Pustaka
Bahasa Indonesia

HARMONI BULAN DAN MATAHARI

64.0K · Ongoing
lyns_marlyn
50
Bab
670
View
9.0
Rating

Ringkasan

Pertemuan singkat dengan seorang pria blasteran berwajah rupawan bernama Gideon Bastian ternyata mampu mengubah hari-hari Arlyna Aira. Sosok pria itu terus memenuhi pikirannya, membuat Arlyna bertanya-tanya tentang perasaan yang perlahan tumbuh tanpa pernah ia rencanakan. Namun, ada satu hal yang tidak pernah Arlyna sangka. Pria yang selama ini selalu hadir dalam pikirannya ternyata bukanlah pria biasa. Gideon Bastian adalah pewaris tunggal keluarga terpandang. Di balik ketampanan dan kehidupannya yang sempurna, Gideon menyimpan kisah dan perasaan yang begitu dalam kepada Arlyna. Sejak pertemuan pertama, hatinya telah memilih satu nama. Arlyna Aira. Namun, cinta mereka tidak berjalan semudah yang dibayangkan. Jarak, keadaan, perbedaan waktu, serta berbagai persoalan yang datang silih berganti membuat perjalanan mereka dipenuhi ujian. "Menyerah? Kamu menyerah?! Hanya karena keadaan, kamu menyerah? Sebesar itukah cintamu padaku?!" Ketika cinta harus berhadapan dengan keadaan yang tidak selalu berpihak, mampukah Arlyna dan Gideon mempertahankan hubungan yang telah mereka perjuangkan? Ataukah pada akhirnya, mereka harus menerima kenyataan bahwa tidak semua cinta ditakdirkan untuk memiliki akhir yang bahagia? Ikuti kisah Arlyna dan Gideon bersama author. Sebuah cerita tentang cinta, jarak, waktu, dan dua hati yang berusaha menemukan harmoni di antara perbedaan. Cerita ini murni lahir dari imajinasi author dan dipersembahkan untuk seseorang yang sangat spesial dalam hidup author, sebagai kado istimewa di hari yang teristimewa. March 01 ~ TianArlyn

RomansaMetropolitanDesainerBillionaireDewasaCinta Pada Pandangan PertamaKeluargaSweetBaperTuan Muda

1. PERTEMUAN PERTAMA BERKESAN MENDALAM

“Aww, aww, aaa...!”

Jerit tertahan terlontar dari bibir gadis berponi dengan sapuan lipstik nude ketika kaki mungilnya yang terbalut sneakers putih hampir saja terpeleset akibat menginjak tanah becek sisa genangan air hujan.

Tubuhnya kehilangan keseimbangan. Namun, sebelum benar-benar terjatuh...

“Are you okay?”

Sebuah tangan besar dengan sigap melingkari pinggang rampingnya.

Arlyna membeku.

SEERRR!

Seolah ada aliran listrik yang tiba-tiba menyambar seluruh tubuhnya ketika sepasang mata yang dihiasi bulu mata lentik bertabrakan dengan iris hitam legam milik pria di hadapannya.

Jarak mereka hanya beberapa sentimeter.

Terlalu dekat.

Begitu dekat hingga Arlyna dapat merasakan hangat napas pria itu menyentuh wajahnya.

Untuk sesaat, dunia seakan berhenti bergerak.

Suara kendaraan, gemericik air hujan yang masih menetes dari pepohonan, bahkan suara orang-orang di sekitar mereka seperti menghilang begitu saja.

Yang tersisa hanya tatapan mereka.

Tatapan yang entah mengapa terasa begitu dalam.

Pria itu menatapnya beberapa detik, seolah memastikan gadis dalam pelukannya benar-benar baik-baik saja. Sementara Arlyna hanya mampu menelan saliva, jantungnya berdetak tidak beraturan.

“Be careful.”

Suara berat dan lembut itu akhirnya menyadarkannya.

Arlyna buru-buru mengatur posisi berdirinya. Begitu tubuhnya sudah benar-benar seimbang, pria tersebut perlahan melepaskan tangannya dari pinggangnya.

Entah mengapa, kehangatan tangan itu terasa seperti sesuatu yang enggan pergi dari tubuh Arlyna.

“Thank you,” ucap Arlyna gugup.

Semburat merah langsung menghiasi kedua pipinya.

“You're welcome.” Pria itu tersenyum tipis.

Senyum sederhana. Namun, bagi Arlyna, senyum itu justru terasa seperti sesuatu yang terlalu indah untuk dilupakan.

Pria tersebut kemudian berbalik dan pergi begitu saja, meninggalkan Arlyna yang masih berdiri mematung.

Arlyna menatap punggungnya yang semakin menjauh. Bahkan setelah pria itu menghilang di antara kerumunan, matanya masih mengikuti arah kepergiannya.

Sejak hari itu, mereka tidak pernah bertemu lagi. Tidak ada pertemuan kedua. Tidak ada pertemuan ketiga. Apalagi pertemuan keempat dan seterusnya.

Hanya ada satu pertemuan singkat yang bahkan mungkin tidak berarti apa-apa bagi pria itu.

Namun, bagi gadis berusia dua puluh empat tahun tersebut, pertemuan singkat itu justru menjadi salah satu kenangan yang tidak pernah berhasil dihapus oleh waktu.

Mungkin bagi pria itu, Arlyna hanyalah seorang gadis asing yang hampir terjatuh.

Tetapi bagi Arlyna...

Pria itu adalah seseorang yang berhasil meninggalkan jejak di hatinya hanya dalam hitungan detik.

Dan yang paling menyebalkan?

Arlyna bahkan tidak tahu namanya.

---

“Loe melamun lagi, Arlyna?!”

Suara cempreng itu sukses membuyarkan lamunan Arlyna.

Ia mengerjapkan mata beberapa kali sebelum menoleh kepada sahabatnya.

“Yaelah, ck, ck, ck...” Bia menggeleng-gelengkan kepala. “Sampai kapan loe akan terobsesi sama orang itu?!”

“Berisik loe, Bia!” sungut Arlyna.

“Gue serius, lho. Sudah berapa tahun coba? Orangnya juga belum tentu masih ingat sama loe.”

Ucapan Bia membuat Arlyna terdiam.

Ada sedikit rasa perih yang menyelusup ke dalam hatinya.

“Gue tahu,” jawabnya pelan.

“Terus?”

Arlyna mengangkat bahu. “Gue juga enggak tahu.”

Bia menatap sahabatnya dengan tatapan gemas. “Loe itu aneh.”

“Biarin.”

“Cuma gara-gara ditolong hampir jatuh, loe bisa ingat sampai bertahun-tahun.”

Arlyna tersenyum kecil. “Bukan cuma karena dia menolong gue.”

“Terus karena apa?”

Arlyna terdiam sesaat. Entah bagaimana menjelaskannya. Mungkin karena tatapan pria itu. Mungkin karena cara tangannya menopang tubuh Arlyna dengan begitu hati-hati. Atau mungkin karena untuk pertama kalinya, Arlyna merasa ada seseorang yang membuat jantungnya berdetak berbeda hanya dengan satu tatapan.

“Enggak tahu,” jawabnya akhirnya.

Bia mendengus. “Cinta pada pandangan pertama, katanya.”

Arlyna langsung mencibir. “Lebay.”

“Lah, kenyataannya begitu!”

“Gue bahkan enggak tahu namanya.”

“Makanya, kita cari!”

Sejenak Bia terdiam seakan sedang memikirkan sesuatu. Tak lama kemudian, matanya membulat.

“OMG!”

“ASTAGA!” Arlyna langsung mengelus dada. “Loe kebiasaan banget teriak di depan telinga gue! Lama-lama gue bisa mati sebelum waktunya!”

“Yey! Mana ada mati sebelum waktunya. Mati ya mati aja! Drama banget.”

“He-he-he.” Arlyna terkekeh, lalu mendorong kepala Bia pelan. “Pinter juga loe!”

“Arlyna!” Bia mendekat dengan wajah penuh antusias. “Gue punya ide buat mencari pangeran loe yang misterius itu!”

Arlyna langsung mengernyit.

“Dengerin dulu, ya...”

“Males gue dengan ide-ide loe! Hasilnya selalu zonk. Ogah gue!”

“Yah, elu! Ngomong juga belum, sudah males!” Bia cemberut. “Siapa tahu kali ini berhasil!”

“Enggak percaya.”

“Jahat!” Belum sempat Bia melanjutkan omelannya, seseorang datang dan langsung duduk di sebelahnya.

Seorang gadis berpenampilan tomboy dengan wajah masam.

Bia langsung menoleh. “Kenapa loe, Jeng Vio?! Datang-datang bawa muka masam. Kasih salam kek sama kita berdua. Sudah datangnya telat, bawa muka begitu lagi. Bikin sepet mata gue!”

Arlyna ikut menatap Vio. “Iya, kenapa, Vio? Ada yang ganggu loe di jalan?”

“Mana ada yang berani ganggu si Vio.” Bia yang duduk di sebelah Vio langsung mengangkat tangan sahabatnya. “Lihat tangannya ini! Kayak barbel begini. Mana ada yang berani? Orang sudah kabur duluan lihatnya!”

“Apaan sih loe!” Vio langsung menarik tangannya dengan kasar. “Enggak lucu!”

Arlyna dan Bia saling melempar pandang. Mereka berdua heran.

Vio bukan tipe orang yang mudah marah. Biasanya, candaan seberlebihan apa pun dari Bia akan dibalas dengan tawa atau ejekan yang tidak kalah pedas.

Namun kali ini berbeda.

Suasana yang sebelumnya ramai mendadak menjadi canggung.

Arlyna mengamati wajah Vio. “Lo kenapa?”

“Enggak kenapa-kenapa.”

“Bohong,” sahut Bia cepat.

Vio hanya menghela napas panjang.

---

Mereka bertiga memang selalu berusaha menyempatkan waktu untuk bertemu di tengah kesibukan masing-masing.

Kafe kecil yang nyaman itu sudah lama menjadi tempat favorit mereka.

Arlyna merupakan seorang fashion designer yang bekerja di sebuah butik cukup ternama di kota tempat tinggal mereka.

Bia adalah sarjana ekonomi yang bekerja di sebuah perusahaan perbankan.

Sementara Vio merupakan instruktur senam yang juga memiliki beberapa tempat gym.

Persahabatan mereka sudah berlangsung cukup lama.

Meskipun kesibukan sering membuat mereka sulit bertemu, setidaknya sekali atau dua kali dalam sebulan, mereka akan memaksakan diri untuk duduk bersama, mengobrol, tertawa, bahkan saling menceritakan masalah masing-masing.

Hari itu pun seharusnya sama.

Namun, sesuatu tentang Vio membuat suasana sedikit berbeda.

“Sebentar lagi jam makan siang habis. Gue harus kembali bekerja,” ucap Bia setelah melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.

Arlyna ikut melihat jam. “Gue juga harus kembali ke butik. Akhir-akhir ini banyak pesanan baju dari para nyonya sosialita.”

“Lah, terus gue bagaimana?!”

Arlyna dan Bia menoleh bersamaan.

“Bagaimana apanya?” tanya mereka hampir bersamaan.

“Gue datang, kalian malah pada pulang!”

“Salah sendiri dari tadi loe diam membisu,” jawab Arlyna. “Gue cabut dulu. Bye. Sampai ketemu lagi.”

“Yaelah! Gue lagi bingung, kalian malah pergi. Enggak ada empati sama sekali!”

Bia yang belum beranjak dari kursinya menatap Vio. “Loe kagak ngomong dari tadi. Bijimane kita bisa tahu?”

Vio menghela napas. “Ya sudah. Nanti saja gue cerita.”

Bia kembali melihat jam tangannya. “Gue sudah telat nih. Cabut dulu, ya!”

---

Sementara itu, Arlyna sedang berusaha mencari taksi di jalan depan kafe.

“Ya ampun! Pada ke mana ini taksi?!”

Ia menutup kepalanya dengan majalah untuk melindungi wajah dari teriknya matahari.

Satu menit. Dua menit. Arlyna masih berdiri di tepi jalan.

Akhirnya, sebuah taksi terlihat. Namun, bukannya berhenti di depannya, taksi itu justru melaju di seberang jalan.

“Kok taksinya lewat jalan itu?” gumam Arlyna heran.

“Mbak!”

Suara seorang wanita membuat Arlyna menoleh. Seorang wanita paruh baya dengan rambut yang sudah didominasi warna putih berdiri tidak jauh darinya.

“Iya?” jawab Arlyna.

“Sedang menunggu taksi, Mbak?”

Arlyna mengangguk. “Iya.”

“Taksi enggak lewat jalan ini, Mbak. Di depan sana.” Wanita itu menunjuk ke arah kanan. “Sedang ada galian kabel, jadi jalurnya dialihkan.”

“Oh... pantas dari tadi enggak ada taksi lewat.” Arlyna menghela napas.

Setelah mendapat informasi tersebut, Arlyna akhirnya memutuskan untuk menyeberang. Ia melihat ke kiri dan kanan, mencari tempat penyeberangan.

Tidak ada.

“Ya sudah, menyeberang dari sini saja.”

Suara klakson kendaraan yang saling bersahutan membuat nyali Arlyna sedikit ciut. Namun, ketika melihat jam di tangannya, ia kembali gelisah. Waktu istirahatnya sudah hampir habis.

“Gue harus buru-buru ke butik. Nyonya Ratih bisa ngamuk kalau tahu gue telat masuk.”

Dengan langkah hati-hati, Arlyna mulai menyeberang.

Satu langkah.

Dua langkah.

Kaki yang mengenakan pantofel hitam mulai menjajaki jalan beraspal.

TIIIDH!

Suara klakson mobil yang melintas begitu dekat membuat jantung Arlyna hampir copot.

“Sialan!”

Ia berhenti sejenak.

Namun...

TIIIIDH!

Klakson panjang kembali terdengar dari arah samping kiri tubuhnya.

Arlyna menoleh.

SEERRR!

Aliran darah di sekujur tubuhnya seakan mengalir lebih cepat. Hangat menjalar hingga ke ujung jarinya.

Wajah itu.

Wajah yang selama bertahun-tahun hanya hidup dalam ingatannya.

Wajah yang entah mengapa selalu muncul setiap kali Arlyna mengingat pertemuan pertama mereka.

Kini... Ada tepat di hadapannya.

Arlyna terpana.

Di dalam sebuah mobil sport merah, seorang pria duduk di belakang kemudi.

Pria berwajah blasteran yang selama ini hanya mampu ia bayangkan.

Pria yang pernah menangkap tubuhnya ketika hampir terjatuh ke genangan air hujan.

Pria yang pernah membuat jantungnya berdetak tidak karuan hanya dalam beberapa detik.

Dia. Benar-benar dia.

Arlyna bahkan lupa bagaimana caranya bernapas.

“Enggak mungkin...” Matanya tidak berkedip. “Gue... enggak salah lihat, kan?”

Pria itu memang tampak sedikit berbeda. Lebih dewasa. Lebih matang.

Namun, mata hitam legam itu... Arlyna tidak mungkin salah mengenalinya.

Mata yang pernah menatapnya begitu dekat. Mata yang selama bertahun-tahun diam-diam ia cari.

TIIIDH!

Klakson panjang kembali terdengar.

Arlyna masih berdiri di tengah jalan.

“Minggir!”

Teguran dari pengemudi kendaraan lain akhirnya menyadarkannya.

Arlyna buru-buru melanjutkan langkah hingga sampai di trotoar. Begitu berada di tempat aman, ia langsung berbalik. Matanya mencari mobil sport merah tadi.

Mobil itu semakin menjauh. Semakin kecil. Hingga akhirnya menghilang di antara kendaraan lain.

“Dia...” Arlyna memegang dadanya. Jantungnya berdetak begitu kencang. “Dia benar-benar pria itu.”

Senyum kecil perlahan muncul di bibirnya. Senyum yang bahkan tidak mampu ia tahan.

Setelah bertahun-tahun hanya menyimpan kenangan tentang pria tersebut, takdir akhirnya mempertemukan mereka kembali.

Hanya saja...

Arlyna belum tahu bahwa pertemuan kedua itu bukanlah kebetulan.

Dan pria yang selama ini hanya menjadi kenangan dalam hatinya...

Sebentar lagi akan menjadi seseorang yang jauh lebih sulit untuk ia lupakan.

---

Sementara itu, pria yang selama bertahun-tahun hanya bermain di benak Arlyna sedang melajukan mobil sport merahnya membelah jalan raya.

“Tuan muda, hati-hati bawa mobilnya. Jangan ngebut-ngebut! Mamang takut nabrak orang,” tegur sopir pribadinya yang duduk di kursi sebelah.

“Tenang saja, Mang. Gideon Bastian selalu berhati-hati.” Gideon tersenyum santai.

Namun, bukannya mengurangi kecepatan, ia justru menginjak pedal gas sedikit lebih dalam.

“Mamang ini seorang sopir, masa takut diajak ngebut?”

“Ya beda dong, Tuan Muda!” Sopir itu terlihat semakin pucat. “Tuan Muda hobinya balapan, sedangkan Mamang cuma sopir biasa. Sopir papinya Tuan!”

Gideon terkekeh melihat wajah ketakutan pria tua tersebut. “Pegangan, Mang. Kita akan terbang!”

“Jangan, Tuan! Jangan!” Mamang langsung mencengkeram seatbelt yang melingkari tubuhnya. “Mobil tidak bisa terbang! Mobil tidak punya sayap!”

Gideon semakin terbahak, tetapi matanya tetap fokus pada jalan. “Ha-ha-ha. Memangnya yang punya sayap itu apa, Mang?”

“Burung, Tuan!”

“Burung?”

“Iya. Burung bisa terbang.”

Kepolosan sopir pribadinya justru membuat Gideon semakin ingin menggodanya.

“Ada, Mang. Ada burung yang enggak bisa terbang.”

Mamang mengerutkan kening.

“Tahu enggak, Mang, burung apa?”

“Burung apa, Tuan?”

Gideon tersenyum jahil. “Burung yang patah hati.”

“Hah?”

Gideon tertawa. “Karena kalau patah hati, dia enggak bisa terbang ke mana-mana.”

Mamang terdiam beberapa detik. Kemudian menghela napas panjang. “Tuan Muda...”

“Hm?”

“Lelucon Tuan semakin hari semakin enggak jelas.”

Gideon kembali tertawa. Namun, di balik tawanya, tanpa ia sadari, pikirannya justru teringat pada sesuatu. Atau lebih tepatnya... Seseorang.

Seorang gadis yang tadi berdiri di tengah jalan. Gadis berponi dengan mata indah yang entah mengapa terasa familiar.

Gideon mengernyit. “Aneh...”

“Apa yang aneh, Tuan?”

Gideon tidak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis. Entah kenapa, ketika mata mereka bertemu tadi, ada perasaan asing yang sekaligus terasa begitu akrab. Seolah-olah mereka pernah bertemu. Seolah-olah ada sesuatu yang belum selesai di antara mereka.

Dan Gideon belum tahu... Bahwa gadis yang baru saja dilihatnya di tengah jalan itu adalah gadis yang pernah ia selamatkan bertahun-tahun lalu.

Gadis yang dulu hanya ia tinggalkan bersama sebuah senyum sederhana. Gadis yang ternyata selama bertahun-tahun menyimpan kenangan tentang dirinya. Dan tanpa mereka sadari...

Takdir baru saja mempertemukan kembali dua hati yang pernah bersentuhan dalam hitungan detik.

Kali ini, mungkin bukan hanya untuk saling menatap. Tetapi untuk saling jatuh cinta.