3. INSIDEN MEMBAWA BERKAH
“Bibi!” Suara Nyonya Mela terdengar dari ruang tengah.
Tidak lama kemudian, Bi Sari datang dengan langkah tergesa-gesa. “Iya, Nyonya?”
“Kalau ada orang datang dari butik Nyonya Ratih, segera beri tahu saya.”
Bi Sari mengangguk. “Iya, Nyonya.”
“Jangan sampai terlewat, ya. Saya sedang banyak urusan untuk persiapan acara nanti malam.”
“Iya, Nyonya. Tenang saja.”
Setelah itu, Nyonya Mela pergi menuju ruang makan untuk menyiapkan sarapan bagi suaminya, sebuah rutinitas yang hampir selalu dilakukannya setiap pagi.
“Dari mana, Mam?” Suaminya yang sudah duduk di meja makan sedang asyik mengoleskan selai cokelat ke atas roti panggang.
“Dari dapur. Melihat persiapan untuk acara nanti malam.”
Pria itu mengangguk, kemudian matanya berkeliling mencari seseorang. “Di mana yang mau ulang tahun?”
“Sudah berangkat ke kantor.”
“Pagi-pagi begini sudah berangkat ke kantor?” Wajahnya menunjukkan rasa tidak percaya. “Biasanya jam segini masih ngorok.”
Nyonya Mela tertawa kecil. “Tadi dia ngomel karena rumah pagi-pagi sudah berisik.”
“Padahal berisik juga demi acara ulang tahunnya malam nanti.”
“Betul.”
Keduanya tertawa kecil. Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa putra semata wayang mereka sedang mengalami sebuah kejadian yang kelak justru menjadi bagian penting dari ulang tahunnya.
---
Jauh dari kediaman keluarga Mela, Arlyna sedang berdiri kebingungan di pinggir jalan. Entah kesialan apa yang sedang menimpanya hari ini. Mobil butik yang dikendarainya tiba-tiba mogok. Di tengah jalan yang cukup sepi pula.
Arlyna berdiri sambil berkacak pinggang menatap mobil Honda Jazz merah di hadapannya. “Kenapa harus mogok segala, sih?!”
Ia menghela napas kesal.
“Kalau mau mogok, pilih-pilih tempat kek! Jangan di tempat sepi begini.”
Arlyna melihat ke kanan, kosong. Melihat ke kiri, juga kosong. Tidak ada satu orang pun yang bisa dimintai pertolongan. Bahkan semut lewat pun tidak terlihat batang hidungnya.
“Gue harus bagaimana ini?” Ia menatap barang-barang yang dibawanya. “Mana bawaan gue banyak banget lagi. Masa iya gue pikul semua sampai rumah Nyonya Mela?”
Arlyna mengusap wajah. “Yang benar saja!”
Setelah menghubungi bengkel langganan butik, Arlyna akhirnya menyerah untuk menunggu. Ia mengambil semua barang yang dibutuhkan.
Tangan kanannya membawa kotak besar berisi gaun malam pesanan Nyonya Mela. Tangan kirinya membawa paper bag berisi perlengkapan jahit dan beberapa aksesori yang mungkin dibutuhkan. Sementara tas selempang kecil tetap menggantung di bahunya.
“Kalau gue nunggu orang bengkel datang, bisa-bisa gue kena semprot Nyonya Ratih karena telat mengantar gaun ini.”
Arlyna mulai berjalan.
“Apes... apes banget!”
Satu meter. Dua meter. Kakinya yang mengenakan pantofel hitam melangkah hati-hati melewati jalan yang masih dipenuhi genangan air sisa hujan.
“Kenapa sih hari ini semuanya enggak bersahabat?”
Ia bersenandung kecil untuk mengusir rasa kesal sekaligus rasa sepi.
“Udaranya segar juga di sini.”
Arlyna melihat sekeliling.
“Tapi jalannya enggak bersahabat.”
Ia kembali fokus pada tanah becek di depannya. Namun, nasib sepertinya belum selesai mengerjainya. Dari kejauhan terdengar suara mesin mobil. Semakin dekat. Semakin keras.
Arlyna tidak terlalu memperhatikannya. Sampai...
BYURRR!
Sebuah mobil sport merah melaju cukup kencang melewati kubangan air. Cipratan air langsung menyembur ke tubuh Arlyna. Sebagian mengenai pakaian. Sebagian lagi mengenai rambut panjangnya.
Arlyna membeku. Matanya melebar. Untuk beberapa detik, ia hanya berdiri diam. Kemudian...
“YA AMPUN!” Teriakannya menggema di jalan yang sepi.
Arlyna melihat pakaiannya. Kotor, begitu juga dengan rambutnya yang terkena cipratan. Wajahnya langsung berubah kesal.
“Gila!”
Mobil sport merah tadi mendadak berhenti. Beberapa detik kemudian, mobil itu mundur perlahan hingga berhenti tidak jauh dari Arlyna.
Arlyna masih sibuk membersihkan noda air dari pakaiannya. Begitu menyadari mobil tersebut berhenti, ia menatap tajam.
“Menyebalkan!” Tangannya berkacak pinggang. “Enggak tahu tempat, apa?! Sudah tahu banyak kubangan, bawa mobil seenak jidat sendiri!”
Satu detik. Dua detik. Pintu mobil belum juga terbuka. Kaca mobil juga masih tertutup.
Arlyna semakin kesal. “Keluar, dong!”
Ia bahkan sudah siap memarahi pengemudinya habis-habisan. Namun, beberapa detik kemudian, kaca mobil bagian depan perlahan turun.
Dan saat wajah pria di balik kemudi terlihat... Arlyna mendadak diam.
SEERRR!
Jantungnya seperti berhenti berdetak sesaat. Seraut wajah tampan dengan garis wajah tegas, alis tebal, dan sepasang mata teduh menatap ke arahnya.
Wajah itu. Suara itu. Arlyna mengenalnya. Sangat mengenalnya.
“Hai, Nona. Are you okay?”
Arlyna terpaku.
Suara tersebut... Suara yang pernah didengarnya bertahun-tahun lalu. Suara yang pernah membuat jantungnya berdebar ketika sebuah tangan besar menahan tubuhnya agar tidak jatuh.
Wajah yang selama ini hanya tersimpan dalam ingatannya kini benar-benar berada di depan mata.
Dia. Pria itu. Pria yang selama bertahun-tahun diam-diam dicarinya. Pria yang pernah menjadi bagian dari sebuah kenangan singkat, tetapi tidak pernah benar-benar pergi dari pikirannya. Arlyna sampai lupa bahwa dirinya sedang marah.
“Hai, Nona?” Pria itu kembali memanggil. “Apa kamu baik-baik saja?”
Arlyna masih terdiam. Matanya bahkan tidak berkedip.
Pria tersebut akhirnya membuka pintu dan turun dari mobil. Begitu berdiri di hadapan Arlyna, matanya langsung membulat melihat keadaan gadis tersebut. “Oh, my God!” Ia melihat pakaian Arlyna yang penuh noda air. “Sorry. Saya benar-benar tidak sengaja.”
Arlyna tersadar. Perasaan senang karena akhirnya bertemu kembali dengan pria tersebut harus kalah oleh kenyataan bahwa saat ini dirinya terlihat seperti tikus yang baru keluar dari selokan. Ia langsung memasang wajah galak. “Loe!”
Pria itu mengangkat alis.
“Bawa mobil enggak pakai mata?!”
Bukannya takut, pria itu malah mengangkat kedua alisnya. “Saya memang bawa mobil enggak pakai mata.”
Arlyna melotot. “Hah?”
“Saya bawa mobil menggunakan kaki untuk menginjak pedal dan tangan untuk memegang setir.”
Arlyna terdiam.
Pria itu tersenyum tipis. “Kalau pakai mata untuk menyetir, saya malah enggak tahu bagaimana caranya.”
Arlyna menarik napas panjang. “Gue lagi marah, jangan bercanda!”
“Maaf.”
Kali ini senyum di wajah pria itu menghilang. Ia benar-benar merasa bersalah. Namun, matanya kembali tertuju pada kotak besar yang dibawa Arlyna.
Tiba-tiba wajah Arlyna berubah panik. “OMG!” Ia langsung melihat kotak tersebut. “Gaunnya!” Dengan terburu-buru Arlyna mencari tempat yang lebih kering. “Bagaimana kalau gaunnya rusak?”
Pria tersebut mengikutinya. “Pelan-pelan.”
Arlyna membuka kotak itu. Matanya langsung membesar. Untung saja bagian dalam kotak masih kering. Gaun malam rancangan Arlyna tidak terkena air sedikit pun. “Syukurlah...” Ia mengembuskan napas lega. “Untung gaunnya enggak apa-apa.”
Pria itu ikut tersenyum lega. “Baguslah.”
Arlyna kembali menatapnya. Kali ini tatapannya masih galak. “Gue harus cepat-cepat mengantar ini ke rumah pelanggan.” Ia menunjuk pakaiannya sendiri. “Lihat keadaan gue! Mana mungkin gue datang dengan kondisi begini?”
Pria tersebut memperhatikan Arlyna dari atas sampai bawah. Rambutnya basah. Pakaiannya penuh noda. Wajahnya cemberut. Namun, entah mengapa... Menurut Gideon, gadis itu tetap terlihat cantik. Bahkan ketika sedang marah. Ia hampir tertawa. Namun, buru-buru menahannya. Tidak etis menertawakan seseorang yang baru saja ia buat berantakan.
“Jangan tertawa!” bentak Arlyna.
“Saya enggak tertawa.”
“Wajah loe mau ketawa!”
Gideon berdeham. “Baik. Saya tahan.”
Arlyna mendengus. “Gue benar-benar sial hari ini. Mobil mogok, jalan kaki, sekarang malah kena semburan air kubangan.” Ia terus mengomel.
Gideon memperhatikannya sambil tersenyum kecil. Aneh, seharusnya ia merasa terganggu. Namun, mendengar gadis itu terus mengomel justru membuat suasana hatinya terasa lebih ringan. “Kalau begitu, ikut saya.”
Arlyna langsung menoleh. “Hah?”
“Saya akan mengantar Anda.”
“Enggak perlu.”
“Saya yang membuat pakaian Anda kotor. Jadi saya bertanggung jawab.”
“Terus?”
“Bersihkan diri dulu. Setelah itu saya antar Anda ke rumah pelanggan.”
Arlyna masih ragu. “Enggak usah repot-repot.”
“Saya tidak merasa repot.” Gideon tersenyum. “Anggap saja ini permintaan maaf.” Ia kemudian mengulurkan tangan. “Nama saya Gideon Bastian.”
Arlyna terdiam. Nama itu, akhirnya dia tahu. Selama bertahun-tahun, pria yang hanya dikenal sebagai “pria misterius” itu akhirnya memiliki nama.
Gideon Bastian.
Arlyna ingin membalas uluran tangannya. Namun, kedua tangannya penuh barang. Ia menatap tangannya sendiri. Kemudian menatap Gideon. “Gimana gue mau salaman?”
Gideon tertawa kecil. “Benar juga.”
Senyumnya terlihat begitu manis. Dan entah mengapa, jantung Arlyna kembali berdetak lebih cepat.
---
Beberapa menit kemudian, mobil sport merah itu kembali melaju.
Arlyna duduk di kursi penumpang sambil memangku kotak gaunnya. Sesekali ia melirik pria di sebelahnya.
Gideon fokus menyetir. Profil wajahnya terlihat jelas dari samping. Ternyata... Pria itu jauh lebih tampan dari yang selama ini ia ingat.
Arlyna buru-buru mengalihkan pandangan.
“Kenapa diam?” Pertanyaan Gideon membuatnya tersentak.
“Enggak.”
“Dari tadi saya lihat Anda melirik saya.”
Wajah Arlyna langsung memanas. “Siapa yang melirik?”
Gideon tersenyum. “Kalau bukan Anda, berarti kaca mobil saya yang sedang melihat saya.”
Arlyna mendengus. “Geer.”
“Bukan geer.”
Gideon meliriknya sekilas. “Fakta.”
Arlyna memalingkan wajah ke jendela. “Nyebelin.”
Gideon tersenyum. Namun, beberapa detik kemudian, ia kembali bertanya. “Nama Anda siapa?”
“Arlyna.”
“Arlyna?”
“Iya.”
“Nama yang cantik.”
Arlyna terdiam. Entah kenapa, dua kata sederhana itu membuat pipinya kembali memerah. “Terima kasih.”
Gideon tersenyum tipis. “Cocok.”
“Cocok apanya?”
“Nama Anda cocok dengan wajah Anda.”
Arlyna langsung menatapnya.
Gideon tetap fokus pada jalan. “Cantik.”
Satu kata sederhana. Namun cukup untuk membuat Arlyna kehilangan kata-kata. Ia menunduk, pura-pura sibuk memeriksa kotak gaun. Dalam hati, ia mengumpat. "Kenapa sih jantung gue malah berdebar begini?"
---
Tidak lama kemudian, mobil Gideon memasuki sebuah halaman rumah yang sangat megah.
Arlyna memperhatikan sekeliling. Matanya membulat. “Ini rumah loe?”
“Iya.” Gideon memarkir mobil.
Arlyna menatap bangunan besar di hadapannya. Ia kemudian melihat alamat yang dituju. Matanya semakin membesar. “Bentar...” Ia membuka kembali catatan alamat. Kemudian menatap rumah tersebut. “Ini rumah Nyonya Mela.”
Gideon menoleh. “Benar.”
Arlyna menatapnya tidak percaya. “Jadi... loe anak Nyonya Mela?”
Gideon mengangguk santai. “Iya.”
Arlyna memegang dahinya. “Gila...”
Apa ini? Kebetulan macam apa? Ia sudah dibuat kesal karena mobilnya mogok. Kemudian dibuat kesal lagi karena terkena cipratan air. Lalu bertemu kembali dengan pria yang selama bertahun-tahun menghuni pikirannya.
Dan sekarang... Pria itu justru putra dari pelanggan yang hendak ia temui.
Gideon turun dari mobil. Ia berjalan memutari mobil lalu membukakan pintu untuk Arlyna.
“Silakan.”
Arlyna masih diam.
Gideon mengulurkan tangannya. “Kita masuk dulu. Saya akan minta Bibi membantu Anda membersihkan diri.”
Arlyna menatap tangan tersebut. Kemudian menatap wajah Gideon. Perlahan, ia menyambut uluran tangan itu. Dan untuk kedua kalinya dalam hidupnya... tangan besar itu kembali menggenggam tangannya. Hangat dan nyaman membuat jantungnya berdebar dengan cara yang sama seperti bertahun-tahun lalu.
Gideon tersenyum. “Oh, satu lagi.”
“Apa?”
“Jangan panggil saya ‘loe’.”
Arlyna mengerutkan kening. “Kenapa?”
“Rasanya tidak enak didengar.”
“Terus gue harus panggil apa?”
“Gideon.”
Arlyna terdiam. “Gideon?”
“Iya.” Senyumnya semakin lembut. “Biar lebih dekat.”
Jantung Arlyna kembali berdetak keras. Ia buru-buru menarik tangannya. “Geer.”
Gideon terkekeh. Namun, di dalam hatinya, ada sesuatu yang terasa aneh. Ia baru mengenal gadis ini. Tetapi entah mengapa... Gideon merasa seperti sudah pernah bertemu dengannya. Bukan sekali, melainkan jauh sebelum hari ini.
Ia menatap Arlyna yang berjalan di sampingnya. Sementara Arlyna diam-diam menatap pria tersebut. Tak satu pun dari mereka menyadari bahwa insiden kecil di sebuah jalan sepi itu... ternyata bukan sekadar kesialan.
Itu adalah awal dari sebuah kisah.
Kisah tentang dua orang yang pernah bertemu dalam hitungan detik... lalu dipertemukan kembali oleh takdir.
Dan kali ini, takdir seolah tidak berniat membiarkan mereka berpisah begitu saja.
