Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3 – Bayang-Bayang Masa Lalu

Pagi itu, Rumah Kost Melati kembali dipenuhi aktivitas para penghuninya. Aroma kopi hitam bercampur wangi roti panggang memenuhi ruang makan. Doni masih sibuk mencari dasi yang entah diletakkannya di mana, sementara Fajar menggodanya tanpa henti.

"Kalau setiap pagi begini, skripsimu selesai tahun depan juga sudah syukur," ejek Fajar.

"Yang penting semangat," balas Doni sambil terkekeh.

Raka hanya menggeleng sambil tersenyum. Baru tiga hari tinggal di rumah kost itu, tetapi ia mulai hafal dengan kebiasaan masing-masing penghuni.

Ardi adalah orang yang paling disiplin. Tepat pukul tujuh pagi ia selalu berangkat kerja.

Fajar paling sering melontarkan candaan.

Sedangkan Doni menjadi sumber keramaian di rumah itu.

Di tengah suasana santai tersebut, Maya keluar dari dapur membawa sepiring pisang goreng hangat.

"Jangan lupa sarapan yang cukup."

"Siap, Bu Maya," jawab mereka hampir bersamaan.

Maya tersenyum puas melihat para penghuni berkumpul seperti sebuah keluarga.

Baginya, rumah kost bukan sekadar tempat menyewakan kamar. Sejak awal ia ingin setiap orang yang tinggal di sana merasa memiliki rumah untuk pulang.

---

Sepanjang perjalanan menuju kantor, pikiran Raka masih teringat pada pria yang datang malam sebelumnya.

Siapa sebenarnya pria itu?

Mengapa Maya terlihat begitu enggan berbicara dengannya?

Beberapa kali rasa penasaran muncul, tetapi Raka segera menepisnya.

"Itu urusan pribadi Bu Maya."

Ia memilih memusatkan perhatian pada pekerjaannya.

Hari itu cukup sibuk. Beberapa berkas harus diselesaikan sebelum sore. Beruntung atasannya, Pak Hendra, dikenal sabar sehingga Raka dapat beradaptasi dengan cepat.

Menjelang jam pulang, ponselnya bergetar.

Sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal muncul.

"Kalau kamu benar-benar ingin tinggal dengan tenang, jangan terlalu ikut campur urusan pemilik kost."

Raka mengernyit.

Tidak ada nama pengirim.

Ia membaca ulang pesan itu beberapa kali.

Siapa yang mengirimnya?

Bagaimana orang itu mengetahui tempat tinggalnya?

Raka mencoba menelepon nomor tersebut, tetapi tidak dapat dihubungi.

Perasaan tidak nyaman mulai muncul.

---

Sesampainya di Rumah Kost Melati, suasana tampak lebih sepi dari biasanya.

Maya sedang menyiram tanaman di halaman depan.

"Sore, Bu."

"Sore. Kerjanya bagaimana?"

"Lancar."

Maya tersenyum, tetapi Raka melihat wajahnya sedikit pucat.

"Bu, apa sedang kurang sehat?"

"Sedikit pusing saja."

"Sudah minum obat?"

"Sudah."

Raka mengangguk pelan.

Ia ingin bertanya lebih jauh, tetapi mengurungkan niatnya.

Sore itu ia memilih membantu menyiram beberapa pot bunga tanpa diminta.

Maya memperhatikannya sambil tersenyum tipis.

"Kamu memang tidak bisa melihat orang bekerja sendirian, ya?"

"Kalau bisa dibantu, kenapa tidak?"

Jawaban itu terdengar sederhana, tetapi membuat Maya terdiam beberapa saat.

"Terima kasih."

---

Menjelang malam, hujan kembali turun.

Suara rintiknya memukul genting rumah menciptakan irama yang menenangkan.

Listrik sempat berkedip beberapa kali sebelum akhirnya padam.

"Waduh..." keluh Doni.

"Semoga tidak lama," sahut Ardi.

Maya mengambil beberapa lilin dari lemari lalu membagikannya kepada para penghuni.

Tak lama kemudian ruang tamu diterangi cahaya lilin yang temaram.

"Ayo sekalian ngobrol," usul Fajar.

Tanpa televisi dan ponsel yang mulai kehabisan baterai, mereka akhirnya bercerita satu sama lain.

Doni berkisah tentang masa kuliahnya.

Fajar menceritakan pengalaman lucunya saat bekerja.

Giliran Raka tiba.

"Aku berasal dari keluarga sederhana," katanya pelan. "Ayah sudah meninggal beberapa tahun lalu. Sekarang ibu tinggal sendiri di kampung."

"Makanya kamu merantau?" tanya Ardi.

"Iya. Aku ingin kehidupan ibu lebih baik."

Semua mengangguk penuh pengertian.

Kemudian Doni menoleh kepada Maya.

"Kalau Bu Maya dulu bagaimana?"

Suasana mendadak hening.

Maya tersenyum tipis.

"Dulu... hidup saya tidak jauh berbeda."

Hanya itu yang ia katakan.

Tidak ada penjelasan lain.

Doni langsung sadar bahwa pertanyaannya terlalu jauh.

"Maaf, Bu."

"Tidak apa-apa."

Meski tetap tersenyum, mata Maya tampak menerawang jauh.

Seolah kenangan lama kembali mengetuk pintu pikirannya.

---

Sekitar satu jam kemudian listrik kembali menyala.

Para penghuni kembali ke kamar masing-masing.

Raka memilih berdiri di balkon lantai dua menikmati udara malam yang masih basah oleh hujan.

Dari tempat itu ia bisa melihat jalan kecil di depan rumah kost.

Tiba-tiba sebuah mobil hitam berhenti tidak jauh dari pagar.

Lampunya dimatikan.

Mesinnya tetap menyala.

Seseorang berada di dalam mobil, tetapi sulit dikenali karena kaca filmnya gelap.

Mobil itu tidak masuk.

Tidak juga pergi.

Hanya diam.

Raka mengamati selama beberapa menit.

Perasaan aneh kembali muncul.

Tak lama kemudian Maya keluar untuk menutup pagar.

Begitu melihat mobil tersebut, langkahnya sempat terhenti.

Namun ia tetap berjalan seperti tidak terjadi apa-apa.

Mobil itu perlahan melaju pergi setelah Maya masuk kembali ke dalam rumah.

Raka memutuskan turun ke bawah.

"Bu..."

Maya menoleh.

"Belum tidur?"

"Tadi ada mobil berhenti di depan."

Ekspresi Maya berubah sesaat.

"Kamu melihatnya?"

"Iya."

Maya menarik napas pelan.

"Mungkin orang yang salah alamat."

Raka tidak sepenuhnya yakin.

Namun ia menghormati jawaban itu.

"Kalau ada apa-apa, jangan sungkan memberi tahu kami."

Maya menatap Raka beberapa detik.

Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, ia melihat ketulusan yang tidak dibuat-buat di mata pemuda itu.

"Terima kasih."

---

Malam semakin larut.

Semua lampu kamar mulai padam satu per satu.

Di tempat lain, pria yang duduk di dalam mobil hitam tadi sedang berbicara melalui telepon.

"Dia mulai dekat dengan penghuni baru."

Suara dari seberang terdengar pelan.

"Awasi terus. Jangan sampai dia mengetahui apa yang terjadi lima tahun lalu."

Pria itu mengakhiri panggilan.

Ia memandang foto Rumah Kost Melati yang tersimpan di layar ponselnya.

Lalu tersenyum tipis.

"Permainan baru saja dimulai."

Tanpa disadari oleh Raka maupun para penghuni lainnya, rahasia yang selama ini terkubur perlahan mulai bergerak ke permukaan, membawa ancaman yang akan mengubah kehidupan mereka di Rumah Kost Melati.
Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel