauh. “Enggak apa-apa.” Ia tersenyum. “Kenapa harus minta maaf? Namanya juga alam. Mana kita tahu malam ini bakal turun hujan?”
Gideon menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal. “Iya juga.”
“Jadi santai saja.”
Gideon tersenyum. “Baik.”
Tidak ada lagi percakapan. Mereka berdiri berdampingan memandangi hujan. Taman yang beberapa menit lalu dipenuhi manusia kini terlihat begitu sepi. Hanya lampu-lampu taman dan bunga-bunga segar yang menjadi saksi.
Arlyna diam-diam melirik Gideon. Pria itu berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana. Wajahnya terlihat tenang. Aneh. Di dekatnya, Arlyna merasa nyaman. Padahal mereka baru bertemu kembali. Bahkan sebenarnya mereka belum saling mengenal. Namun, ada sesuatu yang membuat Arlyna tidak merasa asing ketika berada di dekatnya.
“Tuan Muda!” Suara Mamang dari belakang membuat keduanya menoleh.
Mamang datang sambil membawa payung. “Saya cari ke mana-mana, ternyata Tuan Muda ada di sini.”
Gideon mengangguk. “Tamu yang lain di mana, Mang?”
“Mereka semua sekarang di teras samping. Acaranya dipindah ke sana.”
“Baik.” Gideon kemudian menoleh kepada Arlyna. “Ayo.”
Mereka bertiga berjalan menuju teras samping.
---
Suasana pesta kembali meriah. Musik ceria terdengar. Para tamu kembali menikmati makanan dan minuman sambil sesekali melihat hujan deras yang masih mengguyur halaman.
Tidak lama kemudian Nyonya Mela menghampiri Arlyna. “Arlyna.”
“Iya, Nyonya?”
“Apa kamu membawa kendaraan?”
Arlyna menggeleng. “Tidak. Saya tadi naik taksi.”
“Oh.”
Arlyna mengernyit. “Memangnya ada apa, Nyonya?”
Nyonya Mela tersenyum kecil. “Tidak ada apa-apa.” Setelah itu, ia pergi begitu saja.
Arlyna menatap punggung wanita tersebut. “Kenapa dengannya?” Ia mengerutkan kening. “Tiba-tiba tanya bawa kendaraan atau enggak. Aneh.”
Di sisi lain, Gideon sebenarnya ingin menghampiri Arlyna. Namun, teman-temannya terus mengajaknya berbicara. Meski begitu, sudut matanya tidak pernah benar-benar lepas dari gadis tersebut. Ia melihat Arlyna berdiri sendirian. Dan entah kenapa... ia tidak menyukainya.
---
Dafa kembali menghampiri Arlyna. Kali ini dengan dua gelas minuman di tangannya. “Hai, cantik.”
Arlyna menoleh. Dalam hati ia langsung mengeluh. "Buaya darat datang lagi." Ia hanya memberikan senyum tipis.
Dafa menyodorkan salah satu gelas. “Minum.”
Arlyna melihat gelas tersebut. Sebenarnya ia tidak terlalu ingin menerimanya. Namun, ia tetap menjaga sikap. “Thank you.”
“You're welcome.”
Arlyna tidak langsung meminumnya. Ia hanya memegang gelas tersebut sambil memperhatikan suasana pesta.
Dari arah depan, pembawa acara kembali mengumumkan sesuatu. “Selanjutnya, kita akan memasuki acara dansa!”
Tepuk tangan langsung terdengar. Tidak lama kemudian, alunan biola memenuhi ruangan.
Dafa langsung menoleh kepada Arlyna. “Nona cantik, mau berdansa denganku?”
Arlyna langsung menggeleng. “Maaf. Saya enggak bisa berdansa.”
“Ayolah.” Dafa tersenyum. “Jangan begitu.”
“Benar-benar enggak bisa.”
“Kalau begitu saya ajari.”
Arlyna masih menggeleng. “Nanti kakimu terinjak.”
“Enggak masalah.” Dafa tertawa. “Kalau kakiku sampai terinjak kamu, saya anggap itu kenang-kenangan.”
Arlyna memutar bola mata. Ya ampun...
Namun Dafa terus membujuk.
Akhirnya Arlyna menyerah. “Baiklah. Sekali saja.”
Dafa tersenyum puas. “Deal.”
---
Arlyna berdiri di lantai dansa. Dafa mengulurkan tangannya. Arlyna menerimanya. Namun, baru beberapa langkah... ia sudah merasa canggung. Ia benar-benar tidak pandai berdansa.
“Pelan-pelan,” ujar Dafa.
Arlyna mengangguk. Namun, pikirannya justru sibuk mencari cara agar tidak menginjak kaki pria tersebut.
Sampai tiba-tiba...
“Sayang.”
Suara berat terdengar dari samping.
Arlyna menoleh.
Gideon berdiri di sana. Senyumnya terlihat begitu tenang. Namun, sorot matanya... sama sekali tidak menunjukkan keramahan. “Aku mencarimu ke mana-mana.”
Sebelum Arlyna sempat bertanya, tangan Gideon sudah melingkar di pinggang rampingnya. Arlyna langsung membeku. Jantungnya seolah berhenti sesaat. Tubuhnya menegang ketika merasakan telapak tangan Gideon berada di pinggangnya.
Gideon mendekatkan wajahnya. “Beraktinglah.” Bisikannya tepat di dekat telinga Arlyna.
Arlyna menelan saliva. “A-aku...”
“Jangan jauh-jauh dariku.” Suara Gideon terdengar rendah. “Apalagi sampai hilang dari pandanganku.”
Arlyna semakin gugup. “I-iya. Maaf.”
Dafa memperhatikan tangan Gideon yang melingkar di pinggang Arlyna. “Jadi, Nona Cantik ini kekasihmu?”
Gideon menatapnya. “Menurutmu?” Nada suaranya terdengar dingin.
Dafa mengangkat kedua tangannya. “Whoa. Santai, Bro.”
Gideon tidak menjawab. Tatapannya masih tajam.
Arlyna segera mengambil kesempatan. “Ayo.” Ia menarik lengan Gideon. “Kita pergi.”
Gideon menurut. Mereka meninggalkan Dafa yang masih berdiri dengan wajah penuh tanda tanya.
---
Begitu sampai di tempat yang agak sepi, Arlyna langsung melepaskan tangan Gideon dari pinggangnya.
“Terima kasih.”
Gideon mengernyit. “Untuk?”
“Kamu sudah menolong aku dari temanmu itu.” Arlyna menghela napas. “Dasar buaya darat.”
Gideon mengangkat alis. “Buaya darat?”
“Iya.” Arlyna mulai mengomel. “Si Dafa itu enggak berhenti mengganggu aku. Sudah berkali-kali aku menolak, tapi dia tetap saja memaksa ngajak dansa.”
Gideon memasukkan kedua tangannya ke saku. “Dafa sepertinya menyukaimu.”
“No!” Arlyna langsung menggeleng. “Dia cuma buaya darat yang enggak bisa lihat jidat licin.”
Gideon menahan tawa. “Jidat licin?”
“Jangan ketawa!”
“Saya enggak ketawa.”
Arlyna mendengus. Kemudian melihat sekeliling. “Tapi ngomong-ngomong, sudah larut malam.” Ia melihat jam di ponselnya. “Aku harus pulang.”
“Hujan masih deras.”
“Enggak masalah. Aku bisa pesan taksi.” Arlyna mengambil ponsel dari dalam tas tangannya.
Gideon memperhatikannya. “Kamu enggak membawa mobil?”
Arlyna menatapnya sekilas. “Enggak. Aku enggak punya mobil.”
“Kalau begitu, saya antar.”
Arlyna justru tertawa.
Gideon mengernyit. “Kenapa tertawa?”
“Tuan Gideon Bastian...” Arlyna menunjuk ke arah taman. “Kalau kamu mengantar aku pulang, bagaimana dengan pesta ulang tahunmu?”
Gideon melihat ke arah pesta. “Biarin saja.” Ia menghela napas. “Saya sudah bosan di sini.”
“Bosan?”
“Iya." Gideon bersandar pada dinding. “Jujur saja, saya enggak suka acara seperti ini.”
“Terus kenapa dibuat?”
“Mami.”
Satu kata itu membuat Arlyna tersenyum. “Dia yang merencanakan semuanya?”
Gideon mengangguk. “Mami memaksa saya.” Kemudian Gideon mulai bercerita panjang lebar. Tentang bagaimana Mami sudah merencanakan pestanya jauh-jauh hari. Tentang bagaimana ia sebenarnya ingin ulang tahunnya berlalu biasa saja. Tentang bagaimana setiap tahun keluarganya selalu membuat pesta besar.
Arlyna hanya mendengarkan. Sesekali tertawa kecil.
Untuk pertama kalinya, ia melihat sisi Gideon yang berbeda. Bukan seorang CEO. Bukan pewaris perusahaan. Bukan pria tampan yang membuat banyak wanita mengaguminya. Hanya seorang anak laki-laki yang mengeluh tentang ibunya.
“Jadi, kesimpulannya?”
Arlyna tersenyum. “Gue baru tahu CEO bisa mengeluh juga.”
Gideon tertawa. “Bisa.”
“Kirain CEO harus selalu serius.”
“Enggak kalau sama orang tertentu.”
“Orang tertentu?”
Gideon menatapnya. “Iya.”
Mata mereka bertemu. Beberapa detik. Kemudian Gideon tersenyum kecil.
Arlyna buru-buru mengalihkan pandangan. “Cuacanya mulai reda.” Ia menunjuk taman. “Aku harus pulang. Orang rumah pasti sudah menunggu.”
Gideon melihat jam tangannya. “Ini hampir tengah malam.”
“Nah, makanya aku harus pulang.” Arlyna tersenyum. “By the way...” Ia mengulurkan tangan. “Happy birthday.”
Gideon melihat tangan tersebut. Kemudian menyambutnya. “Thank you.”
Jari-jari mereka bersentuhan..Tidak ada yang langsung melepaskan. Keduanya saling menatap. Untuk beberapa detik, dunia seakan kembali melambat.
Tidak ada suara musik.
Tidak ada suara tamu.
Tidak ada suara hujan.
Yang ada hanya tatapan dua pasang mata yang perlahan mulai menyimpan rasa.
Gideon tersenyum. Arlyna membalasnya.
Dan di balik senyum sederhana itu, jantung keduanya berdebar dengan irama yang sama.
Arlyna akhirnya menarik tangannya. “Good night, Gideon.”
Gideon menatapnya. “Good night, Arlyna.”
Gadis itu berjalan menjauh.
Gideon masih berdiri di tempat. Matanya mengikuti langkah Arlyna sampai gadis itu menghilang di balik pintu.
Untuk pertama kalinya dalam dua puluh lima tahun hidupnya... Gideon berharap sebuah malam tidak pernah berakhir. Karena malam itu telah memberinya sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan dari pesta ulang tahun mana pun.
Seseorang yang ingin ia temui lagi. Dan untuk pertama kalinya pula... Gideon mulai penasaran.
Mengapa seorang gadis bernama Arlyna Aira mampu membuat jantungnya berdetak seperti itu?
