4. UNDANGAN ULANG TAHUN
“Mam!”
Suara Gideon kembali menggema begitu ia masuk ke dalam rumah.
“Mam! Where are you?”
Arlyna yang berdiri beberapa langkah di belakangnya hanya bisa melongo.
Rumah itu begitu megah dan elegan. Lampu gantung kristal berukuran besar menjuntai indah dari langit-langit ruang tamu. Perabotannya tampak mewah, tetapi tetap memberikan kesan hangat dan nyaman.
Arlyna sampai tidak sadar sedang memperhatikan sekeliling.
“Silakan duduk.” Suara Gideon membuatnya tersadar. “Saya masuk dulu untuk memanggil Bibi. Tunggu sebentar di sini.”
Gideon kembali berjalan sambil berteriak.
“Mam!”
Arlyna menghela napas. Dalam hati ia bertanya-tanya, apakah pria itu memang selalu berteriak seperti itu setiap kali pulang ke rumah.
Tidak lama kemudian, suara seorang wanita terdengar dari arah pintu samping yang menghubungkan rumah dengan taman belakang.
“Ada apa sih, Gideon? Berisik banget! Dari tadi teriak-teriak.” Seorang wanita anggun muncul. “Kenapa kamu pulang lagi?”
Gideon malah balik bertanya. “Mam, Bibi mana?”
Wanita itu mengernyit. “Kamu ini sebenarnya cari Mami atau Bibi?”
Gideon terkekeh. “He-he... dua-duanya.”
Mami menggelengkan kepala. “Dasar anak aneh.”
Tidak lama kemudian, seorang wanita paruh baya datang. “Ada apa, Tuan Muda?”
Gideon langsung menghampirinya. “Bi, bantu teman saya yang ada di ruang depan.”
Mami langsung menoleh. “Teman?”
Gideon mengangguk santai. “Bawa saja dia ke kamar tamu. Bajunya basah.”
Mami semakin penasaran. “Siapa?”
“Teman saya, Mam.” Gideon tersenyum penuh arti. “Orang yang Mami tunggu juga.”
Mami semakin mengernyit. “Orang yang Mami tunggu?”
Namun, Gideon sudah kembali bicara kepada Bibi. “Cepat, Bi. Dia pasti kedinginan.”
Bibi mengangguk. “Baik, Tuan Muda.”
Ia segera pergi menuju ruang tamu.
---
Arlyna langsung berdiri begitu melihat Bibi menghampirinya.
“Nona, mari ikut dengan Bibi.”
Arlyna masih ragu. “Ke mana, Bi?”
“Ke kamar tamu. Tuan Muda Gideon meminta Bibi membantu Nona.”
Melihat Arlyna masih terpaku, Bibi tersenyum ramah. “Jangan takut, Nona.”
Arlyna akhirnya mengikuti langkah Bibi. Sesampainya di kamar tamu, mata Arlyna kembali membulat. Kamar itu begitu luas dan tertata rapi. Tempat tidur berukuran king size berada tepat di tengah ruangan dengan seprai putih bersih. Aroma lembut dari pengharum ruangan memenuhi kamar. Arlyna tanpa sadar bergumam, “Rumah orang kaya memang beda...”
Bibi tersenyum kecil. “Tunggu sebentar, Nona.”
Bibi kemudian keluar.
Arlyna mengerutkan kening. “Lho, kok aku ditinggal sendiri?”
Tidak lama kemudian, Bibi kembali membawa handuk bersih. “Ini, Nona. Silakan bersihkan diri dulu.”
“Terima kasih, Bi.”
“Sama-sama.”
Arlyna kemudian masuk ke kamar mandi. Tidak membutuhkan waktu lama untuk membersihkan tubuhnya dari cipratan air kubangan.
Setelah selesai, ia mengenakan pakaian yang dibelikan Gideon ketika mereka masih dalam perjalanan menuju rumah Nyonya Mela. Pakaian sederhana itu ternyata pas di tubuhnya.
Arlyna kemudian berdiri di depan cermin sambil menyisir rambut panjangnya. Tanpa sadar, ia tersenyum kecil. Ia masih tidak percaya. Pria yang selama ini hanya hidup dalam ingatannya kini bukan hanya kembali muncul. Pria itu bahkan mengantarnya ke rumah pelanggan. Dan sekarang... Arlyna sedang berada di rumahnya.
“Ini semua kebetulan banget,” gumamnya.
Pintu kamar diketuk.
Tok! Tok!
Tak lama kemudian Bibi masuk.
“Nona, Nyonya besar meminta Nona segera ke ruang pribadinya.”
Bibi menunjuk kotak yang berisi gaun. “Jangan lupa membawa kotak itu juga.”
“Oh, iya.” Arlyna segera mengambilnya.
Bibi kemudian mengantarnya menuju ruangan pribadi Nyonya Mela.
---
Tok! Tok!
“Masuk!”
Suara dari dalam terdengar.
Bibi membuka pintu. Arlyna masuk dengan sedikit gugup.
Seorang wanita yang usianya tidak lagi muda berdiri di dalam ruangan. Meskipun demikian, garis-garis kecantikan masih terlihat jelas di wajahnya. Wanita itu memperhatikan Arlyna dari atas hingga bawah.
“Selamat pagi, Nyonya.” Arlyna sedikit gugup karena diperhatikan begitu intens.
“Pagi.” Nyonya Mela kemudian menoleh kepada Bibi. “Bi, tolong ambilkan air minum dan beberapa camilan.”
“Baik, Nyonya.”
Setelah Bibi pergi, Nyonya Mela mempersilakan Arlyna duduk.
“Jadi, putraku yang menyiram kamu dengan air kubangan?”
Arlyna tersenyum kikuk. “Itu tidak sengaja, Nyonya. Mungkin Gideon tidak melihat saya.”
Nyonya Mela mengangguk. “Putraku sudah menceritakan semuanya.”
Tak lama kemudian, Bibi kembali membawa dua cangkir teh hangat dan beberapa kue kering. Setelah meletakkannya di atas meja, Bibi kembali pergi.
Nyonya Mela menatap Arlyna. “Apa Gideon sudah meminta maaf?”
Arlyna mengangguk cepat. “Sudah, Nyonya.”
Ia tersenyum.
“Untuk masalah itu, lupakan saja. Justru karena kejadian tadi, saya jadi dimudahkan sampai ke rumah ini.”
Nyonya Mela ikut tersenyum. “Syukurlah.” Matanya kemudian beralih kepada kotak yang dibawa Arlyna.
Arlyna seolah mengerti. “Jangan khawatir, Nyonya. Gaunnya baik-baik saja.” Ia membuka kotak tersebut. “Sudah saya periksa.”
Arlyna mengeluarkan gaun malam berwarna hitam dengan hiasan kristal Swarovski yang menjuntai indah.
Mata Nyonya Mela langsung berbinar. “Wah... indah sekali!”
Arlyna tersenyum puas. “Syukurlah kalau Nyonya suka.” Ia kemudian menambahkan, “Tapi, bolehkah saya melihat Nyonya mencobanya?”
“Kenapa?”
“Mungkin ada bagian yang terasa kurang nyaman. Kalau ada, saya bisa langsung memperbaikinya.”
Nyonya Mela mengangguk. “Baik.”
Tanpa perlu diminta dua kali, Nyonya Mela segera mencoba gaun tersebut. Beberapa menit kemudian, ia keluar dari kamar. Gaun itu melekat sempurna di tubuhnya. Nyonya Mela tersenyum puas melihat pantulan dirinya di cermin. “Bagus sekali.”
Arlyna ikut tersenyum. “Nyaman?”
“Sangat.”
Nyonya Mela menyentuh bagian lengannya. “Tidak ada yang perlu diperbaiki.” Kemudian ia menatap Arlyna. “Kamu yang merancang ini?”
“Iya, Nyonya.”
“Kamu berbakat.”
Arlyna tersipu. “Terima kasih.”
“Kalau nanti saya memesan gaun lagi, saya ingin kamu yang merancangnya.”
“Dengan senang hati, Nyonya.”
Nyonya Mela tersenyum puas. Namun, ada sesuatu yang tiba-tiba terlintas di pikirannya. Ia menatap Arlyna beberapa detik. “Arlyna.”
“Iya, Nyonya?”
“Kamu malam ini ada acara?”
Arlyna menggeleng. “Tidak ada.”
“Bagus.”
Nyonya Mela tersenyum.
---
Sementara itu, kesibukan terlihat jelas di taman belakang kediaman Gideon. Berbagai dekorasi ulang tahun sedang dipasang. Lampu-lampu kecil menghiasi pepohonan. Meja-meja panjang ditata dengan rapi. Beberapa pelayan sibuk membawa makanan dan minuman. Namun, di tengah semua kesibukan itu, sang pemilik acara justru terlihat paling tidak bersemangat. Gideon berdiri sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
“Tuan Muda.” Mamang berdiri di sampingnya. “Pasti nanti malam pestanya meriah seperti tahun lalu.”
Gideon hanya mendengus.
“Banyak gadis cantik yang datang.” Mamang tersenyum lebar. “Sedap dipandang itu, Tuan Muda. Mamang bisa ikut cuci mata supaya awet muda.”
“Awet tua kali.”
Mamang langsung memasang wajah tersinggung. “Tuan Muda ini kalau bercanda jangan menusuk hati.”
Gideon tertawa kecil.
Namun, beberapa detik kemudian Mamang memperhatikan wajahnya.
“Tapi...”
“Apa?”
“Tuan Muda kayaknya enggak bersemangat.”
“Bosan, Mang.”
“Kenapa?”
“Pesta ulang tahun tiap tahun.”
“Bukannya bagus?”
“Buat siapa?”
“Buat Tuan Muda.”
“Enggak.”
Mamang menggaruk kepala. “Padahal banyak perempuan cantik.”
Gideon hanya menghela napas. “Enggak tertarik.”
Namun, beberapa detik kemudian... Pandangan Gideon tiba-tiba berhenti. Dari kejauhan, Mami terlihat berjalan menuju taman.
Dan di sampingnya... Arlyna.
Gideon terdiam. Untuk sesaat, ia bahkan lupa bernapas.
Arlyna tidak mengenakan riasan berlebihan. Rambut panjangnya tergerai alami. Wajahnya terlihat begitu sederhana. Namun justru kesederhanaan itu membuat kecantikannya terlihat semakin nyata.
Gideon menatapnya lebih lama daripada yang seharusnya. Ada sesuatu dalam dirinya yang terasa aneh. Seolah-olah keberadaan gadis itu membuat seluruh taman yang ramai mendadak kehilangan suara.
“Gideon?” Suara Mami menyadarkannya. “Kamu masih di sini?”
Gideon segera mengalihkan pandangan.
“Kenapa belum berangkat ke kantor?”
“Sebentar lagi, Mam.”
Tanpa sengaja, mata Gideon kembali bertemu dengan mata Arlyna. Dan sekali lagi... Jantungnya berdetak aneh.
Arlyna pun buru-buru mengalihkan pandangan. Entah kenapa, tatapan pria itu terasa berbeda. Tidak seperti tatapan pria lain yang pernah diterimanya. Tatapan Gideon seolah membuatnya merasa sedang diperhatikan secara khusus.
Mami tidak menyadari perubahan kecil itu. “Mang!”
“Iya, Nyonya?”
“Tolong antarkan Nona Arlyna ke butiknya.”
“Siap, Nyonya!”
Mamang segera pergi mengambil mobil.
Arlyna kemudian memperhatikan taman yang sedang dihias. “Memangnya akan ada acara di sini?”
“Oh iya!” Nyonya Mela seperti baru mengingat sesuatu. Ia menoleh kepada Arlyna. “Malam ini kami mengadakan pesta untuk Gideon.”
Arlyna langsung menatap Gideon. “Pesta?”
Gideon hanya tersenyum tipis. “Iya.”
Nyonya Mela kembali menatap Arlyna. “Kalau kamu tidak ada kesibukan malam ini, datanglah ke sini.”
Arlyna terlihat ragu. “Ah... saya?”
“Iya.” Nyonya Mela tersenyum. “Datang saja. Saya yang mengundang.”
Arlyna akhirnya mengangguk. “Baik, Nyonya.”
Tanpa disadari siapa pun, Gideon yang berdiri tidak jauh dari mereka justru merasa senang. Sangat senang. Padahal beberapa menit lalu ia mengeluh bosan dengan pesta ulang tahunnya sendiri.
Sekarang.. Untuk pertama kalinya, ia memiliki satu alasan untuk tidak ingin pesta itu cepat berakhir.
Arlyna akan datang.
---
Waktu berlalu. Malam yang ditunggu akhirnya tiba. Kediaman keluarga Gideon berubah menjadi begitu meriah. Lampu-lampu menghiasi taman. Alunan musik terdengar lembut. Para tamu mulai berdatangan.
Gideon sendiri tampil begitu gagah dalam balutan setelan jas hitam yang elegan. Wajah blasterannya semakin menonjol. Beberapa rekan bisnis dan teman-temannya bahkan sempat memujinya. Namun, Gideon tetap memasang wajah datar.
“Senyum dong.” Mami menghampirinya. “Teman-temanmu bisa takut melihatmu seperti itu.”
Gideon melihat sekeliling. “Kapan acaranya bubar?”
Mami langsung melotot. “Mulai juga belum, sudah tanya bubar!”
Gideon tersenyum kecil. “Cuma tanya.”
Mami mendengus kemudian meninggalkannya.
Tidak lama kemudian, seorang wanita cantik dengan gaun elegan menghampiri Gideon.
“Hai.”
Gideon menoleh.
“Happy birthday.”
Wanita itu tersenyum. “Semoga kamu panjang umur, banyak rezeki, sukses terus, pokoknya yang terbaik buat kamu.”
“Thank you, Shela.”
“Rasanya baru tahun kemarin aku datang ke acara ulang tahunmu.” Shela tertawa kecil. “Sekarang sudah ulang tahun lagi. Hi-hi-hi. Waktu berlalu cepat sekali.”
Gideon hanya tersenyum samar. “Umur kita semakin bertambah.”
“Bukan bertambah tua, dong.” Shela tertawa. “Bertambah dewasa.”
Gideon hanya mengangguk. Di antara teman-temannya, Gideon memang terkenal dingin dan sulit didekati.
Namun, malam itu ada satu hal yang membuatnya berkali-kali melihat ke arah pintu gerbang.
Seolah sedang menunggu seseorang.
---
Di depan pagar besi yang menjulang tinggi, sebuah mobil berhenti.
Arlyna turun. Ia memperhatikan rumah megah tersebut. “Untung saja enggak hujan.” Ia menarik napas panjang. “Kalau bukan Nyonya Mela yang mengundang langsung, gue enggak akan datang ke acara seperti ini.”
Arlyna merapikan gaunnya. Malam itu ia mengenakan dress sederhana berwarna lembut yang membuat wajahnya terlihat semakin manis.
Ia menatap ke arah halaman. Banyak mobil mewah berjejer rapi. Suara musik terdengar samar dari dalam. Arlyna menarik dan mengembuskan napas perlahan. “Ayo, Arlyna. Jangan gugup.”
Ia melangkah menuju pagar. Satu langkah. Dua langkah. Namun, sebelum sempat masuk lebih jauh... Seseorang dari dalam halaman tiba-tiba menoleh ke arah gerbang.
Gideon.
Tatapan mereka bertemu. Untuk beberapa detik... keduanya hanya saling diam.
Gideon yang sejak tadi merasa bosan dengan pesta mendadak tersenyum. Senyum yang bahkan tidak ia sadari muncul begitu saja.
Sementara Arlyna merasakan jantungnya kembali berdetak tidak beraturan.
Sepertinya malam ulang tahun Gideon Bastian baru saja dimulai.
