Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

2. BUKAN BOCAH LAGI

“Mam!”

Suara Gideon menggema begitu ia menjejakkan kaki ke dalam rumah.

“Mam! Where are you?! I am home!”

Tidak lama kemudian, seorang wanita anggun muncul dari arah ruang tengah. Wajah cantiknya masih terlihat awet muda meskipun usianya sudah tidak lagi muda.

“Kamu ini kebiasaan sekali. Setiap pulang selalu teriak-teriak,” tegurnya.

Gideon memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.

“Rumah sepi banget, Mam. Pada ke mana orang-orang?”

“Setiap hari juga seperti ini,” keluh Mami.

Kemudian wanita itu menatap putra semata wayangnya dengan tatapan penuh arti. “Makanya, cepatlah kamu menikah supaya rumah ini ramai.”

Gideon langsung memutar bola matanya. “Mulai lagi deh bicara menikah.”

“Ya iyalah! Hanya itu satu-satunya cara supaya rumah kita ramai.”

“Banyak cara, Mam.”

Mami mengernyit. “Contohnya?”

“Contohnya, Mami bisa adopsi anak yatim piatu.”

Mami terdiam. Kemudian menghela napas panjang. “Bicara denganmu memang tidak pernah menang. Adopsi anak itu tidak segampang yang kamu pikirkan.”

Setelah mengatakan itu, Mami berlalu menuju dapur.

“Mam!”

“Apa lagi?”

“I am hungry!”

“Ganti pakaianmu dulu! Mami siapkan makan untukmu!”

Gideon tersenyum kecil. “Okay, Mam!”

Ia kemudian menaiki tangga menuju kamarnya.

---

Tidak lama berselang, sebuah mobil Fortuner hitam memasuki halaman rumah. Seorang pria berusia sekitar lima puluhan turun dari mobil. Meskipun usianya sudah cukup matang, tubuhnya masih tegap dan wajahnya tetap terlihat berkarisma. Begitu memasuki rumah, suaranya langsung menggema.

“Mam!”

Hening.

“Mami sayang! Istriku! Nyonya Alex, where are you?”

Mami yang sedang berada di dapur langsung memejamkan mata. “Tidak anak, tidak bapak. Setiap pulang pasti teriak-teriak!” Ia berjalan keluar dari dapur. “Apa tidak bisa sehari saja tidak berteriak, Tuan Alex?”

Senyum lebar langsung menghiasi wajah Tuan Alex. “Suaminya pulang bukannya disambut dengan senyuman. Ini malah diomelin.”

“Sudah tahu pulang, kenapa masih teriak-teriak?” Mami mengambil tas kerja dari tangan suaminya. “Tumben sudah pulang?”

Alex mengangkat bahu. “Bosan di kantor. Enggak ada Mami.”

Mami menggeleng sambil tersenyum geli.

“Hari ini juga enggak ada meeting. Daripada gabut lebih baik pulang.”

“Baguslah. Mami sudah menyiapkan makan siang untuk Gideon. Cepat ganti baju. Kita makan bersama.”

Alex langsung mengernyit. “Bocah itu sudah pulang?”

“Sudah.”

“Tumben. Biasanya tengah malam baru ingat rumah.”

Baru saja Alex selesai bicara, suara dari arah tangga terdengar.

“Pulang tengah malam juga karena pekerjaan, bukan keluyuran.” Gideon turun dengan pakaian yang lebih santai. “Papi asal saja kalau bicara.”

Alex menoleh. “Sekarang tumben sudah pulang siang. Kenapa?”

Gideon mendelik. “Yaelah! Pulang siang salah, pulang telat juga salah.” Ia berjalan melewati papinya menuju ruang makan. “Jadi anak di rumah sendiri serba salah.”

Alex terkekeh. “Kalau begitu cepat menikah. Biar enggak merasa seperti anak di rumah sendiri.”

Gideon berhenti. Ia menoleh perlahan. “Papi jangan ikut-ikutan Mami.”

Mami langsung memotong sebelum perdebatan dimulai. “Sudah, Pi! Kalian berdua memang enggak pernah bisa akur kalau sudah bertemu.”

Alex dan Gideon saling pandang. Kemudian bersamaan berkata, “Dia yang mulai!”

Mami menggelengkan kepala. “Ya ampun... dua bocah besar.”

---

Di tempat lain, Arlyna sedang fokus menyelesaikan gaun rancangannya yang terpasang pada sebuah manekin.

Jari-jarinya dengan teliti merapikan detail renda di bagian pinggang.

“Wah, cantik sekali!”

Suara pujian terdengar dari belakang.

Arlyna menoleh sebentar.

Nyonya Ratih, pemilik butik tempatnya bekerja, sedang berdiri sambil mengamati gaun tersebut.

“Ini belum selesai, Bu,” jawab Arlyna tanpa mengalihkan perhatian dari pekerjaannya.

“Tapi sudah terlihat cantik.” Nyonya Ratih tersenyum puas. “Kapan gaun malam ini akan diambil?”

“Sabtu depan,” jawab Arlyna memeriksa kembali jahitan di bagian lengan. “Saya sendiri yang akan mengantarkannya ke rumah Nyonya Mela.”

Nyonya Ratih mengangguk. “Baik. Selesaikan dengan baik. Nyonya Mela itu salah satu pelanggan kita yang cukup dikenal di kalangan sosialita. Jangan sampai dia kecewa.”

Arlyna tersenyum percaya diri. “Jangan khawatir, Bos. Saya akan melakukan yang terbaik.”

Nyonya Ratih kembali memperhatikan gaun-gaun rancangan Arlyna yang berjajar di ruangan.

Ia tersenyum puas.

Arlyna memang salah satu desainer muda terbaik yang dimilikinya.

---

“Arlyna!” Suara Sirin terdengar dari luar ruang kerja. “Ada orang mencari loe!”

Arlyna menoleh. “Siapa?”

“Cowok.”

Jawaban singkat itu langsung membuat Arlyna mengernyit. “Cowok?”

“Iya. Cepat temui orangnya. Dia menunggu di depan sambil membawa buket bunga.”

Arlyna semakin bingung. “Bunga?”

“Iya! Mawar putih lagi. Romantis banget.”

“Jangan ngarang!”

“Gue enggak ngarang. Sana lihat sendiri!”

Dengan wajah penuh rasa penasaran, Arlyna akhirnya keluar.

Seorang pria muda berpakaian rapi berdiri di depan butik sambil membawa buket mawar putih yang cukup besar. “Nona Arlyna Aira?”

“Iya, saya sendiri.”

Pria itu tersenyum sopan. “Ini ada buket bunga untuk Nona.”

Arlyna menerimanya dengan bingung. “Dari siapa?”

“Maaf, saya hanya diminta mengantarkan.”

Arlyna akhirnya menandatangani tanda terima sebelum kembali ke ruang kerjanya. Begitu masuk, Nyonya Ratih langsung menghampirinya.

“Cantik sekali bunganya.”

Arlyna tersenyum kecil. “Bagus, ya?”

“Dari kekasihmu?”

“ Saya tidak punya kekasih.”

“Lalu dari siapa?”

Arlyna terdiam. Ia baru menyadari ada selembar kertas kecil berwarna putih terselip di antara bunga-bunga tersebut. Perlahan ia mengambilnya. Hanya ada satu huruf di sana.

Z.

“Z?” Nyonya Ratih ikut membaca.

Arlyna mengangguk. “Iya. Dan saya enggak tahu siapa orangnya.”

Nyonya Ratih tersenyum penuh arti. “Wow... kamu punya penggemar rahasia.”

“Saya bukan artis, Bu.” Arlyna tertawa kecil. “Mana ada penggemar.”

“Bisa saja.”

“Daripada bunganya mubazir dan layu, bagaimana kalau saya taruh di meja depan?”

“Boleh. Atur saja sesukamu.” Nyonya Ratih kemudian meninggalkan Arlyna.

Namun, gadis itu masih menatap kertas kecil di tangannya.

Z.

Satu huruf sederhana. Namun, cukup untuk membuat pikirannya dipenuhi pertanyaan.

Siapa?

Kenapa bunga mawar putih?

Dan kenapa hanya memberikan sebuah inisial?

Arlyna menghela napas. “Siapa sih loe?”

Tanpa Arlyna sadari, jauh di tempat lain, seseorang sedang tersenyum. Seseorang yang ternyata sudah cukup lama memperhatikan dirinya.

---

Waktu terus berlalu. Hari berganti hari. Pagi berikutnya, kediaman keluarga Alex sudah dipenuhi kesibukan.

“Bi! Jangan sampai ada yang terlewat. Periksa semuanya sekali lagi dengan teliti, ya!”

Nyonya Alex sibuk memberikan instruksi kepada Bi Iyem, asisten rumah tangga yang sudah lama bekerja untuk keluarga mereka sekaligus istri Mamang.

“Iya, Nyonya!”

“Awas saja kalau ada yang terlewat. Saya potong gaji Bibi selama tiga bulan!”

Bi Iyem langsung membulatkan mata. “Aduh, jangan, Nyonya! Nanti anak-anak Bibi di kampung enggak makan.”

“Makanya kerja yang benar.” Nyonya Alex berlalu pergi.

Sementara itu, Gideon baru saja keluar dari kamar. Wajahnya terlihat kusut.

“Selamat pagi, Tuan Muda!” Mamang yang berpapasan dengannya langsung menyapa. “Kusut amat, padahal matahari bersinar cerah di luar.”

“Matahari enggak ada hubungannya sama gue.”

“Pagi-pagi sudah marah-marah. Nanti jauh jodoh, Tuan.”

Gideon tidak menggubris. Ia terus menuruni tangga.

“Morning, kesayangan Mami!” Nyonya Alex langsung tersenyum lebar begitu melihat putra tunggalnya.

“Morning too, Mam.” Gideon berhenti di depan Mami dengan wajah masam. “Ada apa sih, Mam? Pagi-pagi sudah berisik di luar. Mengganggu tidurku saja.”

Mami menatapnya penuh selidik. “Jangan bilang kamu lupa hari ulang tahunmu?”

Gideon terdiam. Kemudian menghela napas. “Enggaklah, Mam.”

“Nah!”

“Tapi aku kan sudah bilang, ulang tahunku enggak usah dirayakan.” Gideon mengusap wajahnya. “Aku ini bukan bocah lagi yang setiap ulang tahun harus dirayakan.”

Mami mengerucutkan bibir. “Kamu itu anak Mami satu-satunya. Wajar dong kalau Mami ingin merayakannya.”

“Tapi aku sudah dua puluh lima tahun.”

“Terus kenapa?”

“Ya... malu saja.”

Mami mendekat. “Malunya sama siapa?”

Gideon terdiam.

Mami tersenyum. “Lagipula, Mami cuma ingin melihat kamu bahagia.” Nada suara wanita itu kali ini lebih lembut.

Gideon menatap wajah ibunya. Untuk sesaat, rasa kesalnya menghilang. Ia tahu, Mami hanya ingin memberikan yang terbaik untuk putra semata wayangnya. Akhirnya Gideon menghela napas. “Iya, terserah Mami.”

Senyum Mami langsung mengembang. “Nah, begitu dong.”

“Yang penting jangan berlebihan.”

Mami mengangguk cepat. “Iya.”

Gideon menyipitkan mata. “Janji?”

“Janji.”

Namun, melihat senyum mencurigakan di wajah Mami, Gideon justru merasa firasatnya tidak enak. “Kenapa Mami senyum begitu?”

“Enggak kenapa-kenapa.”

“Pasti ada sesuatu.”

“Enggak ada.”

“Mam...”

Mami langsung mendorong tubuh putranya menuju pintu. “Sudah, sana kerja!”

Gideon masih menatap ibunya dengan penuh curiga.

---

Di tempat lain, butik tempat Arlyna bekerja juga sudah sibuk sejak pagi.

“Arlyna, kapan mau pergi ke rumah Nyonya Mela?”

“Setengah jam lagi.”

Arlyna sibuk memasukkan peralatan jahit ke dalam tas yang mungkin akan dibutuhkannya.

“Apa gue harus ikut?”

“Enggak usah.” Arlyna menutup tasnya. “Kalau loe ikut, siapa yang menjaga butik?”

Sirin mengangguk.

“Nanti kalau Nyonya Ratih datang, bilang saja gue yang pergi sendiri.”

“Okay.”

Kedua gadis itu kemudian kembali memeriksa gaun pesanan Nyonya Mela.

Arlyna mengusap lembut kain gaun tersebut. Ia tersenyum puas. Namun, pikirannya kembali teringat pada sesuatu. Buket mawar putih. Dan satu huruf misterius.

Z.

Entah kenapa, sejak bunga itu datang, ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan. Seolah seseorang sedang perlahan memasuki kehidupannya. Seseorang yang belum ingin memperkenalkan diri.

Dan Arlyna sama sekali tidak tahu...

Bahwa di balik satu huruf sederhana itu, tersimpan sebuah cerita yang kelak akan membuat hidupnya berubah.

Cerita tentang seseorang yang diam-diam sudah memperhatikannya.

Seseorang yang mungkin... Akan menjadi alasan mengapa jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.

Namun, untuk saat ini, Arlyna hanya bisa bertanya-tanya.

Siapa sebenarnya Z?

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel